← Back to list

Komunikasi Bencana Palu 2018 dari Teori Sistem Niklas Luhmann

Rangkaian bencana Palu pada 28 September 2018 merupakan salah satu bencana paling besar di Indonesia. Gempa berkekuatan 7,4 magnitudo…

Ghinaa Rahmatika · 2026-05-26 07:47 · 1 claps · 4.4 min read
#niklas-luhmann #luhmann #bencana #palu #disaster-response
Open on Medium ↗

Komunikasi Bencana Palu 2018 dari Teori Sistem Niklas Luhmann

Tsunami dan gempa berkekuatan 7,4 magnitudo yang menghantam Palu, Sulawesi Tengah. (Sumber foto: Detik.com)

Tsunami dan gempa berkekuatan 7,4 magnitudo yang menghantam Palu, Sulawesi Tengah. (Sumber foto: Detik.com)

Rangkaian bencana Palu pada 28 September 2018 merupakan salah satu bencana paling besar di Indonesia. Gempa berkekuatan 7,4 magnitudo akibat pergerakan Sesar Palu-Koro mengguncang wilayah sekitar Palu dan Donggala, sehingga menyebabkan jumlah korban meninggal dan hilang sebanyak 4.430 jiwa[1]. Guncangan gempa menyebabkan tsunami dengan ketinggian mulai 0,5 meter hingga 3 meter di Palu dan ketinggian 0,5 meter di Mamuju. Selain itu, kondisi tanah yang berpasir juga dapat menyebabkan likuifaksi pada kawasan di Balaroa, Jono Oge, dan Petobo.

Rangkaian bencana alam ini membuat banyak korban menderita kerugian dan kerusakan. Kendati demikian, koordinasi pemerintah yang kurang dapat menyebabkan jumlah korban bertambah banyak. Gempa dan Tsunami Palu menjadi contoh pentingnya komunikasi krisis bencana dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Berdasarkan sisi geografis, Kota Palu memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi akibat adanya sesar Palu-Koro. Sesar ini dikenal dengan zona patahan aktif dengan potensi gempa besar. Kekuatan sesar ini bahkan mencapai tiga kali lipat dibandingkan pergerakan sesar lain sehingga potensi gempa dapat terjadi (Pratiwi et al., 2022).

Selain itu, wilayah Pesisir Palu berisiko tinggi diterjang tsunami, dengan potensi ketinggian lebih dari tiga meter. Beragam kajian geologi menyebutkan panjang jalur sesar Palu-Koro mencapai sekitar 500 km. Kawasan Palu berulang kali diguncang bencana, seperti gempa bumi dan tsunami Palu 1927, serta gempa dan tsunami yang melanda Toli-Toli dan Palu pada 1996.

Komunikasi Ekologi dalam Bencana Palu 2018

Niklass Luhmann, sosiolog asal Jerman. (Sumber foto: Universitat Bielefd)

Niklass Luhmann, sosiolog asal Jerman. (Sumber foto: Universitat Bielefd)

Pendekatan dalam memahami isu bencana dikembangkan melalui konsep komunikasi ekologi (ecological communication) yang diperkenalkan oleh Niklas Luhmann. Luhmann (1989) menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran dalam risiko bencana melalui komunikasi. Semakin tinggi pemahaman tentang bencana, semakin tinggi kesadaran untuk menghindari risiko. Komunikasi yang lemah justru dapat membatasi kemampuan masyarakat dalam mendeteksi dan menanggapi bencana yang terjadi (Wahyuni, 2019).

Kondisi komunikasi yang lemah ini terlihat dalam masyarakat Palu mengalami literasi yang minim atas bencana alam. Meskipun institusi seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) aktif melakukan sosialisasi kepada warga pasca bencana, kesiapsiagaan masyarakat di Kota Palu masih dinilai kurang.

Dalam komunikasi ekologi, sistem sosial merupakan sistem autopoiesis untuk membentuk struktur sistemik dalam mengurangi kompleksitas internal dan eksternal. Sistem sosial bisa terganggu akibat perubahan lingkungan, namun reaksi pada gangguan itu ditentukan oleh internal sistem. Proses tersebut dikenal sebagai resonansi.

Sistem berinteraksi dengan lingkungan yang kemudian mengurangi kompleksitas berdasarkan kode biner yang dimiliki sistem tersebut. Kode biner dapat berupa pemerintah atau oposisi dalam sistem politik, untung atau rugi dalam sistem ekonomi, legal atau ilegal dalam sistem hukum, dan benar atau salah dalam sistem sains. Komunikasi dapat dinilai gagal apabila kode biner dalam sistem sosial tidak cukup peka untuk menangkap sinyal bahaya dari lingkungan.

Kemampuan komunikasi masyarakat dalam menghadapi bencana Palu 2018 dipengaruhi sistem ekonomi dan politik memproses informasi risiko bencana. Dalam sistem ekonomi, uang menjadi sarana untuk menjalankan kode biner untung atau rugi. Pada konteks bencana Palu, komunikasi di sistem sosial bisa gagal apabila kebijakan pemerintah mengintervensi program risiko bencana. Misalnya, jika pemerintah lebih memprioritaskan investasi lahan pesisir (kode biner: untung) daripada pembangunan sistem peringatan dini (kode biner: rugi), maka sinyal bahaya tsunami akan dianggap sebagai gangguan yang tidak relevan bagi sistem ekonomi. Akibatnya, kebijakan pemerintah yang fokus pada keuntungan dalam jangka pendek menjadi gangguan pada kompleksitas ancaman bencana yang nyata.

