Selembar manifesto kesunyian
Catatan waktu
“Tell me the price then i’ll try to compromise. Power and politics leads time to collapse. It’s hurting my mind to hear the truth is a lie. Lemme just waking up together with you” — Ardhito pramono
Tidak ada kejutan, sepotong cake, makan malam bersama, atau bahkan bersulang dengan anggur murahan sekalipun.
Selamat ulang tahun, Anaku. Engkau akan menjadi ibu dari segala pelukan nantinya.
Segala duka paling dalam, juga rasa cinta paling tinggi, telah hinggap di dadamu. Dan mungkin karena itulah, ada sesuatu dalam dirimu yang selalu terasa seperti rumah—meski rumah itu terus berpindah-pindah.
Telat dua hari. Seharusnya aku sudah pulang ke rumah itu.
Rumah yang tak pernah benar-benar menetap di satu tempat, tapi selalu kutemukan di dalam kasihmu.
Manisku, ibukota memang tak mengenal sepi. Segala carut-marut hidup tumpah ruah ke jalan-jalan: tatapan sinis, aroma tubuh para pekerja di transportasi umum, nada gitar sumbang di pelataran tempat makan, juga kebijakan yang tiba-tiba hadir ketika aku bangun tidur—semuanya berserak di sini.
Jutaan Citra lahir disini dalam banyak rupa, Berpacu lebih cepat dari isi kepala kita. Ia hadir dalam tampilan paling urakan hingga bentuk paling fancy. Semua berlomba mencari atensi. Berusaha agar kau terpana, menetap pada layar layar kaca berlama lama. Semua serba cepat hampir menyamai kecepatan suara.
Sayangku, tetaplah menjadi tengil dan sedikit menyebalkan, sebab di era mu nanti sebuah kota bukan lagi sekadar dipenuhi manusia, melainkan kumpulan citra tentang manusia. Yang disodorkan bukan lagi kehidupan itu sendiri, melainkan bagaimana kehidupan seharusnya layak dijalani, kemiskinan dipertontonkan, kemewahan dipamerkan, kemarahan dikemas, bahkan kesedihan pun menemukan sudut kamera terbaiknya.
Semua semakin cepat tetapi semakin sedikit yang memiliki arti. Bahkan Paman Che rela datang jauh-jauh dari belantara Bolivia. Kini, wajah tegasnya berakhir diatas combed 30s, menjadi csimbol perlawanan yang bisa ditukar dengan beberapa lembar uang bergambar senyum Soekarno.
Citra datang silih berganti sebelum sempat kita cerna. Satu menggantikan yang lain, lalu yang lain kembali ditenggelamkan oleh sesuatu yang lebih baru. Kau akan melihat begitu banyak hal, tetapi semakin sedikit yang benar-benar memiliki arti.
Mungkin di situlah masalahnya: bukan karena kita kekurangan informasi, melainkan karena kita kebanjiran representasi. Kita tidak lagi sekadar hidup di dalam kenyataan, tetapi hidup di antara citra-citra yang diproyeksikan orang-orang lantas juga ia akan terus mengatakan kepada kita apa yang layak dilihat, diinginkan, dibenci, dan bahkan dirasakan.
Debord menyebutnya spectacle; ketika hubungan antarmanusia semakin dimediasi oleh gambar dan representasi. Yang akan dikonsumsi bukan lagi sekedar fungsi atau peristiwa, melainkan representasi atas citra yang diproyeksi. Dunia perlahan berubah menjadi sesuatu yang wajib dipertontonkan agar dianggap utuh.
Tetapi sayangku, Baudrillard membawa persoalan ini lebih jauh. Ketika citra terus-menerus diproduksi, direproduksi, dan dikonsumsi, batas antara kenyataan dan representasi mulai kehilangan ketegasannya. Citra tidak lagi sekadar menggambarkan kenyataan. Ia mulai memproduksi kenyataannya sendiri, hingga batas antara kenyataan dan representasi perlahan menghilang; kita tak lagi tahu mana yang nyata dan mana yang imaji.
Akhirnya, kita tidak lagi bertanya apakah sesuatu itu nyata. Kelak, mungkin masa depan hanya akan bertanya: apakah ia cukup menarik untuk dilihat, ataukah cukup nyata untuk direngkuh?
Bukankah, tak ada yang lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri.
Diantara maraknya duni yang semakin sibuk mempertontonkan sesuatu agar dilihat, mencintaimu adalah keinginan untuk menemukan sesuatu yang cukup nyata untuk direngkuh.
“And I know that it’s not easy To be calm when you’ve found Something going on But take your time, think a lot”
— Cat Steven
메타데이터
- post_id
- 39a0ceea23ce
- slug
- selembar-manifesto-kesunyian-39a0ceea23ce
- url
- https://medium.com/@takjuga/selembar-manifesto-kesunyian-39a0ceea23ce
- canonical_url
- https://medium.com/@takjuga/selembar-manifesto-kesunyian-39a0ceea23ce
- author_url
- https://medium.com/@takjuga
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-31 03:22:25