Obrolan Hangat di 1717 Mdpl
Obrolan Hangat di 1717 Mdpl
Photo by Naufal Ardi Santoso on Unsplash
Aku melihat jam tangan mungilku yang masih bertahan dengan 3 jarum, membuatnya disebut sebagai penunjuk waktu. Tepat di jam 05.00 Wita. Tangan kananku mengoperasikan ponsel untuk merekam penunjuk waktu di tangan kiriku, kemudian menggerakkan kamera menuju pemandangan yang ada di depanku. “Terima kasih, aku bisa sampai di sini dan pernah sampai di sini.” Bisikku dalam rekaman video itu.
Aku sampai di puncak Gunung Batur dengan matahari yang masih menikmati tidurnya. Mungkin hanya tinggal kurang dari satu jam. Sisanya, ia pasti dibangunkan oleh banyak elemen. Terduduklah aku di kursi bambu yang dibuat sengaja oleh “pengelola gunung”. Tentu aku tidak sendiri. Selain tujuh temanku yang enam diantaranya baru saja aku kenal dua jam sebelumnya, ada puluhan manusia yang juga menunggu bangunnya matahari. Kami semua mencari posisi paling tepat menurut versi masing-masing.
Dalam dudukku, aku hanya bisa menghela napas. Aku melamun, tak sanggup diajak bicara dan menahan dingin karena hembus angin yang baru terasa. Terbaca frustasi? Betul. Dramatis? Sangat tepat. Pengalaman pertama yang masih di luar nalar bagiku.
Ketika tawaran itu datang, aku hanya berpikir sanggup karena nekat atau tidak sanggup karena takut kelelahan. Tidak punya kebiasaan olah raga dan sangat jauh dari personal branding: sporty. Jalan kaki yang paling disebut olah tubuh versiku adalah sejauh 2 km dari kamar menuju kubikal di kantorku. Pulang pergi, jadi hanya total sekitar 4 km. Cemen betul memang. Tapi nyatanya, aku pernah menghirup udara di puncak gunung ini, yang entah akan ada pengalaman yang kedua atau tidak.
Semua yang terjadi di dua jam terkahir sebelum sampai di puncak, masuk ke dalam lamunan. Dalam situasi yang masih gelap, aku hanya berbincang seadanya dengan beberapa temanku. Setelahnya, aku memilih untuk tetap duduk. Sementara mereka semua menikmati moment dengan cara masing-masing. Aku kemudian melanjutkan untuk melamun. Ada hal yang lebih dari “takut kelelahan” yang aku rasakan selama dua jam terakhir. Hingga kini, aku tidak bisa mendefinisikan hal itu. Rasa terima kasih dan terharuku tertuju kepada tujuh temanku yang menemaniku hingga puncak. Aku yang paling merepotkan mereka, bahkan lebih parah saat perjalanan turun.

Sumber Pribadi
Lamunanku kemudian terdistraksi oleh sepasang turis yang duduk di sebelah kananku sedari tadi. Matahari sedikit demi sedikit sudah menyembulkan kepalanya, sehingga aku mampu melihat sekitarku dengan lebih jelas. Sepasang turis itu mengeluarkan cangkir batok kelapa dan menuangkan teh yang mereka bawa sendiri. Pantas saja, mereka menolak tawaran guide untuk disediakan minum dari warung yang ada di puncak gunung ini. Entah itu teh dari ekstrak tumbuhan apa, tapi wanginya tercium masuk ke hidungku.
Beberapa saat kemudian, kenikmatanku mencium aroma teh dari “tetangga” di sebelahku kembali terdistraksi. Kali ini oleh dua orang turis perempuan yang menyela untuk duduk diantara aku dan sepasang turis sebelumnya. Aku kemudian menyaksikan bagaiamana dua turis perempuan ini “dilayani” oleh guide mereka. Begitu telaten dan pengertian, guide itu membawakan nampan berisi dua gelas teh, dua butir telur, dan dua buah pisang. Diletakannya nampan di antara dua turis perempuan itu, sebelum ia menawarkan diri menjadi fotografer. Memerankan diri sebagai fotografer pun, sangat terlihat profesional dan paham betul fitur-fitur kamera di ponsel berlogo apel.
Setelah beres menjadi fotografer, guide itu duduk di sebelah kiriku. Seakan menjadi pelindung bagi turis yang dibersamainya, ia melarang pedagang kecil untuk menawarkan dagangan kepada turisnya. Seperti ia paham betul karakter tamunya.
Ternyata, tidak cukup hanya dua kejadian yang mengusik lamunanku. Distraksi kembali aku dapatkan, setelah lima menit melanjutkan lamunan pasca adegan dua turis perempuan dan guide-nya. Terdengar riuh tepuk tangan dari sisi belakang. Aku menoleh dan mencari sumber riuh itu. Aku dapati dua warga asing sedang berpelukan dan berbahagia. Adegan lamaran baru saja terjadi.
