Tentang Cerita yang Belum Waktunya
Tentang Cerita yang Belum Waktunya
Beberapa kisah tidak berakhir karena salah. Aku baru menyadari itu belakangan, setelah semuanya berhenti bahkan sebelum sempat berjalan. Ada hal-hal yang tidak pernah diresmikan, tidak pernah diberi judul, tapi justru paling sulit dilepaskan. Mungkin karena ia hidup diam-diam. Tumbuh tanpa izin. Mengendap tanpa pernah benar-benar dimulai.
Aku sering berpikir, jika sesuatu tidak pernah disebut “kita”, seharusnya lebih mudah untuk pergi. Nyatanya tidak. Justru yang tanpa nama itulah yang paling lama menetap.
Aku adalah Kelana, yang biasa dipanggil Lana.
Dan ini adalah cerita tentang sesuatu yang harus selesai, bahkan sebelum sempat disebut apa-apa.
Beberapa kisah tidak berakhir karena salah, tapi karena memang belum waktunya.
— — — — — — — — — -
BAB I
Jogja, Pertemuan yang Biasa Saja
Jogja selalu punya caranya sendiri untuk membuat segalanya terasa santai. Termasuk pertemuan kami.
Aku bertemu Bara di kampus, tidak ada yang istimewa dari hari itu. Tidak ada hujan yang turun perlahan, tidak ada mata yang saling mencari di tengah keramaian. Kami hanya dua orang asing, yang tidak sengaja berada di satu lingkaran kegiatan yang sama, saling tahu nama, lalu saling menyapa.
“Halo, Kelana” sapaku singkat pada semua orang di ruangan itu.
“Bara.”
Sesederhana itu.
Kami duduk di ruangan yang sama, tertawa di momen yang sama, lalu pulang ke kehidupan masing-masing. Tidak ada getar aneh di dada, tidak ada rasa ingin mengenal lebih jauh. Bara hanyalah orang lain yang kebetulan hadir di hidupku saat itu.
Jika ada yang bertanya kapan aku mulai menyadari keberadaannya, aku tidak bisa menjawab dengan pasti. Karena pada awalnya, aku tidak menyadari apa pun. Ia bukan siapa-siapa. Hanya teman yang baru saja kukenal di sana. Satu lingkaran. Satu frekuensi kegiatan.
Dan mungkin justru karena itulah semuanya terasa aman.
Tidak ada ekspektasi.
Tidak ada rencana.
Tidak ada cerita.
slowburn-romance?
Aku tidak tahu saat itu, bahwa pertemuan yang terasa biasa saja kadang menyimpan sesuatu yang kelak akan terasa berat, bukan karena besarnya, tapi karena ia datang tanpa permisi, lalu pergi tanpa penjelasan.
“Bar, aku kok merasa eksternal sendiri sih di sini, duh gimana ya” kekhawatiran Lana melalui chat whatsappnya, ketika memasuki proyek ini karena ia merasa orang asing di tengah sekumpulan orang yang sudah saling mengenai satu sama lain.
“Gapapa, kita juga ga sedeket itu kok kenalnya, aman aja” kata Bara yang berusaha menenangkan.
Bara yang kukenal awalnya adalah seorang yang dingin, kepalanya riuh penuh keraguan ingin menyampaikan sesuatu, tapi di balik itu aku juga merasakan kedewasaan dan ketulusan darinya.
— — — — — — — — — -
BAB II
Sumba: Kita yang Mulai Berbicara
Perjalanan ke Sumba mengubah ritme kami tanpa pernah kami rencanakan.
Di sana, hari-hari terasa lebih panjang. Panas menyengat, debu menempel di sepatu, dan pekerjaan lapangan menuntut kami untuk terus bergerak. Dalam situasi asing seperti itu, kami jadi sering bersama; bukan karena ingin, tapi karena keadaan.
Kami bekerja berdampingan. Makan di jam yang sama. Pulang dengan lelah yang serupa. Kami memiliki dua skema perjalanan ketika lapangan; menaiki motor dan mobil. Namun, memang lebih sering menaiki motor. Di motor, aku juga lebih sering berboncengan bersama Bara.
