← Back to list

SAME SAME, AND DIFFERENT

Catatan Keterlibatan di ISPA 2026 Singapore

Novyandi Saputra · 2026-05-25 06:47 · 0 claps · 8.1 min read
#conference #congress #ispa #performing-arts #art
Open on Medium ↗
Wiki topics: CUL · Culture & Media 🏛️ · Politics

SAME SAME, AND DIFFERENT

Catatan Keterlibatan di ISPA 2026 Singapore

Welcome Dessert di Centre 42 bersama para Delegasi Asean

Welcome Dessert di Centre 42 bersama para Delegasi Asean

Perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat membuat seni pertunjukan memiliki peran yang semakin penting sebagai ruang pertemuan antar manusia. Ketegangan sosial, perkembangan teknologi, perubahan identitas budaya, hingga krisis relasi antarkomunitas menjadikan seni bukan sekadar medium hiburan, melainkan ruang dialog dan pertukaran pengalaman. Tema besar ISPA 2026 Singapore, Same Same, And Different, berangkat dari kesadaran tersebut. Frasa yang akrab di Asia Tenggara itu menjelaskan bahwa kesamaan dan perbedaan dapat hadir secara bersamaan tanpa harus saling meniadakan.

Gagasan utama kongres kemudian berkembang melalui pernyataan We are not just Same Same, But Different. We are also Same Same, And Different. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa seni pertunjukan global sedang bergerak menuju cara pandang yang lebih terbuka terhadap keragaman praktik budaya. Kesamaan tidak lagi dipahami sebagai bentuk penyeragaman, sementara perbedaan tidak selalu dibaca sebagai jarak. Pertemuan lintas budaya justru menjadi ruang untuk saling memahami sekaligus memperluas perspektif mengenai praktik seni masa kini.

Keterlibatan saya pada ISPA 2026 Singapore berlangsung sebagai bagian dari delegasi ASEAN perwakilan Indonesia melalui undangan focal point SOMCA untuk kegiatan International Society for Performing Arts (ISPA) 2026 Singapore Congress #ISPASG26. Kongres tersebut mempertemukan pelaku budaya, komunitas seni, dan berbagai pemangku kepentingan yang bekerja dalam ekosistem seni pertunjukan kawasan ASEAN dan global. Rangkaian kegiatan itu juga menjadi bagian dari penyelenggaraan Singapore International Festival of Arts (SIFA) sebagai salah satu platform seni pertunjukan penting di kawasan Asia.

Posisi saya dalam delegasi Indonesia mewakili ekosistem bidang musik melalui rekomendasi Direktorat Film, Musik, dan Seni. Praktik yang saya bawa berangkat dari pengalaman sebagai komposer, penggerak Komune Kolektif, serta proyek musik Akaracita yang berbasis di Banjarmasin. Fokus kerja mengenai gamalan Banjar, eksplorasi bunyi, kerja lintas budaya, dan pengembangan ekosistem musik menjadi bagian dari percakapan yang saya hadirkan selama kongres berlangsung.

Kehadiran delegasi Indonesia juga diperkuat oleh Sekar Tri Kusuma dari Solo yang mewakili bidang tari melalui rekomendasi Direktorat Film, Musik, dan Seni. Praktik artistik yang dibawa bertumpu pada pengembangan tari tradisional kontemporer dengan pembacaan yang kuat terhadap tubuh, tradisi, dan budaya masa kini. Representasi Indonesia dalam forum tersebut turut diperkuat oleh RM Dyas Atmowisoro sebagai perwakilan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Pertemuan lintas disiplin itu memperlihatkan keberagaman praktik seni Indonesia yang hadir dalam percakapan seni pertunjukan internasional.

Sekar tri, Dyas, dan Novyandi

Sekar tri, Dyas, dan Novyandi

Sesi Welcome and Programme Brief memperlihatkan bagaimana ISPA 2026 Singapore dirancang sebagai kongres yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan partisipasi global. Seluruh delegasi diperkenalkan pada aplikasi ISPA 26SG yang menyediakan agenda, sistem jejaring, pemetaan lokasi, serta berbagai fitur informasi kongres. Fitur Snapsight menjadi salah satu teknologi menarik karena mampu menghasilkan transkripsi langsung, ringkasan multibahasa, dan poin-poin penting dari setiap sesi diskusi. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa teknologi mulai diposisikan sebagai alat untuk memperluas akses pengetahuan dan pengalaman partisipasi seni.