“Tolong cukup sampai di sini.” Batinku karena mulai kelelahan dengan bombardir distraksi.
Aku mengembalikan kepalaku pada posisi semula, sambil mendengar guide di sebelahku bergumam (yang ternyata kepadaku), “Saya pernah nemenin tamu lamaran, tapi lebih bagus persiapannya dari pada yang itu.” Bli guide menunjuk ke arah turis yang berpelukan itu.
“Di puncak sini, Bli?” Aku merespon, meski aku menganggap ini distraksi berikutnya. Tapi, aku tertarik.
“Iya, waktu itu tamunya yang bilang ke saya sebelum berangkat. Dia udah bawa bunga sendiri untuk dekorasi. Jadi saya ajak teman untuk bantu dekorasinya di atas lebih dulu. Bagus sekali hasilnya.” Tangan Bli guide terlihat melakukan aktivitas scrolling di layar gawainya. Setelah mendapatkan gambar yang dimaksud, ia menunjukkannya padaku. Benar saja, matahari pagi terlihat berpihak pada pasangan di foto itu. Cantik sekali. Entah itu diposisikan di sudut mana dari puncak lapang gunung ini. Sepertinya tidak ada latar suara bersorak sorai seperti yang kusaksikan barusan.
Bli guide kembali memasukkan gawainya dan menemaniku melamun. Tidak hanya pandai membaca gesture tamunya, rupanya ia juga pandai membaca gesture-ku. Ia tidak mengusik lamunanku. Aku yang people pleasure ini jadi segan untuk mendiamkannya. Lima menit kemudian:
“Menek jam kuda, Bli?” Aku bertanya dengan Bahasa Bali yang berarti mulai naik jam berapa.
Bli guide menjawab dengan Bahasa Bali halus, yang kurang lebih isinya begini: “Jam 3 tadi, Mbok. Pelan-pelan, soalnya lewat jalur Toya Bungkah. Tidak berani lewat jalur Pasar Agung kalau ajak tamu yang baru pertama kali.”
Aku menggangguk sambil membatin: si pemberani yang baru pertama kali naik gunung dan lewat jalur yang Bli anggap ekstrem untuk pemula, itu adalah aku…
“Berangkat dari daerah mana, Mbok?”
“Denpasar, Bli. Bli saking deriki?”
“Nggih, itu tiang tinggal di bawah.” Menunjuk salah satu pemukiman di sebelah kiri, yang aku tahu ia menunjuk ke daerah Songan. Pemukiman yang dekat dengan tepi Danau Batur. Pemukiman yang juga sekitarannya ada lahan-lahan yang bisa ditanami berbagai jenis sesayuran dan yang paling pasti adalah bawang merah.
“Meduwe garapan, Bli?”, yang artinya apakah Bli guide memiliki beberapa petak tanah yang juga digarap oleh keluarganya. Barangkali, kasat mata dari arah duduk kami.
“Ada, Mbok. Di sebelah rumah. Tapi kecil, cuma nanem bawang aja.”
“Wih, bawang Bali memang nggak ada yang ngalahin ya, Bli. Setiap saya pulang ke Denpasar, wajib bikin sambel matah pakai bawang Bali.”
“Iya, memang beda ya, Mbok. Makanya lebih cocok juga dipakai untuk bumbu genep dan masakan Bali. Kalau bawang India tuh jeg kurang. Makanya, bawang India lebih murah juga, sih. Eh, emang Mbok ten meneng di Denpasar?”
Aku tersenyum mengangguk sambil menjawab pertanyaan lanjutan Bli Guide. “Iya, Bli. Saya udah lama tinggal di Jawa.”
“Jawa mana, Mbok?”
“Sempat enam tahun di Jogja, terus sekarang di Jakarta, Bli.”
“Tiang mau kalau ada yang ngajak kerja di Jakarta.”
Aku melirik pandangan Bli guide yang menerawang ke ujung, “Kenapa mau, Bli? Saya malah pengen pulang terus, biar bisa makan babi guling.”
haha — kami tertawa kecil saja.
“Ya, kenten ya, Mbok. Yang di Bali ingin keluar, Mbok udah di luar malah ingin pulang. Tiang mau tahu dunia luar tuh kaya apa. Gimana rasanya kerja di luar Bali. Kenal sama orang baru, selain orang Bali.”
“Emang sekarang Bli kerja di mana? Guide ini?”
“Tuh.” Bli guide menunjuk ke arah yang lebih kanan, sebuah bangunan semi modern yang ia sebut villa, “Tamu yang saya bawa ini juga nginep di villa itu. Ini saya lagi nggak sift. Makanya, bisa ambil kerjaan guide.”
“Oh, Bli sebagai guide ini bukan bagian dari paket hotelnya?”
“Kalau di villa tempat saya kerja itu nggak masuk paket. Tapi boss saya tahu dan biasanya dia yang langsung kasih tamu ke saya kalau lagi nggak sift kaya sekarang.”
“Yang punya villa orang Bali, Bli?”
