← Back to list

Kalau Ngomongin Duit

Nenek gue barusan telepon. Ngabarin kalau minggu depan ada acara haul di rumah. Haulnya paman. Selain cerita soal haul minggu depan, ada…

Bud · 2020-09-17 13:58 · 25 claps · 4.4 min read
#uang #duit #ekonomi
Open on Medium ↗

Kalau Ngomongin Duit

Image by Bady Abbas via unsplash

Image by Bady Abbas via unsplash

Nenek gue barusan telepon. Ngabarin kalau minggu depan ada acara haul di rumah. Haulnya paman. Selain cerita soal haul minggu depan, ada obrolan ringan yang menurut gue cukup relate dengan topik yang dibahas gue dan Fawwaz kemarin. Nenek cerita kalau Himawan — temen main gue waktu kecil — yang bulan lalu menikah sekarang sedang membangun rumah yang lokasinya nggak jauh dari tempat nenek gue. Anas juga sedang membangun rumah baru-baru ini. Gue nggak tahu latah apa gimana tapi orang-orang di daerah gue — yang rata-rata seumuran— sedang rame-rame membangun rumah di waktu yang berdekatan. Dari cerita nenek, gue tahu arahnya mau ke mana; gue disaranain untuk punya rumah juga.

Beberapa waktu kemudian gue baru tahu kalau sebagian orang yang membangun rumah di daerah gue menggadaikan surat tanah mereka ke bank untuk mendapatkan pinjaman. Pinjaman tersebut yang mereka gunakan sebagai modal untuk membangun rumah (di tanah yang suratnya telah digadaikan tadi). Selanjutnya, mereka akan melunasi uang pinjaman tersebut dengan cara mengangsur per bulan dalam waktu yang cukup lama, 20 sampai 30 tahun ke atas.

Tenang gak sih hidup lu, cuy…? Gini, gini. Maksud gue mayoritas pemuda di daerah gue bekerja sebagai pegawai kontrak. Ada yang sebagai buruh pabrik, karyawan kantor biasa — kaya gue — atau buruh lepas/freelancer, yang mana sumber penghasilan utamanya hanya dari gaji doang. Ya kalau bisa menjamin kontrak kerjanya gak kenapa-napa selama 20 tahun ke dapan. Kalau nggak? Duh.

….

Ada kutipan menarik dari Robert T. Kiyosaki di buku Rich Dad Poor Dad yang gue baca akhir-akhir ini.

Penyebab utama kemiskinan atau masalah keuangan adalah ketakutan dan ketidaktahuan, bukan perekonomian, pemerintah, atau orang kaya. Ketakutan dan ketidaktahuan yang melekat pada diri itu lah yang membuat orang terjebak.

Kebanyakan orang dari golongan menengah ke bawah seringkali menganggap bahwa rumah adalah bentuk investasi terbesar mereka. Beberapa bahkan rela bekerja lebih keras untuk membangun rumah yang lebih besar dari yang lain. Tanpa mereka sadari semakin besar rumah yang dimiliki semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan. Biaya pajak properti, asuransi, pemeliharan, pelunasan cicilan, utilitas, dan lain sebagainya.

Kiyosaki menyampaikan ada tiga hal yang mempengaruhi perilaku seseorang terhadap uang; ketakutan, hasrat, dan ketidaktahuan.

Ketakutan

Rasa takut akan hidup tanpa uang memotivasi seseorang untuk bekerja keras. Setelah mendapatkan gaji, nafsu membuat mereka berfikir tentang semua hal menyenangkan yang dapat dibeli dengan uang tersebut. Ini terjadi secara berulang hingga terbentuk suatu pola. Pola bangun, berkerja, membayar tagihan; bangun, berkerja, membayar tagihan. Robert menyebut ini sebagi pola “Balap Tikus”.

Orang-orang, termasuk gue berkerja dengan harapan uang dapat meredakan ketakutan tersebut. Ternyata tidak. Ketakutan memaksa orang untuk terus bekerja. Sebagian mungkin akan menyangkal dengan bilang, “Enggak juga. Gue nggak takut hidup tanpa uang.” tapi pada kenyataanya mereka masih bekerja 8 jam per hari. Berangkat pagi pulang sore. Atau menyangkal dengan bilang “Gue kerja sesuai passion, kok!”

….

“Belajar yang bener, biar jadi ‘orang’ dan kerjaanya nanti enak.”

Mungkin nggak cuma gue yang dari kecil disodori kalimat tersebut. Definisi menjadi ‘orang’ menurut orangtua gue adalah karir cemerlang dengan gaji gede. Menurut gue, ini juga bentuk ketakutan atau kekhawatiran orangtua gue terhadap uang. Mereka takut kalau gue tidak cukup menghasilkan uang.

