← Back to list

Lidah yang Menjadi Berkat

Renungan Firman Tuhan dari Kolose 3:1–11 Mengenai Hidup Sebagai Manusia Baru, dengan Lidah yang Telah Diubahkan dalam Kehidupan Sehari-Hari…

Endi Pratama Sandroto · 2024-09-20 05:07 · 0 claps · 7.8 min read paywalled
#kristen #christianity #perkataan #renungan #berkat
Open on Medium ↗
Wiki topics: AI · AI · General 🕊️ · Religion

Lidah yang Menjadi Berkat

Renungan Firman Tuhan dari Kolose 3:1–11 Mengenai Hidup Sebagai Manusia Baru, dengan Lidah yang Telah Diubahkan dalam Kehidupan Sehari-Hari dan Sosial Media

Ilustrasi Sesuai Judul (Lidah yang Menjadi Berkat di Sosial Media)

Ilustrasi Sesuai Judul (Lidah yang Menjadi Berkat di Sosial Media)

Shalom!

Untuk mengawali renungan ini, saya ingin awali dengan pertanyaan retoris, “Pernahkah anda mengatakan sesuatu yang langsung atau pada akhirnya anda sesali setelah mengatakannya? Atau mungkin pernahkah anda melihat bahkan mengomentari konten di sosial media yang mengundang perdebatan?” Saya meyakini, kita pasti pernah mengalaminya. Saya sendiri pernah mengalami perasaan tidak menyenangkan akibat dari perkataan diri sendiri; sekitar tahun 2015, pada perlombaan futsal antar gereja, malam hari sekitar pkl. 22.00, pengelola tempat futsal sudah menegur saya agar tidak menimbulkan suara yang berlebihan. Saat itu saya menjadi koordinator perlombaan olahraga. Pertandingan sedang dalam suasana tegang dan memicu suara gaduh dari suporter. Saya menegur seorang ibu-ibu, yang saat itu berteriak menyoraki timnya, “tolong dikecilkan suaranya ya”. Sontak, beberapa pemain dan suporter tim lain melihat ke arah saya. Suami dan anak dari ibu ini marah karena teguran saya dan seingat saya dalam posisi ingin meninju sambil bertanya, “memangnya siapa kamu?” Ini perkataan yang pada akhirnya saya sesalkan, “saya panitia!”. Setelah itu mereka semakin marah dan saya juga bersikeras bahwa panitia berhak untuk menegur, namun saya dianggap tidak sopan terhadap orang tua; sampai pada akhirnya kami dilerai oleh panitia lainnya dan seketika itu juga saya menyesal dan meminta maaf supaya pertandingan dapat dilanjutkan kembali. Sampai hari ini, saya masih punya stigma bahwa sebagian besar orang-orang dalam suku tempat saya dibesarkan (termasuk saya), memiliki temperamen yang berlebihan. Menganggap remeh, adu fisik dan keinginan untuk menyakiti jadi solusi jitu untuk menyelesaikan masalah. Tapi itu menurut saya dan kalau pun ada di antara pembaca sekalian, segera bertobat ya.

Hal ini menandakan jelas, bahwa lidah atau perkataan kita memiliki kuasa dan berdampak besar dalam kehidupan sehari-hari maupun juga di media sosial. Setiap kata yang keluar dari mulut kita dapat berakibat baik atau buruk, sesuai dengan gemanya; Amsal 18:21, “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” Nah, kita tahu atau mungkin pernah mendengar hikmat ini; Sekarang kita juga tahu bahwa perkataan kita punya kekuatan yang besar. Pertanyaannya, bagaimana kata-kata kita mencerminkan siapa diri kita sebenarnya? Mari kita sama-sama lihat apa yang Alkitab katakan tentang hal ini dan bagaimana lidah kita bisa menjadi cerminan dari hati kita.

Kolose 3:1–11 secara umum berbicara mengenai nasehat untuk hidup sebagai manusia baru yang telah diubahkan oleh Kristus. Ayat 1–2 secara khusus menasehatkan kita untuk memikirkan hal-hal yang di atas, bukan hal-hal duniawi. Ketika hati dan pikiran kita selaras dengan nilai-nilai baik yang Tuhan ajarkan, perkataan kita juga akan mencerminkan kasih, kebenaran dan kebijaksanaan dari Tuhan, bukan sebaliknya (kemarahan, hinaan). Lidah kita akan berbicara sesuai dengan apa yang hati kita pikirkan. Tuhan Yesus dalam Matius 12:34–35 mengatakan,

“Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.”

