Ketika Guru dan Murid Ikut Berdemo
Karya fiksi yang dibuat untuk menjangkau sudut pandang lain dari situasi saat ini.
Ketika Guru dan Murid Ikut Berdemo

Sumber : Pexels.com
Siapa bilang siswa tidak boleh bersuara? Buktinya, aku sudah melihat potensi kekritisan mereka saat jam pembelajaran. Sebagai wali kelas, aku mesti menyalurkan potensi tersebut ke jalur yang benar. Lantas, mau dibawa ke mana suara-suara mereka?
“Ki, apa kamu merasakan keresahan ketika negara ini nggak beres?” tanyaku kepada salah satu muridku, Rizki.
“Iya, Pak. Aku merasa negeri ini sedang nggak baik-baik aja. Banyak pengangguran di sana-sini, ketimpangan terlihat jelas, sampai gaji pengabdi negara yang jauh dari kata layak. Aku yakin, gaji Bapak kecil juga,” ujar Rizki.
Tiba-tiba, murid-murid lain ikut bersuara juga. Mereka ikut menyetujui perkataan Rizki.
“Baik, kuakui gajiku memang kecil. Maka dari itu, aku mau mengajak kalian untuk berdiskusi soal isu-isu hangat saat ini. Siapa tau, ada jalan keluar,” ujarku.
Diskusi dimulai saat itu juga. Beragam pendapat keluar dari mulut-mulut mereka dengan emosi yang membara. Untungnya, aku masih bisa mengontrol keadaan yang genting ini. Hingga akhirnya, keluarlah sebuah solusi dari mulutku : demonstrasi.
Keesokan harinya, semua murid telah siap dengan perlengkapan demonya masing-masing. Tulisannya pun beragam:
“Bubarkan DPR!”
“Garuda sedang sakit.”
“Potong gaji DPR sampai ke akar-akarnya!”
Aku memahami kondisi emosional mereka yang sedang meninggi, tetapi kewajiban mereka sebagai pelajar tetap harus dijalankan.
“Jangan berangkat semua. Sebagian murid harus belajar di kelas!” ujarku.
“Baik, Pak. Biar murid perempuan aja yang di kelas, Pak,” ujar Anton.
“Hei, jangan sembarangan! Aku juga mau ikut,” ujar Nita, salah satu murid perempuan.
“Ya, sudah. Jadi, sebagian murid laki-laki dan perempuan boleh ikut, sebagian lagi di kelas, termasuk Nita, ya,” kataku.
Akhirnya, Nita dan murid lain menyetujuinya meskipun ada wajah murung tanda kekecewaan. Mungkin, hati mereka seperti api besar yang disiram air secara tiba-tiba. Jadi, aku berangkat bersama murid-murid yang kupilih: Arif, Anton, Deni, Rizki, Silvia, Ahmad, Wira, Putri, dan Akbar. Mereka kupilih karena kuanggap lebih berani dan kritis.
Aku bersama murid-muridku berangkat menuju gedung dewan. Sesampainya di sana, aku heran karena hampir semua demonstran mengenakan almamater kampus masing-masing. Warnanya pun beragam, mulai dari kuning, merah, jingga, hijau, biru, sampai hitam.
“Wah, nggak ada yang darI SMK, ya,” ujarku.
“Iya, Pak. Kita aja yang dari sekolah. Kebanyakan dari kampus, Pak,” ujar Arif, salah satu muridku.
“Ya, sudah gapapa. Kita nggak boleh mundur!” balasku dengan semangat.
Demontrasi berlangsung damai, tetapi perlahan-lahan, situasinya berubah. Kekacauan terjadi di sana-sini. Banyak masa yang ditangkap tanpa diperiksa terlebih dahulu. Gas air mata menyembur tanpa arah. Bahkan, kendaraan lapis baja bergerak tanpa meihat situasi.
“Duh, bagaimana ini, Pak?” tanya Arif.
“Kalian cari tempat persembunyian terdekat. Bisa di semak, gedung kosong, atau tempat lain yang sekiranya aman. Jangan sampai ketahuan polisi. Kalian boleh keluar kalau keadaan sudah aman. Pastikan HP kalian selalu aktif supaya komunikasi lancar. Paham?”
“Paham, Pak,” jawab semua muridku.