Lingkungan gue nggak pernah ngajarin gue bagaimana cara mengatur uang atau pengetahuan tentang uang secara cukup. Bahkan bokap beranggapan kalau anak-anak nggak perlu tahu bagaimana perjuangan orang tua untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Menurut mereka yang perlu diketahui oleh anak adalah kebutuhan keluarga tercukupi. Jika tidak, orang tua akan mengusahakannya — yang kemudian gue tahu, tujuan ngomong ini adalah untuk melindungi ego bokap gue sebagai kepala keluarga. Di Indonesia — khususnya di daerah gue — ngomongin uang (kondisi financial) di keluarga sama tabunya dengan ngomoning sex. Gak heran kan jika pengetahuan tentang literasi keuangannya rendah.

Gak cuma gue atau orang-orang dari kelas ekonomi menengah ke bawah, alasan orang kaya menjadi kaya adalah rasa takut. Mereka meyakini bahwa uang dapat menyingkirkan rasa takut miskin. Mereka rela mengumpulkan banyak uang kemudian menyimpannya dan berharap hal tersebut dapat menenanagkan mereka. Ternyata tidak. Ketakutannya malah semakin parah. Setelah uang terkumpul, mereka takut kehilangan uang mereka. Takut kehilangan rumah mewah, mobil, dan kehidupan kelas atas yang mereka dapatkan dari uang.

Hasrat

Wajar jika setiap orang menginginkan sesuatu yang lebih baik, lebih indah, lebih menyenangkan. Orang bekerja untuk uang juga karena hasrat. Mereka menginginkan uang untuk kesenangan yang menurutnya dapat dibeli. Padahal kesenangan yang didapatkan dari uang biasanya nggak bertahan lama. Gue udah buktiin sih kalau ini hahaha…. Hal itu yang menyebabkan orang-orang menginginkan uang yang lebih banyak untuk mendapatkan kesenangan yang lebih banyak, kenyamanan yang lebih banyak, dan kenikmatan yang lebih banyak pula.

Gue punya teman yang selalu ganti Iphone setiap ada release-an terbaru. Handphone dia sebelumnya sebenernya masih bagus dan gak rusak. Bisa tebak kenapa alasannya dia ganti?

Ketidaktahuan

Bila menyangkut uang, satu-satunya keterampilan yang paling diketahui oleh kebanyakan orang adalah bekerja keras. Sementara kecerdasan keuangan menurut Kiyosaki adalah sinergi antara akuntasi, investasi, pemasaran, dan undang-undang.

Contoh yang paling sering gue denger terkait ini adalah cerita perusahaan McDonald. Menurut gue burger yang lebih enak dari McDonald itu banyak. Banyak banget. Dan orang yang jago bikin burger enak, nggak kalah banyak. Bahkan suatu hari temen kerja gue yang hobi masak bawa bekal berupa burger hasil buatannya sendiri, dan rasanya enak. Serius.

Tapi kenapa McDonald bisa menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia jika ia tidak membuat burger terenak? Di umur berapa kalian sadar kalau McDonald bukanlah perusahaan yang menggeluti bisnis makanan melainkan real estat? Ray Kroc, pendiri McDonald memiliki fokus bisnis berupa franchise. Menurut Market Realist, 93% (35.085 restoran) dari gerai McDonald di seluruh dunia adalah milik franchise sedangkan sisanya (2770 restoran) dikelola oleh McDonald sendiri pada tahun 2018. Oke udah dulu bahas McDonald, selanjutnya bisa dibaca di sini

Beberapa orang emang mencoba untuk menjadi yang terbaik di bidangnya (spesialis). Dan ini nggak salah. Tapi pernah gak kalian nemuin orang-orang yang berbakat tapi hidup dalam kondisi biasa aja? Seperti seorang atlet yang punya banyak uang di masa muda kemudian hidup susah di masa tua, atau seorang pemilik usaha yang terpaksa tutup karena tidak terlalu mengerti cara menjalankan usahanya dengan baik. Orang-orang yang berbakat sering kali mengalami masalah keuangan atau mendapat penghasilan kurang dari yang bisa mereka dapatkan, bukan karena apa yang mereka ketahui tapi karena apa yang tidak mereka ketahui. Termasuk dalam pengelolaan uang.

Perihal cerita nenek gue tadi, gue bukannya nggak setuju jika anak muda berkeinginan untuk memiliki rumah. Gue juga pengen boshh!1! Tapi alangkah baiknya jika keingan juga dibarengi dengan pengetahuan. Paham risiko dan kemampuan diri sendiri menurut gue penting banget sebelum mengeksekusi suatu hal.

Daftar Pustaka:

Kiyosaki, Robert T. 2018. Rich Dad Poor Dad. Jakarta: PT Centro Inti Media. https://www.paper.id/blog/bisnis/waralaba-fnb/ https://mojok.co/terminal/sudah-kaya-tapi-tetap-minta-bantuan-miskin-ya-gitu-kalo-orang-punya-mental-miskin/


메타데이터
post_id
38e6ee348ee2
slug
kalau-ngomongin-duit-38e6ee348ee2
url
https://medium.com/@Budiiwah/kalau-ngomongin-duit-38e6ee348ee2
canonical_url
https://medium.com/@Budiiwah/kalau-ngomongin-duit-38e6ee348ee2
author_url
https://medium.com/@Budiiwah
status
ok
fetched_at
2026-07-28 20:06:59