Elok Raga Senandung Kasih
Perihal yang nampak, segalanya akan sirna. Perihal semerbak? apalagi itu, pasti akan hilang menguap. Perihal keindahan dunia, memang tak…
Elok Raga Senandung Kasih

source : pinterest
Perihal yang nampak, segalanya akan sirna. Perihal semerbak? apalagi itu, pasti akan hilang menguap. Perihal keindahan dunia, memang tak ada yang nampak memberikan keabadian. Seluruhnya akan menjadi sama bak tak pernah terlihat segala perbedaan. Menjadi satu padu, dengan segala abu yang akan tertampang pada akhir darinya.
Elok raga bukan sekadar tentang apa yang tampak, melainkan tentang bagaimana seorang yang berwujud indah merangkai makna dalam setiap langkahnya. Tentunya setiap tapak langkah yang ditempuh tidak akan mudah. Pasalnya, banyak sekali rintangan yang kerap dihadapinya seorang diri, sebab istimewa yang sedari lahir diembannya. Berat? pasti. Sulit? tentunya. Namun diantara seluruh keelokan dunia yang ada, mengapa ia ditakdirkan menjadi salah satunya bahkan yang paling istimewa?
“Istimewamu mengandung banyak megah. Akan lahir darimu pelita hidup yang terarah. Bak kekayaan dunia yang menjadikanmu jiwa yang tertopang gagah.”
Dan pada akhirnya, keindahan tak lagi tentang apa yang terlihat, melainkan tentang apa yang terus hidup dan mengalun dalam diam. Ia hadir tanpa banyak suara, namun mampu menguatkan. Ia bertahan tanpa banyak keluh, namun tetap memberi arah. Ia tetap berdiri kokoh, meski hidup kerap mengikisnya secara perlahan.
Dalam sunyinya, ada kekuatan yang tak mudah runtuh. Dalam lembutnya, tersimpan keteguhan yang tak semua insan mampu miliki. Ia adalah senandung kasih yang tak selalu terdengar lantang, namun tak pernah benar-benar hilang. Jiwa nya abadi, dalam labirin kehidupan yang tak pernah sesai memberikannya arti.
Ada masa ketika dirinya dipandang bukan sebagai sosok jiwa, melainkan sebatas rupa. Seolah ia hanyalah bagian dari panggung besar bernama kehidupan. Berhak untuk ditatap, dinilai, lalu ditafsirkan sesuka mata yang memandangnya.
Ia dijadikan seperti karya yang dipamerkan, dikagumi tanpa benar-benar dipahami. Dipuji, namun sekaligus dipatahkan oleh khalayak terkait makna sebenarnya yang tersimpan di dalamnya. Sebab tak semua apresiasi lahir dari penghormatan. Sebagian hanya menjadikannya seolah tertuju, bukan sebagai penghargaan perihal sosok utuh yang akan membawa arus deras kehidupan.
Sebuah ironi yang terus berulang, layaknya seni hidup yang tak pernah usai. Indah di permukaan, namun menyimpan makna yang kerap disalahartikan.
Sering kali, dunia terlalu cepat mengambil alih makna yang berusaha ia pahami tentang dirinya sendiri. Apa yang telah ia cerna perlahan, yang ia rawat dalam diam, justru dipatahkan oleh penilaian yang datang tanpa jeda. Dunia seakan lebih berhak mendefinisikan, memberi label, bahkan menentukan arah tanpa pernah benar-benar mendengar bagaimana ia memaknai dirinya.
Hingga pada akhirnya, ia dihadapkan pada dua pilihan: mengikuti suara yang riuh dari luar, atau tetap setia pada makna yang dengan susah payah telah ia bangun dari dalam dirinya. Dan dalam diamnya, ia memilih bertahan menjaga arti itu tetap utuh, meski dunia tak pernah berhenti mencoba mengubahnya.
Namun dari sana, ia belajar satu hal bahwa dirinya bukan sekadar apa yang dunia lihat. Ia bukan lukisan yang bisa dimaknai semaunya, bukan pula senandung yang bisa diubah nadanya sesuka hati yang mendengarnya.
Ia adalah makna itu sendiri yang berdiri utuh, tak berkurang hanya karena dunia memilih untuk melihatnya dengan cara yang keliru. Ia memiliki arti secara rinci, yang kelak hanya dipahami oleh insan yang memilih untuk mencintai nya abadi.
Dan lebih dari itu, ia bukan hanya tentang dirinya sendiri. Ia adalah ruang dari tempat banyak kehidupan bernaung dan bertumbuh. Dari peluknya, lahir ketenangan. Dari doanya, terajut harapan yang tak selalu terlihat, namun nyata menguatkan.
Ia mungkin tak selalu disebut dalam riuhnya dunia, namun jejaknya tinggal dalam setiap jiwa yang pernah ia sentuh. Dalam cara ia mencintai, dalam cara ia bertahan, dan dalam cara ia tetap memilih menjadi utuh meski pernah dipatahkan.
Sebab pada dirinya, kasih bukan sekadar rasa melainkan sumber kehidupan yang terus mengalir, bahkan ketika dunia tak pernah benar-benar memberinya jeda.
Elok raga adalah apa yang sekilas terlihat, namun senandung kasih adalah apa yang menetap jauh setelah segalanya telah berlalu. Dalam harmoni itu, lahir kekuatan yang tak hanya indah, tetapi juga menghidupkan dalam tenang. Keindahan abadi berwujud kasih dalam relung jiwa seorang perempuan.
메타데이터
- post_id
- 37edf4a4e359
- slug
- elok-raga-senandung-kasih-opinia-37edf4a4e359
- url
- https://medium.com/@finiakhairani/elok-raga-senandung-kasih-opinia-37edf4a4e359
- canonical_url
- https://medium.com/@finiakhairani/elok-raga-senandung-kasih-opinia-37edf4a4e359
- author_url
- https://medium.com/@finiakhairani
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 17:12:49