Aku tidak suka hening, karena kuyakin ada sejuta cerita yang sebenarnya dapat kami bagikan selama di motor. Ya, hal ini kulakukan agar perjalanan tidak hanya sekedar berpindah tempat, namun perjalanan merupakan memori yang akan kami rekam sepanjang usia.
“Gimana Bar, happy nggak? capek nggak? kamu nggak mau cerita apa gitu?”
“Apa yaaa” ya, Bara masih ragu untuk menceritakan apapun ketika hari pertama.
Namun, di hari-hari berikutnya, ia mulai berani menceritakan banyak hal padaku.
Aku mendengarkan Bara bicara tentang keresahannya menjalani hidup. Tentang mimpi yang belum sepenuhnya ia yakini. Tentang Lagu Barasuara — Terbuang Dalam Waktu. Tentang film Sore. Aku pun bercerita, hal-hal yang biasanya kusimpan sendiri.
Dari situlah percakapan kecil mulai muncul. Tentang rumah. Tentang bagaimana rasanya tumbuh di keluarga masing-masing. Tentang masa lalu yang tidak selalu ingin diceritakan, tapi entah kenapa terasa aman untuk dibagi.
“Itu rumahnya bagus yaa Bar, tamannya pas nggak begitu luas, jendelanya banyak, jadi terang gitu”, seringkali aku mengulang perkataan yang sama ketika melewati jalanan di Desa Tanarara, dan selalu kusampaikan pada Bara, karena hanya ia tempat ternyaman untuk ku berbagi cerita, mungkin ia juga bosan mendengarnya haha.
Rumah dengan konsep sederhana yang cukup menenangkan bagi siapapun yang melihatnya, atau mungkin hanya aku dan Bara.
“Iyaa, aku pengen rumah yang kecil juga nggak terlalu luas, yang cukup sesuai jumlah orang di rumah”, ucap Bara padaku.
“Kenapa gitu?” tanyaku pada Bara, karena aku ingin tahu sudut pandang lelaki di depanku ini.
“Biar nggak susah dong beres-beresnya, kalau terlalu luas kan capek juga, bikin mager”, jawab Bara yang menurutku masuk akal sekali.
Tidak ada janji. Tidak ada pembicaraan besar tentang “kita”. Tapi ada rasa senang yang sederhana, dan kekhawatiran yang datang bersamaan.
Kami menjalani semuanya bersama, senang, lelah, bingung. Dan untuk pertama kalinya, kebersamaan itu terasa berarti.
— — — — — — — — — -
BAB III
Alfamart dan Cerita Panjang
Hari-hari di Lewa terasa menyenangkan, meski yang kami lakukan hanya rutinitas sederhana, seperti umumnya penelitian sosial.
Entah sejak kapan, aku dan Bara menjadikan Alfamart persinggahan utama kami. Alfamart kecil di pinggir jalan dekat Polsek Lewa. Lampunya cukup terang, raknya biasa saja. Kami berulang kali membeli susu kotak dingin, aku lebih sering membeli rasa coklat, dan Bara rasa strawberry, ya aku mengingatnya dengan jelas. Jika kami memiliki waktu senggang yang panjang, kami memilih betah untuk duduk berlama-lama di sana, mengamati lalu lalang kendaraan dari kursi depan Alfamart, hingga kami akan dicari melalui whatsapp oleh teman-teman di tim.
Di situlah percakapan kami dimulai.
Awalnya, hanya tentang capek setelah seharian di lapangan. Tentang panas yang tidak masuk akal. Tentang betapa rasanya ingin cepat mandi dan tidur. Percakapan yang akan dengan mudah terlupakan jika tidak diulang.
Namun, entah sejak kapan, obrolan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih besar.
Bara mulai bertanya banyak hal tentang kehidupanku sebagai seorang peneliti lapangan yang suka berlalu lalang kesana kemari. Ya, keliling Indonesia secara gratis merupakan salah satu wishlist-ku sejak SMA, yang dulu sempat kutuliskan dalam ’50 impian seorang Lana’. Dulu guru Bimbingan Konseling SMA meminta kami menulis kan impian. Dan ya, aku berhasil di titik ini.
