← Back to list

Kalau Memang Ingin Pergi, Ya Pergi Saja!

Hidup memang harus terus berjalan

Phillocaliste in Komunitas Blogger M · 2025-02-27 03:12 · 858 claps · 2.6 min read paywalled
#komunitas-blogger-medium #bahasa-indonesia #sosial #migrasi #karier
Open on Medium ↗

Photo by Campaign Creators on Unsplash

Photo by Campaign Creators on Unsplash

Kalau Memang Ingin Pergi, Ya Pergi Saja!

Hidup memang harus terus berjalan

Kemarin, jagat maya geger dengan hastag #KaburAjaDulu. Isinya? Seperti yang bisa diduga: keluhan tentang lapangan pekerjaan, gaji UMR yang serasa uang jajan anak SMP, dan tentu saja, nasib orang-orang cerdas yang lebih dihargai di negeri orang daripada di tanah kelahirannya sendiri.

Saya tidak akan menjelaskan lebih jauh bagaimana hastag ini digunakan. Sudah banyak tulisan dari teman-teman yang membedahnya dari berbagai sudut pandang, mulai dari yang kritis hingga yang penuh emosi. Saya hanya ingin berpesan kepada mereka yang ingin melakukannya.

Belum menjadi member Medium? Baca selengkapnya di sini

Menurut saya, kabur aja dulu bukanlah wacana yang naif atau tidak nasionalis. Justru, ini adalah bentuk kejujuran yang paling rasional.

Mari kita berbicara tentang realitas.

Persyaratan kerja di Indonesia itu nggilani. Butuh kemampuan multitasking tingkat dewa dengan gaji yang bahkan tidak cukup untuk membeli tiket kereta pulang-pergi selama sebulan. Perusahaan ingin karyawan sempurna, tapi apakah fasilitas dan hak pekerja juga sempurna? Ah, entahlah.

Lalu ketika ada orang yang memilih pergi ke luar negeri untuk bekerja, tiba-tiba muncul suara-suara sinis. “Gak nasionalis!”, “Harusnya berjuang di negara sendiri!”, “Kalau semua orang pintar pergi, siapa yang membangun bangsa?”

Sebentar. Yang benar saja.

Apakah mereka berpikir bahwa orang-orang ini pergi dengan hati ringan? Tidak. Mereka pergi karena bertahan di sini rasanya seperti berjuang di pertempuran yang sudah jelas hasilnya. Why fight a losing battle?

Dan jangan salah, mereka yang pergi ini bukan berarti membenci negara sendiri. Mereka hanya sadar bahwa hidup harus terus berjalan, dan terkadang, untuk bertahan, kita harus mencari jalan yang lebih masuk akal.

Dulu, saya juga berpikir bahwa bertahan adalah pilihan terbaik. Bahwa jika kita tetap di sini, berkontribusi, dan bersabar, suatu saat keadaan akan membaik. Tapi tahun demi tahun berlalu, dan saya mulai melihat pola yang sama: orang-orang pintar justru lebih dihargai di luar negeri. Bukan karena mereka lebih pintar dari yang lain, tapi karena sistem di sini yang terlalu sering menutup mata terhadap potensi anak bangsa.

Saya ingat seorang teman yang dulu bekerja di Nissan Europe France. Gaji layak, fasilitas oke, kariernya melesat. Sampai suatu hari, dia harus pulang ke Indonesia untuk mengurus visa. Easy peasy, pikirnya. Tapi lalu… boom!! COVID-19 datang. Semua pintu tertutup.

Hasilnya? Dia terjebak di tanah air dan harus berhenti dari pekerjaannya. Ia menganggur dua tahun tanpa kepastian, padahal dia sudah mengirimkan berbagai lamaran pekerjaan ke perusahaan. Pekerjaan impian yang sudah digenggam lenyap begitu saja, dan ketika akhirnya ia mendapatkan kerja lagi, posisinya? Jauh dari apa yang dulu ia capai. Dari segala sisi, hidupnya berubah total, bukan karena gagal, tapi karena sistem yang tidak memberinya ruang.

Apakah dia pengkhianat? Tentu tidak.

Jadi, kalau memang ingin pergi, ya pergi saja.

Tapi dengan satu syarat: jangan pergi dengan tangan kosong.

Sebelum kamu berangkat, pastikan kamu sudah punya mental yang kuat. Hidup di negeri orang tidak seindah feed Instagram para pekerja migran. Ada kesepian, ada rindu yang tidak bisa diobati, ada tantangan yang tidak terduga. Tapi kalau kamu bisa bertahan, percayalah, dunia ini jauh lebih luas dari yang kamu kira.

Kedua, pastikan kamu punya keterampilan yang jelas. Jangan hanya mengandalkan keberanian semata. Dunia ini penuh dengan orang-orang berbakat, dan jika kamu ingin bersaing, kamu harus membawa sesuatu yang berharga ke meja.

Dan yang terakhir, jangan pedulikan omongan orang.

Mereka yang sibuk berteriak “gak nasionalis!” atau “harusnya tetap berjuang di sini!” sering kali adalah orang yang hidupnya begitu-begitu saja. Mereka tidak peduli dengan hidupmu, jadi kenapa kamu harus mempedulikan omongan mereka?

Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dalam penyesalan. Jika ada kesempatan untuk pergi dan berkembang, kenapa harus menunggu?

Toh, pada akhirnya, bukan soal di mana kita berada, tapi bagaimana kita bertumbuh.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Tepukan 👏🏻, highlight 📌, dan komentarmu 💬 adalah bentuk dukungan untuk saya. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu!


메타데이터
post_id
3853795c4d1a
slug
kalau-memang-ingin-pergi-ya-pergi-saja-3853795c4d1a
url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/kalau-memang-ingin-pergi-ya-pergi-saja-3853795c4d1a
canonical_url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/kalau-memang-ingin-pergi-ya-pergi-saja-3853795c4d1a
author_url
https://medium.com/@tiaramerdika
status
ok
fetched_at
2026-09-05 14:52:09