Penderitaan Adalah Buah Dari Komitmen
24 April 2025 oleh Rico Yohanes
Penderitaan Adalah Buah Dari Komitmen
24 April 2025 oleh Rico Yohanes

Terang Sebagai Harapan Dalam Perjalanan Bersama Dia
Paskah tahun 2025 sudah hampir seminggu berlalu, namun entah bagaimana seminggu ini Tuhan seperti ingin mengajarkan saya satu hal yang saat ini akan saya bagikan untuk rekan-rekan sekalian. Sudah hampir sebulan terakhir saya merasakan gonacangan terhadap komitmen-komitmen yang saya buat. Yang membingungkan adalah seharusnya ketika komitmen dibangun untuk kebaikan diri kita, harusnya kita dibantu oleh sang Penguasa hidup untuk menjalaninya bukan malah menjadi boomerang untuk hidup kita? Sungguh aneh, seperti Tuhan mengijinkan kita umat-Nya di pukul habis-habisan.
Saya tidak akan banyak membahas komitmen diri saya, tapi saya akan membahas bagaimana kesulitan yang dialami beberapa tokoh karena memegang komitmen mereka. Komitmen sendiri menurut KBBI adalah perjanjian atau kontrak, yang dipakai untuk mengikat dua buah subjek.
Komitmen biasanya identik dengan pernikahan, dimana cinta yang tadinya memiliki peran utama di dalam perasaan, karena sudah bertahun-tahun menikah dan menjadi usang, komitmen untuk hidup bersamalah yang menyelamatkan hubungan tersebut. Menurut Amy salah satu penulis artikel “What is more Important — Love or Commitment?” bahwa cinta saja tidak cukup untuk membangun sebuah hubungan yang kuat melainkan komitmen dalam diri. Komitmen untuk berjanji tidak pernah meninggalkan pasangan, tidak membohongi pasangan, tidak main tangan terhadap pasangan, dan lain-lain. Komitmen sendiri adalah keputusan untuk memperlihatkan kemampuan tanggung jawab seseorang terhadap janji yang sudah dibuat.
Di moment paskah ini, di dalam khotbah sering sekali terdengar bahwa “kita harus melakukan kehendak Tuhan”, “kita harus setia mengikut Tuhan” dan lain-lain. Menurut saya itu sangatlah sulit karena harus memiliki komitmen yang sangat besar kepada Tuhan untuk menjalaninya, bukan berarti saya tidak beriman ya… hehehe, tapi saya mengalami banyak sekali keputusasaan, walaupun sampai saat ini saya tetap berharap akan penyertaan-Nya.
Namun berkaca kepada salah satu tokoh yang sangat menderita yakni Ayub mungkin kita dapat melihat cahaya di keputusasaan ini. Ayub kehilangan anak-anaknya, istrinya, bahkan kekayaannya, dan diperparah dengan penyakit kulit yang ia derita. Menurut saya itu sudah berlebihan ketika Tuhan mengijinkan iblis untuk mencobainya, tapi disini Tuhan ingin kita mempelajari sesuatu, tentang iman Ayub, yang sampai kehilangan semua tetapi tetap setia kepada Tuhan. Seakan mengajarkan bahwa berpegang dan berkomitmen menyenangkan hati Tuhan saja sudah cukup, tidak perlu kesenangan apapun di dunia ini. Sungguh tidak masuk di akal, ini hal gilaa menurut saya.
Dan cerita luar biasa lainnya adalah ketika Tuhan Yesus sang pemilik hidup, mau berkomitmen ikut penderitaan salib untuk menebus dosa. Dia yang punya hidup, Dia pencipta, Dia bisa melakukan apapun dengan kemahakuasaan-Nya, tetapi apa yang Dia pilih? Di telanjangi, diludahi, dihujat, dicambuk dan bahkan dipaku diatas salib. Ia tidak menghindar dan tetap menjalani dengan teguh apa yang sudah ditetapkan.

Nailed Hands of Our God
Teringat ketika Tuhan Yesus di taman Getsemani (Matius 26:39) dengan keringat mengeluarkan seperti darah ia berkata “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Dia memperlihatkan komitmen yang sangat kuat kepada Bapa dengan mempertaruhkan nyawa-Nya diatas segalanya. Ini lebih tidak masuk di akal menurut saya, membuat komitmen dengan mempertaruhkan nyawa sebagai jaminan. Hal ini mengajarkan komitmen ternyata bukanlah untuk kesenangan kita tapi adalah untuk kesenangan bagi-Nya.
Mungkin akhir-akhir ini saya merasakan banyak sukacita dan kesenangan, sampai-sampai saya hampir melalaikan komitmen yang saya bangun. Saya ingin sekali melakukan banyak hal, memiliki hidup yang indah bersama pasangan, memiliki banyak waktu untuk diri sendiri, memiliki waktu untuk jalan-jalan, memiliki banyak waktu dengan orang tua dan lain-lain. Tetapi setelah melihat tokoh-tokoh di atas, yang mengorbankan hidup bahkan nyawa-Nya untuk komitmen kepada Tuhan, sepertinya tidak ada jalan lain selain saya mengikuti mereka hehehe… semoga saya memiliki konsistensi dan keteguhan hati untuk terus ikut jalan-Nya. Lets goooo…
메타데이터
- post_id
- 399c4cdfa71f
- slug
- penderitaan-adalah-buah-dari-komitmen-399c4cdfa71f
- url
- https://medium.com/@rikoyohanes96/penderitaan-adalah-buah-dari-komitmen-399c4cdfa71f
- canonical_url
- https://medium.com/@rikoyohanes96/penderitaan-adalah-buah-dari-komitmen-399c4cdfa71f
- author_url
- https://medium.com/@rikoyohanes96
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-08 02:40:31