Semua muridku berpencar supaya bisa mengamankan diri. Tiba-tiba, ada pemandangan tidak mengenakan. Kulihat ada kumpulan polisi berusaha menangkap Ahmad, Silvia, Akbar, dan Anton. Mereka mengejar hingga murid-muridku kewalahan. Tentu, aku langsung bergerak cepat.
“Jangan tangkap murid-muridku!” ujarku dengan penuh emosi sambil berlari mengejar mobil polisi.
Sayangnya, mobil polisi sudah bergerak menjauh. Aku tak kuasa menahan kekecewaan. Tindakan ini sudah kuanggap kelewatan. Apa salah murid-muridku? Mereka hanya ingin mencicipi pengalaman pertama sebagai kritikus, tetapi malah dikejar-kejar seperti petani mengejar tikus.
“Teman-teman kalian ditangkap. Kita harus berkumpul di dekat stasiun,” ketikku di dalam grup WhatsApp “Peserta Demonstrasi”.
“Siap, Pak,” jawab murid-muridku serempak.
Ketika murid-muridku yang tersisa sudah berkumpul, aku langsung memberikan arahan.
“Sebagai bentuk empati, kita harus ke kantor polisi. Usahakan sampai teman-teman kalian bisa pulang.”
“Pak, maaf memotong. Kenapa Ahmad, Silvia, Akbar, dan Anton bisa tertangkap?” tanya Putri.
“Mereka ketahuan polisi. Sebenarnya, mereka sudah berlari, tapi polisi-polisi itu terlalu kuat. Makanya, mereka tertangkap,” jelasku.
“Oh, kalau begitu, kami nggak akan pulang sampai teman-teman kami dibebaskan, Pak!” kata Deni.
“Setuju, Pak!” balas murid-murid lain.
“Baik, segera jalankan tugas ini!” balasku.
“Siap, Pak.”
Aku dan murid-muridku berangkat menuju kantor polisi. Terlihat wajah murid-muridku yang sedih di balik sel. Sungguh, aku tak tega melihatnya.
“Pak, tolong bebaskan murid-murid saya. Mereka masih sekolah dan bukan orang-orang jahat. Mereka hanya mau mencoba jadi kritis, Pak,” jelasku di hadapan salah satu polisi.
“Murid-muridmu seharusnya jangan dilepas di area demonstrasi. Berbahaya buat keselamatan mereka, Pak. “
“Iya, saya tahu, tetapi kan ada saya sebagai penanggung jawab, Pak. Jadi, jika terjadi apa-apa, biar saya yang tangani.”
“Baik, Pak. Supaya murid-murid Bapak bebas, saya meminta jaminan. Bisa dalam bentuk uang atau komitmen. Kalau mau bentuk uang, Bapak harus bayar Rp 50.000 per anak. Uang itu akan masuk ke kas negara. Kalau mau bentuk komitmen, Bapak mesti tanda tangani surat pernyataan kesetiaan terhadap negara. Tinggal pilih, Pak,” jelas polisi itu.
Aku dihadapkan pada pilihan yang berat. Kalau memilih uang, sama saja memelihara budaya pungutan liar. Kalau memilih komitmen, sama saja perjuanganku dan murid-muridku sia-sia karena setia terhadap negara yang sedang rusak.
“Saya tidak mau memilih, Pak.”
“Kalau begitu, Bapak yang kami tahan sebagai jaminan karena dianggap mengkhianati negara!” kata polisi itu.
“Tidak apa-apa, Pak. Biarkan aku yang terkurung, asal murid-muridku bebas,” jawabku.
Tangis murid-muridku pecah saat aku dibawa ke dalam sel, tukar posisi dengan murid-muridku. Mereka seperti anak yang kehilangan induknya.
“Kalau Bapak ditahan, kami gimana?” ujar Ahmad.
“Tenang saja. Aku sudah menghubungi kepala sekolah buat jemput kalian. Jaga diri kalian, ya. Lanjutkan perjuangan!” ucapku.
“Batalkan saja, Pak. Kami nggak mau pulang sebelum Bapak bebas!” ucap Akbar.
Murid yang lain menyetujui perkataan Akbar. Aku diam sejenak.
“Baik, aku paham. Kalian tunggu saja di sini. Aku akan berikan izin tidak masuk selama beberapa hari dan akan batalkan penjemputan kalian,” ujarku.
