[BUILT BY LOVE - 06]
Pintu depan terbuka pelan.
[BUILT BY LOVE - 06]

Pintu depan terbuka pelan.
Yoona melangkah masuk sambil masih membawa tas punggung yang menggantung di satu bahu. Rambutnya yang tadi diikat rapi untuk latihan paduan suara kini sudah mulai berantakan. Beberapa anak rambut mencuat ke mana-mana karena terlalu banyak bergerak selama latihan.
Yoona bahkan tidak menyadari kalau sepatunya masih menempel di kaki. Ia melangkah melewati ruang tamu dengan begitu saja.
Seungmin yang duduk bersila di karpet ruang keluarga sambil memainkan ponsel langsung mendongak ketika suara langkah gadis itu terdengar.
Tatapannya langsung ke bawah.
Ke arah sepatu olahraga putih yang masih dipakai Yoona lengkap dengan tali yang bahkan belum dilonggarkan.
Seungmin menghela napas kecil. Ia bahkan tidak perlu bicara. Cukup mengangkat dagu pelan ke arah kaki Yoona.
Yoona yang tadinya sedang berjalan baru ikut menoleh. “Oh.” Ia menginjak tumit sepatu menggunakan kaki yang satunya hingga kedua sepatu itu terlepas.
Kemudian mendorongnya pelan ke dekat tembok. Tidak langsung mengembalikannya ke rak.
Gadis itu berjalan menghampiri sofa dan berhenti tepat di depan Seungmin. “Kak,” panggilnya.
“Hmm?”
Yoona tidak langsung bicara, malah celingukan dulu. Ia menoleh ke arah dapur. Matanya kemudian menyapu sekeliling.
Seungmin mulai mengernyit. “Ngapain sih?”
Yoona tidak menjawab. Ia malah menunduk lagi semakin dekat. Sampai Seungmin refleks sedikit memundurkan kepala. “Ayo ke kamar Kak Minho…” bisiknya pelan sekali.
“Yaampun. Mau ke kamar Kak Minho aja ngapain bisik — ”
“Ssshh…” Jari telunjuk Yoonalangsung menempel pelan di bibir laki-laki.
Seungmin melirik malas ke arah gadis itu lantas menurunkan tangannya. Helaan berat terdengar darinya. Entah ide gila apalagi yang membanjiri kepala adiknya sekarang.
Yoona beralih menggenggam pergelangan tangan Seungmin, dan langsung menariknya berdiri hingga laki-laki itu tersentak dan hampir saja oleng.
“Yoona,” kata laki-laki itu dibarengi helaan napasnya.
Gadis itu hanya nyengir, tapi tetap lanjut menyeret sang kakak ke tangan. “Makanya ihh! Ayo.”
“Kamu mau ngapain sih?”
Yoona menoleh ke arah Seungmin. Tapi bukannya menjawab pertanyaan itu, ia malah mengatakan hal lain yang tidak nyambung. “Pengumumannya lima belas menit lagi.”
Seungmin mengernyit. “Pengumuman apa?”
“Hasil tes seleksi perguruan tinggi, Kak.”
“Oh…” Barulah Seungmin mengangguk pelan.
Pantas saja sejak pulang sekolah tadi, Seungmin hampir tidak melihat Minho sama sekali padahal lelaki itu seharian ada di rumah.
Sejak pagi juga Minho terlihat… aneh.
…
Yoona dan Seungmin membuka pintu kamar Minho dan masuk begitu saja. Bukan hanya tanpa permisi, tapi juga mengagetkan.
Minho yang sedang bersandar santai di kepala ranjang sambil membaca buku tebal sampai refleks menoleh dan menjatuhkan buku dari tangannya.
Minho buru-buru mengambilnya lagi. “Eh…” ia berdeham pelan. “Kalian… ngapain ke sini?” Nada suaranya dibuat senormal mungkin. Bahkan setelah mengambil buku itu lagi, ia pura-pura melanjutkan membaca seolah tidak terjadi apa-apa.
Padahal, ia benar-benar gelisah sejak pagi tadi menunggu hasil tes yang akan diumumkan sebentar lagi.
Bukannya menjawab pertanyaan Minho, Yoona langsung melempar pelan tas sekolahnya ke karpet. Lalu naik begitu saja ke atas kasur.
