Jejak Migrasi Austronesia di Indonesia Berdasarkan Data Arkeologis
By Mbak Mawar
Jejak Migrasi Austronesia di Indonesia Berdasarkan Data Arkeologis

Gambar 1. Jalur kolonisasi Bangsa Austronesia di wilayah Pasifik (Sumber: Gray & Jordan 2000).
By Mbak Mawar
Pendahuluan
Penamaan Austronesia pada awalnya adalah penamaan yang didasarkan pada penggolongan kebahasaan yang diberikan oleh ahli linguistik untuk menyebut suatu rumpun bahasa yang mayoritas dituturkan di Kepulauan di Asia Tenggara, Mikronesia, Kepulauan Melanesia dan Polinesia. Bahasa Austronesia adalah ibu bahasa mereka, oleh karena itu, mereka disebut sebagai penutur bahasa Austronesia.
Berdasarkan rekonstruksi dari para ahli linguistik, bangsa Austronesia paling awal berada di Formosa (Taiwan). Mereka bermigrasi ke selatan melalui Filipina dan memasuki wilayah Indonesia melalui Kalimantan hingga ke Polinesia. Hasil kajian oleh para ahli etnolinguistik tersebut kemudian disejajarkan oleh para ahli arkeologi dengan menyajikan data arkeologis yang telah ditemukan, seperti beliung, tembikar, dan perkakas pertanian maupun kebiasaan memelihara ternak. Migrasi bangsa Austronesia menjadi sebuah fenomena besar dalam sejarah peradaban manusia yang persebarannya sangat cepat dengan mengenalkan sistem pertanian yang menyebabkan populasi hunter-gatherer (pemburu-pengumpul) berkurang. Truman Simanjuntak (2011) menegaskan bahwa terminologi “Austronesia” pada hakekatnya mengacu pada bahasa, namun dalam arti luas mengacu pada penutur dan budayanya secara keseluruhan.
Jalur migrasi para penutur Austronesia ini disebut sebagai teori “Out of Taiwan”, yang juga menyebutkan daerah China Selatan, sekitar Fujian atau Zhejiang, sebagai tempat asli mereka sebelum bergerak ke Taiwan (Bellwood, 2017; Blust, 2009). Apabila dilihat dari kecepatan luar biasa para migran ini dalam mencapai Polinesia yang hanya ditempuh dalam waktu 2.000 tahun, maka teori “Out of Taiwan” (Bellwood, 2014) disebut pula sebagai “Express Train to Polynesia” (Diamond, 2013).
Populasi Indonesia saat ini adalah bagian dari persebaran para penutur bahasa Austronesia, yang menyebar dan menghuni berbagai pulau di hamparan luas Samudra Hindia dan Pasifik (Tryon, 1995). Mereka mengenalkan budaya Neolitik sebagai budaya baru dari tanah lahir mereka, yang kemudian diadopsi dengan budaya asli tanah taklukan melalui inovasi-inovasi teknologi. Maka tersebar luas lah budaya bercocok tanam awal di segala penjuru yang dicirikan oleh pembuatan alat-alat batu kapak persegi yang digosok dan diupam, domestikasi tanaman dan binatang, serta pengembangan pembuatan gerabah ber-slip merah (Bellwood, 2005).
Pembahasan
Bangsa Austronesia dikenal sebagai produk akhir sub-spesies dari Homo Sapiens. Mereka dianggap sebagai pelaut ulung di samudra yang menaklukkan pulau demi pulau untuk mengenalkan teknik awal pertanian dengan memproduksi alat pertanian seperti kapak persegi dan kapak lonjong, pembuatan gerabah ber-slip merah, dan mendomestikasi binatang dan tanaman. Di tangan mereka lah subsistensi berburu dan meramu yang telah berusia hampir 2 juta tahun, diubah secara drastis menjadi pola menetap dengan bertani dan menjinakkan binatang yang kemudian disebut sebagai Revolusi Neolitik (Bellwood, 2005).
