terima kasih, sekarang pulanglah.
ada salah satu departemen yang selalu aktif di kepalaku. namanya, departemen overthinking.
terima kasih, sekarang pulanglah.

ada salah satu departemen yang selalu aktif di kepalaku. namanya, departemen overthinking.
departemen ini mungkin adalah unit paling sibuk yang pernah ada. tidak pernah tutup, tidak mengenal jam kerja, dan entah bagaimana mampu beroperasi dua puluh empat jam sehari tanpa henti. kalau dipikir-pikir, para pegawainya pantas mendapat penghargaan atas loyalitas dan dedikasi mereka. mereka tidak pernah mengeluh soal beban kerja, tidak pernah demo meminta kenaikan gaji, dan tidak pernah mempertanyakan mengapa mereka harus terus berjaga ketika semua bagian lain dalam diriku sudah kelelahan.
tugas utama departemen ini adalah melindungiku dari segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi. mereka mengamati setiap detail, menyusun seratus satu skenario, menghitung risiko yang bahkan belum tentu nyata, lalu menyiapkan rencana cadangan untuk masalah yang mungkin tidak akan pernah datang.
mereka bekerja dengan keyakinan bahwa jika aku memikirkan semuanya lebih dulu, maka aku akan lebih siap menghadapi apa pun yang menunggu di depan. meskipun sering kali pekerjaan mereka hanya menghabiskan energi dan memenuhi pikiranku dengan kebisingan yang tidak perlu, ada bagian kecil dari diriku yang tahu bahwa semua itu berangkat dari niat yang sama: keinginan untuk membuatku tetap aman.
anehnya, departemen ini justru paling aktif saat malam hari. ketika dunia mulai tenang, ketika percakapan telah selesai, ketika layar ponsel dimatikan dan tubuhku akhirnya berbaring untuk beristirahat, mereka baru memulai shift mereka. lampu-lampu kantor kembali menyala, berkas-berkas lama dibuka, dan rapat darurat mendadak digelar tanpa persetujuanku.
kesalahan yang terjadi bertahun-tahun lalu kembali dipresentasikan, percakapan sederhana dianalisis berulang kali, dan masa depan yang belum terjadi diperlakukan seperti ancaman yang sudah menunggu di depan pintu. pada jam-jam seperti itu, mereka selalu datang membawa pertanyaan yang sama:
“bagaimana kalau semuanya berjalan buruk?” atau “bagaimana kalau kali ini kamu tidak siap?”
dulu aku sering marah pada mereka. aku menganggap mereka sumber kelelahan yang tidak perlu, penyebab malam-malam panjang yang dipenuhi kekhawatiran. tetapi semakin aku mengenal diriku sendiri, semakin aku sadar bahwa departemen overthinking tidak pernah benar-benar berniat menyakitiku.
mereka hanyalah pegawai lama yang belajar bertahan dari pengalaman-pengalaman yang pernah melukai. mereka lahir dari hari-hari ketika aku dikejutkan oleh kenyataan, dari kekecewaan yang datang tanpa aba-aba, dari kehilangan yang tidak sempat dipersiapkan. mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa berjaga-jaga adalah satu-satunya cara agar aku tidak terluka lagi.
dan mungkin karena itu, aku tidak lagi ingin membubarkan departemen ini. aku hanya ingin mengingatkan mereka bahwa tidak semua hal harus diprediksi, tidak semua kemungkinan harus dipikirkan, dan tidak semua rasa sakit bisa dicegah. ada kalanya hidup memang harus dijalani tanpa mengetahui akhir ceritanya. jadi sesekali, di tengah kesibukan mereka, aku ingin masuk ke ruang kerja itu dan berkata,
“terima kasih sudah berusaha menjagaku. tapi malam ini, kalian boleh pulang lebih awal. dunia tidak akan runtuh hanya karena kita berhenti berjaga untuk beberapa saat.”
메타데이터
- post_id
- 3407f70bb98f
- slug
- terima-kasih-sekarang-pulanglah-3407f70bb98f
- url
- https://medium.com/@yawnoya/terima-kasih-sekarang-pulanglah-3407f70bb98f
- canonical_url
- https://medium.com/@yawnoya/terima-kasih-sekarang-pulanglah-3407f70bb98f
- author_url
- https://medium.com/@yawnoya
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-30 21:57:27