Selamanya Tertinggal dan Jalan di Tempat
korupsi dan nepotisme diberantas, tax holiday, Bunga pinjaman rendah, dan SDMnya oke nanti pada akhirnya FDI (foreign direct investment) bakal berlomba lomba dateng ke negara ente buat bangun pabrik-pabrik merka di sana
Selamanya Tertinggal dan Jalan di Tempat

Tuesday, 11 November 2025
Akhir-akhir ini kita sering banget baca berita dari banyak negara-negara berkembang yang berlomba-lomba memamerkan future vision mereka untuk bisa mencapai title developed country. Ada yang menargetkan di 2045, ada yang di 2050, ada yang di 2035 dan banyak lainnya.
Tapi ane punya beberapa opini yang setidaknya menyebabkan negara — negara berkembang itu akan selamanya tertinggal, dan selamanya jalan di tempat.
Sampai detik ini, ane percaya bahwa negara maju itu dihitung dari kualitas perekonomian mereka, kesejahteraan yang bisa mereka ciptakan dari keadaan ekonomi mereka. Sekaya apapun SDA suatu negara kalo ekonominya gak jalan ya sama saja, bjir.
Semuanya masih diukur dengan uang, kamu boleh punya ladang puluhan hektar, tapi kalo gak punya uang bisa apa? Hm? Gak bisa ngapa2in kan? Mau garap ladang itupun kita pasti butuh uang, butuh modal yang gak sedikit.
So, that’s why saya tulis tulisan ini dari berbagai sudut pandang: ekonomi, politik, dan sosial untuk menjawab kenapa negara2 yang lagi bermimpi itu bisa selamanya tertinggal dan jalan di tempat.
Firstly, law.
Jujur ya, hal yang paling sensitif di kalangan pengusaha itu ya hukum atau kebijakannya. Pengusaha itu kebanyakan mau hal yang simple dan mudah, mereka ingin cepat-cepat usahanya jalan dan beroperasi.
Nah, apa jadinya kalo di suatu daerah atau negara kebijakannya busuk? Hukumnya gak jelas? Kebijakannya beda antara yang di pusat dan di daerah, birokrasinya ribet dan hal-hal memuakkan lainnya. Yang lebih parah kebijakan bisa seenak udel penguasa setempat demi menguntungkan segelintir kroninya. You see?
Jujur hal yang paling gak enak itu ketika kita harus bersaing sama yang buat kebijakan, bersaing sama yang berkuasa. Kita dah bangun usaha dengan jerih payah nih, dah ngeluarin uang banyakkk banget. Eh tapi dengan enaknya si penguasa mengubah kebijakan, mewajibkan ini lah, melarang itu lah. Cih, gak enak kan?
Apalagi kalo kita ber-usaha di negara yang punya siklus politik 5 tahunan. Jir ini kebijakannya tiap 5 tahun ganti anjirrrr. Bayangkan bisnismu dah mulai settle, eh kebijakannya dirubah awoakwoakwok.
Selain itu ya, premanisme dan pemalakannya gak ngotak bjirr. Bayangin usahamu baru buka, tapi tiba2 didatangi preman dimintai uang. Jir wkwk. Dan parahnya lagi2 belum ada hukum yang bener2 ditegakkan buat ngelawan premanisme ini.
Next ya, Korupsi dan Nepotisme.
Ane males buka datanya, tapi bisa kalian liat sendiri kalo kebanyakan negara2 yang korup tu didominasi sama negara berkembang. Gimana mau maju coba kalo uang yang seharusnya buat bangun negara malah ditilep. Nah, parahnya praktek korupsi ini di beberapa negara dan mulai dijadikan ajang bancaan, saling berlomba2 buat korupsi.
Selain korupsi, hal yang paling ane gak suka ya nepotisme. Bayangkan kalo kursi-kursi penting di pemerintahan di isi oleh keluarga penguasa yang gak kompeten? Rungkat jir. Pada akhir nya mereka hanya bakal bikin kebijakan yang menguntungkan keluarga, kelompok, dan golongannya sendiri.
Selama 2 hal ini masih tumbuh subur, jangan harap bakal jadi negara maju.
—
Santai dulu kita napas bentar wkwk. Ini masih tahap awal banget, masih banyak hal-hal lain yang bakal ane tulis di sini.