Banyak dinamika yang kurasakan selama di lapangan, apalagi Indonesia memiliki berbagai macam latar belakang budayanya masing-masing, yang juga menjadi challenge baru untukku mempelajarinya, bahkan seringkali aku juga gagal memahaminya.
Bara mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Tidak menghakimi. Tidak berusaha memperbaiki. Hanya hadir. Tidak ada kata-kata manis. Tapi aku merasa dipahami.
Hari berganti, kami yang semakin intens mengunjungi Alfamart, dan mulai membahas mengenai kehidupan pribadi masing-masing.
Kami bicara tentang hidup, tanpa tujuan yang jelas. Tentang mimpi yang belum punya bentuk. Tentang luka yang tidak selalu sembuh. Tentang masa depan yang terasa jauh, tapi tetap ingin dibayangkan. Tentang orang tuanya. Tentang caraku melihat keluargaku sendiri. Tidak selalu dalam nada bahagia, tapi jujur. Ada cerita yang ringan, ada yang diucapkan pelan karena masih terasa sensitif.
Dan di sela semua itu, ada obrolan yang sama sekali tidak bermakna. Tentang iklan yang muncul di ponsel. Tentang lagu di TWS milik Bara. Tentang Amanda Zahra. Tentang rasa susu kotak yang terlalu manis. Tentang hal-hal kecil yang tidak perlu diingat, tapi justru membuat hari kami terasa hangat.
Dan di situlah aku sadar; rasa itu mulai nyata. Bukan dari hal besar, tapi dari hal-hal kecil yang terasa hangat.
Suatu sore, tiba-tiba aku menginginkan es krim oreo. Sudah lebih dari satu minggu aku tidak minum es krim. Di tengah batuk yang sebenarnya sedang kualami, aku tetap memaksa diri membeli es krim tersebut. Namun, hanya beberapa sendok kumakan, tiba-tiba aku sudah tidak ingin memakannya lagi. Hingga akhirnya aku menawarkan pada Bara untuk menghabiskannya. Aku tidak menyangka hal sesederhana itu akan berakhir dengan ia yang batuk dan demam. Sehingga harus pergi ke dokter beberapa hari kemudian. Ia mengeluh sambil tertawa, dan aku merasa bersalah sambil menertawakannya juga.
Momen itu sepele. Tapi aku mengingatnya dengan jelas.
Di tengah obrolan yang kadang besar, kadang remeh, aku mulai menyadari sesuatu yang sebelumnya tak pernah kupikirkan terlalu jauh.
Bahwa kedekatan ternyata tidak selalu tumbuh dari siapa yang paling lama mengenal kita.
Tapi dari siapa yang membuat kita merasa dilihat, didengar, dipahami, didukung, diterima, dan dihargai, bahkan ketika kita sendiri belum sepenuhnya memahami diri kita.
Dan di kursi besi Alfamart itu, dengan susu dingin di tangan dan hari-hari Lewa yang pelan, aku merasakan semuanya hadir tanpa perlu diminta.
— — — — — — — — — -
BAB IV
Kambuhapang dan Hal-Hal yang Membuatku Tenang
Kambuhapang awalnya hanya sebuah desa yang kulihat gersang di bagian dalamnya. Rumah rumahnya berdiri sederhana, jalanannya sunyi, dan tak ada yang terasa istimewa. Namun anehnya, begitu melewati batas desa dan memandang ke arah luar, segalanya berubah hamparan sawah hijau terbentang, udara terasa lebih segar, dan pandangan menjadi lapang.
Tidak ada yang aneh dari Kambuhapang. Tapi ternyata, desa ini menyimpan begitu banyak kenangan bagiku. Dan mungkin juga bagi Bara.
Aku senang datang ke sini bersama teman-teman, hanya untuk melihat sawah hijau dan jika waktu dan cuaca berpihak, bonus matahari tenggelam yang pelan. Aku sering menyarankan mereka untuk ke Kambuhapang saat penat. Tapi anehnya, mereka bilang tempat ini tidak membantu apa-apa. Tidak menghilangkan lelah.
Aku tidak pernah benar-benar mengerti kenapa mereka tidak merasakannya seperti yang kurasakan.