Ketika bangsa Austronesia datang, wilayah Nusantara sudah dihuni oleh populasi pra-Austronesia yang telah bermukim terlebih dahulu sejak masa Pleistosen. Mereka adalah Ras Australomelanesid yang mendominasi Nusantara sebagian wilayah barat mencakup Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Data pertanggalan sementara mengindikasikan Ras Australomelanesid sudah hidup di wilayah ini sejak sekitar 13.000 tahun yang lalu (T. Simanjuntak, 2002), yang kemudian pada sekitar 4.000 tahun lalu, secara perlahan digantikan oleh populasi baru, yaitu penutur bahasa Austronesia (Matsumura et al., 2018). Pada kondisi tersebut, sangat besar kemungkinan terjadi kontak budaya antara Ras Austronesia dengan ras non-Austronesia. Hal tersebut tercermin pada perkembangan teknologi alat kerang, teknologi pelayaran dan domestikasi hewan yang dimiliki masyarakat penutur bahasa Austronesia. Selain interaksi antar budaya, proses migrasi koloni bangsa Austronesia juga memunculkan ideologi cikal bakal pada struktur sosial budaya mereka.
Terdapat suatu hal yang menarik bahwa berdasarkan data rangka manusia dari berbagai situs yang ditemukan, menunjukkan arus genetik Ras Austronesia tidak berhasil menembus wilayah Papua dan pulau-pulau lain yang berdekatan di Indonesia bagian timur. Di kawasan ini, sisa-sisa manusia lebih didominasi oleh ciri-ciri Australid — Melanesid — dan Tasmanid (yang telah punah), yang merupakan subras Arafurid (Jacob, 2002). Berikut jejak-jejak bangsa Austronesia di beberapa pulau di Indonesia:

Gambar 2. Foto dari Goa Tewet yang ada di Kalimantan (Sumber: PariwistaIndoensia.id).
Jejak Austronesia di Pulau Kalimantan terdapat di beberapa daerah yang dominan di area pegunungan atau goa sebagai lokasi hunian dan aktivitas. Di kawasan karst Mangkalihat di Kalimantan Timur ditemukan data arkeologis sisa aktivitas manusia berupa peralatan hidup. Di Goa Kabogoh dan Goa Tewet ditemukan lukisan pada dinding goa dengan perkiraan usia 3.000 tahun lalu. Di sekitar Goa tersebut ditemukan kubur batu lengkap dengan bekal kubur berupa alat batu. Bekal kubur tersebut merupakan kepercayaan religi yang percaya adanya kehidupan setelah kematian. Maka dari itu, orang yang telah mati diberi bekal untuk kehidupan selanjutnya. Berbeda halnya dengan Goa Liang Jon yang ditemukan sistem penguburan dengan kondisi tengkorak yang diganti dengan segumpal batu beserta bekal kubur di sekitarnya. Situasi penguburan tersebut mirip dengan yang ditemukan di Teouma, Vanuatu, daerah Kaledonia Baru di Pasifik (Valentin, Bedford, Buckley, & Spriggs, 2010).
Jejak Austronesia di Pulau Sumatera tidak berbeda dengan di Kalimantan. Mereka hidup menetap di goa-goa dan dekat dengan sumber air (sungai). Terdapat 4 goa yang telah dieksplorasi oleh arkeolog Indonesia yaitu Goa Pondok Selabe, Goa Pandan, dan Goa Harimau, serta Goa Putri. Goa putri dan Goa Pondok Selabe terdapat di area bukit karst sedangkan goa harimau tepat di depannya terdapat aliran sungai. Pada keempat goa tersebut banyak ditemukan alat serpih batu dan gerabah yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari mereka. Di goa Harimau, suatu hal yang menakjubkan adalah ditemukannya sekitar delapan puluhan individu manusia, dengan orientasi rangka ke arah timur (kepala) — barat (kaki) (Noerwidi et al., 2016).

