← Back to list

Robohnya hati seorang penjual pisang goreng

Malam itu, di surau kecil di sudut kampung, orang-orang duduk bersila, bersandar pada dinding kayu yang mulai lapuk dimakan usia. Di bawah…

Ahmad Deni Rofiqi · 2024-12-03 21:21 · 0 claps · 2.9 min read
#penjual #gorengan #ustaz #kehidupan #dihina
Open on Medium ↗

Robohnya hati seorang penjual pisang goreng

Sumber foto: Pinterest, artstation

Sumber foto: Pinterest, artstation

Malam itu, di surau kecil di sudut kampung, orang-orang duduk bersila, bersandar pada dinding kayu yang mulai lapuk dimakan usia. Di bawah sorotan lampu petromaks, seorang ustaz muda berdiri di mimbar, berbicara dengan suara lantang yang memenuhi ruang sempit itu. Suaranya tegas, penuh keyakinan, mengalir seperti arus sungai di musim hujan.

“Kita ini umat terbaik!” katanya, menatap satu per satu wajah jamaah. “Namun apa artinya kalau kita malas, bodoh, dan terus hidup dalam kehinaan? Lihatlah mereka yang hanya bisa berdagang kecil-kecilan, menjajakan dagangan murahan di tepi jalan. Mereka tidak punya visi! Tidak punya ambisi! Hidup seperti itu hanya menunggu waktu untuk dilibas zaman!”

Jamaah terdiam. Beberapa mengangguk setuju, sebagian lagi hanya menunduk, merasa tersindir. Di sudut ruangan, Pak Marno, seorang lelaki tua yang sehari-hari menjual pisang goreng di pasar, menelan ludahnya. Tangannya yang kasar dan penuh bekas luka kerja menggenggam kain sarungnya dengan erat. Ia datang malam itu untuk mendengar nasihat, bukan penghinaan.

Pak Marno hidup dari wajan tuanya yang sudah hitam legam, menggoreng pisang setiap pagi sebelum matahari muncul. Ia menggendong dagangannya dengan pikulan kayu, berjalan dari kampung ke pasar, berharap dagangannya habis sebelum siang. Pisangnya bukan yang terbaik, minyaknya sudah digunakan berkali-kali, tetapi ia menjual dengan harga yang pas untuk orang-orang kecil seperti dirinya.

Namun, malam itu, kata-kata ustaz muda itu menusuk seperti belati. Ia merasakan wajahnya panas, bukan karena malu, tetapi karena rasa hina yang tiba-tiba meluap. Apakah dirinya layak dianggap manusia yang tak berguna hanya karena ia hidup sederhana? Apakah ia harus mengemis di depan pintu orang kaya agar dihormati?

Setelah ceramah usai, Pak Marno pulang tanpa menoleh ke kiri atau kanan. Jalanan kampung lengang, hanya ada suara jangkrik dan desau angin yang membawa bau lumpur dari sawah. Di rumahnya yang kecil, istrinya sudah tertidur lelap di atas tikar pandan. Ia duduk di depan tungku, memandangi sisa minyak di wajan tua yang belum sempat ia bersihkan.

“Apakah aku ini hina hanya karena aku menjual pisang goreng?” gumamnya pelan. Kata-kata ustaz itu terus berputar di kepalanya, seperti gema yang tak kunjung usai.

Esok paginya, Pak Marno tidak ke pasar. Ia duduk di depan rumah, memandangi orang-orang berlalu-lalang. Warga kampung heran melihatnya diam saja, seperti ayam yang kehilangan induknya. “Kenapa tidak ke pasar, Pak Marno?” tanya tetangganya, Bu Sarmi, yang membawa keranjang penuh cabai.

Pak Marno hanya menggeleng. “Barangkali aku harus berhenti saja. Kata ustaz, aku ini cuma beban zaman.”

Beberapa hari kemudian, berita tersebar di kampung bahwa Pak Marno tidak lagi menjual pisang goreng. Wajan tuanya tergolek di pojok dapur, berkarat, tak tersentuh. Rumah kecilnya sunyi, seperti pemiliknya yang kehilangan semangat hidup. Tetangga-tetangganya merasa ada yang hilang, tetapi mereka tidak tahu harus berkata apa.

Sampai suatu malam, seorang anak muda datang mengetuk pintu rumah Pak Marno. Wajahnya pucat, matanya sembab, seperti habis menangis. Ia berdiri kikuk di depan pintu, memegang selembar uang lusuh.

“Pak Marno,” katanya dengan suara bergetar, “bolehkah aku memesan pisang goreng seperti dulu? Anak bungsuku sedang sakit, dan ia hanya mau makan pisang goreng buatan Bapak.”

Pak Marno terdiam. Tangannya gemetar saat menerima uang itu. Ia memandangi wajah pemuda itu, lalu mengangguk perlahan. Dengan langkah berat, ia masuk ke dapur, mengambil wajan tuanya, membersihkannya, dan mulai menggoreng. Bau harum pisang goreng segera memenuhi udara, menghidupkan kembali sesuatu yang hampir mati dalam dirinya.

Saat pisang goreng itu selesai, pemuda itu menunduk dalam-dalam, berterima kasih dengan suara serak. Pak Marno hanya tersenyum kecil, tetapi di matanya ada kilau yang kembali muncul. Malam itu, ia duduk di depan tungku, memandang api kecil yang menari di balik wajan.

Beberapa hari kemudian, seorang ustaz tua datang ke surau yang sama. Ia berbicara dengan nada lembut, tetapi setiap kata yang ia ucapkan seperti palu yang menghantam hati. “Siapa di antara kalian yang merasa lebih tinggi dari saudara-saudaranya hanya karena harta atau jabatan? Ingatlah, hidup ini bukan soal berapa banyak yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menghargai apa yang kita punya. Jangan pernah menghina orang kecil, karena doa mereka bisa menjadi pengingat untuk kita yang lupa diri.”

Di sudut surau, Pak Marno duduk dengan tenang. Ia tidak lagi merasa hina, karena ia tahu, wajan tua dan pisang gorengnya adalah jalan hidup yang dipilihkan Tuhan untuknya. “Aku kecil,” pikirnya, “tetapi aku ada. Dan itu cukup.”


메타데이터
post_id
38d6e03aa834
slug
robohnya-hati-seorang-penjual-pisang-goreng-38d6e03aa834
url
https://medium.com/@rofiqideni/robohnya-hati-seorang-penjual-pisang-goreng-38d6e03aa834
canonical_url
https://medium.com/@rofiqideni/robohnya-hati-seorang-penjual-pisang-goreng-38d6e03aa834
author_url
https://medium.com/@rofiqideni
status
ok
fetched_at
2026-07-21 21:05:51