← Back to list

Manusia dan “Kebiasaan” Mereka dalam Merendahkan Perempuan

Secara definisi, kata gender merujuk pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan fungsi/peran masing-masing di kehidupan…

Maulidya Aleysha in Perspektif Perempuan · 2026-06-06 07:44 · 271 claps · 4.7 min read
#perspektif-perempuan #budaya-patriarki #patriarchy #bahasa-indonesia #gender-equality
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment CRY · Crypto & Web3 ✊ · Equality & Identity

Photo by Gayatri Malhotra on Unsplash

Photo by Gayatri Malhotra on Unsplash

Manusia dan “Kebiasaan” Mereka dalam Merendahkan Perempuan

Secara definisi, kata gender merujuk pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan fungsi/peran masing-masing di kehidupan sosial. Konsep tersebut pada dasarnya merupakan hasil konstruksi sosial seperti; Laki-laki merupakan gender yang kuat fisik serta mental dan harus bekerja, sedangkan Perempuan merupakan gender yang halus tutur-kata serta memiliki tingkah laku yang tenang (Alifiulahtin Utaminingsih, 2024).

Gender melihat tiap individu berdasarkan bagaimana seharusnya peran mereka dalam kehidupan sosial, hal ini tidak ada hubungannya dengan apa jenis kelamin individu tersebut — di mana mungkin saja Perempuan secara biologis tidak sesuai dengan cetakan gender perempuan yang harus halus serta lemah lembut. Sebagai makhluk sosial, manusia akan lebih terbiasa dengan stereotip gender yang merupakan hasil konstruksi sosial itu sendiri.

Akan tetapi, konsep gender yang merupakan produk sosial pada kenyataannya tidak sepenuhnya hanya dilihat sebagai konstruksi peran masing-masing gender. Akhir-akhir ini viral sebuah kasus di mana beberapa mahasiswa Laki-laki dari sebuah Universitas di Indonesia merendahkan Perempuan secara seksual. Gender yang merupakan sebuah hasil konstruksi atas peran antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan sosial berubah menjadi visual/tampilan mereka — dalam konteks ini adalah perempuan yang menjadi bahan obrolan seksual mahasiswa laki-laki tersebut. Perempuan dalam lingkungan sosial tidak dilihat sebagai seseorang yang memiliki perasaan maupun peran penting dan hanya dinilai sebatas dari tampilannya, apakah mereka menarik atau tidak (Maryam dkk., 2024). Hal ini menunjukkan bagaimana lingkungan sosial telah mengurangi makna dari gender perempuan sebatas melihat tampilan fisik mereka saja telah dinormalisasikan.

Permasalahan ini tidak akan terjadi bila budaya tidak secara perlahan membentuk konsep patriarki. Berdasarkan KBBI, budaya dapat diartikan sebagai sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sudah susah untuk diubah. Budaya secara perlahan memetakan fungsi gender secara umum artinya patriarki telah mengakar di kehidupan sosial.

21 April dirayakan sebagai hari Kartini sebagai bentuk perjuangan perempuan untuk menerima pendidikan serta pekerjaan yang setara — perempuan harus berjuang hanya untuk mendapatkan hak mereka sebagai manusia di kehidupan sosial. Perempuan diberi batasan dalam pendidikan merupakan bagaimana budaya patriarki setempat yang berkembang melihat perempuan tidak seharusnya memiliki kecerdasan tinggi karena pada akhirnya mereka hanya perlu mengurus rumah.

