← Back to list

Bangsa Besar Tidak Butuh Kebesaran

Kamu Hipokrit, lari dari tanggung jawab, bermental feodal, percaya takhayul, dan tidak hemat? Selamat, kamu adalah orang Indonesia tulen!

Rahmat Fadilah · 2025-12-17 14:45 · 1 claps · 3.1 min read
#book-review #enterntainment #comedy #satire #reading
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing 📋 · Product Management 📚 · Books & Reading 😂 · Humor & Satire

Bangsa Besar Tidak Butuh Kebesaran

Sumber : https://pin.it/jXRgMUQln

Sumber : https://pin.it/jXRgMUQln

Kamu Hipokrit, suka lari dari tanggung jawab, bermental feodal, percaya takhayul, dan tidak hemat? Selamat, kamu adalah orang Indonesia tulen!

Begitulah gambaran beberapa sifat orang Indonesia yang diutarakan Mochtar Lubis tahun 1977. Sebetulnya banyak, lebih dari sepuluh sifat, dan benar, mayoritas merupakan sifat negatif. Ada juga yang positif, salah satunya orang Indonesia itu artistik (menyukai seni).

Kali ini aku akan mengulas satu buku karya Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang berjudul Kagum Kepada Orang Indonesia. Sebetulnya, aku tidak ingat betul kapan buku ini “nyempil” di antara buku yang lainnya, yang kuingat buku ini aku “curi” saat berkunjung ke rumah bibi (saat ini aku telah dapat izin dari bibi), dan yap buku ini milik almarhum sepupuku (anaknya bibi), yakni De Arif.

Buku ini berisikan pikiran Cak Nun tentang karakter orang Indonesia. Sebagai seorang budayawan, Cak Nun sangat menyukai dan memerhatikan tiap karakter orang Indonesia selama hidupnya, yang itu menjadi karakter turun-temurun sampai generasi saat ini . Ungkapan rasa kagum, satiris sekaligus harapan menjadi pokok buku ini. Rasa kekaguman Cak Nun pada orang Indonesia terasa begitu nyata dan getir di saat yang bersamaan, bahkan kalau dibandingkan dengan zaman sekarang, ungkapan satir Cak Nun masih relevan. Kiranya tulisan ini akan mengulas salah satu bagian dari buku tersebut, serta pandanganku setelah membacanya.

Sumber : Kagum Kepada Orang Indonesia • CakNun.com

Sumber : Kagum Kepada Orang Indonesia • CakNun.com

Dipimpin oleh kualitas medioker seperti Bu Megawati saja negara bisa beres.

Begitulah salah satu ungkapan Cak Nun pada salah satu bagian di buku ini, yakni pada bagian “Bangsa Bibit Unggul”. Pada bagian ini berisikan rasa syukur serta kekaguman Cak Nun pada bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, Indonesia sangat dilimpahi kekayaan luar biasa di segala lini. Pada alamnya, tak ada yang mampu menandingi suburnya tanah Indonesia. Cak Nun menggambarkan bagaimana orang Indonesia bisa “berleha-leha” setiap saat, tanpa melakukan apapun orang Indonesia bisa mendapatkan apa yang dimau, seperti yang digambarkan pada penggalan lirik lagu “Bukan lautan, hanya kolam susu. Kail dan jala cukup untuk menghidupimu, tongkat dan kayu jadi tanaman

Pada sumber daya manusianya? Jangan khawatir, Indonesia tak pernah kekurangan manusia berkualitas. Cak Nun mengungkapkan manusia Indonesia itu secara penciptaan berbeda dengan jenis manusia lainnya, seperti Homo Erectus dan Homo Sapiens, orang Indonesia adalah jenis makhluk tersendiri. Terdapat perbedaan antropologis manusia Indonesia dengan jenis manusia lainnya, baik dari struktur saraf, watak, kecenderungan fisik, mental dan jiwanya pun beda. Orang Indonesia mampu memadukan malaikat dengan setan dalam situasi yang sangat damai, bisa menjajarkan kebaikan dan keburukan dalam satu harmoni yang indah, mampu mendamaikan kesedihan dengan kegembiraan, kesengsaraan dengan pesta pora, krisis dengan joget-joget, keprihatinan dengan kesombongan, kemelaratan dengan kemewahan.

Mengenai pemimpin? Mohon jangan ulangi lagi pertanyaan itu kembali. Indonesia tak pernah kekurangan stok pemimpin. Dipimpin kualitas medioker seperti Bu Megawati saja negara bisa beres, padahal Indonesia masih banyak calon pemimpin yang memiliki kualitas jauh lebih mumpuni.

Cak Nun mengibaratkannya dengan makanan, yasudah nikmati saja yang ada di meja, walaupun di belakang dapur masih banyak pangan yang bisa diolah menjadi hidangan yang lebih lezat dan bergizi. Kita diajak untuk membayangkan jika Indonesia dipimpin Anwar Fuadi, betapa negeri ini akan penuh dengan gelak tawa. Andai Sri Sultan Hamengkubuwono X yang menjadi presiden, percampuran karakter dari keagungan Sultan Agung, kependekaran Panembahan Senopati, kesaktian Mas Kerebet, kedewasaan Raden Patah, kemuliaan dan kearifan Walisongo, kecerdikan Raden Wijaya dan Kebesaran Gajah Mada menyatu dalam diri Sultan. Serta bagaimana jika Gus Dur kembali ke istana, maka rakyat Indonesia akan keasyikan dipimpin oleh Gus Dur.

Kiranya seperti itu salah satu ungkapan rasa kagum Cak Nun terhadap orang Indonesia. Aku merasa buku ini memiliki alur yang solid, bagaimana Cak Nun membeberkan tiap karakter serta fenomena yang mengintarinya secara jujur dan lugas. Kalau kata penggalan lirik lagu “Kabar Bahagia” dari band Rumahsakit, beberapa kali aku “terbayang dan setengah tertawa” akibat narasi yang dibangun Cak Nun begitu relevan dengan keadaan zaman sekarang.

Walaupun ada beberapa bagian yang diceritakan Cak Nun mengharuskan aku untuk “googling”, karena bagian yang dibahas adalah fenomena yang terjadi saat pasca orde baru (saat aku belum lahir), dan pada bagian itu pula yang menjadi kekurangan buku ini. Andai Cak Nun menulis buku terbaru yang bahasannya fenomena orang Indonesia zaman sekarang dengan gaya penulisan yang sama seperti buku ini, buku tersebut akan jadi menjadi karya yang “relate” sekaligus hiburan di tengah carut marutnya negara saat ini.

Informasi buku Judul : Kagum Kepada Orang Indonesia Karya : Emha Ainun Nadjib Penerbit : Penerbit Bintang Tahun terbit : 2008


메타데이터
post_id
36a1b2b60db1
slug
bangsa-besar-tidak-butuh-kebesaran-36a1b2b60db1
url
https://medium.com/@rfadilah_/bangsa-besar-tidak-butuh-kebesaran-36a1b2b60db1
canonical_url
https://medium.com/@rfadilah_/bangsa-besar-tidak-butuh-kebesaran-36a1b2b60db1
author_url
https://medium.com/@rfadilah_
status
ok
fetched_at
2026-06-27 23:56:40