Dah cukup nafasnya, sekarang kita lanjut lagi…
—
Negara berkembang kalo pengen jadi negara maju kan rakyatnya harus punya pekerjaan, kan. Sebisa mungkin semua rakyatnya itu punya penghasilan buat belanja, yang nanti pada akhirnya akan berefek pada perputaran ekonomi. nah, jadi negara berkembang tu butuh banget yang Namanya ‘lapangan pekerjaan’ yang banyaakk, entah 19 juta kek atau ratusan juta.
Nah, salah satu cara buat buka lapangan kerja gede ya pertama kita benahin dulu tadi regulasinya -law-, permudah banyak investor untuk membuka pabrik dan kantro-kantornya. Intinya sebisa mungkin beri banyak kemudahan ke pengusaha, nanti biarkan mereka yang buka lapangan pekerjaan. Pemerintah cukup buat regulasi yang memudahkan, gak perlu terlalu ikut campur.
Negara maju kebanyakan tidak terlalu bergantung pada government spending buat nge-push pertumbuhan GDP, yang jadi penggerak utama ya sektor swasta.
Salah satu cara lain buat narik investor atau perushaan luar negri untuk bangun pabriknya di negara kita ya kebijakan fiskal yang menguntungkan mereka.
Pajak rendah, tax holiday dan bunga pinjaman rendah.
Beuhhh, kalo negara ente buat kebijakan kek gini terus diimbangi dengan law yang kondusif dijamin negara ente bakal seksi banget di mata investor asing, jirr mantep wkwk.
Soal tax holiday pasti banyak yang kontra daripada yang pro terhadap kebijakan ini. Tapi bagi ane ya, selama rakyat lu dapet lapangan pekerjaan, why not?. Kan nanti dampaknya juga ekonomi di daerah itu bakal berputar lebih cepat. Para karyawan2 yang bekerja di sana pasti bakal belanja, pasti bakal jajan, dan itu buat ekonomi hidup dan bergairah.
Liat noh di Vietnam, mereka berikan tax holiday ke Perusahaan2 besar yang buka lapangan pekerjaan di sana, akibatnya ekonomi Vietnam melejit 8%, 8 persen lo woiiiii, ini angka yang didamba-dambakan suatu negara yang punya visi emas di 2045 awoakwoakwok.
Tapi, kebijakan tax holiday ini juga harus difilter, khususkan hanya untuk sektor produksi, begitupun pinjaman berbunga rendah. Perlakukan sektor produksi dengan seistimewa mungkin, bunga pinjaman rendah, tax holiday, dan lain lainnya. Dijamin industrialisasi dan manufaktur ente bakal nendang banget. Selagi cost labour masih rendah push terus sektor manufaktur dan industri.
Selain itu secara bersamaan ente benerin juga SDMnya, atur standarisasi Pendidikan perguruan tinggi atau dirikan sekolah-sekolah vokasi yang melahirkan lulusan-lulusan yang siap kerja, atau mungkin bisa bikin pelatihan-pelatihan khusus sesuai dengan industry yang dibutuhkan.
Misal ada Perusahaan yang mau buka pabrik manufaktur mobil Listrik, nah ente tinggal buat aja lembaga pelatihan kerja buat mendukung ni Perusahaan, kan buat pabrik kan gak mungkin semalam jadi kan. Pas masa Pembangunan yang biasanya butuh waktu sekitar 1–2 tahun itu pemerintah bantu siapin tenaga kerja yang terampil buat kerja di sana, dididik dulu lah.
Semua hal ini harus berkesinambungan, gak bisa cuman salah satunya doang, harus bener2 semuanya itu bener. Nanti kalo semua kondisinya dah bener, birokrasi mudah, hukum dan kebijakan jelas, korupsi dan nepotisme diberantas, tax holiday, Bunga pinjaman rendah, dan SDMnya oke nanti pada akhirnya FDI (foreign direct investment) bakal berlomba lomba dateng ke negara ente buat bangun pabrik-pabrik merka di sana, rakyat bakal dapet pekerjaan, ekonomi bakal muter, melejit setinggi-tingginya. Nah, kalo dah sempurna pertahanin, gak lama juga negara tsbt bakal jadi developed country.
Simple, tapi gak semua negara bisa lakuin ini wkwk.
메타데이터
- post_id
- 36aa1a215545
- slug
- selamanya-tertinggal-dan-jalan-di-tempat-36aa1a215545
- url
- https://medium.com/@ilSovvun/selamanya-tertinggal-dan-jalan-di-tempat-36aa1a215545
- canonical_url
- https://medium.com/@ilSovvun/selamanya-tertinggal-dan-jalan-di-tempat-36aa1a215545
- author_url
- https://medium.com/@ilSovvun
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 15:33:18