← Back to list

Dilematik Ketidakadilan Dari Tak Bai Yang Tak Pernah Usai

Sebuah esai sekaligus ingatan kejadian ganas di Patani selatan Thailand yang menyeret puluhan nyawa warga sipil

Fly akira · 2025-10-24 17:56 · 0 claps · 2.9 min read
#tak-bai #patani #thailand #pembantaian #pelanggaran-ham
Open on Medium ↗

Dilematik Ketidakadilan Dari Tak Bai Yang Tak Pernah Usai

Sebuah esai sekaligus ingatan kejadian ganas yang menyeret puluhan maut

Para demonstran yang ditahan dalam insiden Tak Bai yang diperkumpulkan sebelum dipaksa berbaring di truk militer pada 25 Oktober 2004./Sumber Foto: Bangkok Post.

Para demonstran yang ditahan dalam insiden Tak Bai yang diperkumpulkan sebelum dipaksa berbaring di truk militer pada 25 Oktober 2004./Sumber Foto: Bangkok Post.

Tragedi Tak Bai (25/10/04) merupakan letusan insaf yang diwariskan dari kamu ke aku, dari orang tua ke anak cucu, dari bawah tanah yang terbungkam sampai terbongkar ke angkasa, dan dari generasi ke generasi yang selalu menolak lupa. Tahun 2004 silam, tepat pada tahun kelahiranku, peristiwa itu terjadi. Jika dihitung, kini sudah genap 21 tahun. Memang sudah begitu lama, tetapi ingatan dari peristiwa itu tidak pernah benar-benar padam.

Seingatku ketika masih bocah beringus, ada sebuah CD milik ibuku. CD itu mengambarkan peristiwa pembantaian tragedi Tak Bai pada tahun 2004. Sebenarnya aku tidak tahu dari mana ia mendapatkannya, atau oleh siapa CD itu diperoleh. Namun yang paling aku ingat, setiap kali hendak memutar CD itu, ibu selalu memberi isyarat dengan jemari telunjuk yang menyentuh bibirnya perlahan, seolah ingin bergumam, “diam-diam saja, nak.” Isyarat itu membuatku sedikit bingung yang melengket dibenakku yang selalu ingin memuntahkan persoalan. Meskipun begitu heran, aku selalu mengangguk, seumpama mengerti bahwa benda itu semacam barang ilegal.

Kemudian CD itu mulai dipermainkan. Jendela rumah ditutup rapat, enggan memberi izin bagi deru angin untuk menerobos masuk. Udara lengang menyapu suara jangkrik di luar halaman.

Detik-detik layar mulai berputar, sembari tanganku perlahan menyelow suara volume, menurunkan bunyi sedikit hingga nyaris terdengar detak jantung yang berlaung. Aku menonton dengan mata berkaca-kaca. Agenda dimukadimah dengan jeritan rakyat sipil yang perih karena ditendang sekeras-kerasnya, dijejak-jejak oleh aparat Thailand yang bengis dan ditampar bagaikan ciuman yang membara dipermukaan wajah korban. Pembubaran aksi demonstrasi sebangsat brutal itu merenggut 85 nyawa manusia. Sebagian tentara keparat itu mengangkat senapan, lalu menembak ke arah massa. Tak ada soul lagu romantik di balik layar itu, hanya riuh suara rakyat sipil yang berkucar-kacir. Aku melihat manusia diperlakukan bukan sebagai manusia. Lantas Ibuku menatapnya tanpa kata, hanya napasnya yang berat seolah menahan sesuatu yang tak sanggup diucapkan.

Sejak itu, tragedi Tak Bai (25/10/04) masih melekat dalam ingatan masyarakat Patani. Dan hingga kini, tak ada satu pun pelaku pidana itu benar-benar dihukum atau dijatuhkan ke penjara. Histori pelanggaran HAM oleh pemerintah Thailand kali ini mencatat kegagalan yang parah dalam menyelesaikan masalah. Hukum yang masih mendewa para penguasa terus merajalela, menciptakan ketidakadilan menjadi normalitas dalam masyarakat. Nyawa manusia pun diperlakukan semurah barang usang.

Barangkali kebenaran masih belum berpihak kepada yang tertindas. Paling tidak, sikap pemerintah seharusnya bertanggung jawab lebih utuh, bukan omong kosong lalu melempar uang ganti rugi semata.

Ratusan warga Patani dipaksa melepaskan baju dan ditahap oleh militer Thailand setalah pembuburan aksi berlaku. /sumber foto: wikipedia.

Ratusan warga Patani dipaksa melepaskan baju dan ditahap oleh militer Thailand setalah pembuburan aksi berlaku. /sumber foto: wikipedia.

“Ketika situasi semakin kacau, aparat mulai membubarkan massa. Saya terkena lemparan batu di alis kiri dan tembakan gas air mata, lalu segera berlari ke sungai untuk membasuh mata. Ada seseorang berteriak, ‘menunduk! nanti kena peluru!’ Ketika saya menoleh, saya lihat seseorang ditembak menembus pipi. Saat itu saya baru sadar ternyata di kaki telah berlubang peluru.” Ujar Mareeki Doloh.

Mareeki Doloh salah satu korban yang selamat dari tragedi itu, dalam wawancaranya bersama lembaga Cultural Connection Foundation. Ia menceritakan bagaimana setelah tertembak, ia bersama ribuan warga lainnya dipaksa melepas baju, diikat tangannya ke belakang, lalu ditelungkupkan dan disuruh merangkak menuju truk militer. Tubuh mereka ditumpuk lima lapis di bak truk, dengan wajah menghadap ke tanah, sementara tentara terus menginjak dan memukul mereka agar diam.

Dalam perjalanan menuju Kamp militer, ratusan orang tak lagi bernyawa. Mareeki Doloh yang berada di lapisan kedua hanya bisa mendengar napas terakhir mereka di bawah tubuhnya. Ia sendiri pingsan dan baru sadar di ICU Rumah Sakit, kehilangan satu kaki dan cacat di tangan. Selama berbulan-bulan ia harus menjalani perawatan intensif, disertai mimpi buruk yang terus menghantuinya hingga kini.

“Sampai saat ini saya masih bermimpi tentang hari itu, suara tangisan, suara orang berjerit, masih bergema di kepala saya. Dan saya tak tahu kapan keadilan akan datang.” Kata Mareeki Doloh.

21 tahun telah berlalu, namun kesaksian Mareeki Doloh tetap menjadi gema dari traumatik yang tak kunjung sembuh, luka yang menandakan bahwa keadilan masih berjarak jauh dari tanah Patani.

Fly Akira, 25 Oktober 2025


메타데이터
post_id
346de21c35fc
slug
dilematik-ketidakadilan-dari-tak-bai-yang-tak-pernah-usai-346de21c35fc
url
https://medium.com/@flowerkayaedalae/dilematik-ketidakadilan-dari-tak-bai-yang-tak-pernah-usai-346de21c35fc
canonical_url
https://medium.com/@flowerkayaedalae/dilematik-ketidakadilan-dari-tak-bai-yang-tak-pernah-usai-346de21c35fc
author_url
https://medium.com/@flowerkayaedalae
status
ok
fetched_at
2026-07-16 05:07:50