Eksistensi stereotip waria dalam novel “Rumah Ilalang” karya Stebby Julionatan
cover of the book “Rumah ilalang” by Stebby Julionatan
Eksistensi stereotip waria dalam novel “Rumah Ilalang” karya Stebby Julionatan

(edited by novita)
"Semua ini hanya akan menjadi rumah ilalang yang mudah tersapu oleh apa pun, jika penghuni di dalamnya sendiri, yang menalinya, tidaklah kencang."
Salah satu buku yang membahas prasangka terhadap kaum transgender yang muncul di masyarakat adalah Rumah Ilalang karya Stebby Julionatan. Buku ini juga menyinggung soal agama dan dinamika sosial budaya Indonesia. Mungkin cukup jarang bagi seorang penulis untuk membahas topik yang kompleks dan sensitif seperti ini. Karena, seperti yang kita semua tahu, transgender dipandang dalam budaya kita sebagai pelanggaran hukum agama.
Mayoritas karakter dalam buku ini adalah waria dari berbagai latar belakang, yang membuatnya menjadi bacaan yang menarik. Tabita adalah seorang waria yang kaya raya tapi memiliki keluarga berantakan dan keluarganya pun tidak menerimanya karena ia seorang waria. Tania tidak bisa kuliah karena keluarganya pas-pasan tetapi keluarganya dapat menerima dia sebagai waria. Dan Mami Nancy, meskipun berasal dari keluarga berada, tetapi menikmati pahitnya bersekolah di sebuah pesantren dan dia mengalami pelecehan seksual.
Tabita—nama asli: Alang—adalah tokoh utama dalam buku ini. Penggambaran kehidupan Tabita di antara tokoh-tokoh transgender lainnya dalam buku ini menjadi metafora bagi kehidupan individu transgender di masyarakat kita. Karena stereotip negatif di masyarakat, waria sering kali diperlakukan tidak adil. Bahkan, misalnya ketika terjadi bencana alam, masyarakat Indonesia lebih cenderung untuk melimpahkan kesalahan pada keberadaan waria atau individu transgender lainnya daripada menyelidiki sumber bencana yang ada.
Dalam sudut pandang, novel ini terdiri dari beberapa sudut pandang individu yang berhubungan dengan Tabita. Meskipun hal ini mungkin membingungkan, tetapi menurut saya dengan dieksplorasi dan digambarkan dari beberapa sudut pandang menambah daya tarik karakter Tabita.
Rumah Ilalang, sebuah novel karya Stebby Julionatan, sebagian besar menggambarkan keberadaan individu transgender yang konvensional dalam masyarakat. Ada tiga karakteristik yang tercermin dalam hal ini, yaitu: tidak memiliki pekerjaan tetap, tidak memiliki afiliasi agama, dan penolakan sosial. Waria menghadapi diskriminasi, penilaian rendah, dan bahkan penghakiman atas keberadaan mereka, yang merupakan representasi yang sangat realistis tentang bagaimana rasanya dinilai atas keputusan hidup seseorang ketika sudut pandang, sikap, dan keinginannya berbeda.
Dalam buku ini, Stebby Julionatan —sang penulis— secara efektif memotret dan menggambarkan segala bentuk prasangka gender dan agama yang ada di Indonesia.
Menurut saya, buku ini layak diberi nilai 5/5.
메타데이터
- post_id
- 34c162b59d31
- slug
- the-stereotypical-existence-of-transgender-women-in-the-novel-rumah-ilalang-authored-by-stebby-34c162b59d31
- url
- https://medium.com/@ativonmi/the-stereotypical-existence-of-transgender-women-in-the-novel-rumah-ilalang-authored-by-stebby-34c162b59d31
- canonical_url
- https://medium.com/@ativonmi/the-stereotypical-existence-of-transgender-women-in-the-novel-rumah-ilalang-authored-by-stebby-34c162b59d31
- author_url
- https://medium.com/@ativonmi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 04:42:08