#Rekaswara Omenarie — Jangan Bermuram Hati
Bermuram Hatilah: Kita Gak Sepenting Itu… dan itu Gakpapa.
#RekaSwara Omenarie — Jangan Bermuram Hati

DM mas Omen, mbalesi story saya.
Bermuram Hatilah: Kita Gak Sepenting Itu… dan itu Gakpapa.
2 Desember 2022, saya menulis sebuah teks tanpa judul. Berangkat dari pertanyaan semenjana: “Ngapain sih takut mati?”
Apakah saya takut menuju ketiadaan, atau saya hanya takut terlupakan? Mengutip Eiichiro Oda: “Kematian adalah sebuah kepurnaan.” Tak ada yang perlu ditakutkan — kecuali bayangan Siksa Neraka pada komik keagamaan. Kebetulan, saya tak percaya neraka.
Yang lebih mengganggu justru pertanyaan kedua: Apakah saya takut terlupakan? Semisal saya ujug-ujug tidak ada, apakah teman-teman saya akan mengunggah takarir dukacita lalu mengenang hal-hal baik tentang saya — kalaupun ada? Ataukah mereka yang sebenarnya tidak terlalu dekat tiba-tiba mengingat momen khusus yang baru terasa mendalam setelah saya tiada?
Tapi untuk apa? Apa gunanya dibicarakan pasca-tiada? Apa nilai gunanya meninggalkan diri di ingatan orang-orang hanya untuk sesekali muncul dalam percakapan: “Oh, dulu ada orang namanya Randy Kempel… dia begini, dia begitu, dan seterusnya.”
Apalah arti diingat bagi seseorang yang keberadaannya saja sudah tidak ada?
Tulisan itu adalah tantangan terhadap ke-aku-an saya sendiri. Sebuah usaha mengikis keangkuhan bahwa saya sepenting itu, atau lebih muluknya: punya dampak kepada sekitar. Inilah pertarungan terberat saya enam tahun terakhir. Bagaimana saya berusaha “meniadakan” diri saya, namun di saat yang sama, tetap “ada”.
Tanpa sadar, saya beberapa kali melakukan apa yang disebut Afrizal Malna sebagai “pelarian massa”: usaha membaur dengan sekitar untuk menantang ke-aku-an tadi.
Seringnya gagal, tentu saja.
Takutkah kita pada hikayat: bahwa sendiri adalah niscaya, mati adalah anugerah, dan lahir sebenar-benarnya petaka?
Puisi itu akhirnya saya unggah ke Instagram Stories. Mas Omen tiba-tiba membalas dan “memintanya” untuk digubah menjadi lirik. Saya mengiyakan. Toh, saya selalu senang melihat teks melampaui kediriannya sendiri.
Demi kebutuhan musikal, ia mengubah sedikit barisnya dan menyisipkan kalimat: “Jikalah tidak ada iman di sini.” Mungkin untuk memberi ruang bagi cahaya, agar tidak terlalu gelap. Mungkin.
Sila dengarkan “Jangan Bermuram Hati” di gerai musik favorit Anda.
- KMPL- (@randy_kempel)
[embed]
메타데이터
- post_id
- 3a0ee23a1dda
- slug
- rekaswara-omenarie-jangan-bermuram-hati-3a0ee23a1dda
- url
- https://medium.com/@randykempel/rekaswara-omenarie-jangan-bermuram-hati-3a0ee23a1dda
- canonical_url
- https://medium.com/@randykempel/rekaswara-omenarie-jangan-bermuram-hati-3a0ee23a1dda
- author_url
- https://medium.com/@randykempel
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 07:00:49