Artpop #23 — September Hitam: Mengenang Memori Kelam Tak Pernah Padam!
September kembali datang menghampiri kita.
Artpop #23 — September Hitam: Mengenang Memori Kelam Tak Pernah Padam!
September kembali datang menghampiri kita, memori getir dan penuh duka tentang rangkaian peristiwa perampasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang lahir dari tangan-tangan penguasa negara kembali muncul ke permukaan seperti rentetan benang merah yang tak akan lenyap. Berbagai tragedi memilukan yang kerap mencederai masyarakat sipil yang terjadi sepanjang bulan September seperti tragedi Tanjung Priok, Semanggi II, pembunuhan Munir, dan demonstrasi Reset Indonesia yang baru saja berlangsung ini menjadi sebuah pemantik ingatan agar kasus-kasus tersebut tetap kekal tertanam dan tak pernah menguap dalam impresi anak bangsa.
Tragedi Tanjung Priok (1984)
Tindakan represif para aparat negara dalam menangani masyarakat yang menyuarakan aspirasi mereka dapat dilihat salah satunya melalui peristiwa Tanjung Priok yang terjadi pada tanggal 12 September 1984. Warga sekitar Tanjung Priok yang mendatangi Komando Distrik Militer (KODIM) untuk meminta pembebasan empat kawan mereka yang ditahan oleh militer karena dianggap membangkang mendapatkan respon brutalitas dari tentara yang dengan impulsif melepaskan peluru timah panas ke arah kerumunan massa yang sedang berunjuk rasa. Masyarakat yang belum sempat mencerna situasi yang sedang terjadi saat itu akhirnya berjatuhan dengan tragis satu per satu di ruas jalanan. Tak hanya itu, aparat setempat yang merasa belum puas menindas warga sipil bahkan meringkus dan menahan secara paksa tokoh-tokoh yang dianggap turut berperan serta dalam memprakarsai aksi demonstrasi tersebut.
Tragedi Semanggi II (1999)
Kasus pelanggaran HAM berat yang kembali dilakukan oleh aparat negara kali ini ditemukan dalam tragedi Semanggi II yang berlangsung pada sekitar tanggal 24 sampai 28 September 1999. Ketika itu para mahasiswa dari berbagai universitas di Jakarta berserikat untuk melakukan aksi unjuk rasa menuntut segera pencabutan kebijakan pemerintah seperti RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya dan dwifungsi ABRI. Tanpa disangka, para tentara yang dikerahkan untuk mengawasi aksi demonstrasi di sekitar wilayah tersebut melancarkan tindakan kekerasan yang sewenang-wenang kepada para pendemo dengan meloloskan tembakan senjata api dari panser-panser yang sedang melintasi jalanan. Yun Hap, salah satu mahasiswa dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang menjadi peserta aksi saat itu tengah beristirahat setelah menerjunkan diri ke jalanan menjadi sasaran dari peluru yang dilepaskan oleh pasukan militer secara serampangan.
Pembunuhan Munir (2004)
September kelam kembali melibatkan aktivis Indonesia. Berbeda dari rentetan sebelumnya, ketika kebebasan berpendapat masih dengan lantang dibungkam, penculikan dan pemerkosaan masyarakat oleh aparat membabi buta, serta pemilihan dan pengangkatan presiden ditentukan dari ‘musyawarah’ MPRS. Pada tahun tersebut, euforia pemilihan presiden dengan sistem baru saja dilaksanakan, namun nyawa dari salah satu aktivits terkenal direnggut begitu saja. 7 September 2004, ketika Munir berangkat menggunakan pesawat Garuda Indonesia menuju Belanda untuk melanjutkan pendidikan, racun Arsenik menggerogoti lambungnya dan dinyatakan tewas ketika pesawat masih berada di udara.
Rentetan tanda tanya atas kematian Munir masih menjadi misteri. Pasalnya, ia termasuk salah satu aktivis yang kerap menggaungkan sorak suara ketika tahun 90-an. Beliau juga tercatat sebagai aktivis yang melindungi keluarga dan para korban kericuhan tahun 1998. Sudah dua puluh satu tahun lalu, kasus ini masih abu-abu. Bukan dibunuh secara keji ataupun dihilangkan seperti korban lainnya, kejadian yang merenggut nyawa sang aktivis ini merupakan kasus baru di Indonesia yang mulai disoroti kembali ketika kejadian serupa terulang di tahun 2016. Kejanggalan muncul waktu penyidikan, pernyataan saksi, maupun tersangka yang bahkan telah meninggal setelah dinyatakan bebas. Meskipun telah menetapkan tersangka, membuat saksi menjadi tersangka baru, tetapi publik masih merasakan ada sisi lain yang berusaha disembunyikan, direkayasa atau sengaja memberikan berita yang masih simpang siur.
Tragedi tragis, terlalu mendadak, dan tidak disangka yang membuka perhatian publik ini makin masif untuk tidak dilupakan pada memori kelam September Hitam. 2004, Munir menjadi korban, pemeriksaan terus berlanjut dan sempat dibuka kembali setelah membentuk tim khusus penyidikan. Tetapi, hingga saat ini, nihil. Masyarakat masih akan terus bertanya tentang tragedi Munir, tidak akan dilupakan, setidaknya oleh para pejuang demokrasi. Demokrasi tidak pernah mati, demokrasi terus berjalan semestinya, hanya saja, di manakah letak demokrasi itu?
Setidaknya untuk Munir, untuk nyawanya yang telah dirampas dua puluh satu tahun silam tetapi kini masih dalam daftar tragedi yang sepenuhnya belum terpecahkan.
