MBG (Makanan Beracun Gratis)
Selama kampanye Pemilu 2025, paslon nomor 02, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming, seringkali menggaungkan program kerja unggulan…
MBG (Makanan Beracun Gratis)
Selama kampanye Pemilu 2025, paslon nomor 02, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming, seringkali menggaungkan program kerja unggulan mereka yang sudah dirangkul oleh Prabowo semenjak dia mencalonkan dirinya menjadi Presiden pada pemilu-pemilu sebelumnya. Semua orang bahkan langsung terpikirkan beliau jika membahas tentang program ini. Orang-orang mengenalnya dengan Makanan Bergizi Gratis atau sering disingkat menjadi MBG. Prabowo menjadikan program ini sebagai senjata atau alat untuk meningkatkan kualitas bangsa ini. Dari beliau, dengan memberikan asupan gizi yang memadai untuk anak-anak dan ibu yang sedang mengandung, MBG dapat mencegah stunting, melahirkan sumber daya manusia yang kompenten, dan juga dapat menjadi faktor pertumbuhan perekonomian Indonesia dalam jangka yang panjang. Sekarang, setelah terpilihnya Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI, program MBG sudah mulai dijalankan di berbagai daerah di Indonesia selama beberapa bulan. Lantas pertanyaannya, apakah program ini benar-benar akan menjadi hal yang membawa Indonesia ke generasi emasnya?
Hari ini, 29 Agustus 2025, hari esai ini ditulis, program MBG sudah berjalan sekitar 6 bulan. Hasil dari program ini harusnya sudah mulai terlihat oleh seluruh penjuru bangsa. Alil-alih mengira program ini akan memberikan kecerahan untuk negeri ini, namun ternyata selama 6 bulan ini, progres yang terlihat hanyalah menunjukkan betapa bobroknya kepemimpinan yang mengendalikan negeri kita saat ini. Dari data yang ada, masih banyak penjuru negeri ini yang belum kebagian MBG. Namun, yang lebih parahnya lagi, yang kebagian lantas teracuni dari santapan yang mereka terima. Coba kalian bayangkan, betapa menyedihkannya anak-anak yang kelaparan di negeri ini, lalu pemerintah hanya memberikan makanan yang tak layak dan basi untuk asupan mereka, sedangkan pemerintahan kita duduk di singgasana mereka masing-masing, menyantapi makanan yang sangat mewah, lalu mereka tidak habiskan hanya karena mereka tidak ingin dianggap murahan atau rakus. Berita baru datang dari Bengkulu, yang di mana sekitar 400 siswa SD keracunan dari program MBG, dan itu hanya satu dari 13 dugaan kasus keracunan yang terlaporkan.
Inilah yang terjadi jika suatu megaproyek tidak dipikirkan dengan utuh, namun hanya didasarkan ego belaka. Memang proyek ini memiliki tujuan yang mulia, namun jika tidak didasari dengan pembahasan yang transparan, justru akan menghasilkan malapetaka. Program ini juga memakan anggaran yang begitu besar, bahkan efisiensi anggaran pun dijalankan oleh Presiden Prabowo agar MBG dapat berjalan. Alhasil, proyek-proyek dari divisi lain pun hancur, macet, dan parahnya lagi terjadi PHK masal berkat dari efisiensi yang dilakukan ini. Yang paling disayangkan adalah anggaran pendidikan yang seharusnya lebih diprioritaskan karena merupakan suatu prioritas jangka panjang, malahan dipangkas demi mengganjal perut yang bersifat sementara.
Program-program besar seperti masih belum layak untuk dijalankan di Indonesia. Ini disebabkan karena negara kita yang masih jauh dari kata siap untuk menerima program seperti ini. Kita ambil contoh dari negara lain yang memiliki program yang sama, Finlandia. Alih-alih bertanya, kenapa mereka bisa, tapi kita tidak? Ini dikarenakan mereka telah memberikan transparansi publik yang ideal bagi rakyatnya, yang di mana Indonesia sendiri selalu menghasilkan berita korupsi sebagai makanan sehari-hari. Finlandia merupakan salah satu negara dengan indeks korupsi terendah di dunia, namun juga merupakan negara dengan nilai pajak tertinggi di dunia. Pasti orang-orang bingung, kenapa warganya tidak ada yang protes dengan nilai pajak segila itu? Itulah yang didapatkan jika kepercayaan publik sudah mampu diraih, yang di mana Indonesia masih jauh dari meraihnya. Bahkan kita saja naik menjadi 12% langsung unjuk rasa di jalanan, kalo di Finlandia mereka masih santai saja. Mereka tahu kalo pajak mereka akan balik lagi ke perut anak-anak mereka, namun di Indonesia justru akan masuk ke kantong para tikus-tikus kantor. Program-program baru di Indonesia masih tak luput dari campur tangan orang-orang yang kotor, yang rakus ingin kekuasaan dan harta. Hal-hal seperti seharusnya menjadi prioritas terlebih dahulu, yaitu menumpaskan koruptor dan meraih kepercayaan rakyat sebelum saling merangkul untuk menjalankan proyek-proyek yang besar untuk membangun negeri.
Saya sendiri adalah mahasiswa. Lantas, apa yang bisa kami lakukan untuk memperbaiki permasalahan ini? Secara realistis, sangat sulit untuk mahasiswa mengambil peran dalam memperbaiki sesuatu yang dirusak oleh suatu pemerintahan negara yang apatis. Sebenarnya banyak yang bisa mahasiswa kontribusikan dalam memperbaiki program ini, misalnya memperbaiki kualitas pangan, mengawasi kontrol gizi asupan, sosialisasi, namun semua ini kebanyakan hanya bisa sebatas rencana dikarenakan transparansi pemerintah yang masih kurang. Hal yang paling bisa kami lakukan di ruang publik adalah unjuk rasa bersama-sama, menuntut perbaikan atas kehancuran yang telah mereka buat. Jika kita ingin berdialog, mahasiswa sudah pasti bisa melakukan hal tersebut. Namun, lawan bicaranya dimana? Dialog publik hanya akan terjadi jika mereka yang zhalim mau ingin turun tangan menghadapi kita semua, yang di mana pastinya mereka enggan untuk melakukan. Semuanya masih tergantung pada mereka, sang pemerintah. Antara mereka turun tangan menghadapi publik untuk berdialog, atau rakyat turunkan sendiri.
메타데이터
- post_id
- 370ec5d7f70b
- slug
- mbg-makanan-beracun-gratis-370ec5d7f70b
- url
- https://medium.com/@ridhoaddurrunnafis008/mbg-makanan-beracun-gratis-370ec5d7f70b
- canonical_url
- https://medium.com/@ridhoaddurrunnafis008/mbg-makanan-beracun-gratis-370ec5d7f70b
- author_url
- https://medium.com/@ridhoaddurrunnafis008
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-07 04:34:35