Belum selesai sampai situ,
Gadis itu kini duduk rapat di samping Minho, dan memiringkan tubuhnya. Lalu perlahan, menempelkan telinga tepat di dada Minho.
Minho langsung membeku. “Eh? Apa… Kamu ngapain?”
Yoona mengangkat telapak tangan. “Ssshh.”
Minho semakin bingung dibuatnya. Ia menoleh ke arah Seungmin yang sejak tadi berdiri di dekat kasur.
Mencari bantuan.
Tapi Seungmin hanya mengangkat bahu sambil menahan tawa. “Semangat, kak.”
Minho langsung menghela berat. Kalau sudah begini, jalan satu-satunya adalah pasrah.
Yoona masih menempelkan telinganya beberapa detik dengan raut sangat serius.
Sementara Minho… bahkan tidak berani banyak bergerak.
Beberapa detik kemudian, Yoona akhirnya menjauh. Ia duduk tegak lagi lalu menatap Minho lurus-lurus. “Kak.”
“Hm?”
“Kakak nervous.”
Minho langsung berkedip. “Hah?”
“Iya kan? Soalnya,” Yoona menunjuk pelan ke dada Minho. “Deg-degan.”
Seungmin perlahan menoleh ke arah kakak sulungnya. “Emang mukanya gak bisa bohong sih.” Ia ikut mengompori.
“TUH KAN!” Yoona tersenyum bangga.
Minho akhirnya menurunkan bukunya dari pangkuan. Bahu yang sejak tadi berusaha terlihat santai akhirnya ikut turun. “Iya.” Ia terkekeh kecil, sedikit malu mengakuinya. “Deg-degan banget.”
Matanya sejak tadi terus melirik ke layar laptop di meja belajarnya — yang menampilkan countdown pengumuman.
Seungmin langsung tertawa. “Akhirnya ngaku juga,” katanya. “Aku kira kakak santai.”
“Aku juga pengennya gitu.” Minho mengusap tengkuknya sendiri sambil tersenyum canggung. “Tapi… takut.”
“Itu universitas impian dari dulu.” Laki-laki itu melanjutkan. “Kalau dibilang gak gugup… ya bohong banget.”
“Kalian ngapain rame-rame disini?” tanya Jaehyun dari ambang pintu. Ia baru saja sampai rumah.
Ketiga remaja itu langsung menoleh padanya.
“Nunggu pengumuman, pa.” Yoona kemudian menunjuk ke laptop Minho yang terbuka di meja belajar, menampilkan countdown pengumuman.
Belum sempat pria itu menyahut, suara alarm kecil terdengar, tanda countdown-nya selesai.
Minho langsung melompat dari kasur dan menyambar laptopnya. Laptop berwarna abu-abu kini berada tepat di pangkuan Minho. Layarnya masih tertutup halaman utama portal pengumuman. Kursor kecil berkedip di kolom nomor peserta.
Minho menarik napas panjang.
Tangannya dingin.
Aneh.
Padahal selama berbulan-bulan ia selalu berkata pada dirinya sendiri kalau apa pun hasilnya nanti tidak masalah. Kalau gagal, ia tinggal mencoba lagi tahun depan.
Tapi tetap saja… ketika detik itu benar-benar datang, ia sangat gugup.
Di belakang layar laptop, tiga pasang mata terus memperhatikannya.
Jaehyun duduk di ujung tempat tidur, tepat di depan Minho.
Di sebelahnya ada Seungmin dan Yoona yang tanpa sadar menggenggam ujung bantal.
“Kak…” bisik Yoona pelan. “Cepetan.”
Minho tidak menjawab. Ia hanya memasukkan nomor peserta dan tanggal lahir, lalu menggerakkan kursor ke tombol bertuliskan Lihat Hasil.
Klik.
Halaman mulai memuat.
Lingkaran kecil berputar di tengah layar. Lalu halaman itu terbuka.
Tak ada seorang pun yang bisa melihat isi layarnya. Yang mereka lihat hanya wajah Minho. Atau lebih tepatnya, mata Minho — karena sebagian wajahnya tertutup laptop.
Awalnya, mata Minho membesar.
Lalu perlahan kehilangan cahaya.
Kelopak matanya berkedip beberapa kali.