Demonstrasi Reset Indonesia (2025)
Kelam, hitam, pitam.
Kini, terjadi lagi.
1998 telah berlalu, selamat datang 2025. Belum satu tahun masa jabatan presiden berlangsung, tetapi rentetan peristiwa, tuntutan, demonstrasi kini lantang diperjuangkan. Tidak hanya semacam gertakan langsung ke yang ‘katanya’ wakil rakyat, peran media sosial mulai dipertaruhkan dalam aksi di zaman modern ini. Pidato Presiden memicu amarah rakyat, belum usai perkara MBG (Makan Bergizi Gratis) yang tidak ada tindak lanjut karena dianggap berhasil, rakyat kembali naik pitam ketika gaji DPR diumumkan. Di sisi lain, gaji guru seperti tidak ada harga yang pantas untuk sistem pendidikan di negeri ini. Hak demonstrasi diperkokoh, serangan-serangan dari luar berupa penyampaian hoax dan berita simpang siur di sosial media kali ini berbeda dengan kejadian sebelum era reformasi.
Puncaknya, ketika aksi pejuang sudah mulai membara, satu per satu korban berjatuhan, menyulut api yang susah dipadamkan, termasuk kematian Affan, salah satu driver ojol yang bahkan bukan bergabung pada aksi tersebut untuk melakukan tuntutan. Berita duka bermunculan, aksi-aksi lain di berbagai kota Indonesia pun beragam dilaksanakan. Berita tersebar, semangat mengobar, tetapi dianggap barbar, begitulah polemik adu domba yang digaungkan parcok hingga petinggi di negeri ‘tercinta’. 17+8 tuntutan rakyat dituturkan dengan lantang, utamanya tertuju pada wakil rakyat. Reset Indonesia bukan sekadar solidaritas tertentu tetapi sebagai bentuk kekecewaan masyarakat terhadap isu yang didemonstrasikan akhir-akhir ini. Tidak ada keadilan, tanggapan pun hanya seadanya.
Memasuki bulan september penuh makna, kembali muncul berbagai kekerasan terhadap masyarakat, penculikan massa demo, hingga kecaman aparatur negara yang menyerang fisik serta menggunakan ‘perintah’ petinggi untuk menutupi dalang dibalik kematian Affan dan sembilan korban lain yang meninggal saat hastag Reset Indonesia disebarluaskan. Kekerasan aparatur tidak hanya menyerang massa demo saja, tetapi berbagai ‘safe zone’, salah satunya kampus.
Reset Indonesia sebagai wadah kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah, dan mengulik kembali rangkaian aksi yang sudah terjadi dan mempertimbangkan kejadian yang ditakutkan ‘akan’ terjadi jika pemerintah menyepelekan dan masih menganggap regulasi-regulasi tidak masuk akal yang sudah dibicarakan di masyarakat. Tuntutan dari sorak sorai suara yang telah dilisankan menjadi tuntutan jangka pendek dan jangka panjang. Kedua jangka tersebut menjadi tombak terhadap keadaan Indonesia di tahun 2025 yang berjalan tidak semestinya.
Solidaritas dari adanya tuntutan dan pernyataan Reset Indonesia membuktikan bahwa rakyat yang akan ada untuk rakyat, bersama rakyat dan berjuang dengan rakyat itu sendiri. Demonstrasi dan rangkaian aksi pada awal september ini merupakan bukti bahwa September Hitam, September Kelam, akan ada kesekian kalinya jika kesadaran para penguasa belum terketuk hati sanubarinya.
Rentetan peristiwa tragis selama bulan September yang menorehkan goresan luka dalam sejarah bangsa ini pada akhirnya menyajikan sebuah kenyataan bahwa sampai saat ini kita sebagai warga negara belum mendapatkan kemerdekaan dan kebebasan dalam mengemukakan pendapat tanpa mendapatkan tindak represifitas yang lahir dari aparat negara. Momentum September Hitam yang selalu tumbuh setiap tahunnya ini juga menjadi sebuah wadah pengingat sekaligus penyadaran bagi kita untuk kembali mendesak dan menggaungkan upaya penyelesaian terhadap berbagai kasus-kasus pedih ini dengan penuh keadilan dan menjunjung tinggi sendi-sendi hak asasi manusia.
“Kau bisa dengan angkuh melajukan panser-panser penindas
Untuk kemudian menggilas beringas tubuh letihku
Yang selalu melelehkan peluh getir di ruas-ruas jalanan
Kau bisa dengan lantang menjejakkan gerigi-gerigi bengis
Kepada jasadku yang tampak memilukan
Tetapi, kemarahanku tak akan menjumpai luntur.”
Penulis: Allika Sakura F. dan Citra Jasmin P.
Referensi
https://id.m.wikipedia.org/wiki/17%2B8_Tuntutan_Rakyat
September Hitam — KontraS https://share.google/86R76El2rna4XmqBg
https://magdalene.co/story/september-hitam
https://www.google.com/urlq=https://kompaspedia.kompas.id/label/september-hitam&usg=
메타데이터
- post_id
- 38d4780d18a1
- slug
- artpop-23-september-hitam-mengenang-memori-kelam-tak-pernah-padam-38d4780d18a1
- url
- https://medium.com/@kastratlemfib/artpop-23-september-hitam-mengenang-memori-kelam-tak-pernah-padam-38d4780d18a1
- canonical_url
- https://medium.com/@kastratlemfib/artpop-23-september-hitam-mengenang-memori-kelam-tak-pernah-padam-38d4780d18a1
- author_url
- https://medium.com/@kastratlemfib
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-06 21:07:18