← Back to list

Laboratorium Peradaban Manusia

Akal sebagai kinerja pembangkit peradaban manusia

Rival Fadli · 2026-07-14 09:58 · 1 claps · 2.9 min read
#self-improvement #life #komunitas-blogger-medium #bahasa-indonesia #peradaban
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Psychology 🚀 · Self Improvement 📊 · Economic Policy

Life

Laboratorium Peradaban Manusia

Akal sebagai kinerja pembangkit peradaban manusia

Photo by Christiaan Huynen on Unsplash

Photo by Christiaan Huynen on Unsplash

Pernah berpikir secara impulsif seperti ini: mungkin akan jauh lebih bersyukur jika sezaman dengan Rasulullah atau setidaknya para nabi lainnya sehingga bisa melihat mukjizat bahkan perjuangannya secara langsung dan nyata bahkan bisa berada di dalam pengikut dan golongan yang lurus.

Namun, setelah dipikir berulang kali, pikiran tersebut terlalu naif untuk digapai. Selain karena tidak bisa kembali ke zaman dahulu dan kaum pendahulu, tidak bisa juga terlahir kembali untuk kedua kalinya. Alasan terkuatnya adalah belum tentu pikiran tersebut linier dengan situasional yang akan terjadi secara langsung.

Sangat hebat jika saya mampu bertahan di peradaban Firaun dengan kekejaman pemerintahan yang sebegitu mengerikan — walaupun peradaban sekarang juga merasakan, mungkin kadarnya tak separah di peradaban Firaun. Belum saja. Kalau dipikir-pikir kembali ke zaman dahulu di era pernabian, mungkin mental saya tidak akan sekuat itu menahan segala siksaan dan ancaman yang datang silih berganti layaknya musim bumi. Di satu sisi, saya menjadi kagum kepada mereka yang bertahan di situasi sulit, terhimpit, dan sempit akan ruang dan kebebasan. Mereka harus bisa survive dengan kadar yang lebih.

Selain alasan situasional di atas, ada juga kemungkinan yang menjadi ujian berikutnya jika memang saya hadir di era peradaban zaman dahulu.

Anggap saja dapat kembali dan berada dalam satu zaman yang sama dengan Rasulullah atau para Nabi lainnya. Bukankah masih ada peluang untuk tidak menjadi pengikutnya? Bahkan kompromi dan situasi politik kala itu sangat pelik dan rumit, belum lagi kepercayaan dokrin yang mendarah daging, atau keadaan sosial yang bisa saja mengubah nilai harapan awal untuk menjadi pengikut setianya.

Terlebih lagi banyak kenikmatan saat ini yang tidak ada di zaman dahulu. Matcha, cokelat, es krim, air conditioner, dan masih banyak lagi yang tidak dapat ditemukan oleh kaum pendahulu. Bukankah ini titik tertinggi untuk bersyukur?

Pikirkan saja, di peradaban kita segala kemudahan sangat dekat, amat dekat, buset deket banget dah. Mau makan tapi suasana di luar hujan, tinggal gofood. Mau pergi tapi ga ada kendaraan, malas jalan, panas, ada yang namanya gojek-gocar. Mau belanja tapi keterbatasan waktu untuk cari barang, cukup cari di marketplace online. Sumpah kemudahan udah sebuset itu deket dengan kita tapi masih kufur? Ya, itulah tabiatnya manusia, suka mengeluh.

Kembali ke pikiran impulsif tadi. Saya tahu bahwa itu hanyalah angan yang tak akan terwujud. Bukan bagian dari kufur, hanya saja memikirkan melihat mukjizat langsung mungkin akan jauh lebih takjub tentang kekuasaan Allah yang sebenarnya.

Awalnya, saya heran mengapa banyak orang kala itu tak banyak yang beriman dan bertakwa kepada para Nabi dan Allah? Sedangkan mukjizat sudah diberikan dan mereka menyaksikan secara langsung menggunakan mata telangjangnya sehingga dapat melihat seluruh kejadian dan keajaiban yang sulit untuk dicapai logika pada saat itu.

Jawabannya, pertama manusia memiliki kehendak bebas. Inilah yang sulit dan tidak bisa dikendalikan sepenuhnya. Manusia diperbolehkan memilih jalan manapun baik kebaikan maupun keburukan. Semua pertanggungjawaban adanya di akhir. Kedua, taraf berpikir manusia pada kala itu sangat terbatas, daya analisis, informasi, pengetahuan, dan sebagainya sangatlah minim. Inilah yang kemudian marak dan masifnya doktrin yang tak berdasar pada hal yang jelas. Seolah mereka mengikuti kebiasaan yang belum tentu benar dan bisa saja nilainya keliru bahkan salah.

Kedua alasan tadi akan membawa kaum pendahulu berkutat dengan permasalahannya sehingga melihat suatu mukjizat bukan melihatnya dari perspektif ke-Maha Kuasanya Allah Swt. melainkan melihat yang mengeluarkan mukjizat tersebut dan menyembahnya. Atau bahkan memanjakan seluruh kemauannya terhadap mukjizat yang diberikan Allah. Inilah titik penyimpanan dari sebuah kehendak dann daya nalar manusia pada peradaban dahulu.

Selanjutnya, saya mengerti mengapa nabi Muhammad menjadi pemutus era pernabian. Hal ini disebabkan, karena nabi Muhammad sudah mampu memajukan peraban umat manusia pada titik yang cukup sempurna. fungsi Quran sebagai penunjuk arah telah disediakan, kasus dan situasional kehidupan sudah terekam dengan baik oleh Al-Quran dan peristiwa yang dilalui nabi. Alhasil ini bisa menjadi pembelajaran sekaligus pengkayaan sedalam mungkin bagi umat-umat manusia berikutnya. Intervensi kitab suci di Qur’an sangat ketat sehingga bisa memurnikan sebuah esensi wahyu Allah tanpa mencampuradukan interpretasi manusia ke dalamnya.

Hebatnya lagi, pasca meninggalnya Rasul banyak ketakjuban yang terjadi pada Islam. Romawi dan persia jatuh telah dipangkuan Islam, Umar terus melakukan ekspansi, dan Islam terus tumbuh. Semua yang dilakukan mengarah pada perbaikan menyeluruh peradaban manusia di muka bumi melalui visi yang Islam sediakan. Inilah pedoman yang sejatinya tidak akan pernah mati sampai akhir zaman kecuali manusia itu sendiri yang mematikannya.


메타데이터
post_id
33e49fba6971
slug
laboratorium-peradaban-manusia-33e49fba6971
url
https://medium.com/@rivalfadli55/laboratorium-peradaban-manusia-33e49fba6971
canonical_url
https://medium.com/@rivalfadli55/laboratorium-peradaban-manusia-33e49fba6971
author_url
https://medium.com/@rivalfadli55
status
ok
fetched_at
2026-08-19 01:22:14