Kemudian…. tatapannya diam. Lama sekali. Bahu Minho perlahan turun. Ekspresinya berubah lemas.
Ia masih terus menatap layar tanpa bergerak sedikit pun.
Seungmin mulai merasa tidak enak. “Kak?”
Tidak ada jawaban.
Minho masih diam. Tatapannya tidak berpindah dari layar. Beberapa detik kemudian, mata itu mulai berair.
Yoona langsung menoleh panik ke Jaehyun.
Jaehyun sendiri ikut terdiam, padahal sejak kemarin ia santai saja. Sebetulnya memang santai, karena hasil tes ini tak terlalu penting baginya — kalau Minho gagal mereka bisa coba cara lain. Tapi tetap saja, melihat raut Minho sekarang membuatnya jadi ikut khawatir.
Apa… hasilnya tidak sesuai harapan?
Yoona menggigit bibirnya sendiri. “Kak?” ucapnya ragu. “Gimana… hasilnya?”
Masih tidak ada jawaban.
Minho masih menatap layar. Lalu, perlahan ia mengangkat kepala.
Tatapannya berhenti tepat pada Jaehyun. Bibirnya sedikit bergetar. “Pa,” panggilnya lirih.
“Iya?”
Minho tidak langsung menjawab. Ia hanya memutar laptop itu perlahan menghadap mereka.
Tiga pasang mata itu langsung tertuju ke layar.
Ruangan kembali sunyi sesaat.
Lalu —
SELAMAT!
ANDA DINYATAKAN LOLOS SELEKSI
Nama universitas impian Minho terpampang jelas di layar.
Dan di bawahnya, terpampang jurusan yang selama ini selalu ia ceritakan setiap malam kepada Jaehyun.
Yoona yang pertama bereaksi. “AAAAAAAKKKK!!” Ia refleks melempar bantal, yang tanpa sengaja malah menumpuk wajah Seungmin, tapi ia tak peduli. “KAK MINHOOOOO!! KEREN! BANGET!”
Seungmin juga ikutan tersenyum senang. Tak jadi kesal pasal dicium bantal tadi.
“BENERAN?!” tanya Yoona lagi.
Minho mengangguk.
Ia buru-buru mengambil laptop itu ke pangkuannya dan membaca layar sekali lagi. “Kakak keterima.”
Minho hanya tersenyum. Air mata yang sejak tadi menggantung akhirnya jatuh lebih dulu.
Perlahan, ia berdiri. Tatapannya langsung mencari Jaehyun. Tak ada kata yang keluar. Hanya mata yang memerah penuh rasa syukur dan terima kasih.
Jaehyun menatap anak sulungnya beberapa detik. Tatapan yang sama berkacanya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Jaehyun membuka kedua tangannya.
Minho langsung melangkah maju, memeluknya erat.
Jaehyun mengusap belakang kepala Minho pelan. Seperti yang selalu ia lakukan sejak hari pertama mereka menjadi keluarga.
“Keren banget anak Papa.”
Minho baru sadar sesaknya datang lagi saat sedang membereskan meja belajar. Awalnya ringan, ia sudah terbiasa menahannya. Ia bahkan masih sempat tersenyum melihat layar laptop yang menampilkan status penerimaannya di universitas.
Namun beberapa menit kemudian, napasnya mulai terasa lebih pendek.
Minho duduk di tepi kasur, mencoba menenangkan diri.
Menunggu. Seperti biasanya.
Biasanya akan membaik dalam beberapa menit.
Tapi kali ini tidak.
Dua menit berlalu. Lalu lima menit. Sepuluh menit.
Dan udara terasa semakin sedikit.
Minho mulai membungkuk. Satu tangan menekan dada sedangkan tangannya yang lain mencengkeram seprai. Napasnya terdengar patah-patah dan penuh bunyi serak yang membuat tenggorokannya terasa terbakar.
Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. “Tahan… Sebentar lagi… baikan…”
Namun, tubuhnya sudah tidak mau mendengarkan. Sesak di dada semakin tak tertahan. Penglihatannya mengabur. Keringat dingin membasahi pelipis.
Minho mencoba berdiri.
Mungkin harus keluar.
Mungkin harus memanggil Papa.
Mungkin harus memanggil Seungmin, atau Yoona.
Mungkin kali ini… harus meminta bantuan.
Tidak.