Di tengah hamparan sawah itu, ada sebuah kursi kayu di bawah pohon rindang. Setiap kali melihatnya, aku selalu berpikir kursi itu tampak nyaman, seperti tempat yang memang diciptakan untuk duduk tanpa perlu tujuan.
Suatu hari, ketika kursi itu kosong, aku mengajak Bara untuk duduk di sana. Aku bercerita tentang masa laluku. Tapi sejujurnya, aku tidak benar-benar fokus pada ceritaku sendiri. Yang kurasakan hanya satu hal; aman.
Aman berada di dekatnya.
Kami duduk diam, melihat kendaraan dan hewan berlalu-lalang. Tidak ada kegiatan yang jelas. Tidak ada rencana. Semuanya sederhana, bahkan terlalu sederhana untuk disebut momen penting. Tapi justru di situlah rasanya tinggal.
Ketika kursi Alfamart penuh, aku sering mengajak Bara berkeliling desa Kambuhapang sampai ke ujungnya. Kami bercerita hal-hal random, tanpa arah.
“Gimana ya Kambuhapang 5 taun lagi?” tanyaku suatu kali.
“Bakalan masih seijo ini nggak ya?”
“Aku skeptis,” jawabnya pelan. “Ini jalanan provinsi, bisa jadi bakal berubah jadi rumah-rumah”
Aku mengangguk. Percakapan kami kadang berhenti di sana — tanpa solusi, tanpa kesimpulan.
Dan mungkin, di situlah aku akhirnya mengerti kenapa teman-temanku tidak pernah menganggap Kambuhapang spesial.
Bukan karena desanya. Tapi karena bersamanya, hanya dengan berkeliling tanpa tujuan pun, hatiku bisa tenang.
Entah karena hijaunya Kambuhapang, atau karena kehadiran Bara di dekatku. Atau mungkin karena keduanya bertemu di waktu yang sama. Perfect combo, bagiku.
Suatu hari, saat kami berboncengan, ia menggenggam tanganku erat.
Bukan genggaman biasa.
Aku merasakan ketulusan di sana. Dan aku sadar, ini bukan hal sederhana. Ada rasa yang berbeda. Rasa yang membuatku yakin pada satu hal yang justru paling kutakuti:
bahwa semua ini suatu hari bisa jadi akan berakhir.
— — — — — — — — — -
BAB V
Kita yang Tidak Berhenti di Lewa
Aku sempat mengira semuanya akan berhenti di Lewa.
Bahwa rasa itu hanya milik tempat itu. Milik malam-malam hangat dan hari-hari lelah yang dibagi bersama. Aku pikir, ketika Lewa selesai, perasaan ini akan ikut pulang dan perlahan menghilang.
Ternyata tidak.
Kami masih melanjutkan kebersamaan itu, hingga di Waingapu. Masih mengobrol lama. Masih berjalan berdua di sela-sela kesibukan. Rasanya tetap hangat, dan justru membuat rindu, bahkan sebelum benar-benar pergi.
Ada sesuatu tentang Lewa yang membuat segalanya terasa lebih jujur. Dan setiap kali aku menyadarinya, aku mulai khawatir. Karena rasa ini tidak lagi sekadar singgah.
Kami sadar ada perasaan, tapi kami memilih tidak memberi nama. Tidak ada kesepakatan besar, hanya pengertian diam-diam bahwa kami berjalan di jalur yang sama, tapi dengan jarak aman.
Kami menahan diri. Menyimpan kalimat-kalimat yang seharusnya bisa diucapkan. Kadang aku ingin bertanya, tapi memilih diam. Kadang ia ingin menjelaskan, tapi mengurungkan niatnya.
Ironisnya, semakin kami berusaha mengendalikan perasaan, semakin ia tumbuh perlahan dan dalam.
Aku mulai merindukan hal-hal kecil. Cara ia berjalan di sampingku. Cara ia menoleh saat aku berbicara. Dan di situlah aku menyadari; ini bukan lagi tentang tempat. Ini tentang seseorang.
