← Back to list

Langkah Kecil Insan Praikarang

Di tengah sabana dan bukit-bukit yang bergulir di suatu desa di Sumba, Nusa Tenggara Timur, aku mengamati. Jalan berbatu, debu yang…

Azka Iskandar · 2025-11-14 15:34 · 0 claps · 2.6 min read
#diseminasi-khusus #ami #sumba
Open on Medium ↗

Langkah Kecil Insan Praikarang

Di tengah sabana dan bukit-bukit yang bergulir di suatu desa di Sumba, Nusa Tenggara Timur, aku mengamati. Jalan berbatu, debu yang beterbangan, dan panas yang mulai terasa padahal hari masih pagi. Mereka berjalan beriringan, sebagian tidak memakai sepatu, hanya sendal jepit yang menjadi alas kaki. “Mereka murid di SD Maradadita yang dari dusun ini.” ucap Umbu Tri, “Sekolahnya jauh, bisa satu setengah jam kalau jalan kaki” lanjutnya.

Aku datang ke Sumba sebagai relawan #EducationForAll SatuEdu x MenyapaSumba 2025, bergabung dalam tim social mapping di Desa Praikarang, Kecamatan Kota Waingapu, NTT. Niat awalnya sederhana. Mengumpulkan informasi social mapping, mengajar, berbagi semangat, menyalurkan sedikit ilmu. Tapi justru aku yang banyak belajar: tentang keteguhan, kesabaran, dan arti sebenarnya dari perjuangan menuju pendidikan.

Beberapa hari pertama di Desa Praikarang, aku dan teman-teman dari SatuEdu dan MenyapaSumba melakukan social mapping dari satu dusun ke dusun lain, ditemani Bapak Kepala Desa yang mengenal setiap jalan, rumah, dan wajah di sana. Kami mendatangi warga, berbincang dengan mereka, dan mendengarkan cerita mereka di teras rumah, ditemani segelas kopi khas Sumba, perlahan-lahan setiap percakapan membuka mata aku lebih lebar lagi.

Tentang anak-anak yang berjalan kaki sejauh satu setengah jam untuk sekolah. Tentang orang tua yang membiarkan anak-anak mereka bolos satu-dua hari seminggu karena kelelahan menempuh jarak jauh di bawah panas yang menyengat. Tentang jalan berbatu yang sulit dilalui motor, air bersih yang kian langka, dan fasilitas sekolah yang terbatas.

Namun di balik setiap kisah sulit, selalu ada semangat. Seorang bapak berkata, “Kami tahu sekolah penting. Kami ingin anak-anak kami bisa lebih dari kami.” Kalimat itu sederhana, tapi rasanya menampar. Karena meski hidup di tengah keterbatasan, mereka tidak kehilangan harapan.

Hari berikutnya, kami berkunjung ke SD Inpres Maradadita untuk melakukan kegiatan fun learning bersama anak-anak. Sekolahnya kecil, berdiri di tengah sabana yang luas dan gersang. Tapi pagi itu, suasananya hangat, penuh tawa dan warna.

Kami bernyanyi, bermain, berlari-lari, dan tertawa bersama. Kami juga bercerita tentang cita-cita. Ada yang ingin jadi guru, dokter, dan bahkan pilot. Setiap jawaban mereka disambut sorak dan tawa teman-temannya. Selain itu, Kami tunjukkan sebuah eksperimen sederhana. Cara mengembangkan balon tanpa ditiup. “Ajaib!” aku mendengar salah satu murid kelas 2 berkata saat aku lakukan eksperimen itu.

Di tengah keterbatasan fasilitas, semangat mereka belajar terasa menular. Aku ingat bagaimana mereka berlari di halaman sekolah yang berdebu seolah itu taman bermain terindah di dunia. Dari mereka, aku belajar bahwa kebahagiaan tidak butuh banyak syarat, cukup niat dan keberanian untuk terus bermimpi.

Keesokan harinya, kami kembali ke sekolah untuk mengadakan Focus Group Discussion (FGD) bersama para orang tua murid. Kami duduk bersama di ruang kelas sederhana dan mereka menyampaikan semuanya.

“Buku paket tidak ada, mereka harus mencatat sendiri”

“Bantuan juga tidak merata, kami juga kebingungan”

“Air susah, jalan rusak, tapi anak-anak masih mau sekolah,”

Aku mendengarkan dalam diam. Tak ada keluhan berlebihan, hanya kejujuran yang tenang. Bagi mereka, sekolah bukan sekadar tempat belajar, tapi simbol harapan. Satu-satunya jalan agar anak-anak bisa menembus batas yang dunia berikan. Mereka tahu bahwa pendidikan mungkin tidak bisa mengubah segalanya dengan cepat, tapi mereka percaya, tanpa pendidikan, tidak akan ada perubahan sama sekali.

Aku pulang dari Sumba dengan hati yang penuh. Ketimpangan pendidikan di Indonesia tidak lagi terasa seperti angka di laporan, melainkan nyata. Hidup di antara langkah kecil anak-anak yang menembus panas sabana, di antara tawa mereka di ruang kelas dan lapangan, dan di antara orang tua yang menanamkan arti belajar.

Aku percaya perubahan tidak selalu datang dari kebijakan besar. Kadang, perubahan dapat lahir dari satu percakapan di beranda rumah, dari satu senyum di ruang kelas sederhana, dari satu langkah kecil menuju sekolah. Anak-anak Maradadita mengajarkan aku hal itu. Bahwa perjuangan tidak selalu tentang hasil, tapi tentang keberanian untuk terus melangkah.

Kini, setiap kali aku melihat siswa di kota berangkat sekolah dengan seragam rapi dan kendaraan nyaman, aku selalu teringat anak-anak Sumba yang berjalan kaki di bawah matahari, membawa harapan di pundak kecil mereka.

Dan mungkin, dari langkah kecil mereka di jalan berbatu itu, masa depan pendidikan Indonesia perlahan sedang bergerak. Pelan, tapi pasti.

JejakEkspeditor #JejakAwalPerjalanan


메타데이터
post_id
39b65745115b
slug
langkah-kecil-insan-praikarang-39b65745115b
url
https://medium.com/@azkaiskandar27/langkah-kecil-insan-praikarang-39b65745115b
canonical_url
https://medium.com/@azkaiskandar27/langkah-kecil-insan-praikarang-39b65745115b
author_url
https://medium.com/@azkaiskandar27
status
ok
fetched_at
2026-07-15 09:03:25