“Iya, dari daerah sini, kok. Cuma ada campur tangan asing juga.”
Kami mengangguk seakan sepakat untuk tidak melanjutkan pembahasan campur tangan itu. Mungkin rasanya terlalu overclaimed, tapi aku harus mengatakan bahwa sebagai orang Bali, istilah campur tangan asing itu seakan menjadi bagian dalam hidup kami. Apalagi tentang urusan ekonomi. Begini, Bali dan pariwisata memang tidak bisa dipisahkan. Lewat pariwisata, ekonomi bertumbuh. Lewat pariwisata juga, campur tangan asing menggeliat atas nama kesejahteraan ekonomi.
“Tiang ingin kerja di luar Bali, sebagai orang Bali, Mbok. Tiang bangga kok jadi orang Bali, tapi Tiang juga sadar dengan keinginan Tiang untuk ingin punya pengalaman yang lebih banyak. Nggak salah kan ya, Mbok?”
Prinsip. Satu kata yang tercetus dalam benakku ketika mendengar penuturan Bli Guide barusan. Aku pun sebenarnya begitu. Menjadi orang Bali di luar Bali adalah sebuah keuntungan, setidaknya untukku. Bali adalah daya tarik dan ini yang kemudian yang aku “mainkan” ketika aku berada di luar batas teritorial Pulau Dewata ini. Ternyata bukan hanya aku yang memiliki pemikiran ini. Seakan de javu mendengar pernyataan Bli guide itu, yang kemudian aku respon dengan acungan jempol dan senyum tulus.
Cerita kami masih berlanjut tentang di mana Bli guide mendapatkan ilmu hospitality, sekolah perhotelan yang ternyata masih memegang hype di Bali saat ini, hingga tawaran untuk berkunjung ke rumah Bli guide. Kami saling melepas obrolan ketika Bli guide harus bersiap karena ia tahu bahwa tamunya sudah akan selesai menjadi penikmat puncak. Ia mengucapkan terima kasih padaku yang aku balas dengan ucapan terima kasih juga. Ia kemudian menjauh ke arah utara sambil kembali memulai obrolan dengan tamunya.
Sehilangnya Bli guide, aku mengembalikan kesadaranku dengan saksama. Aku melihat sekeliling dan begitu mataku menangkap posisi teman-temanku, mereka kemudian mengajakku bergabung untuk mengambil gambar bersama. Bahkan aku lupa, sedari tadi ponselku ada di tangan mereka. Ratusan foto sudah terkumpul di galery ponselku.
Kata orang, kita akan tahu sifat asli seseorang, salah satunya saat mendaki gunung. Aku baru mengenal tujuh orang temanku ini dua jam sebelum kami berkelompok untuk mendaki bersama. Bahkan aku tidak mengenal mereka dalam versi sehari-hari, tapi aku bersama mereka di salah satu moment yang paling aku ingat dalam hidup. Yang kemudian terjadi adalah kebalikannya, mereka yang menemaniku untuk lebih mengenali diriku sendiri ketika turun gunung. Puluhan tahun aku menjadi manusia, rasanya tidak pernah aku merasakan ketakutan sedemikian rupa. Melihat tujuh temanku yang lihai melangkahkan kaki, ternyata gila juga rasanya sampai aku tidak bisa memutuskan kaki mana yang harus berpijak selanjutnya.
Jam sepuluh dan matahari sudah menantang sempurna ketika kami sampai di titik awal dan aku menangis sejadinya. Campur aduk bukan main. Keberhasilan mengatasi rasa takut hingga kembali sampai di kaki gunung, cukup membuatku merasa menjadi manusia baru. Lagi-lagi, dramatis? Tentu.
Kami berkumpul di warung untuk membereskan diri pasca menjadi pendaki ulung. Mereka ternyata memerhatikan adegan antara aku dan bli guide ketika di puncak tadi. Aku menceritakan, tentu dengan nada suara yang sudah lebih baik pasca menangis. Mereka yang sebagian besar ternyata juga sempat merantau, bahkan juga di Jogja, pun memberikan pandangan.
Pandangan tentang: Bli guide ingin mencoba bekerja di luar Bali, tapi tetap menjadi orang Bali.
Seorang lainnya yang juga mendengar tuturanku tentang Bli guide, “Berat banget obrolan Mbok Indah di puncak pertamanya”
Semua tertawa dan beberapa saat kemudian kami beranjak menuju warung mujair nyat-nyat. Makanan wajib jika sedang di Kintamani.
메타데이터
- post_id
- 39ff4a1e21cb
- slug
- obrolan-hangat-di-1717-mdpl-39ff4a1e21cb
- url
- https://medium.com/teman-menulis/obrolan-hangat-di-1717-mdpl-39ff4a1e21cb
- canonical_url
- https://medium.com/teman-menulis/obrolan-hangat-di-1717-mdpl-39ff4a1e21cb
- author_url
- https://medium.com/@indahwidiasari
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-12 10:20:10