Ketimpangan sosial dalam lingkup berkeluarga
Ketimpangan sosial dalam lingkup berkeluarga

Credit : pinterest
Kondisi adanya ketakseimbangan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat karena perbedaan status sosial, ekonomi maupun budaya, begitulah pengertian dari ketimpangan sosial yang kita ketahui secara garis besarnya.
Banyak contoh yang sudah bisa menunjukkan ketimpangan tersebut. Si miskin dan si kaya, si pandai dan si bodoh, atau berbagai contoh lainnya yang sangat mudah ditemukan bahkan disekitar diri kita masing-masing. Sama-sama terdapat perbedaan yang kentara, namun nyatanya praktik pembedaan ini terus saja mendarah daging di dalam kehidupan manusia.
Tidak perlu memperbanyak jangkauan contohnya, di dalam kehidupan kita sendiri bahkan ada banyak yang tengah merasakan dampaknya. Orang tua dari pasangan yang berada di level lebih tinggi dibanding sang anak menantu juga bisa menjadikan konflik batin yang berkepanjangan sebagai salah satu contoh ketimpangan sosial dalam lingkup keluarga.
Bayangkan, di dalam lingkup yang lebih kecil, bahkan bisa dibilang sangat kecil inilah, manusia sudah mulai didikte mengenai perbedaan mendasar yang mana harus mereka patuhi (bagi yang stratanya ada dibawah) semenjak ikatan hukum kekeluargaan itu terbentuk.
Menantu harus terbiasa dengan segala perintah dari mertua. Sedangkan menantu yang takut jika dicap durhaka berusaha sekuat tenaga memenuhi segala imajinasi bayangan dari orang tua barunya.
Patuh bukan berarti mereka menerimanya dengan sengaja dan bahagia. Justru kebalikannya, yang ada hanya tekanan perasaan yang meningkat tajam tanpa ujung yang jelas. Sebagai yang lebih muda, banyak yang berpikiran jika status sosialnya menjadi lebih baik, entah menjadi berapa tingkat, semenjak mereka bergabung dengan mereka. Dan dengan pola pemikiran yang seperti demikian, akhirnya, kebebasan berpendapat dan bertindak dalam berumah tangga menjadi terhambat.
"Saya tidak bisa berlaku menantang di depan mereka. Saya mendapat semua kemudahan ini karena mereka. Saya menjadi seperti ini karena saya memilih menjalani hidup dengan suami saya. Sudah sepantasnya saya menerima semua perlakuan mereka."
"Memandang orang lain tentu saja sangat menyenangkan. Tapi bagi saya, kehidupan seperti itu hanyalah angan-angan yang mengambang tanpa bisa diwujudkan. Saya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah mereka. Artinya, saya juga harus siap dengan segala konsekuensinya."
Kapasitas berpendapat menantu menjadi terbatas, sedangkan di dalam benaknya, mereka mengeluh hebat walau tanpa bisa didengarkan. Kegundahan akan tekanan yang terus bertambah setiap harinya membuat perasaan tidak nyaman semakin besar. Dari hal sepele sampai besar, mereka tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan pendapat maupun sanggahan.
Siklus yang sama terus berulang. Terlebih setelah adanya anggota baru lagi yang menambah daftar panjang sanak kerabat. Dengan adanya tambahan inilah (read : anak), mereka semakin dalam menahan kegalauan. Sebagian besar masih selamat karena memiliki sosok pasangan yang bisa mengimbangi keberingasan dari yang lebih tua. Tapi bagaimana jika sebagian lainnya itu memilih buta akan situasi dan hanya terdiam menyaksikan karena menganggap yang dilakukan yang lebih tua adalah sebuah keharusan.
Hanya karena ketimpangan, banyak kejadian yang harus dikorbankan karena memutuskan memilih pasangan hidup yang dianggap tepat. Keputusan tepat atau tidaknya tentu tidak bisa kita nilai, karena sejatinya bukan kita yang menjalankan.
Teruntuk semua yang masih ragu ataupun sudah mantap memilih pasangan, semoga kita semua diberikan pencerahan layaknya kebebasan pikiran kita dalam mengkhayal. Kebebasan ada di dalam genggaman tangan kita masing-masing, tapi kewarasan dan keberanian hanya bisa digapai jika kebebasan itu berani disuarakan.
메타데이터
- post_id
- 37cf34f7edd3
- slug
- ketimpangan-sosial-dalam-lingkup-berkeluarga-37cf34f7edd3
- url
- https://medium.com/@avianurindah/ketimpangan-sosial-dalam-lingkup-berkeluarga-37cf34f7edd3
- canonical_url
- https://medium.com/@avianurindah/ketimpangan-sosial-dalam-lingkup-berkeluarga-37cf34f7edd3
- author_url
- https://medium.com/@avianurindah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 03:29:24