Bab ini penuh dengan keheningan yang tidak kosong. Tatapan yang tidak lama tapi berarti. Kalimat yang hampir terucap lalu disimpan kembali.
— — — — — — — — — -
BAB VI
Jogja Lagi, dan Kita Terlalu Dekat untuk Menghindar
Jogja menyambut kami dengan wajah yang sama,
dan kali ini, rasa itu ikut pulang bersamaku.
Selama sepuluh hari, kami bertemu hampir setiap hari untuk menyelesaikan laporan penelitian. Duduk berdampingan di ruang yang sama, menatap layar yang sama, mengulang data dan kalimat yang terasa tak ada habisnya. Kedekatan itu tumbuh lagi. Tetapi tanpa Sumba, tanpa panas dan debu, namun ia tetap hangat.
Kami mulai sering berboncengan. Jalanan Jogja terasa lebih pendek saat aku berada di belakangnya. Teman-teman Bara mulai mengenaliku lewat kebiasaan kami yang selalu datang dan pergi bersama. Namaku disebut-sebut ringan, disambut senyum yang seolah sudah mengerti.
Namun dari sisi lain, pertanyaan mulai datang.
Teman-teman tim penelitian Sumba bertanya pelan-pelan, lalu semakin jelas arahnya. Tentang kami. Tentang kemungkinan yang terlalu rumit jika dilanjutkan. Tentang saran-saran yang terdengar masuk akal, tapi terasa berat untuk dijalani.
Mereka menyarankan kami untuk tidak bersama.
Aku paham niat baik itu. Tapi memahami tidak membuatku mampu menjauh. Setiap kali kami mencoba memberi jarak, selalu ada alasan untuk kembali. Selalu ada hal yang belum selesai.
Lalu aku pergi ke Demak.
Penelitian lapangan menuntutku untuk fokus, tapi justru di sanalah Bara semakin sering menghubungiku. Pesan-pesan datang lebih intens. Menanyakan keadaanku. Mengomentari hal kecil. Menemani malam-malam lelahku dari kejauhan.
Aku senang. Dan bersamaan dengan itu, aku khawatir.
Bagaimana jika ini terlalu dalam? Bagaimana jika semua ini harus berakhir?
Sepulang dari Demak, aku mampir ke Pekalongan. Hanya semalam. Tapi semalam itu terasa panjang.
Bara menemuiku. Ia mengajakku berkeliling, memperkenalkanku pada kotanya, jalan-jalan yang akrab baginya, cerita-cerita tentang daerahnya, tentang tempat-tempat yang membentuk siapa dirinya. Aku melihat sisi lain darinya, dan tanpa sadar, aku semakin masuk.
Malam itu penuh tawa dan kehangatan. Terlalu banyak hal kecil yang ingin kusimpan. Di sela perjalanan, lirik itu terlintas di kepalaku pelan, tapi menetap:
“Penuhilah rencanamu
Bersamaku lagi
Oh, denganmu terasa cepat berlalu
Belum puas, ingin lebih tahu jalanan kotamu”
(kota ini tak sama tanpamu — Nadhif Basalamah)
Aku tidak tahu sejak kapan lagu itu terasa seperti milikku.
Pekalongan menjadi kenangan yang indah sekaligus menakutkan. Karena di sanalah aku sadar, rasa ini tidak lagi ringan. Dan ketika aku kembali melanjutkan hidupku, kekhawatiran itu semakin menjadi.
Bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang terasa hidup?
Bagaimana caranya berhenti, jika setiap langkah justru membuatku semakin dekat?
Dan di sanalah aku tahu, Jogja bukan akhir dari cerita ini. Ia hanya menjadi jembatan menuju sesuatu yang lebih rumit; dan mungkin, lebih menyakitkan.
— — — — — — — — — -
BAB VII
Yang Disudahi Lewat Layar
Pesan itu datang tanpa tanda apa pun.
Tidak ada pertengkaran. Tidak ada jarak yang terasa sebelumnya. Hanya sebuah notifikasi di layar ponselku — nama Bara — dan kalimat-kalimat yang pelan tapi pasti.
