← Back to list

YPN 5: Kekonyolan Semasa Kecil

Ada hal-hal yang jika diingat sekarang, rasanya cuma bisa geleng-geleng sambil tertawa sendiri. Antara malu, dan bersyukur. Karena ya……

She's anA · 2025-11-15 15:05 · 0 claps · 4.0 min read
#childhood-memories #foolishness #kenangan-masa-kecil #konyol #trauma
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🧠 · Mental Wellness

YPN 5: Kekonyolan Semasa Kecil

Ada hal-hal yang jika diingat sekarang, rasanya cuma bisa geleng-geleng sambil tertawa sendiri. Antara malu, dan bersyukur. Karena ya… Beberapa ide masa kecil itu berpotensi fatal juga sebenarnya 😅.

Kadang saya berpikir, masa kecil itu semacam masa di mana otak belum sepenuhnya tersambung dengan logika, tapi imajinasi bisa bekerja tanpa batas. Semua hal terasa mungkin, bahkan pada hal-hal yang sekarang jelas-jelas mustahil bila dipikirkan. Hadeuhh bocah. Ehe.

Tapi begitulah masa kecil. Penuh rasa ingin tahu yang begitu polos, dengan keberanian tanpa pikir panjang.

  1. Penemuan Sisik Ikan

Kala itu setelah makan siang, entah apa yang ada dipikiran seorang Ana yang sudah masuk kelas 5 Sekolah Dasar. Yang saya ingat adalah kami makan ikan yang ukurannya cukup besar. Beberapa saat setelah makan siang, saya menemukan sisik ikan yang ukurannya lebih besar dari biasanya di atas meja.

Warnanya bening, dengan bentuk melingkar pipih. Mengingatkan saya pada adegan film saat seseorang memasukkan lensa mata di depan cermin. Nah, dari sini imajinasi masuk dong. Mirip nih bentukannya. Namun demikian, sebagai makhluk yang berpikir, saya tentu tidak akan melakukannya…. setelah kejadian ini🙃.

Dah masukin nih (ukurannya cukup besar). Kok susah masuk yak. Paksa supaya bisa masuk. Penasaran saya yang begitu besar mengalahkan pikiran yang akan terjadi. Pokoknya saya mau lihat mata saya yang indah dengan penemuan lensa sisik ikan ini🤪.

Daaan… Masuk deh, mantappp. Sesaat kemudian, sakitnya semakin menjadi. Saya pikir itu reaksi yang wajar dirasakan. Namun tidak seperti yang saya bayangkan saat pakai lensa, mata malah semakin perih.

Nda bisa ka’ melihat. BUTA KA’! BUTA KA’!! BAPAK! BUTA KA’” (Berlari panik terbirit-birit ke arah Bapak, sambil memegangi mata berusaha mengeluarkan sisik ikan)

Bapak yang kala itu juga kewalahan segera memanggil kakak Ita yang tak jauh dari situ. Kakak Ita hanya bisa tertawa sambil memperhatikan sisik ikan yang nyempil di mata saya. Haha. Bisa-bisanya bocah. Belum juga mulai dipegangnya, akhirnya sisik ikan keluar sendiri karena saya keburu ngereog tidak karuan. Dah lah. Gak lagi deh. Saya kira saya akan mati saat itu😅.

Jika sisik itu tidak bisa lepas dan terjadi sekarang, saya mungkin sudah ada di headline news: “Anak SD Dilarikan ke Rumah Sakit Karena Mengira Sisik Ikan Bisa Jadi Lensa Mata” ;)

2. Jaring Net Badminton yang Melorot

Ini lagi satu… Peristiwa berdarah semasa kelas 3 SD. Jauh sebelum saya mengingat masa kecil, sekitar perumahan kami sudah lama berdiri lapangan badminton. Bapak sering melatih siswa SMA yang akan bertanding, dan juga melatih kami anak-anaknya bermain bulu tangkis di situ. Jika sedang tidak dipakai berlatih, kami anak-anak kecil sering bermain di sekitar lapangan.

Saat itu lapangan masih kosong. Pada bagian sudut lapangan, jaring net badminton ada yang melorot, seperti membentuk lubang jaring yang besar.

Tiba-tiba saja, imajinasi khas bocah muncul. Melihat semacam tali yang melorot, maka artinya elastis. Dan benar sekali… Sekejap muncul bayangan lompat tali karet, seperti yang saya mainkan bersama teman-teman. Pikiran intrusive saya berkata “Itu mirip lompat tali. Ayo LOMPAT Ana!… LOMPAT!” Dan… akhirnya saya lompat seperti lompat tali.

Dalam sekejap bibir saya mencium tanah air. Kaki saya tersangkut pada jaring net. Wajah saya adalah bagian yang pertama kali mendarat pada lantai lapangan. Tangan saya? Mereka bahkan tak sempat menyadari apa yang terjadi.