Perbedaan perlakuan gender ini juga dapat dilihat dari bagaimana laki-laki diwajarkan dalam bertindak secara liar seperti perkataan, serta perbuatan. Bila laki-laki melakukan tindakan yang mengusik orang lain seperti berisik, lingkungan sosial akan menganggap “boys will be boys”. Sedangkan bila perempuan memiliki sifat yang sama seperti laki-laki, mereka akan dianggap sebagai perempuan yang susah diatur. Gender serta sifat individu ini pada dasarnya tidak memiliki korelasi, antara perempuan dan laki-laki hanya memiliki perbedaan secara biologi, sifat keduanya tidak bisa dihubungkan dengan gender mereka — Kembali merujuk pada konsep gender yang merupakan hasil konstruksi sosial (Alifiulahtin Utaminingsih, 2024). Perbedaan perlakuan atas perbedaan gender diakibatkan oleh bagaimana lingkungan sosial yang didasari budaya patriarki menganggap perempuan seharusnya lemah lembut terlepas tiap individu memiliki perbedaannya sendiri.

Pelecehan secara umum tidak dapat dikaitkan dengan gender karena siapapun dapat menjadi pelaku maupun korban. Merujuk kembali kepada kasus beberapa mahasiswa laki-laki yang mengobjektivikasi perempuan dalam ruang percakapan, hal ini disebabkan bagaimana budaya patriarki, ketidaksetaraan gender, stereotip sosial mewajarkan tindakan laki-laki yang menormalisasi pelecehan serta merendahkan perempuan (Sardi dkk., 2025). Tindakan mahasiswa tersebut dalam mengobjektivikasi perempuan membuat publik terbagi menjadi dua sisi; di mana menganggap hal tersebut setara dengan pelecehan seksual secara langsung, serta pihak yang menganggap bahwa kasus tersebut dibesar-besarkan dari hal yang biasa saja.

Terlepas apakah kasus ini terdapat korban secara langsung maupun tidak, mahasiswa-mahasiswa serta publik yang menganggap kasus tersebut sebagai hal biasa, melihat perempuan sebagai sesuatu yang wajar sebagai bahasan atau objek seksual. Normalisasi ini dapat dilihat dengan keberadaan Piramida Budaya Pemerkosaan, di mana tingkatan paling dasar dari bentuk pemerkosaan merupakan normalisasi dalam bercanda seksis. Terlepas dari tindakan tersebut dapat dilakukan oleh siapapun, budaya patriarki yang menjustifikasi tindakan laki-laki berperan dalam perihal ini — Laki-laki sering dikenang karena pencapaian heroik atau keberaniannya, sedangkan perempuan akan sering diingat karena penampilan fisik dan kemampuannya mempengaruhi orang lain melalui tampilan fisik mereka (Balraj dalam Sardi dkk., 2025). Perempuan menjadi bahan objektivikasi hanya karena mereka hidup di lingkungan yang terikat dengan budaya patriarki.

Perempuan telah sering kali direndahkan worth mereka sebatas dari tampilan fisik saja. Tidak hanya itu, bentuk merendahkan perempuan tidak hanya sebatas pada melihat mereka sebagai objek seksual, akan tetapi dengan bagaimana lingkungan sosial melihat perempuan sebagai makhluk yang tidak cukup kuat atau mampu dalam peran penting dalam lingkungan sosial. Perempuan dilihat sebagai seseorang yang akan lebih cocok untuk melaksanakan pekerjaan rumah seperti menjadi seorang ibu rumah tangga, sedangkan laki-laki dianggap memiliki kemampuan lebih unggul (Faisal dkk., 2024; Saefulloh dkk., 2023). Hal ini menjadi alasan bagaimana perempuan tidak diberikan posisi untuk terlibat dalam aspek sosial.

Merendahkan makna gender perempuan dapat dilihat bagaimana keterlibatan secara aktif perempuan masih sering kali diatur terlepas dalam bentuk paksaan maupun tidak. Salah satu contoh dari perbedaan dalam keterlibatan antara perempuan dengan laki-laki akibat perempuan yang dianggap lebih rendah adalah keterlibatan dalam politik, laki-laki dijuluki “born to be leader” sedangkan perempuan yang sedari kecil dianggap lebih dewasa dibandingkan laki-laki, justru dianggap tidak sepenuhnya didukung untuk terjun dalam politik dengan berbagai alasan yang berakar dari budaya patriarki(Faisal dkk., 2024). Terdapat obsesi dalam mengistimewakan laki-laki untuk mengendalikan berbagai perihal Budaya patriarki, menjadikan Perempuan dinomorduakan dalam lingkup pekerjaan (Saefulloh dkk., 2023). Terlepas perbedaan kesempatan dalam pekerjaan tidak mengobjektivikasi perempuan, budaya patriarki tersebut tetap merendahkan nilai serta kemampuan perempuan dengan menganggap mereka tidak cukup membawa pengaruh dalam pekerjaan maupun politik.