Program Open City memperlihatkan hubungan erat antara seni, ruang kota, dan komunitas budaya di Singapura. Sejumlah kawasan seni seperti Goodman Arts Centre, Stamford Arts Centre, Aliwal Arts Centre, dan Kampong Glam diperkenalkan sebagai bagian dari pengalaman kongres. Peserta tidak hanya mengikuti panel diskusi, tetapi juga diajak membaca lanskap seni melalui ruang hidup masyarakat dan ekosistem kreatif kota. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa praktik seni dapat tumbuh melalui hubungan yang dekat dengan komunitas dan lingkungan sosialnya.

Keterhubungan antara kongres dan ekosistem seni Singapura semakin terasa melalui keterlibatan Singapore International Festival of Arts atau SIFA. Festival tersebut menghadirkan berbagai pertunjukan teater, musik, tari, film, dan seni visual yang dapat diakses para delegasi ISPA. Pertemuan antara forum diskusi dan pengalaman menyaksikan karya secara langsung menciptakan pemahaman yang lebih utuh mengenai perkembangan seni pertunjukan internasional. Situasi itu memperlihatkan bahwa ekosistem seni yang sehat membutuhkan hubungan kuat antara diskursus, produksi karya, dan ruang apresiasi publik.

Salah satu konferensi yang sangat menarik bertajuk What Endures, What Transforms: Art Across Cultures and Generations. Diskusi tersebut membahas bagaimana tradisi dapat bertahan melalui proses transformasi dan reinterpretasi. Maria Tri Sulistyani dari Paper Moon Puppet Theatre menjelaskan bagaimana pertunjukan boneka mampu membangun hubungan emosional lintas generasi melalui tubuh, gestur, dan memori kolektif. Percakapan itu memperlihatkan bahwa tradisi tidak akan hidup jika hanya diperlakukan sebagai warisan yang dibekukan.

Pandangan mengenai transformasi tradisi juga muncul melalui praktik-praktik seni yang menghubungkan sejarah personal dengan bentuk artistik baru. Gabriel Prokofiev, misalnya, membicarakan eksperimen musik yang mempertemukan orkestra klasik dengan kultur turntablism kontemporer. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa warisan budaya dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitas utamanya. Seluruh pembicara dalam sesi itu memperlihatkan bahwa perubahan merupakan bagian penting dari keberlanjutan tradisi.

Sesi Beyond Boundaries: Arts in an Interconnected Age — Part A: Healthcare membuka perspektif baru mengenai hubungan seni dan kesehatan. Pembahasan mengenai social prescribing menunjukkan bahwa seni, warisan budaya, dan alam mulai dipandang sebagai bagian dari pendekatan kesehatan yang lebih holistik. Pengalaman kerja seni bersama lansia, penyintas stroke, dan pasien demensia memperlihatkan bagaimana musik dan tari mampu membangun rasa aman, koneksi sosial, serta memori emosional. Percakapan tersebut memperlihatkan bahwa seni memiliki dampak nyata terhadap kualitas hidup manusia.

Pembahasan mengenai kesehatan juga menyoroti persoalan kesepian dan keterasingan sosial yang semakin meningkat pada masyarakat modern. Musik dipahami sebagai medium yang mampu membangkitkan memori autobiografis sekaligus menghadirkan rasa nyaman bagi pasien demensia. Aktivitas tari bersama lansia juga dipandang mampu membangun hubungan sosial dan rasa percaya diri. Seluruh pembahasan dalam sesi tersebut memperlihatkan bahwa seni dapat berfungsi sebagai praktik sosial yang mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan masyarakat.

Perkembangan kecerdasan buatan menjadi fokus utama dalam sesi Beyond Boundaries: Arts in an Interconnected Age — Part B: AI. Harry Yeff atau Reeps100 membahas berbagai eksperimen artistik berbasis AI yang berhubungan dengan suara, data, dan ekspresi manusia. Sejumlah proyek yang dipresentasikan memperlihatkan bagaimana teknologi dapat membuka kemungkinan baru dalam penciptaan karya seni. Percakapan tersebut tidak hanya membahas inovasi teknologi, tetapi juga persoalan etika, relasi manusia dan mesin, serta dampak lingkungan dari perkembangan AI.

Diskusi mengenai AI memperlihatkan bahwa seniman dan institusi budaya perlu memiliki literasi teknologi yang lebih kuat. AI tidak diposisikan sebagai ancaman mutlak terhadap kreativitas manusia, melainkan sebagai alat yang membutuhkan kesadaran kritis dan tanggung jawab etis. Penggunaan suara sintetis, sistem berbasis data, hingga eksplorasi interaksi manusia dan mesin menunjukkan bahwa masa depan seni pertunjukan akan semakin dipengaruhi perkembangan teknologi. Situasi tersebut menuntut dunia seni untuk tetap adaptif tanpa kehilangan sensitivitas kemanusiaannya.