“Makasih, Pak,” ucap Akbar. Semua murid senang ketika mendengar perkataanku.
Esoknya, aku mendengar sayup-sayup suara di samping selku. Suara-suaranya terdengar tidak asing bagiku. Sepengamatanku, tidak ada satu pun petugas yang berdiam di kantor sehingga aman buat mendisikusikan hal-hal rahasia.
“Setuju.” Suara-suara itu makin terdengar jelas.
Tiba-tiba, Wira menghampiriku.
“Pak, tenang saja. Kami sudah merencanakan sesuatu supaya Bapak bebas,” ucapnya.
“Baiklah, jalankan saja,” ucapku.
Wira tersenyum mendengar perkataanku.
Ketika seorang polisi datang, terlihat semua muridku mengerubunginya. Pemandangan ini terlihat jelas karena letak selku yang berada di dekat ruang utama.
“Pak, kami ingin membebaskan guru kami. Kalau belum bebas, kami tidak mau pulang,” ujar Ahmad. Aku terharu ketika mendengar perkataannya yang tulus.
“Guru kalian bisa bebas kalau masa tahanannya sudah berakhir. Tunggu sampai seminggu lagi, ya,” ujar polisi itu.
“Wah, kelamaan, Pak. Kami bakal dianggap bolos kalau kelamaan. Jadi, tolong segera bebaskan, Pak,” ucap Akbar.
“Begini, ya, adik-adik. Masa tahanan itu sudah diatur oleh hukum yang berlaku. Jadi, ikuti saja peraturannya,” ucap polisi.
“Hmm….bilang aja, Bapak butuh cuan, kan? Begini, Pak. Kami punya uang Rp100.000 sebagai jaminan. Saya dengar, Bapak sempat meminta Rp50.000 per anak kepada guru kami, tapi beliau menolak tawaran Bapak. Tapi, kami mau memenuhi keinginan Bapak dengan uang yang kami punya. Seharusnya, kami membayar Rp200.000, tapi kami bayar dulu Rp100.000. Sisanya, bisa dibayar nanti lewat transfer. Gimana?” jelas Wira sambil menyodorkan amplop berisi uang Rp100.000.
“Gimana, ya? Boleh saja, tapi hukum harus ditegakkan.”
“Ah, Bapak munafik. Bilang aja gaji Bapak kurang buat mencukupi anak dan istri, lalu cari tambahan uang tunai. Sudahlah, Pak. Terima aja uang dari kami. Kami udah dididik tentang akhlak selama 10 tahun, jadi nggak akan berbohong soal transfer. Gimana, Pak?” balas Silvia. Dia memang murid yang pandai merayu. Jika keinginannya belum terpenuhi, dia akan menggunakan jurus rayuan mautnya.
Aku tahu tindakan ini salah, tapi karena mereka melakukannya untukku, jadi kubiarkan saja. Kalau kularang, khawatir mereka akan kecewa karena seperti mematahkan sebuah perjuangan.
“Baiklah, saya terima tawaran kalian. Pak Herman akan dibebaskan dan jangan lupa janji kalian,” ujar polisi.
“Beres, Pak. Makasih, ya, Pak,” ujar Silvia.
Akhirnya, pintu jeruji dibuka dan aku kembali hirup udara segar. Aku patut berterima kasih kepada para muridku.
“Makasih buat kalian semua. Upaya kalian patut diapresiasi setinggi-tingginya,” ucapku.
“Siap, Pak. Selagi ada uang, urusan rumit jadi mudah,” balas Anton.
Aku tertawa miris di dalam hati. Uang yang menjadi tebusan adalah kumpulan sisa ongkos. Tidak ada yang tersisa di kantong mereka.
Beberapa menit kemudian, kepala sekolah datang menjemput.
메타데이터
- post_id
- 34dbb17ecd3c
- slug
- ketika-guru-dan-murid-ikut-berdemo-34dbb17ecd3c
- url
- https://medium.com/@alfatefri/ketika-guru-dan-murid-ikut-berdemo-34dbb17ecd3c
- canonical_url
- https://medium.com/@alfatefri/ketika-guru-dan-murid-ikut-berdemo-34dbb17ecd3c
- author_url
- https://medium.com/@alfatefri
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-17 21:41:29