Resonansi sistem politik terhadap isu bencana di Palu menunjukkan lembaga eksekutif maupun legislatif masih belum memperhatikan pada program mitigasi bencana di Palu secara menyeluruh. Meskipun Pemerintah Palu telah menyusun Indeks Ketahanan Daerah (IKD) sebagai instrumen menghadapi risiko bencana, namun program tersebut baru sekadar formalitas administrasi dan belum membangun komunikasi publik yang fokus pada ancaman.

Sistem politik akan beresonansi jika bencana mengancam kekuasaan atau stabilitas sebuah birokrasi. Dengan demikian, isu bencana hanya akan direspons apabila ada kaitan bencana hanya bisa menambah perolehan suara atau menjaga legitimasi kekuasaan. Resonansi politik dan ekonomi yang tumpang tindih dapat mengganggu komunikasi ekologi.

Dalam perspektif sistem Luhmann, masyarakat mampu berkomunikasi pada sistem sosial yang tertutup. Selain itu, masyarakat sensitif pada lingkungan, namun kepekaan masyarakat hanya bisa melalui sistem komunikasi secara internal, bukan lingkungan di luar sistem. Masyarakat Palu bisa saja sekadar memahami adanya Sesar Palu-Koro, namun pengetahuan ini baru bisa menjadi komunikasi yang masif apabila sistem komunikasi internal berjalan dengan baik.

Jika sistem politik hanya fokus pada kekuasaan dan sistem ekonomi fokus pada investasi, bencana tetap dianggap “gangguan” karena tidak masuk dalam hitungan kekuasaan atau keuntungan. Sistem ekonomi dan politik saling membutuhkan satu sama lain. Apabila sistem gagal menjalankan fungsinya, tidak ada yang bisa mengambil alih.

Melalui komunikasi ekologi, informasi ancaman bencana seharusnya mendorong sistem sosial untuk menciptakan resonansi sesuai fungsi sistemnya. Pada masyarakat modern, media menjadi jembatan untuk menggambarkan realitas bencana bagi masyarakat. Kenyataannya, komunikasi ekologi bisa gagal karena media lebih fokus memberitakan peristiwa bencana dibandingkan narasi kesiapsiagaan.

Kecemasan potensi bencana masih akan terus dihadapi oleh masyarakat Palu jika belum ada transformasi media yang kuat. Sehingga, penerapan istilah “risiko bencana” melalui literasi digital ke dalam komunikasi masyarakat sehari-hari menjadi kunci agar kesadaran warga meningkat. Pemerintah Kota Palu, BPBD, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPD) dapat menggunakan media sosial seperti Whatsapp untuk membahas edukasi bencana sehingga masyarakat melek akan informasi bencana.

Gempa 7,8 magnitudo menghantam pusat perbelanjaan di Palu. (Sumber foto: Antara News)

Gempa 7,8 magnitudo menghantam pusat perbelanjaan di Palu. (Sumber foto: Antara News)

Rangkaian bencana di Palu 2018 menjadi refleksi bahwa terjadi masalah komunikasi di mana sistem-sistem sosial seperti ekonomi dan politik belum mampu mereduksi kompleksitas sehingga berpotensi menimbulkan kehancuran sistemik. Mengingat Palu adalah lokasi rawan bencana, Pemerintah Daerah dituntut lebih peka terhadap isu potensi bencana dan mendorong resonansi yang lebih besar dari sistem fungsi politik dan ekonomi, bahkan fungsi sistem lainnya seperti hukum, pendidikan, agama dan seni.

Konsep adaptasi harus diterapkan Pemerintah Kota Palu dalam menghadapi bahaya bencana alam, sehingga pemerintah mampu mengembangkan model komunikasi bencana yang ideal. Pemerintah juga perlu mengadaptasi sosialisasi melalui literasi digital secara masif melalui media daring dan media sosial, sehingga kesadaran masyarakat untuk mendeteksi ancaman bencana semakin meningkat.

Sumber: [1] https://www.metrotvnews.com/read/KdZCjeQZ-onthisday-7-tahun-tragedi-palu-donggala-ribuan-tewas-dalam-gempa-tsunami-dan-likuefaksi Diakses pada 3 Mei 2026

Luhmann, N. (1989). Ecological communication. Translated by Jr, J. Chicago: University of Chicago Press.

Pratiwi, W., Martha, A. A., & Setyonegoro, W. (2022). Identifikasi letak Sesar Palu Koro menggunakan metode gravitasi mikro. 3(5), 20–24. https://doi.org/10.3451/buletinmkg.v2i6.50

Wahyuni, H. I. (2019). Ecological communication in information society: Reflections on Niklas Luhmann’s thought in understanding ecological and disaster issues in Indonesia. Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, 04(01), 09–17.


메타데이터
post_id
35b2e76beeb2
slug
komunikasi-bencana-palu-2018-dari-perspektif-niklas-luhmann-35b2e76beeb2
url
https://medium.com/@ghinaar/komunikasi-bencana-palu-2018-dari-perspektif-niklas-luhmann-35b2e76beeb2
canonical_url
https://medium.com/@ghinaar/komunikasi-bencana-palu-2018-dari-perspektif-niklas-luhmann-35b2e76beeb2
author_url
https://medium.com/@ghinaar
status
ok
fetched_at
2026-06-21 15:33:18