Gambar 3. Foto gigi dari manusia Austronesia yang ditemukan di wilayah Leran, Jawa Timur (Sumber: Balar Yogyakarta).
Jejak Austronesia di Pulau Jawa juga banyak ditemukan di daerah goa dan pesisir pantai. Situs-situs kubur tempayan yang cukup menonjol eksistensinya dan telah ditemukan di beberapa tempat di tepi pantai, yaitu di Anyer Lor (Banten) dan Plawangan (Rembang, Jawa Tengah) (van Heekeren, 1958). Berdasarkan temuan artefaktual yang umum dipakai sebagai bekal kubur pada kubur tempayan yang berupa benda-benda Neolitik yaitu gerabah dan logam, maka kubur tempayan tersebut mempunyai kisaran periode antara masa Neolitik hingga Paleometalik. Di Anyer Lor (Banten), rangka manusia dikubur dalam posisi terlipat, dengan bekal kubur berupa piring dan mangkuk tanah liat, tanpa benda-benda perunggu (van Heekeren, 1958). Selain itu, ditemukan juga rangka membujur telungkup dan tengadah, seperti yang masih dilakukan di dekat Danau Batur dan Buleleng Timur (van Stein Callenfels 1940). Situasi agak berbeda ditampilkan dari situs kubur tempayan di Plawangan, tepi pantai Rembang (Jawa Tengah). Situs kubur yang disertai dengan bekal kubur berupa manik-manik, benda-benda dari perunggu dan besi, serta barang-barang 3 tanah liat ini merupakan situs kubur yang cukup luas dan padat, yang telah menghasilkan paling tidak 40 individu (Soegondho, 1990). Berdasarkan bekal kuburnya, situs ini diperkirakan merupakan variasi dari situs kubur tempayan yang berkembang pada masa akhir prasejarah di Indonesia. Ciri-ciri fisiknya menunjuk ciri Ras Monggolid atau Austronesia (Boedi Sampoerna, 1990).
Jejak Austronesia di Pulau Bali juga tidak berbeda jauh dengan di Pulau Jawa. Mereka dominan menempati daerah pesisir pantai. Situs prasejarah terkenal yang dihuni oleh manusia Austronesia di Bali adalah situs Gilimanuk. Situs tersebut berupa kubur tempayan dengan ditemukannya lebih dari 100 kerangka manusia yang sebagian besar dalam kondisi rangka utuh dan lengkap dengan bekal kubur. Kubur-kubur tersebut disertai dengan bekal-bekal kubur berupa periuk, perhiasan (manik-manik dan gelang), benda-benda perunggu dan besi, binatang-binatang kurban (babi, anjing, dan unggas), dan juga benda peralatan sehari-hari seperti periuk, mata kail, maupun alat dari cangkang kerang (Soejono, 1977). Sistem penguburan di situs tersebut dalam berbagai cara penguburan meliputi kubur primer (tunggal, rangkap bertumpuk dengan sikap rangka membujur, semi terlipat, terlipat, dorsal, dan telungkup), kubur sekunder, kubur campuran, dan kunur sepasang.
Jejak Austronesia di Pulau Sulawesi ditemukan di goa prasejarah Leang Cadang di Soppeng, Sulawesi Selatan. Sisa manusia yang ditemukan berupa mandibula, maxilla dan lebih dari 2.700 gigi lepas yang berkaitan dengan budaya Toala Atas berusia sekitar 4.000 tahun (van Heekeren, 1941). Di Sa’bang, sekitar 50 kilometer di sebelah utara Paloppo, ditemukan pula 10 kubur yang berasosiasi dengan benda-benda gerabah, pemukul kulit kayu, batu giling, dan mata panah besi. Ditafsirkan kubur-kubur tersebut merupakan kubur sekunder (van Heekeren, 1958). Kubur tempayan juga ditemukan di dekat kompleks megalitik Bada, Sulawesi Tengah, akan tetapi tidak diketahui apakah kubur-kubur merupakan bagian dari budaya Megalitik tersebut, atau berdiri sendiri (Noerwidi, 2019).
