Mendefinisikan Ulang Makna ‘Rumah’: Analisis Visualitas Film Shoplifters Dalam Membedah Isu Sosial…
sumber: https://www.imdb.com/title/tt8075192/
Mendefinisikan Ulang Makna ‘Rumah’: Analisis Visualitas Film Shoplifters Dalam Membedah Isu Sosial dan Kemiskinan Struktural

sumber: https://www.imdb.com/title/tt8075192/
Ketika pertama kali melihat poster film ini, apa yang kalian pikirkan? sebuah keluarga bahagia? Pantai yang indah? Liburan musim panas? benar sekali. Tapi lebih dalam dari itu, salah satu karya terbaik sutradara Hirokazu Kore-Eda ini mengangkat isu sosial tentang kemiskinan Struktural yang manis, tragis, ironis dan mungkin bisa bikin nangis.
Bukan tanpa alasan, saya memilih membahas film ini karena di Negara kita sendiri sedang hits-hits nya membahas tentang RUU PKS (sekarang UU TPKS/Tindak Pidana Kekerasan Seksual) Meskipun film ini berlatar di Jepang, kegagalan sistem perlindungan anak di sana sangat mirip dengan urgensi penerapan UU TPKS di Indonesia yang sangat relevan dengan film Shoplifters (2018) karya Hirokazu Kore-Eda yaitu berisikan kritik sosial terhadap penelantaran anak, kekerasan domestik, dan kegagalan sistem perlindungan sosial.
Gimana sih rasanya punya keluarga tetapi dunia mencoba memisahkannya?

sumber: https://www.lab111.nl/second-chance-cinema-shoplifters/
film yang berlatar di Jepang ini menceritakan tentang Keluarga Shibata yang hidup miskin sampai harus mencuri untuk bertahan hidup, hingga akhirnya mereka menemukan gadis kecil bernama Yuri yang terlantar dari orang tuanya yang abusif, bukannya melapor mereka memilih merawatnya dengan tulus meski sadar resikonya besar. Sebelum itu Osamu (sang Ayah) juga menemukan Shota (anak laki-laki) di dalam sebuah mobil yang terkunci di parkiran pachinko (tempat judi). Secara hukum sistem yang ada, mengambil Shota adalah penculikan. Namun, secara kemanusiaan, itu adalah tindakan penyelamatan karena orang tua kandungnya menelantarkannya. Mereka semua tinggal di rumah Nenek (Hatsue) yang bahkan tidak sedarah dengan siapa pun dari mereka. Dia adalah pemilik rumah sebenarnya yang hanya mengandalkan uang pensiun suaminya yang sudah meninggal yang dirahasiakan keberadaannya. Melalui film Shoplifters, kita diperlihatkan sebuah sistem yang mengalami kegagalan fungsi (error). Keluarga Shibata adalah bukti nyata dari risiko yang muncul jika sebuah desain (dalam hal ini kebijakan publik) dilakukan tanpa riset lapangan yang mendalam. Keluarga Shibata digambarkan sebagai manusia yang tetap berupaya bekerja (Osamu sebagai buruh bangunan dan Nobuyo di industri binatu) Namun, pekerjaan mereka tidak memiliki jaring pengaman sosial. Ketika Osamu mengalami kecelakaan kerja, tidak ada sistem asuransi yang melindunginya. Di sini saya melihat bahwa risiko desain sistem yang tidak inklusif memaksa individu untuk menempuh jalan 'ilegal' (mencuri) sebagai bentuk kompensasi atas hak-hak dasar yang tidak dipenuhi oleh negara.
tapi di balik dari semua itu ada pertanyaan yang lebih dalam tentang “apasih arti dari keluarga?” saat perlahan lahan rahasia mereka terbongkar, kita dibuat merenung. tapi karena momen momen hangat sepanjang film, kenyataan pahit tidak mengubah cara kita memandang mereka. Yang bikin kaget ternyata, film ini terinspirasi dari berita di Jepang tentang sebuah keluarga yang merahasiakan kematian kakek mereka demi terus mendapatkan uang pensiunnya. Hingga kemudian Kore-eda melakukan riset: Kenapa mereka sampai melakukan itu? Bagaimana cara mereka bertahan hidup sehari-hari? Saya kagum bagaimana sang sutradara berhasil menyatukan keindahan visual dengan pesan moral yang mendalam—sebuah pencapaian yang terbukti lewat keberhasilan film ini memenangkan penghargaan Palme d'Or di Cannes Film Festival 2018.
Setelah menonton film ini, kita jadi paham definisi makna “Rumah” yang sebenarnya.

