← Back to list

Berbuat Baik: Antara Harapan dan Kenyataan

Mengapa kebaikan sering tak kembali sesuai bayangan kita?

Donny Kurniawan · 2025-09-12 05:58 · 1 claps · 2.8 min read paywalled
#indonesia #bahasa-indonesia #berbuat-baik #penulis-indonesia #medium-partner-program
Open on Medium ↗

Berbuat Baik: Antara Harapan dan Kenyataan

Mengapa kebaikan sering tak kembali sesuai bayangan kita?

Photo by Matt Collamer on Unsplash

Photo by Matt Collamer on Unsplash

🚀 Baca secara gratis

Saya sering mendengar — baik dari ceramah agama maupun dari dunia bisnis — pesan sederhana ini: semakin banyak kita berbuat baik, semakin banyak kebaikan yang kita terima. Kalau kita menolong orang lain, Tuhan akan menolong kita.

Apakah saya setuju dengan itu? Tentu saja iya.

Alasannya sebenarnya sederhana sekali, bahkan seharusnya tak perlu dijelaskan lagi. Tetapi pertanyaan pentingnya adalah: apakah kita benar-benar bisa konsisten berbuat baik? Ataukah ada saat di mana kita justru merasa “harus” melakukan sesuatu yang buruk?

Mari kita bicarakan pelan-pelan.

Kebaikan yang (kadang) penuh alasan

Saat kita berbuat baik kepada orang lain — bahkan kepada makhluk hidup sekalipun — yang mereka dapat tentu adalah kebaikan. Namun, jujur saja, hampir selalu ada alasan di balik setiap kebaikan itu.

Ada orang yang bilang, “saya ikhlas berbuat baik karena Tuhan.” Tapi bukankah di balik itu tetap ada alasan? Misalnya, supaya Tuhan tidak marah kepada kita.

Masalahnya muncul ketika alasan itu terlalu jelas, terlalu bisa dihitung. Misalnya: orang tua mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang karena berharap kelak sang anak tumbuh menjadi pribadi yang baik. Tetapi kenyataannya, ada saja anak yang justru tumbuh memberontak dan melawan orang tuanya.

Kalau kebaikan kita diukur dari balasan yang bisa diprediksi, sering kali ujung-ujungnya hanya kekecewaan.

Saya sadar betul, hidup memang begitu. Anjing yang kita beri makan, bisa saja suatu hari menggigit kita.

Keadilan yang tak selalu sesuai ekspektasi

Saya tetap percaya pada hukum keadilan: apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Kebaikan yang kita berikan akan kembali sebagai kebaikan juga. Namun, bentuk balasannya sering kali tidak sesuai dengan bayangan kita.

Contoh nyata: suatu waktu saya diminta menjadi ketua panitia acara non-profit. Sejujurnya saya tidak mau, tapi karena tidak ada yang bersedia, akhirnya saya maju juga. Harapan saya sederhana: meski tidak dibayar, setidaknya ada dukungan fasilitas dan akses. Nyatanya? Tidak ada. Saya pakai uang sendiri, waktu terbuang, keluarga terbengkalai, dan usaha saya berhenti sementara.

Acara memang sukses, tapi saya hanya mendapat ucapan, “Selamat ya!” — yang dalam hati saya rasanya, “Kalau cuma ucapan selamat, anak kecil juga bisa.”

Saya rugi banyak. Tapi waktu tetap berjalan. Dan ternyata, beberapa bulan setelah acara, beberapa orang yang saya kenal di sana menghubungi saya kembali. Mereka terkesan dengan kesungguhan saya. Dari situ, saya mendapat kesempatan kerja sama yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Kalau saat itu saya bekerja setengah hati hanya karena merasa “tidak dibayar”, mungkin pintu itu tidak akan pernah terbuka.

Kebaikan yang tetap bernilai, meski tragis

Bahkan dalam kondisi ekstrem, kebaikan tetap punya nilai. Misalnya, seseorang menolong orang lain yang tenggelam, tapi justru ikut tenggelam dan meninggal. Secara logika, perbuatan itu sia-sia. Tapi apakah benar begitu?

Saya percaya, di mata Tuhan perbuatan itu tidak hilang. Nama orang itu mungkin dikenang, keluarganya bisa menerima balas budi, dan nilai pengorbanannya akan hidup jauh lebih lama daripada dirinya sendiri.

Kisah seorang tokoh dan manajernya

Saya teringat seorang tokoh nasional di Indonesia. Sejak 1972 ia mendedikasikan hidupnya untuk masyarakat. Ia bukan orang kaya, hanya menulis kolom dan buku sederhana. Hampir semua kegiatannya dibiayai dari uang pribadi, tanpa sponsor.

Ia punya seorang manajer — saudaranya sendiri — yang mengurus semua jadwalnya. Hidupnya nyaris habis untuk menemani perjuangan sang tokoh. Dari luar, kita mungkin berpikir hidup sang manajer akan penuh berkah dan kebahagiaan. Tapi kenyataannya, istrinya sakit keras dan akhirnya meninggal.

Saya hadir di pemakamannya. Anehnya, wajah sang manajer dan anak-anaknya tetap tegar. Tidak ada raut keputusasaan. Saya tidak tahu latar belakang mereka, tapi saya yakin: kalau alasan manajer itu hanya “supaya keluarga saya sehat”, mungkin sejak itu ia akan berhenti. Tapi nyatanya tidak. Ia tetap setia mendampingi perjuangan saudaranya sampai hari ini.

Jadi, untuk apa kita berbuat baik?

Hidup sering berjalan tidak sesuai harapan. Kadang malah sebaliknya: pahit, sulit, menyakitkan. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti berbuat baik.

Kebaikan memang akan kembali, tapi bentuknya bukan hak kita untuk mengatur. Tugas kita hanyalah terus menabur. Balasannya, biarlah ditentukan oleh Tuhan, oleh semesta, oleh sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri — bagaimana pun kalian menyebutnya.


메타데이터
post_id
3677e7ec2fde
slug
berbuat-baik-antara-harapan-dan-kenyataan-3677e7ec2fde
url
https://medium.com/@donnykrn/berbuat-baik-antara-harapan-dan-kenyataan-3677e7ec2fde
canonical_url
https://medium.com/@donnykrn/berbuat-baik-antara-harapan-dan-kenyataan-3677e7ec2fde
author_url
https://medium.com/@donnykrn
status
ok
fetched_at
2026-06-28 04:42:08