Berdasarkan penemuan-penemuan yang telah dijelaskan, manusia Austronesia mendominasi wilayah Indonesia bagian barat dan tidak menyentuh daerah Papua karena daerah tersebut dan sekitarnya didominasi oleh ras Papua-Melanesid. Bangsa Austronesia tidak mudah untuk menembus koridor Kepulauan Indonesia seperti di Papua karena telah padat dihuni oleh manusia. Selain itu, daratan Papua juga merupakan lokasi berkembangnya pertanian non-biji-bijian secara mandiri (Haberle et al. 2012: 129).
Daftar Referensi
Bellwood, P. (2005). First Farmers: The Origins of Agricultural Societies. Victoria: Blackwell Oxford.
— — — — — — . (2014). First Migrants: Ancient Migration in Global Perspective.
— — — — — — . (2017). First Islanders: Prehistory and Human Migration in Island Southeast Asia. Oxford: John Wiley & Sons.
— — — — — — . (1987). The Prehistory of Island Southeast Asia: A Multidisciplinary Review of Recent Research. Journal of World Prehistory 1: 171–224.
Blust, R. A. (2009). The Austronesian Languages (Vol. 602).
Boedhisampoerno, S. (1990). Temuan Sisa Rangka Manusia Dari Situs Kubur Paleometalik Plawangan, Rembang, Jawa Tengah. In Proceedings Analisis Hasil Penelitian Arkeologi I, Plawangan: Religi Dalam Kaitannya dengan Kematian, Jilid II.
Kasnowihardjo, H. Gunadi. (2013). Temuan Rangka Manusia Austronesia di Pntura Jawa Tengah: Sebuah Kajian Awal. Berkala Arkeologi vol. 33 Edisi №1 Mei.
Matsumura, H., Oxenham, M., Simanjuntak, T., & Yamagata, M. (2017). The Biological History of Southeast Asian Populations From Late Pleistocene and Holocene Cemetery Data. First Islanders: Prehistory and Human Migration in Island Southeast Asia. Wiley Blackwell, Oxford.
Simanjuntak, T. (2016). Harimau Cave and the Long Journey of OKU Civilization. (T. Simanjuntak, Ed.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Soejono, R. P. (1977). Sistem-sistem Penguburan Pada Akhir Masa Prasejarah di Bali. Disertasi. Jakarta: Universitas Indonesia.
Tryon, D. (1995). Proto-Austronesian and The Major Austronesian Subgroups. The Austronesians: Historical and Comparative Perspectives, 19–41.
van Heekeren, H. R. (1941). Over Toala’s en de Toala-cultuur (Zuid-Celebes). Natuurwetenschappen Tijdschrift Nederlndsch Indië, 101(8), 229–237.
van Heekeren, H. R. (1958). The Bronze-Iron Age of Indonesia. The Hague: SGravenhage.
Widianto, Harry dan Noerwidi, Sofwan. (2019). Diaspora Austronesia di Indonesia Berdasarkan Tinggalan Rangka Manusia. Seminar Nasional Arkeologi hal. 1–22.
메타데이터
- post_id
- 378caee7b6dc
- slug
- jejak-migrasi-austronesia-di-indonesia-berdasarkan-data-arkeologis-378caee7b6dc
- url
- https://medium.com/@podkeskaos/jejak-migrasi-austronesia-di-indonesia-berdasarkan-data-arkeologis-378caee7b6dc
- canonical_url
- https://medium.com/@podkeskaos/jejak-migrasi-austronesia-di-indonesia-berdasarkan-data-arkeologis-378caee7b6dc
- author_url
- https://medium.com/@podkeskaos
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 08:06:33