Ia menulis bahwa semuanya perlu disudahi. Bukan karena rasa yang hilang, tapi karena risiko yang terlalu besar jika kami memaksakan diri melangkah lebih jauh. Ia tidak ingin perasaan ini berubah menjadi sesuatu yang menyakiti lebih banyak hal.
Malam itu menjadi malam yang panjang bagiku.
Rasa mual datang tiba-tiba. Perutku terasa tidak tenang, dadaku penuh, kepalaku berisik. Aku gelisah memikirkan hidupku ke depan, bagaimana hari-hari akan berjalan tanpa ia di dalamnya. Aku sudah terlalu terbiasa yapping dengannya, mengirim hal-hal kecil tanpa makna, berbagi lelah dan tawa melalui telepon.
Untuk pertama kalinya, aku berharap semua ini hanya mimpi.
Keesokan harinya, aku benar-benar memimpikannya.
Aku menulis padanya. Ia membalas, mengatakan bahwa ia juga memimpikanku. Kami saling bercerita tentang mimpi itu. Di mimpiku, kami bertemu kembali dengan senang, tanpa beban, tanpa jarak. Tapi di mimpinya, aku hanya datar ketika bertemu dengannya, namun tertawa setelah ia menghiburku.
Aku terdiam lama setelah membaca itu.
Aku berharap — dengan seluruh ketakutanku — bahwa mimpi itu tidak akan pernah menjadi nyata. Bahwa jika suatu hari kami bertemu lagi, aku tidak akan menjadi seseorang yang telah selesai tanpa rasa.
Hari-hari berlalu dengan mual yang belum pergi dan gelisah yang menetap. Aku mulai menyangkal. Mencari pembenaran. Berharap waktu berbelok sendiri. Hingga keesokan paginya, aku menangis di hadapan ibuku.
Aku menceritakan semuanya. Tanpa disaring. Tanpa disederhanakan.
Ibuku mendengarkan dengan hangat. Tidak menghakimi. Ia hanya berkata bahwa tidak ada yang benar-benar tahu masa depan. Maka, berdoalah yang terbaik.
Kalimat klise orang tua, mungkin. Tapi mengena tepat di hatiku.
Karena dari sana aku belajar; selalu ada harapan di setiap ketidaksempurnaan.
— — — — — — — — — -
BAB VIII
Menyudahi Sebelum Benar-Benar Dimulai
Kami tidak memiliki akhir yang bisa ditandai tanggal.
Tidak ada hari pasti dimulai juga. Tapi ada hari-hari setelahnya yang terasa berbeda; lebih sepi, lebih pelan, lebih sunyi dari biasanya.
Aku masih membawa namanya dalam hal-hal kecil. Dalam kebiasaan lama yang belum sempat kuhentikan. Dalam keinginan untuk bercerita, lalu sadar tidak lagi tahu ke mana harus mengirimkannya.
Rasa itu tidak langsung hilang. Ia bertahan, berubah bentuk, lalu perlahan menjadi kenangan yang tidak menyakitkan, hanya hangat.
Aku tidak membencinya. Aku juga tidak menyesal pernah merasa sejauh itu.
Kami berhenti bukan karena gagal, tapi karena memilih tidak saling melukai. Dan mungkin, itu satu-satunya cara kami bisa menjaga yang pernah ada untuk sementara ini.
Menyudahi sebelum benar-benar dimulai adalah kehilangan yang aneh. Tidak ada yang bisa disalahkan. Tidak ada yang bisa disesali sepenuhnya.
Hanya penerimaan yang pelan-pelan tumbuh.
Dan aku percaya, jika sesuatu memang ditakdirkan kembali, ia akan menemukan jalannya sendiri. Jika tidak, maka ia akan tetap tinggal sebagai bagian dari hidup yang pernah mengajarkanku cara mencintai dengan jujur.
Tanpa gaduh. Tanpa penyesalan.
Aku tidak tahu ke mana cerita ini seharusnya berakhir, tapi aku tahu: aku sudah tumbuh darinya.
— — — — — — — — — -
BAB IX
Hal-hal Kecil yang Terlihat Seperti Kita; Sebuah Refleksi
Ada hal-hal yang tidak pernah kami rencanakan, tapi entah bagaimana terus terjadi.