Jangan bayangkan lantai lapangan yang biasanya saya lihat di tempat penyewaan badminton. Yang ini, lantainya lebih kasar. Seperti semen yang di bawahnya ada kerikil tajam. Sengaja dibuat begitu, agar lapangan tidak licin saat bermain.

Darah dari bibir seketika mengucur deras hingga ke pakaian saya

Jago! Jago! (Sambil menepuk tangan)” Ibu yang saat itu melihat kejadian, mengalihkan reaksi terkejut saya atas kekonyolan tadi. Disitulah saya sadar, tidak selamanya tali yang melorot itu elastis seperti karet😐.

Dan benar. Saya tidak menangis. Tapi SHOCK. Seperti sesuatu sedang menghantam ‘ke-soktahu-an’ saya. Haha. Setelah itu saya lupa apa yang terjadi. Yang saya ingat, saya pulang dan segera diobati.

3. Bukan ‘Crab Mentality’ lagi, tapi ‘tenggelam mental ity’

Ingatan ini selalu melompat ke momen di mana saya terpental. Ya. Mental terpental. Dan akhirnya kena mental…

Sebelum kantor pemerintahan berpindah di daerah trans, daerah sekitar rumah Omi’ adalah pusat kota Malili. Wilayah ini ditandai dengan sungai besar yang menjadi pusat aktivitas perikanan di kawasan Malili. Para nelayan umumnya menjadikan sungai ini sebagai lokasi tambat perahu sebelum melaut.

Hari itu saya dan Fauziah berkunjung ke rumah Omi’, yang mana tepat di belakang rumahnya adalah sungai Malili. Sebagai bolang — setengah matang (karena tidak bisa berenang), aktivitas sungai adalah hal langka bagi saya dan Fauziah. Maka tidak heran kalau tujuan utama kami ke rumah Omi’ adalah bermain di sungai.

Sungai yang dipisahkan oleh tanggul ini ujungnya memang sudah dalam. Maka dibuatlah semacam alas papan sebagai area dangkal.

Tetangga Omi’ juga ikut berenang. Mereka seumuran kami. Jago pula berenang. Tatkala mereka berenang semakin jauh dari tepian, bahkan lebih jauh dari alas papan. Disinilah ajang kekonyolan saya terpacuh. Mau coba-coba dong. Siapa tahu langsung jago.

Pura-puralah saya menjauh dari tepian, mencari ujung dari alas papan tadi. Berprasangka, apa iya sedalam itu? Mungkin tidak jauh dalamnya dari alas papan.

Ehem… Ketemu ujungnya!” membatin (Sebelah kaki saya meraba).

Meraba semakin dalam… Hmm nampaknya agak dalam yah…

Tapi sekali lagi, penasaran mengalahkan segalanya. Ke bawah semakin dalam, sampai akhirnya — —

Sebelah kaki saya yang masih di atas papan itu entah bagaimana terpeleset dan membuat saya terpental jauh dari alas papan. Kepanikan membuat tangan saya berusaha meraih apapun agar tidak tenggelam. Dan sayangnya, si Fauziah yang juga tidak bisa berenang ikut menjadi korban dari tangan saya, hihi. Saya menarik bajunya hingga dia terpental bahkan lebih jauh🤦‍♀️. Kami berdua tenggelam.

Begini yah mati itu. Tapi keknya masih tahan nih sekarang” Gumam saya dalam hati

Tapi kalau tahan napas terlalu lama, kan sakit yak. Gak bisa hidup lagi berarti. Fauziah gimana, yak😳”. Panik saya (begitu kurang lebih).

Tak dinyana, ada tangan yang berusaha meraih tangan saya hingga ke permukaan. Alhamdulillah, Fitri tetangga Omi’ menyelamatkan saya. Begitupula Fauziah, diselamatkan teman yang lain. Sungguh peristiwa cari gara-gara yang hampir mati

Jika tetangga Omi’ saat itu jauh dari tempat kami berenang, kami mungkin tidak akan selamat.

Kekonyolan masa kecil mengajarkan saya satu hal. Dunia terasa aman karena kita belum tahu apa-apa. Dan mungkin itu yang membuatnya begitu indah. Kini ketika dewasa, saya bisa menertawakan luka-luka kecil yang dulu membuat saya panik.

Syukurnya, Allah masih menjaga bocah bernama Ana yang terlalu penasaran untuk keselamatan dirinya sendiri.

Makassar, 17 November 2025

메타데이터
post_id
3624082e8fed
slug
ypn-5-kekonyolan-semasa-kecil-3624082e8fed
url
https://medium.com/@nurh9255/ypn-5-kekonyolan-semasa-kecil-3624082e8fed
canonical_url
https://medium.com/@nurh9255/ypn-5-kekonyolan-semasa-kecil-3624082e8fed
author_url
https://medium.com/@nurh9255
status
ok
fetched_at
2026-07-15 08:28:01