Perubahan hubungan antara karya dan penonton menjadi tema penting dalam sesi Viewer, Participant, Co-Creator: Capturing the Evolving Audience. Diskusi tersebut membahas bagaimana audiens masa kini tidak lagi diposisikan hanya sebagai penonton pasif. Praktik seni partisipatoris mulai membuka ruang keterlibatan yang lebih aktif bagi publik. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman artistik masa kini semakin dibangun melalui relasi, partisipasi, dan rasa memiliki terhadap karya.

Pembahasan mengenai aksesibilitas dan inklusivitas menjadi bagian penting dalam sesi tersebut. Kehadiran seniman disabilitas serta praktik seni berbasis komunitas memperlihatkan bahwa dunia seni perlu membuka ruang yang lebih setara bagi berbagai kelompok masyarakat. Pertunjukan seperti Year Zero memperlihatkan pentingnya representasi tubuh dan pengalaman hidup yang beragam dalam seni pertunjukan kontemporer. Seluruh diskusi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan audiens masa depan tidak hanya berbicara mengenai jumlah penonton, tetapi juga kualitas hubungan antara karya dan masyarakat.

Sesi “The Art of Regeneration: Leadership in Times of Change” menghadirkan perspektif penting mengenai kepemimpinan seni pada masa perubahan yang semakin kompleks. Diskusi yang melibatkan Yvonne Tham, María Claudia Parias Durán, dan Phloeun Prim membahas bagaimana kepemimpinan budaya tidak lagi hanya bertumpu pada pengelolaan institusi, tetapi juga pada kemampuan membangun ruang kolaborasi, regenerasi, dan keberagaman perspektif. Percakapan tersebut memperlihatkan bahwa masa depan ekosistem seni sangat bergantung pada kemampuan pemimpin untuk tetap adaptif sekaligus menjaga integritas artistik.

María Claudia Parias Durán memperkenalkan pendekatan co-creation melalui proyek Artefactum, sebuah laboratorium yang mempertemukan seniman mapan dan generasi baru dalam proses kolaboratif. Pandangannya mengenai kebijakan budaya sebagai bagian dari hak asasi manusia memberikan pembacaan yang kuat tentang posisi seni dalam kehidupan masyarakat. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan budaya tidak hanya berbicara mengenai visi kelembagaan, tetapi juga mengenai relasi manusia, solidaritas, dan keterlibatan komunitas.

Phloeun Prim membawa perspektif Asia Tenggara melalui pengalamannya membangun jejaring regional bersama Cambodian Living Arts, Living Arts International, dan Mekong Cultural Hub. Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya mendukung pemimpin muda, organisasi akar rumput, serta proses regenerasi dalam membangun ekosistem seni yang tangguh. Yvonne Tham kemudian memperlihatkan bagaimana institusi seni dapat mengembangkan strategi baru melalui platform digital, pembangunan infrastruktur, serta program seni dan kesejahteraan yang tetap berorientasi pada komunitas.

Diskusi mengenai kepemimpinan juga menyoroti pentingnya inklusivitas, pemberdayaan kelompok marjinal, dan keberanian belajar dari kegagalan. Kontribusi peserta mengenai model pendanaan berbasis seniman disabilitas memperlihatkan bahwa distribusi sumber daya yang lebih adil menjadi isu penting dalam masa depan seni pertunjukan. Seluruh percakapan dalam sesi tersebut mengingatkan bahwa kepemimpinan seni bukan sekadar soal posisi atau otoritas, melainkan kemampuan menciptakan ruang imajinasi, kerja bersama, dan perubahan yang bermakna.

Pengalaman menghadiri Pitching New Work memberikan pemahaman yang lebih konkret mengenai cara kerja ekosistem seni pertunjukan internasional. Sejumlah seniman, rumah produksi, dan sutradara mempresentasikan proyek-proyek terbaru mereka kepada jaringan global. Presentasi tersebut membahas ide karya, kemungkinan kolaborasi, strategi produksi, hingga peluang pendanaan lintas negara. Situasi itu memperlihatkan bahwa proses penciptaan karya seni juga melibatkan kemampuan membangun jejaring dan komunikasi profesional.

Sesi pitching memperlihatkan bahwa sebuah karya tidak hanya dibangun melalui gagasan artistik, tetapi juga melalui strategi keberlanjutan produksi. Setiap proyek yang dipresentasikan menunjukkan pentingnya riset, kerja kolaboratif, dan kemampuan membaca konteks internasional. Pertemuan tersebut menjadi ruang belajar yang sangat penting mengenai bagaimana praktik seni dapat berkembang melalui hubungan antarlembaga dan lintas negara. Pengalaman itu juga membuka perspektif mengenai pentingnya membangun kapasitas produksi dalam praktik seni kontemporer.

