← Back to list

Pengen di Puji, Takut dijelekin

Akhmad Muchlas Chozin · 2026-06-05 19:30 · 0 claps · 1.6 min read
#tasawuf #ilmu
Open on Medium ↗

Malam Sabtu, 5 Juni di Lengkong, setelah selesai persiapan acara pernikahan paman, keluarga yang muda-muda berkumpul. Di tengah obrolan, salah satu paman bertanya tentang seseorang yang mengiyakan perkataan orang lain, padahal dalam hatinya tidak setuju.

Contohnya seorang bos menunjukkan program baru lalu bertanya: "Bagaimana program saya yang baru ini?"

Karyawannya menjawab: "Wah bagus, Bos."

Padahal sebenarnya ia tidak sepakat. Namun karena takut dijauhi, tidak disukai, atau bahkan kehilangan pekerjaan, akhirnya ia memilih mengiyakan.

Salah satu paman saya menjawab dari sisi yang menarik. Menurut beliau, kadang masalahnya bukan hanya pada orang yang mengiyakan, walaupun tadi ada kemungkinan masuk kegolongan orang munafiq. (maaf, tadi kurang mendengarkan, nanti tak kroscek lagi), tetapi juga pada orang yang ingin dipuji.

Lalu beliau membacakan ta'bir dari Ihya' Ulumiddin bab وَجْهِ الْعِلَاجِ لِحُبِّ الْمَدْحِ وَكَرَاهَةِ الذَّمِّ. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa banyak manusia binasa karena dua hal: Takut dicela manusia dan senang dipuji manusia.

Akhirnya yang dicari bukan lagi kebenaran, melainkan penilaian manusia. Walaupun jelas. Ini sangat berat.

Kemudian beliau menjelaskan, ketika seseorang dipuji, hendaknya ia bertanya: "Apa yang sebenarnya sedang dipuji?"

Kalau yang dipuji harta, jabatan, kedudukan, atau hal-hal duniawi lainnya, semua itu akan hilang. Bahkan kalau yang dipuji adalah ilmu dan ketakwaan, seseorang tetap tidak pantas terlalu bangga.

Kenapa? لِأَنَّ الْخَاتِمَةَ غَيْرُ مَعْلُومَةٍ "Karena akhir kehidupan itu tidak diketahui."

Allahumma Sallimna.

Hari ini dipuji karena alim, belum tentu besok tetap istiqamah. Hari ini dipuji karena saleh, belum tentu akhir hayatnya husnul khatimah.

Yang lebih menarik lagi, Imam Al-Ghazali mengatakan: وَإِنْ كَانَتِ الصِّفَةُ الَّتِي مُدِحْتَ بِهَا أَنْتَ خال عنها ففرحك بالمدح غاية الجنون "Jika sifat yang dipuji itu sebenarnya tidak ada pada dirimu, lalu engkau senang dengan pujian tersebut, maka hal itu adalah غاية الجنون (puncak kegilaan)"

Paman saya juga menggambarkan terhadap orang yang bangga karena cucu kiai, cucu habib, anak pejabat, atau keturunan orang besar.

Kalau leluhurnya alim, seharusnya yang diwarisi adalah ilmunya. Kalau beliau ahli ibadah, yang diwarisi adalah ibadahnya. Bukan sekadar nama besarnya.

Karena pada akhirnya, yang akan ditanya bukan siapa kakek kita. Tapi apa yang kita lakukan sekarang? Bisa nggak meneladani leluhur² kita. Atau malah dengan pedenya kelakuan² bodoh kita yang lakukan. Semoga kita tetap diberi kesempatan untuk selalu berlaku baik dan memberikan kebaikan untuk orang lain.


메타데이터
post_id
39b7201a07e2
slug
pengen-di-puji-takut-dijelekin-39b7201a07e2
url
https://medium.com/@moesthbam/pengen-di-puji-takut-dijelekin-39b7201a07e2
canonical_url
https://medium.com/@moesthbam/pengen-di-puji-takut-dijelekin-39b7201a07e2
author_url
https://medium.com/@moesthbam
status
ok
fetched_at
2026-06-17 12:55:42