Bulu tangkis mungkin satu-satunya yang bisa kita banggakan.
Bagi penggemar badminton, tentu tidak asing dengan nama Gillian Clark. Ia adalah mantan pemain tim nasional badminton Inggris yang…
Bulu tangkis mungkin satu-satunya yang bisa kita banggakan.
Bagi penggemar badminton, tentu tidak asing dengan nama Gillian Clark. Ia adalah mantan pemain tim nasional badminton Inggris yang sekarang menjadi komentator, warganet Indonesia lebih mengenalnya dengan nama Oma Gill. Ia pernah berkata, “If you want to see the beauty of badminton, see how Indonesian play.” Berbeda dengan permainan Cina yang lebih bak bik buk, permainan badminton Indonesia sudah dikenal seantero dunia dengan permainan yang cantik, berteknik tinggi, dan sulit ditebak.
Konon, gaya permainan tersebut didasarkan pada metode pemilihan pemain di Indonesia yang tidak mengandalkan atribut fisik, melainkan bakat dalam menepak shuttlecock. Cina mensyaratkan calon pemain badminton harus bertinggi 175cm, baru bakatnya diasah. Pemain Indonesia dilihat dulu bakat dan insting bulu tangkisnya, baru setelah itu mengasah atribusi fisiknya. Karena itu pemain-pemain yang tidak terlalu tinggi seperti Kevin Sanjaya, Marcus Gideon, Anthony Ginting dan Markis Kido bisa tetap masuk tim nasional dan berprestasi.

Photo by Vladislav Vasnetsov from Pexels
Salah satu lembaga yang paling berjasa dalam penemuan bakat-bakat tersebut adalah PB Djarum. Dari zaman Liem Swie King sampai Kevin Sanjaya, PB Djarum telah melahirkan pemain-pemain yang menghidupkan keindahan seni dalam bermain bulu tangkis di Indonesia dan dunia.
Belakangan PB Djarum sedang jadi pesakitan karena KPAI dan Yayasan Lentera Anak menggugat mereka dengan tuduhan eksploitasi anak. Semua bola salju tersebut bergulung pada pamitnya PB Djarum dari perbulutangkisan Indonesia. Hal ini tentu mengecewakan banyak pihak, termasuk saya yang hanya penonton badminton. Kalah menang kami dukung. Asyik.
Jika sampai di masa depan kita tidak bisa mendengar Indonesia raya berkumandang di Olimpiade cabang olahraga badminton, maka bisa dipastikan KPAI ikut memiliki andil dalam mimpi buruk tersebut. Karena konon PB Djarum telah setuju untuk tidak menampilkan nama Djarum dalam kaos peserta audisi Djarum, tapi KPAI tetap keukeuh untuk menihilkan peran Djarum ke depannya.
Entah besar atau tidak peranan Bloomberg Initiative di sini yang disinyalir memang mengucurkan dana kepada LSM Indonesia untuk melakukan kampanye anti-rokok. Kita bisa melihat ada pertempuran antar big money di sini. Seperti kita ketahui memang kampanya anti-rokok ini memang erat kaitannya dengan perang dagang antara perusahaan nikotin dan perusahaan farmasi.
Wanda Hamilton dalam bukunya Nicotine War menjelaskan bagaimana nikotin menjadi sebuah komoditas yang diperebutkan. Ada pihak yang ingin agar nikotin tidak hanya dimonopoli oleh perusahaan rokok, oleh karena itu mereka menggalakkan kampanye terapi penyembuhan nikotin agar industri tersebut bisa dikuasai.
Seperti halnya semua perang, ketika dua lawan berseteru, mereka yang menonton harus juga terkena peluru. Terkuburnya impian calon atlet badminton di seantero Indonesia ini merupakan salah satu ekses minor tersebut.
Hal ini juga tidak terlepas dari pembinaan olahraga yang terlalu bergantung pada sektor swasta. Ketika sponsor pamit, nyaris tidak ada yang bisa dilakukan. Karena mana rela pemerintah menggelontorkan dana sebesar itu “hanya” untuk menggembleng para bintang bulu tangkis masa depan. Djarum rela, entah dengan latar belakang apa pun, tapi mereka telah berperan banyak selama 50 tahun terakhir ini untuk bulu tangkis.
Padahal bulu tangkis adalah sedikit — jika tidak satu-satunya — hal yang bisa membuat kita jumawa di dunia internasional. Lewat bulu tangkis kita menjadi powerhouse, kekuatan yang diperhitungkan dan punya tradisi yang panjang sebagai bangsa juara. Saya ingat ketika 2017 saya menonton All England di Birmingham, Marcus dan Kevin juara untuk pertama kalinya. Semua orang Indonesia yang ada di Birmingham Arena saat itu gegap gempita, dan menggemparkan seisi stadion.
Kami berteriak, kami menyanyi, seperti mabuk dan ekstasi. Tidak peduli apa yang orang lain katakan, karena pada saat itu kami menang, pada saat itu kami merasa menjadi bagian dari yang terbaik di dunia. Menang kan bebas.
Karena itu, saya sama sekali tidak rela jika satu-satunya kebanggaan kita itu direnggut oleh segelintir orang yang konon peduli pada anak-anak dan impiannya. Tapi saya tetap berbaik sangka, semoga saja mereka juga tetap segalak ini untuk menghentikan pernikahan anak, memberi perlindungan anak dari tontonan azab, dan lain-lain dan lain-lain.
Jika satu hari anak-anak kita bertanya, “kemana kami bisa belajar bulu tangkis dan menjadi hebat?” saya tidak tahu jawabannya. Ah, saya berharap Oma Gill akan tetap berteriak I can’t believe it!!! Ketika melihat pemain Indonesia bermain.
메타데이터
- post_id
- 375c587faa3e
- slug
- bulu-tangkis-mungkin-satu-satunya-yang-bisa-kita-banggakan-375c587faa3e
- url
- https://medium.com/@gelarriksa/bulu-tangkis-mungkin-satu-satunya-yang-bisa-kita-banggakan-375c587faa3e
- canonical_url
- https://medium.com/@gelarriksa/bulu-tangkis-mungkin-satu-satunya-yang-bisa-kita-banggakan-375c587faa3e
- author_url
- https://medium.com/@gelarriksa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-29 12:56:04