sumber: https://www.rirca.es/sobre-koreeda-xiii-shoplifters-2018-o-los-limites-de-la-bondad/
Rumah mereka yang berantakan dan sempit adalah "desain" ruang yang lahir dari kemiskinan. Bagaimana lingkungan fisik itu memengaruhi mental mereka? Namun saya melihat sisi lain bagaimana komposisi rumah yang sempit dan berantakan justru didesain untuk memberikan rasa “hangat” dan “kekeluargaan” yang lebih kuat daripada rumah mewah. Kore-eda sangat detail dalam mendesain set rumah. Dia meriset barang apa saja yang biasanya dikumpulkan oleh orang miskin di Jepang. Rumah dalam Shoplifters dibuat sangat sesak dan berantakan karena dia menemukan fakta bahwa orang yang merasa tidak aman secara ekonomi cenderung menimbun barang sebagai bentuk perlindungan. Uniknya, dalam film ini Hirokazu Kore-Eda menggunakan sinematografi statis dengan penempatan kamera di pojok pojok ruangan, di kolong meja hingga di dalam lemari yang membuat kita sebagai penonton, rasanya seperti masuk ke dalam cerita dan menjadi tetangga yang “mengintip” kehidupan mereka sehari-hari. Di Sepanjang film penonton difokuskan pada visual yang hangat dan dialog yang sangat natural dari para tokoh.
Salah satu scene yang membekas adalah disaat mereka sedang berkumpul melihat kembang api. Namun tidak diperlihatkan indahnya kembang api itu, melainkan bagaimana melalui teknik high angle shot itu berfokus memperlihatkan pada keluarga sederhana yang bahagia walaupun hidup mereka tidak baik-baik saja sedang melihat ke arah langit.
Bukan hanya sekedar menjual cerita sedih, Sutradara Kore-eda juga menyelipkan detail budaya-budaya leluhur dan kebiasaan masyarakat jepang untuk menunjukkan sisi manusiawi. Ini menyadarkan saya bahwa dalam merancang sesuatu untuk masyarakat, saya harus memahami kebiasaan-kebiasaan kecil dan 'pamali' lokal agar solusi desain saya tidak asing bagi penggunanya.

sumber: https://en.kinorium.com/1660567/
“Hanya karena kamu melahirkan, bukan berarti kamu otomatis jadi seorang ibu”
Itulah dialog terakhir yang paling saya ingat dari film ini ketika karakter sang Ibu Nobuyo Shibata (yang diperankan Sakura Ando) saat diinterogasi polisi. setelah keluarga ‘palsu’ ini tertangkap dan ditanya hubungannya dengan Yuri, anak kecil yang mereka culik atau selamatkan dari keluarga kandungnya yang abusif.
Proses kreatif Hirokazu Kore-eda dalam Shoplifters adalah contoh sempurna dari riset terapan. Ia tidak hanya berasumsi tentang kemiskinan, tetapi melakukan observasi langsung ke panti asuhan dan membedah kasus kriminal nyata. Sebagai calon desainer, saya belajar bahwa risiko desain tanpa riset adalah terciptanya karya atau solusi yang dangkal dan penuh stereotip. Tanpa riset lapangan yang jujur, kita mungkin hanya akan melihat kemiskinan sebagai angka, bukan sebagai kompleksitas emosi dan perjuangan manusia seperti yang berhasil ditangkap oleh Kore-eda. Film ini mendapat banyak pujian karena berhasil "menampar" publik dengan memperlihatkan bahwa di balik kemegahan kota Tokyo, ada orang-orang yang harus mencuri hanya untuk makan, bagaimana penonton jadi lebih peduli pada isu penelantaran anak, dan bagaimana film ini mengkritik desain hukum yang kaku.

sumber: https://www.instagram.com/p/CIRQcULpg7Q/
Dari sini saya juga sadar bahwa desain bukan lagi soal visual, melainkan sebuah metodologi untuk membedah masalah. Film Shoplifters memperlihatkan bahwa tanpa riset yang berbasis empati, desain kebijakan publik hanya akan menjadi produk yang gagal bagi mereka yang berada di garis kemiskinan. Melalui Shoplifters, saya belajar bahwa tugas desainer bukan hanya untuk mempercantik dunia bagi mereka yang sudah berkecukupan, tetapi untuk merancang jembatan bagi mereka yang selama ini terpinggirkan dan tidak terlihat oleh sistem. Saya kagum bagaimana film ini mengubah standar saya berkarya nanti (ingin membuat desain yang punya dampak sosial). Seperti Jika nanti saya membuat desain ruang publik, saya akan meriset bagaimana tunawisma atau pekerja harian menggunakannya, bukan cuma melihat sisi estetikanya saja.
referensi:
메타데이터
- post_id
- 35d012d2cb72
- slug
- mendefinisikan-ulang-makna-rumah-analisis-visualitas-film-shoplifters-dalam-membedah-isu-sosial-35d012d2cb72
- url
- https://medium.com/@muhamadaril2025/mendefinisikan-ulang-makna-rumah-analisis-visualitas-film-shoplifters-dalam-membedah-isu-sosial-35d012d2cb72
- canonical_url
- https://medium.com/@muhamadaril2025/mendefinisikan-ulang-makna-rumah-analisis-visualitas-film-shoplifters-dalam-membedah-isu-sosial-35d012d2cb72
- author_url
- https://medium.com/@muhamadaril2025
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 18:44:07