Hari ini, saya merasa bahwa orang menjadi lebih sering dan fluent menggunakan kata-kata kasar sebagai tren atau ekspresi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya penggunaan kata “anjing”; Melihat hal yang keren atau disukai di depan mata, “anjiing”, merasakan hal yang tidak menyenangkan atau kesal, “aanjing!”, kaget/sakit, “anjhing!” atau “anjinggg sakiit!”, sedih/kecewa, “ahh, anjing”. Kenapa hal ini bisa terjadi? Mengapa penyederhanaan ekspresi semacam ini terjadi ke arah yang negatif? Apakah kita kekurangan kata-kata untuk berekspresi? Bukan, hal ini terjadi karena pikirannya terbiasa dan tertuju pada hal-hal duniawi— kebiasaan. James Clear dalam buku Atomic Habits menulis, “Identitas Anda berasal dari Kebiasaan Anda”; Siapa kita sebenarnya — identitas kita — tercermin dari kata-kata yang keluar dari hati dan pikiran kita. Isi hati dan pikiran kita, dibentuk dari kebiasaan yang kita lakukan. Bahkan Paulus telah mengidentifikasikan hal ini dalam ayat 5–7 dan 9–10 secara tidak langsung; Kebiasaan kita yang buruk diidentifikasikan sebagai manusia lama — dalam ayat 5–7 (dan Paulus menasehati seharusnya agar kita meninggalkan manusia lama ini), sebaliknya — manusia baru — dalam ayat 9–10 diidentifikasikan sebagai nasehat agar kita mengenakannya untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya. Lidah kita, bisa menjadi cerminan dari hati kita — siapa kita, identitas diri kita.

Jika kata-kata kita mencerminkan hati kita, lalu apa yang terjadi jika kita tidak berhati-hati dengan apa yang kita ucapkan? Hanya ada dua kemungkinan yang dapat terjadi. Apabila kita berhati-hati dalam menggunakan lidah, kata-kata yang kita ucapkan dapat membangung orang lain. Sebaliknya, apabila kita tidak berhati-hati dalam menggunakan lidah, kata-kata yang kita ucapkan dapat menjatuhkan atau merobohkan orangl ain. Selanjutnya, kita bahas bagaimana lidah kita bisa menguatkan orang lain, bukan merobohkan.

Kolose 3 ayat 8 berkata,

“Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.”

Agar lidah kita dapat menguatkan orang lain, kita harus membuang hal-hal yang disebutkan pada ayat tersebut dan sama artinya juga, kita harus tahu dan mampu mengidentifikasi kata-kata kotor yang dimaksud dalam ayat 8 tersebut, sehingga tidak merobohkan orang lain.

  1. Kata-kata kasar atau sumpah serapah. Biasanya kata-kata yang menghina atau menista, seperti Sialan, Anjing (tadi), Bajingan.
  2. Pelecehan verbal. Perkataan yang mengolok-olok, merendahkan, atau menghina orang lain, seperti Bodoh, Dungu, Tolol, Otak udang, Nggak guna. Terlepas dari fakta subjek dan definisi bahasanya, kata-kata seperti ini merendahkan orang lain dan tidak sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus untuk membangun orang lain.
  3. Kata-kata pornografi atau tidak sopan secara seksual. Perkataan yang menggunakan bahasa vulgar atau cabul dalam percakapan, seperti penggunaan bahasa-bahasa yang menunjukkan alat kelamin atau kegiatan seksual yang out of context, memberikan label atau memanggil orang tertentu dengan hinaan seksual seperti “pelacur”, menggunakan kata-kata yang menghina atau merendahkan secara fisik seperti “ada yang bulat tapi bukan tekad” atau “ada yang besar tapi bukan keinginan”
  4. Fitnah atau ucapan meremehkan. Berbicara buruk tentang seseorang dengan maksud untuk mencemarkan nama baik atau karakter. Ucapan ini kerap kita temui dalam aktivitas bergosip; otomatis bergosip juga merupakan fitnah keji — dosa — yang jika tidak dikendalikan dapat merobohkan orang lain.
  5. Dan masih banyak lagi.