Pernah suatu waktu, di bulan kedua kami di Sumba, kami berdua sama-sama jatuh sakit karena terlalu bersemangat menikmati es krim Oreo. Bara yang lebih dulu tumbang, dan dia memintaku mengantarnya ke dokter. Minggu berikutnya, giliran aku yang sakit, dan kali ini dia yang duduk di sampingku, menunggu namaku dipanggil.
Dokternya sempat menatap kami bergantian, lalu bertanya dengan nada santai, “Obatnya nggak dibagi-bagi ya?”, kami tersenyum kikuk dan menggeleng pelan. Lalu tanpa banyak pikir, dokter itu mengira kami keluarga.
Ia bahkan menyarankan hal sederhana; berjemur pagi bersama, supaya tubuh kami lebih cepat pulih. Dan anehnya, kami menuruti saran itu. Beberapa pagi berikutnya, kami berdiri berdampingan di depan kos biru, diam-diam menikmati matahari pagi, ditemani segelas energen yang kami minum setelahnya. Tidak ada yang istimewa. Tapi rasanya hangat. Terlalu hangat untuk sesuatu yang katanya “biasa saja”.
Di Jogja, keanehan itu berlanjut dalam bentuk lain.
Suatu sore, ketika kami hendak ke kos temannya yang baru selesai sidang, ban motor kami bocor karena kunci yang menancap di tengah jalan. Kami berhenti di pinggir jalan, bingung dan sedikit kesal, sampai seorang ibu-ibu berteriak di seberang jalan.
“Wes gapopo yo, mbak. Mlaku disek berdua panas-panasan. Cedek kok perempatan wi, bengkele.”
Aku mendengar kalimat itu samar, tapi cukup jelas untuk membuatku tersenyum. “Njih, ibu. Matur nuwun”, jawabku.
Aku tidak tahu kenapa kata berdua diucapkan seolah itu hal yang lumrah.
Di kesempatan lain, saat menunggu antrian leker favoritku, aku dan Bara duduk di dekat deretan motor para pengantri. Seorang bapak-bapak yang baru pulang dari masjid, lengkap dengan kopiah hitamnya tiba-tiba menyapa kami.
“Lagi antri to, mbak? Rame yo”
“Njih, bapak antri”, jawabku.
Awalnya kupikir beliau hanya lewat atau ikut mengantre. Tapi ternyata, beliau justru berdiri di depan kami dan mulai bercerita tentang keluarganya, tanpa kami minta. Sebelum pergi, ia memberi kami tiga pesan hidup:
Pertama, jangan fokus pacaran dulu, kuliah dulu. Beliau mengira kami sedang berpacaran.
Kedua, jangan lupa nabung buat nikah.
Ketiga, jangan sama orang Sumatra.
Pesan ketiga membuatku tertawa kecil dalam hati karena terlalu relevan dengan masa laluku. Bara bahkan menyenggol lenganku pelan, seolah mengiyakan poin terakhir itu. Kami tertawa kecil, seperti dua orang yang sedang menyimpan rahasia. Juga, Bapak tersebut sempat memastikan pada kami berdua, bahwa kami bukan orang Sumatra. Lucunya, hal ini terjadi karena rasa trauma Bapak tersebut ketika anaknya ditinggal oleh mantan pacarnya; orang Sumatra.
Di Sumba, pertanyaan serupa datang dari banyak arah.
Kak Ambu; mantan pegawai Alfamart Lewa yang kini menjadi sahabatku pernah bertanya, tepat di hari terakhir pertemuan kami di Dermaga Waingapu. Ia menanyakan apakah aku dan Bara berpacaran. Katanya, pegawai Alfamart lain sering bertanya padanya tentang kami.
Saat itu Bara ada di sampingku. Kukira ia mendengar. Ternyata tidak.
Aku menjawab cepat, mungkin terlalu cepat, bahwa kami hanya teman. Kak Ambu tertawa. “Teman kok mesra? Teman level berapa itu?”
Aku ikut tertawa, lalu melirik Bara sekilas — ia masih fokus pada ponselku yang sedang ia pegang, seolah dunia di sekitarnya tidak terlalu penting.