Yoona pasti panik.
Seungmin juga.
Papa pasti takut.
Jangan.
Jangan sekarang.
Mereka sedang bahagia. Hari ini harusnya jadi hari bahagia.
Maka ia memilih diam. Salah satu keputusan terburuk dalam hidupnya.
Sesaknya kini berubah menjadi siksaan. Minho jatuh menyamping ke kasur, posisi meringkuk. Tangannya gemetar hebat. Mulutnya terbuka berusaha menangkap udara yang tidak kunjung masuk. Air mata mulai jatuh.
Minho mencoba bertahan. Mencoba bernapas, namun oksigen yang sampai ke otaknya semakin sedikit.
Dan, matanya terus menatap pintu.
Setengah berharap ada yang datang menolong.
Setengah berharap tidak ada yang datang sama sekali. Karena ia tidak ingin melihat mereka menangis. Minho benar-benar tidak yakin apakah dirinya masih bisa terus berpura-pura baik-baik saja. Atau yang lebih kejam… ia bahkan tak yakin apa masih bisa bangun lagi setelah ini.
Tak lama, terdengar suara langkah mendekat. Derapnya ramai, tapi terdengar pelan seperti sengaja agar tak bersuara.
Pintu kamar terbuka pelan. Ada cahaya kecil dari lilin kue yang menyala. Yoona yang membawanya sembari berjalan paling, di belakangnya ada Seungmin dan Jaehyun.
Dari sudut pandang Minho yang semakin mengabur, ia melihat mereka… tersenyum lebar.
Senyum yang seketika sirna begitu melihat dirinya yang tergeletak di tempat tidur dan mati-matian berusaha bernapas.
Sial.
Minho tak suka ini.
“Kak!” Kue di tangan Yoona langsung jatuh. Lilinnya seketika padam. Krim dan potongan kue itu berhamburan ke lantai.
Tidak ada yang peduli.
Karena di atas kasur… Minho sedang sekarat. Tubuhnya setengah meringkuk dengan satu tangan mencengkeram dada sendiri dan tangan satunya meremas seprai sampai buku-buku jarinya memutih.
Napasnya tidak lagi terdengar seperti orang sesak.
Sudah jauh lebih buruk.
Mulut Minho terbuka. Lehernya menegang. Dada dan tulang rusuknya naik turun keras. Air mata terus mengalir dari sudut matanya.
“Minho!” Jaehyun langsung berlari dan jatuh berlutut di samping kasur. Tangannya meraih wajah laki-laki itu. “Minho! Lihat Papa!”
Minho mencoba. Benar-benar mencoba. Namun pandangannya sudah semakin kabur. Yang ia lihat hanya siluet. Suara-suara yang terdengar semakin jauh. Juga rasa sakit yang semakin menggila.
Dadanya terasa seperti diremas dari dalam.
Yoona sudah menangis. “Kak…” Ia memegang lengan Minho yang dingin.
Jaehyun langsung memeluk bahu Minho. “Ambil napas pelan.”
Minho menggeleng lemah.
Tidak bisa.
Tidak bisa.
Tidak bisa.
Udara tidak masuk.
Tubuhnya mulai gemetar.
Tangannya semakin kuat mencengkeram dada. Kuku-kukunya menekan kulit hingga kain kaosnya kusut.
Dan tiba-tiba —
Tubuhnya tersentak keras.
“MINHO!” Jaehyun langsung memegang kepalanya.
Namun sesaat kemudian… semua tenaga itu hilang begitu saja.
Tubuh Minho melemas. Tangannya jatuh, dan kepalanya terkulai ke samping ke lengan Jaehyun.
Matanya masih terbuka setengah. Kosong.
Bibirnya mulai membiru.
Dan napasnya… hampir tidak terasa.
Yoona menjerit. “KAK MINHO!”
Jaehyun langsung mengangkat tubuhnya dengan tangan gemetar. Pikirannya kosong. Ia bahkan tidak ingat bagaimana cara berjalan saat itu. Yang ia tahu hanya satu. Rumah sakit. Sekarang.
“SEUNGMIN!”
Seungmin yang sejak tadi berusaha tetap tenang langsung bergerak. Otaknya bekerja lebih cepat daripada rasa takutnya. Ia mengambil ponsel dan menghubungi ambulans.