Ruang pertemuan informal seperti Cocktail Klatch menjadi pengalaman yang sangat berkesan selama kongres berlangsung. Sesi tersebut mempertemukan para delegasi dengan produser, promotor, kurator, pengelola seni, dan artistic director dari berbagai negara. Percakapan berlangsung secara cair dan terbuka, mulai dari perkenalan personal hingga pembahasan mengenai proyek seni dan kemungkinan kerja sama pada masa mendatang. Hubungan antarmanusia terasa menjadi bagian penting dalam pembentukan jejaring seni pertunjukan internasional.

Kehadiran Kopi Klatch kemudian memberikan ruang yang lebih dekat dengan konteks Asia Tenggara dan komunitas ASEAN. Pertemuan tersebut menghadirkan suasana yang hangat untuk berbagi pengalaman mengenai praktik seni, ekosistem budaya, dan perkembangan kerja artistik di kawasan. Saya banyak menceritakan tentang proyek musik berbasis gamalan Banjar, eksplorasi bunyi, serta beberapa festival yang saya kelola. Respons yang muncul terasa sangat positif karena banyak pihak melihat potensi dialog antara praktik lokal dan perkembangan seni kontemporer global.

Foto Bersama Davide Baile (CEO ISPA) dan Mara Driscol (ISPA)

Foto Bersama Davide Baile (CEO ISPA) dan Mara Driscol (ISPA)

Percakapan selama sesi jejaring memperlihatkan bahwa praktik seni berbasis lokal memiliki daya tarik yang kuat ketika mampu menghadirkan konteks dan identitas yang jelas. Ketertarikan terhadap gamalan Banjar tidak hanya muncul karena unsur tradisinya, tetapi juga karena kemungkinan pengembangannya dalam ruang artistik yang lebih luas. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kerja seni dari Asia Tenggara memiliki peluang besar untuk terlibat dalam percakapan internasional. Seluruh pertemuan itu sekaligus mengingatkan bahwa hubungan personal sering kali menjadi awal penting bagi lahirnya kolaborasi artistik.

Keseluruhan pengalaman mengikuti ISPA 2026 Singapore memperlihatkan bahwa seni pertunjukan global sedang bergerak menuju ruang yang lebih terbuka, kolaboratif, dan lintas disiplin. Tradisi, teknologi, kesehatan, komunitas, dan pengembangan audiens hadir sebagai bagian dari percakapan besar mengenai masa depan seni. Berbagai konferensi dan pertemuan selama kongres menunjukkan bahwa seni tidak lagi bekerja secara terpisah dari persoalan sosial dan perkembangan dunia kontemporer. Situasi tersebut menempatkan praktik seni sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat modern.

Refleksi paling penting yang saya rasakan selama mengikuti kongres ini adalah kesadaran bahwa praktik lokal memiliki posisi yang sangat relevan dalam percakapan global. Musik berbasis gamalan Banjar, kerja lintas budaya, dan pengembangan festival ternyata mampu membangun hubungan yang kuat dengan berbagai praktisi seni internasional. Pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa identitas budaya lokal tidak perlu kehilangan akar untuk dapat hadir di ruang global. Masa depan seni pertunjukan tampaknya akan semakin membutuhkan keberanian untuk menjaga konteks lokal sekaligus membuka diri terhadap kolaborasi lintas budaya.

Tema Same Same, And Different akhirnya menjadi refleksi yang sangat dekat dengan pengalaman saya selama berada di ISPA 2026 Singapore. Kesamaan dan perbedaan ternyata bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan ruang pertemuan untuk membangun pemahaman baru. Percakapan lintas budaya yang berlangsung selama kongres memperlihatkan bahwa seni mampu menghadirkan hubungan yang lebih manusiawi di tengah dunia yang semakin kompleks. Seluruh pengalaman tersebut meninggalkan keyakinan bahwa masa depan seni pertunjukan akan terus bertumbuh melalui dialog, keberagaman, dan keterbukaan terhadap perubahan.


메타데이터
post_id
3685304bfdde
slug
same-same-and-different-3685304bfdde
url
https://medium.com/@snovyandi/same-same-and-different-3685304bfdde
canonical_url
https://medium.com/@snovyandi/same-same-and-different-3685304bfdde
author_url
https://medium.com/@snovyandi
status
ok
fetched_at
2026-07-10 11:40:45