Founding Father dan Revolusi Kita yang Kiri Mentok
Resensi buku “Sukarno, Marxisme, dan Leninisme: Akar Pemikiran Kiri dan Revolusi Indonesia” karya Peter Kasenda
Founding Father dan Revolusi Kita yang Kiri Mentok
Resensi buku “Sukarno, Marxisme, dan Leninisme: Akar Pemikiran Kiri dan Revolusi Indonesia” karya Peter Kasenda
Sang Putra Fajar, Founding Father, serta Pemimpin Besar Revolusi adalah sekian nama besar yang mengiringi kefiguran Sukarno, bukan Soekarno, selaku presiden pertama kita. Ketokohannya telah dan akan selalu dibicarakan dalam banyak perspektif, kepentingan, maupun motif. Klaim dan framing jadi sepaket lengkap yang akan mengikuti tiap-tiap pembicaraan yang berkaitan dengannya. Tak terkecuali pada apa yang dilakukan Kasenda disini, seorang sejarawan sekaligus kader Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) yang hendak menempatkan Sukarno dalam keterpautannya dengan Marxisme dan Leninisme sebagai akar dari kemunculan serta perkembangan pemikiran kiri dan Revolusi di Indonesia.
Identitas bapak bangsa yang disematkan pada Sukarno tentunya berkonsekuensi pada posisi ideologis dan tafsir nasionalistiknya. Dari “indekos palinglegendaris” nya di Peneleh, pada vergadering-vergadering SI, hingga kampusnya dan Studi Klubnya di Bandung, jalinan riwayat perjuangan pembebasannya bergulir. Pada tiap-tiap segmen dan tempat tersebutlah, gagasan dan visi kebangsaanya disemai dan dirawat. Kiprahnya yang berlangsung dari zaman paling melarat hingga mencapai zaman paling revolusioner adalah kefiguran yang tak perlu diganggu gugat nasionalistiknya
Namun tak adil rasanya, bila pembacaan atas gagasan dan kiprah patriotik Sukarno tak disinggung dimensi “Kiri” nya. Tak lengkap bila pembicaraan mengenai nasionalisme dan visi pembebasan nasional kita, tanpa perspektif kiri, terkhusus marxis yang kental. Hal ini tak hanya berlaku bagi konteks pembacaan atas Sukarno, tapi juga bagi lebih banyak tokoh dan pada konteks nya yang lebih luas. Nasionalisme kita jelas dan terang terkonstruksi dalam pergulatan ideologi yang intens, tak terkecuali dengan Marxisme dan Leninisme.
Sebagai wajah zaman edan yang penuh Exploitation de l’homme par l’homme, Sukarno telah begitu sadar akan kebutuhan mendasar mengenai pembebasan bagi bangsanya dan dunia. Imperialisme, sebagai buah busuk Kapitalisme telah jadi kenyataan hidup bagi separuh bangsa dunia kala itu. Bangsa-bangsa dunia selatan, tak terkecuali rakyat Hindia kala itu telah begitu sadar akan keterjajahannya dan menapaki tahap demi tahap proses pembebasannya. Sukarno hadir dalam arus ini, dalam arus zaman bergerak yang terus menerus kala itu. Posisinya yang berkesempatan untuk duduk di bangku sekolah formal di HBS di Surabaya memberinya kesempatan lain untuk berada pada salah satu jantung kota paling “beradab” dan paling “bergerak” di tanah Hindia. Ia berada tepat pada lingkaran pergerakan rakyat paling populis pada masanya, Sarekat Islam. Pergulatan fikiran, persentuhan dengan aspirasi rakyat dan praktek aktivisme, serta tak lupa perjumpaan dengan ideologi-ideologi pergerakan, tak terkecuali Marxisme dan Leninisme terjadi secara bersamaan dan menggembleng Sukarno muda. Berlanjut hingga masa pendidikan tingginya di Bandung yang juga tak kalah penting dalam rangkaian kiprahnya.
Kekirian Sukarno terbentuk bersama dengan cita kebangsaan yang baginya bulat seiring berjalannya waktu. Ia melihat realitas secara begitu material, menafsir penindasan dalam perspektif kelas, sekaligus menciptakan sebentuk konstruksi persatuan sebagai imaji sekaligus sarana perjuangan. Visi itu lahir dalam sebuah risalah masyhurnya berjudul “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” yang terbit secara berturut dalam tiga periode penerbitan pada 1926/1927. Visi yang kelak ia pegang teguh kelak ini adalah konsep yang paling sejalan dalam cita kemerdekaan yang tengah rakyatnya inginkan dan perjuangkan. Ia tak hendak memilih dan membuang ideologi, ia tak juga mencapuradukan secara serampangan tanpa perhitungan. Sukarno muda kali ini tengah menyadari kekuatan utama dari ketiga elemen pergerakan yang merepresentasikan semangat zaman. Ia merisalahkan dan membayangkan persatuan rakyat berdasarkan pada tiga dikotomi ideologis utama yang kelak akan mewujudkan takdir kemerdekaan yang seharusnya.
Simpul persatuan tersebut jelas kekiri-kirian. Konstruksi persatuan a’la Sukarno begitu terang mendudukkan Marxisme bersama Nasionalisme, dan Islamisme (Agama) dalam sebuah aliansi taktis pembebasan nasional. Visi kiri ini mendasari jejak-jejak Sukarno dalam zaman dan masa selanjutnya. Ia mendirikan PNI dan menggelorakan perlawanan non kooperatif, jadi partai paling radikal sepeninggal PKI yang dibabat habis pasca pemberontakan 1926. Ia kemudian memilih berkompromi secara taktis demi kepentingan nasionalis bersama kolonialisme Jepang dan memanfaatkan panggung panggung disediakan baginya untuk mengonsolidasikan rakyat secara sosial, politik, dan militer. Kerja-kerja zaman penjajahan jepang, yang lumrah dipolemikkan hingga hari ini, menghantarkannya jadi lakon revolusi kemerdekaan yang anti imperialisme dan anti kapitalisme.
Membicarakan kekirian Sukarno jelas tak mungkin tanpa membahas Marhaenisme, gagasan kelas ala ala, yang diciptakan olehnya sebagai pembacaan material atas realita di tengah-tengah rakyat. Marhaenisme terang-terangan dinyatakan oleh Sukarno sebagai “Sosialisme ala Indonesia” atau “Sosialisme dalam praktek” dengan kepribadian khas Indonesia. Gagasan ini berpangkal pada Marhaen, konstruksi golongan sosial yang dianggap olehnya sebagai mayoritas rakyat dengan kepemilikan alat produksi namun tanpa modal dan tertindas secara sistematis oleh kapitalisme dan kolonialisme. Dalam pengertian ini, Marhaen hadir sebagai kategorisasi sosial baru, diintegrasikan dalam kelas proletariat sebagai basis kelas.
메타데이터
- post_id
- 38bd528a4380
- slug
- founding-father-dan-revolusi-kita-yang-kiri-mentok-38bd528a4380
- url
- https://medium.com/@sayahirul/founding-father-dan-revolusi-kita-yang-kiri-mentok-38bd528a4380
- canonical_url
- https://medium.com/@sayahirul/founding-father-dan-revolusi-kita-yang-kiri-mentok-38bd528a4380
- author_url
- https://medium.com/@sayahirul
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 17:31:28