Lalu langsung berlari ke garasi.
Membuka mobil dan menghidupkan. Ia baru tahu cara menghidupkan mesin kendaraan itu. Jaehyun maish belum memperbolehkannya mengendarai itu karena usianya belum genap enam belas. Jadi, ia hanya berusaha menyiapkan apa pun yang bisa disiapkan.
Tangannya sendiri sebenarnya gemetar, tapi ia tidak punya waktu untuk panik.
Tidak sekarang.
Beberapa menit kemudian mereka sudah di jalan. Jaehyun menyetir seperti orang gila.
Lampu merah diterobos. Klakson dibunyikan terus menerus.
Yoona menangis tanpa henti di kursi depan.
Sementara di belakang… Seungmin memeluk Minho. Menahan tubuh kakaknya agar tidak terjatuh saat mobil berbelok.
“Kak.”
Tidak ada balasan.
Seungmin menggigit bibir. Matanya memanas, tapi ia terus berbicara. “Kak, bertahan ya. Sebentar lagi sampai.” Tangannya mengusap rambut Minho yang semakin dingin. “Sebentar lagi…”
Tidak ada jawaban.
Hanya napas yang semakin samar.
…
Saat mobil berhenti di depan IGD, pintu bahkan belum benar-benar terbuka ketika Jaehyun sudah berteriak.
Beberapa tenaga medis langsung berlari. Brankar didorong dan tubuh Minho dengan segera dipindahkan.
Semua bergerak cepat.
Jehyun, Yoona, dan Seungmin hanya bisa sampai depan pintu. Selebihnya, mereka hanya bisa melihat melalui dinding kaca disana.
Lampu IGD menyala terang. Suara alat medis. Teriakan perintah saling tumpang tindih dalam situasi genting itu.
Lalu ketika kabel detektor yang terhubung dengan monitor EKG dipasang di dada laki-laki itu,
Tiiiiiiiiiiit.
Suara panjang itu menggema. Garis lurus tampak di layar. Tidak ada denyut.
Yoona langsung menjerit dari balik dinding kaca, nyaris ambruk jika saja Seungmin tidak menahannya. Sementara Jaehyun hanya bisa menatap dengan tangis yang semakin kacau.
Di dalam, dokter langsung bergerak.
Tubuh Minho terdorong setiap kali dada itu ditekan. Puluhan kali. Ratusan kali. Beberapa kali, dadanya juga membusung ketika gelombang kejut diberikan.
Tapi tak kunjung menunjukkan respon.
Sampai akhirnya —
“DETAKNYA KEMBALI!” Salah satu dokter berteriak.
Monitor yang sempat datar mulai bergerak lagi. Sangat pelan. Kondisi Minho masih jauh dari aman.
Tapi hal terpentingnya adalah, mereka belum kehilangan Minho.
Beberapa menit kemudian dokter keluar. Wajahnya lelah, tapi ada secerca harapan yang tampak dari sorot matanya. “Denyut jantungnya kembali.”
Ketiganya langsung mengangkat kepala.
“Tapi… keadaannya masih kritis.”
Yoona langsung memegang tangan Seungmin erat.
Dokter menghela napas. “Pasien mengalami gagal napas berat,” ungkapnya. “Yang mana ini bukan situasi normal untuk remaja seusianya. Apa sebelumnya anak bapak memiliki riwayat penyakit pernapasan, atau… pernah mengalami benturan di bagian dada?”
Jaehyun langsung terdiam mendengar pertanyaan itu.
Tidak. Minho tidak pernah mengalami itu semua, tidak pernah mengeluh soal sakit di bagian itu.
Tapi… bukankah Minho memang tak pernah mengeluh sakit padanya selama ini? Pokoknya apapun yang terjadi, Minho terus bilang ia baik-baik saja dan tersenyum.
Berusaha terlihat kuat.
Saat itulah Jaehyun sadar.
Anak itu sudah memendam terlalu banyak selama ini.
메타데이터
- post_id
- 397675529be3
- slug
- built-by-love-06-397675529be3
- url
- https://medium.com/@nuurhinsky/built-by-love-06-397675529be3
- canonical_url
- https://medium.com/@nuurhinsky/built-by-love-06-397675529be3
- author_url
- https://medium.com/@nuurhinsky
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-08 22:18:54