Berbagai bentuk pelecehan serta merendahkan seseorang tidak dapat dikaitkan dengan gender, seperti laki-laki dapat dilecehkan ataupun perempuan dapat merendahkan orang lain. Akan tetapi, bentuk pelecehan maupun merendahkan yang dialami perempuan sangat erat kaitannya dengan budaya patriarki yang telah mengakar kuat di kehidupan sosial sehari-hari, seperti membenarkan atau mengatur tindakan masing-masing gender.

Akibat dari patriarki yang mengakar kuat, perempuan yang direndahkan dianggap sebagai hal biasa saja — seperti bagaimana percakapan tertutup dalam sebuah ruang obrolan mengenai perempuan yang menjadi bahan objek seksual laki-laki dapat membagi opini publik menjadi dua bagian.

Seharusnya lingkungan sosial di manapun itu termasuk dunia maya menjadi tempat yang aman bagi siapapun, tidak seharusnya patriarki yang membawa berbagai tindakan merendahkan perempuan dijadikan sebagai “kebiasaan”.

Referensi:

Alifiulahtin Utaminingsih. (2024). KAJIAN GENDER: BERPERSPEKTIF BUDAYA PATRIARKI. Universitas Brawijaya Press. https://books.google.com/books/about/KAJIAN_GENDER.html?id=2ygDEQAAQBAJ

Faisal, M., Fachyuzar, M. Z., Lumbangaol, P., & Sihombing, A. (2024). 2 Dekade Affirmative Action Keterwakilan Perempuan dalam Politik Indonesia: (Hambatan Perempuan dalam Budaya Patriarki). Rechtsnormen Jurnal Komunikasi Dan Informasi Hukum, 3(1), 55–60. https://doi.org/10.56211/rechtsnormen.v3i1.628

Maryam, A., Siregar, E. F., Armiya, & Taufiq, M. (2024). Problem Objektifikasi Wanita di Media Sosial: Tinjauan Kritis Konsep Gender : The Problem of Objectification of Women in Social Media: A Critical Review of the Concept of Gender. Journal of Islamic and Occidental Studies, 2(2), 236–250. https://doi.org/10.21111/jios.v2i2.44

Saefulloh, F., Suryana, H. Y., Nisari, N., Setiawan, A., Pamungkas, K. B. W., & Wijayakusuma, F. R. (2023). Pengaruh Budaya Patriarki Terhadap Orientasi Karier Perempuan. MANIFESTO Jurnal Gagasan Komunikasi, Politik, Dan Budaya, 1(1), 7–12.

Sardi, E. T., Zakiah, L., Triningsih, Erwandi, A. M., Khairunisa, W., & Masayu, N. O. (2025). Analisis Objektifikasi Seksual dan Kekerasan terhadap Perempuan di Indonesia. Pahlawan: Jurnal Ilmu Pendidikan-Sosial-Budaya, 21(2), 269–279. https://doi.org/10.57216/pah.v21i2.10


메타데이터
post_id
35138ee50674
slug
manusia-dan-kebiasaan-mereka-dalam-merendahkan-perempuan-35138ee50674
url
https://medium.com/perspektif-perempuan/manusia-dan-kebiasaan-mereka-dalam-merendahkan-perempuan-35138ee50674
canonical_url
https://medium.com/perspektif-perempuan/manusia-dan-kebiasaan-mereka-dalam-merendahkan-perempuan-35138ee50674
author_url
https://medium.com/@maulidya.aleysha2017
status
ok
fetched_at
2026-06-14 13:58:26