Rocky Gerung, menurut saya menjadi subjek paling dekat yang dapat kita contoh. Kata “dungu” yang menjadi ciri khasnya, yang ditujukan kepada jabatan presiden membuat warga Indonesia bergejolak dan mungkin juga terpecah di sosial media. Kritiknya pada pemerintah dapat kita benarkan, tetapi pilihan katanya tidak. Dapat kita lihat, pilihan katanya ternyata berdampak menyakiti orang lain walaupun subjek targetnya tidak merasa; Kata dungu berpotensi menjadi batu sandungan bagi orang lain yang mengatakan dan mendengarnya.

Efesus 4:29 berkata,

“Jangan ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia.”

Sebaliknya, perkataan yang baik dapat membangun orang lain. Perkataan yang baik, datang dari pribadi yang telah mengenakan manusia baru, yang mengikuti dan meneladani Kristus sebagai Tuhan, junjungan dalam hidup.

Kita sudah tahu bahwa lidah kita bisa menjadi alat untuk menguatkan atau merobohkan orang lain. Tapi bagaimana dengan dunia digital? Di zaman sekarang, lidah kita sering “berbicara” melalui jari-jari kita di media sosial. Bagaimana kita bisa memastikan bahwa kata-kata kita di dunia maya tetap membawa berkat dan tidak merusak?

Seperti penjelasan saya di awal, kata-kata yang keluar merupakan cerminan hati kita. Hal-hal yang kita katakan pada sosial media tidak selalu perkataan langsung dari mulut, tetapi tetap saja tercermin dari isi hati dan pikiran. Sebagai pengikut Kristus, kita juga bisa tetap COOL di media sosial, bahkan ketika kita harus berdebat sekalipun. COOL merupakan sebuah akronim atau singkatan dari:

  1. Check Before You Speak/Type — Cek dulu sebelum bicara atau mengetik
  2. Open Your Heart — Buka hati, jangan bicara atau mengetik saat emosi
  3. Offer Encouragement — Gunakan kata-kata untuk membangun
  4. Live the Truth — Berusaha hidup dalam kebenaran, hindari kebohongan atau fitnah

Ingat COOL saat berinteraksi di media sosial. Saya merasa, tips ini sudah merangkum nasehat yang Paulus berikan dalam Firman Tuhan Kolose 3:1–11, khususnya di sosial media.

Pada prakteknya, untuk menjadi manusia baru dan tetap konsisten di dalamnya bukan tanpa tantangan, apalagi di sosial media. Kecenderungan kita untuk mendapatkan atensi akan menjadi tantangan sulit apabila kita tidak mampu untuk mengendalikannya. Atensi menjadi faktor utama yang mendorong seseorang menuliskan hal-hal yang berpotensi baik/buruk. Contoh, seseorang yang sering menuliskan kutipan ayat Alkitab di sosial media, baik adanya. Tetapi adanya kecenderungan kita untuk mendapatkan atensi dapat menjadi tantangan bahkan batu sandungan dalam mengenakan manusia baru. Solusinya sederhana, aminkan kebenaranNya, kesampingkan dusta yang berkaitan dengan karakter pribadi yang menyampaikannya! Karena kadang ada saja tanggapan yang menghubungkan aktivitas ini sebagai pencitraan — mendapatkan atensi. Sejalan juga dengan pemikiran saya seperti berikut ini: “pegang nilai-nilai yang sifatnya kekal”, karena dengan hal ini pikiran kita dipenuhi oleh hal-hal yang baik, sehingga outcome-nya pun insya AllahDeo Volente — membangun dan membawa damai bagi orang lain.

