Anies-Ahok dan Prank Politik

Ahok dan Anies.
Tadi siang, di sebuah acara, saya berjumpa seorang kawan. Kami berbincang sejenak dan kemudian bahasan kami mengarah ke hal politik.
“Anies sudah dekat ke PDIP, ya?” tanya dia. “Kayaknya begitu.” jawab saya.
Beberapa hari lalu, pihak Pemerintah DKI mengundang semua mantan gubernur DKI dan gubernur terpilih dalam perhelatan perayaan tahun baru 2025. Di momen itu, ada hal menarik. Anies dan Ahok, seteru yang dianggap akan abadi sejak penghujung 2016, duduk bersebelahan dan terlihat kompak. Mereka saling bicara, tersenyum, dan tertawa.
Banyak orang terkejut dan sebagian tidak. Sebab sebagian itu tahu bahwa yang mereka lakukan tempo hari adalah hal politis;berebut kuasa dengan berbagai macam cara.
Perseteruan kedua tokoh ini paling unik. Menghasilkan aksi massa terbesar dan paling rapi di dunia muslim. Menjadikan salah seorang kalah dan kemudian masuk penjara. Dan beberapa bulan lalu, keduanya kembali bertemu ketika Anies hampir satu perahu dengan lawannya, Ahok, ketika ia hendak diusung oleh PDIP sebagai kandidat calon Gubernur DKI Jakarta untuk periode kedua.
Sepertinya, kalau ingin melihat politik Indonesia, kita harus menjadikan mereka berdua sebagai alat ukur agar tak selalu dijebak dalam permainan politik temporal.
Seperti yang saya sebutkan di atas. Dulu keduanya seteru. Yang menang jadi gubernur. Yang kalah masuk penjara. Ahok didukung Jokowi dan Mega. Lalu Anies didukung Prabowo dan Habib Rizq.
Setelah Ahok masuk penjara, kemudian menyusul Habieb Rizq. Lalu, di Pilpres 2024, Anies maju melawan Prabowo, yang memenangkannya di pilkada 2017, dan ia didukung oleh Habieb Rizq. Untuk Ahok, ia kemudian berada di kubu Mega, yang secara bersama melawan Jokowi yang memasangkan anaknya sebagai cawapres.
Lalu setelah Anies dan calon yang didukung Ahok kalah, kemudian Anies mencoba mengadu peruntungan untuk downgrade dan ingin bertarung sebagai Gubernur DKI untuk periode kedua.
Di menit-menit terakhir, menurut pengakuan pihak PDIP, pencalonan Anies digagalkan oleh Jokowi, dan kemudian Anies dan Ahok bersatu di Jakarta, melawan calon yang didukung oleh Jokowi, dengan mendukung penuh pasangan cagub yang didukung oleh PDIP.
Begitulah politik. Jangan terlalu di ambil hati. Tujuh tahun lalu mereka seteru. Kini satu selimut, dan mesra.
메타데이터
- post_id
- 3755ef28cce0
- slug
- anies-ahok-dan-prank-politik-3755ef28cce0
- url
- https://medium.com/@bentara/anies-ahok-dan-prank-politik-3755ef28cce0
- canonical_url
- https://medium.com/@bentara/anies-ahok-dan-prank-politik-3755ef28cce0
- author_url
- https://medium.com/@bentara
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 21:52:29