Pertanyaan itu terus berulang. Dari Bang Rony, driver andalan kami yang beberapa kali memergoki kami berboncengan di Lewa. Dari Om Pace, warga lokal kesayangan tim. Bahkan dari tim internal kami sendiri.
Entah kenapa, dari semua kejadian itu, aku mulai merasakan sesuatu yang aneh. Bukan takut. Bukan senang. Tapi perasaan bahwa mungkin, tanpa kami sadari, kami sedang terlihat seperti sesuatu yang tidak pernah kami sepakati untuk menjadi.
Dan mungkin, di situlah semuanya mulai terasa semakin nyata.
— — — — — — — — — -
Pesan yang Belum Disampaikan
Halo Bara, jika suatu hari kamu membaca tulisan ini, mungkin kamu akan tahu, ternyata kamulah orang yang pernah kukatakan akan abadi di tulisan. Kini aku menepati ucapanku, dengan cara yang tidak pernah kita rencanakan.
Aku tidak menyangka kisah ini akan sejauh dan serumit ini. Aku hanya tahu satu hal; rasanya belum selesai, meski aku tak tahu apa yang masih tertinggal.
Maaf jika aku belum bisa melepasmu dengan baik. Aku sedang mencoba, pelan-pelan. Tidak tahu berhasil atau tidak, tapi mencoba tetap terasa lebih jujur daripada berpura-pura selesai.
Jika di hari-hari ini aku terlalu sering bercerita, terlalu sering menunggu, terlalu sering menganggumu itu karena aku takut segalanya hilang; padahal bersamamu, aku pernah merasa tenang, sebelum keputusan itu ada.
Aku berharap kamu selalu sehat, selalu tersenyum, dan menemukan hidup yang tidak memberatkanmu.
Meskipun begitu, aku selalu ada di sini, Bar.
Jangan lupa ya Bar, jangan biarin aku ditelan waktu.
— — — — — — — — — -
Pada akhirnya, aku tidak pernah benar-benar tahu di titik mana semuanya berubah. Apakah di Sumba, di kursi besi Alfamart, di sawah Kambuhapang, di genggaman tangan yang singkat di atas motor, atau di pesan yang datang terlalu tenang untuk sesuatu yang begitu menyakitkan.
Yang aku tahu, aku pernah merasa hidup dengan cara yang utuh. Pernah merasa dilihat, didengar, dipahami, didukung, diterima, dan dihargai tanpa harus memiliki atau dimiliki.
Kisah ini tidak berakhir dengan kemenangan atau kegagalan. Ia hanya berhenti di tempat yang tidak bisa kami lewati bersama.
Aku belajar bahwa tidak semua perasaan harus selesai untuk bisa dilepaskan. Sebagian hanya perlu disimpan, dengan rapi, sambil memberi waktu pada semesta untuk bekerja dengan caranya sendiri.
Aku menutup cerita ini bukan dengan mengunci pintu, tapi dengan membiarkannya setengah terbuka. Bukan karena aku menunggu, melainkan karena aku tidak ingin menutup kemungkinan.
Jika suatu hari langkah kita kembali bertemu di persimpangan yang sama, semoga kita datang dengan hati yang lebih tenang dan cerita yang lebih utuh. Dan jika saat itu tiba, aku masih di sini, bukan sebagai seseorang yang tertinggal, tapi sebagai seseorang yang telah tumbuh.
Aku tidak mengatakan selamat tinggal. Aku hanya mengatakan, sampai di sini dulu.
— — — — — — — — — -
“Mungkin di lain bumi
Kita bisa abadi
Semoga waktunya akan tiba
Kita di sana
Sampai jumpa…”
(Afgan — Sampai Jumpa)
메타데이터
- post_id
- 39dfca9d6868
- slug
- tentang-cerita-yang-belum-waktunya-39dfca9d6868
- url
- https://medium.com/@shi.xixi/tentang-cerita-yang-belum-waktunya-39dfca9d6868
- canonical_url
- https://medium.com/@shi.xixi/tentang-cerita-yang-belum-waktunya-39dfca9d6868
- author_url
- https://medium.com/@shi.xixi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 07:01:24