Saya meyakini, kita semua merasa sudah menggunakan sosial media dengan bijak. Kalau pun ada kemarahan yang secara sengaja dituangkan dalam status atau story, segera hapus dan menyesallah; Atau gunakan kata-kata lain yang lebih baik — ingat COOL. Tetapi lebih daripada itu, Tuhan memanggil kita untuk lebih dari sekedar menjaga perkataan dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia maya. Tuhan ingin agar lidah kita menjadi alat untuk membawa berkat. Bagaimana caranya? Bagaimana lidah kita bisa mendatangkan sukacita dan damai? Pertama, ingat bahwa ketika sudah mengikuti Kristus kita mengenakan manusia baru; Kedua, manusia baru merupakan identitas kita, yang artinya kebiasaan kita seharusnya dibentuk berdasarkan hati dan pikiran yang selaras dengan Tuhan Yesus. Dan ketiga, mind your words; Lidah bukan hanya alat komunikasi, tapi bisa juga menjadi sarana Tuhan untuk menyebarkan kasih dan berkat. Ucapan yang bijak, baik secara langsung maupun di media sosial, bisa membawa damai, sukacita dan berkat bagi orang lain; ucapkan terima kasih, beri komentar positif — emoticon bisa membantu mengekspresikan setiap ucapan kita (tapi jangan dibentuk jadi ungkapan negatif ya), berikan pujian jika memang diperlukan.

Amsal 12:18 berkata,

“Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.”

Kita sudah membahas banyak hal tentang bagaimana pentingnya menjaga lidah kita, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di dunia digital. Sekarang, saatnya kita mengambil tindakan nyata. Mulai dari kesadaran bahwa kita sebagai pengikut Kristus, hidup dan kenakanlah manusia baru dalam kehidupan sehari-hari; Artinya ubahlah kebiasaanmu, yang tadinya cepat marah menjadi lebih sabar, yang tadinya mouthfull (sering berkata-kata kasar) menjadi lebih bijak dan peka terhadap kata-kata yang akan diucapkan.

Selain dari sisi rohani, saya juga cukup terbantu dengan membaca buku Atomic Habits ini. Salah satu hal yang saya dapatkan dari buku ini, untuk mengubah kebiasaan itu bukan waktu yang singkat (instan) dan selama ini kita bahkan mungkin salah dalam cara kita mengubah kebiasaan. Kita cenderung ingin segera mendapatkan hasil dari perubahan yang kita lakukan; ingin turun berat badan, kita mengubah kebiasaan makan (diet ketat), ingin berhenti merokok lantas langsung mengubah kebiasaan dengan membuang semua rokok yang kita miliki. Atau tadi, mengubah kebiasaan berkata-kata buruk diganti dengan lebih sering mengatakan puji Tuhan, tadinya sering bilang syukurin jadi syukurlah, alhamdulillah, wasyukurillah… Kita berharap dengan melakukan kebiasaan berbasis aktivitas ini, kita segera mendapatkan hasilnya.

Buku Atomic Habits ini mengajarkan saya, ada baiknya, jika kita ingin mengubah kebiasaan, mulai dengan menetapkan target perubahan yang basisnya identitas. Ingin turun berat badan, ingin berhenti merokok; set perubahan berbasis identitas seperti “saya ingin menjadi orang yang lebih sehat”. Apa sih kebiasaan-kebiasaan orang sehat? Olahraga, menjaga pola makan, dll. Ingin berhenti berkata kasar? Set perubahan berbasis identitas seperti “saya ingin menjadi orang yang lebih bijak”. Seperti apa sih kebiasaan orang bijak dalam berkata-kata? Mungkin yang menerapkan COOL tadi? Mungkin yang lebih banyak mendengar daripada memotong pembicaraan, atau mungkin lebih memperhatikan diksi yang akan diucapkan, dst.

Ini hanya sedikit dari pengalaman saya membaca dan merenungkan Firman Tuhan, juga buku populer, yang telah saya praktekkan selama ini. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penyampaian saya.

Tuhan Yesus memberkati.

Renungan ini saya sampaikan pada Persekutuan Remaja dan Pemuda BNKP Jemaat Bandung pada 13 September 2024 yang lalu. Saya memohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan yang ditemukan dalam penulisan ini. Kritik dan saran sangat terbuka, silakan disampaikan dalam kolom komentar.


메타데이터
post_id
38b4e75cab93
slug
lidah-yang-menjadi-berkat-38b4e75cab93
url
https://medium.com/@pratama.endi/lidah-yang-menjadi-berkat-38b4e75cab93
canonical_url
https://medium.com/@pratama.endi/lidah-yang-menjadi-berkat-38b4e75cab93
author_url
https://medium.com/@pratama.endi
status
ok
fetched_at
2026-07-22 19:22:42