hijab tidak seperti rantai borgol.
aku memakai jilbab, tapi seperti ada borgol didalam diriku karena-nya.
hijab tidak seperti rantai borgol.

aku memakai jilbab, tapi seperti ada borgol didalam diriku karena-nya.
sore itu, ada aksi dalam kampus mengenai kebijakan kampus yang kami rasa merugikan, lalu duduklah para mahasiswa dan jajaran dosen, kami berdiskusi agar mendapat solusi.
lalu aku ingat sekali aku dan kating-ku bersorak, menyuarakan sesuatu, pendapat kami.
salah satu dosen itu berkata “kamu tuh pake kerudung loh! pake kerudung kok kelakuannya begitu!”
loh? kenapa dengan jilbab saya? apakah narasi itu akan berbeda jika saya tidak memakai jilbab?
ada apa dengan perilaku perempuan dan jilbabnya? apakah jilbab menjadi penghalang seseorang dalam kebebasannya? terutama kebebasan berekspresi.
Seperti yang kita tahu bahwa (terutama) dalam agama islam, perempuan wajib menutup auratnya, memakai jilbab. aku adalah salah satu anak yang diwajibkan memakai jilbab entah aku siap atau tidak, tapi memang pada akhirnya terbiasa.
sebenarnya pilihan seseorang dalam menggunakan atau tidak atau bahkan melepas jilbabnya adalah keputusan pribadi yang tidak perlu diikut campuri. dosa atau apapun itu, kita tidak bisa menilai hal itu. namun seakan akan itu menjadi sanksi sosial.
ada sebuah situasi di mana perempuan berjilbab dikecam karena memakai pakaian yang memeluk tubuh, sikap yang menurut mereka berlebihan, celana yang ketat ataupun jilbab yang tidak sesuai ekspetasi masyarakat. dengan narasi “malu sama jilbab” dan “lu kan pake jilbab?!”
lalu ada lain situasi ketika perempuan islam tidak memakai jilbab, lagi-lagi sosial menuntut di mana letak keimanan seseorang yang tidak memakai jilbab, padahal tahu apa soal keimanan orang lain? dengan narasi “islam kok gak berjilbab?” “malu sama agama”.
kondisi lain, ketika seseorang memutuskan untuk melepas jilbabnya. ini terparah, sampai kata murtad bisa terlabelkan.
seakan akan hijab kita adalah belenggu, menahan kita dari kehidupan yang kita jalani, agar tercipta ekspetasi masyarakat tentang ‘perempuan baik-baik”.
sebenarnya, masalah agama dan keimanan seseorang adalah hal yang tidak bisa diperdebatkan oleh orang lain. persetan dirimu, siapa yang punya cukup waktu untuk mengurusi hidup seseorang sampai ketitik keimanannya?
ekspetasi masyarakat ini lah yang menjadikan jilbab rasanya sebagai konsekuensi dalam menjalani kehidupan.
seperti ada rantai yang membuat kami sebagai perempuan berjilbab tidak bebas, jika jilbab itu terpasang seolah otomatis kami harus merubah seluruh hidup kita menjadi hijab itu sendiri, tertutup.
ada juri sosial yang menilai kami tidak boleh berekspresi berlebihan, tidak boleh bertingkah, tidak boleh berbicara sembarangan, tidak boleh menampakkan yang lainnya.
menjadikan opsi berjilbab adalah hal yang beresiko, walaupun dilain sisi, banyak orang bilang bahwa jilbab adalah mudah hanya dengan menutupkan kepala dan rambut dengan kain. yang pada kenyataannya, itu hanya omong kosong belaka karena jilbab memiliki banyak tingkatan, mulai dari kain itu sendiri dan ekspetasi manusia.
sering aku temukan laki-laki berkomentar mengenai jilbab perempuan, yang di mana pada hakikatnya memang perempuan (dalam islam) yang mengenakan jilbab. kamu, laki-laki, kalian tidak bisa berbicara mengenai perempuan ketika kalian bukan perempuan, kalian tidak mengatur kami, rasanya tidak perlu jadi perdebatan dari kalian. kalian tidak berhak mendikte hijab kami.
dan sering pula aku melihat ini datang dari sesama perempuan, entah itu perempuan sesama berjilbab, perempuan tidak berjilbab, dan perempuan non-muslim yang tidak berjilbab.
aku senang sekali jika seseorang nyaman dan erat dengan jilbabnya, aku turut merasa bahagia atas hal itu, tapi apakah hal itu dapat membuat kalian menilai perempuan lain? apakah kalian sudah sangat baik dan suci sehingga kalian terkualifikasi menjadi perempuan yang paling baik? aku rasa kalian bisa menjawabnya sendiri.
jika seseorang yang menggunakan jilbab tetapi memiliki sikap yang dirasa tidak sesuai dengan semua orang, apakah solusinya dengan melepas jilbab? tidak.
apakah seseorang yang beragama dan tidak memakai jilbab, dapat dikatakan murtad dan tidak beriman? tidak.
apakah seseorang dengan apapun alasan mereka melepas jilbab yang mereka pakai dapat menandakan mereka adalah orang yang munafik? tidak.
“tapi, kan bisa memperbaiki sifat biar jilbabnya pantes dipake”
apakah kamu senaif itu melihat bahwa orang setertutup sekalipun tidak memiliki dosanya sendiri? apakah kamu seyakin itu jika kamu diposisi yang sama, kamu akan menjadi manusia paling suci dan tidak berdosa?
persoalan hijab ini menjadi masalah yang serius mengenai hak dan kewajiban seseorang yang berujung pada ujaran kebencian, pembullyan, fitnah, dan diskriminasi.
seakan jilbab kami ditarik-tarik tapi jika terlepas tercemooh pula.
seakan akan kami tidak punya pilihan, ketika keinginan kita untuk mengikuti syariat tetapi malah menjadikan kami terbelenggu sesak nafas dalam teriakan ekspetasi masyarakat. ada diantara salah dan benar, ada diantara ketidakbebasan dan label kemurtadan.
aku akan bertanya sekali lagi,
siapa kalian berhak menilai jilbab kami?
karena aku tahu tuhan maha baik. dan hubungan ku dengan tuhan menjadi urusan yang tidak bisa dimasuki manusia lain.
maka biarkan lah urusan jilbab sebagai urusan seseorang dengan tuhan-nya, tanpa ada ikut campur orang lain, sebagai bentuk taat kepada tuhan yang murni, bukan karena takut terhadap manusia lain yang takut tuhan.
메타데이터
- post_id
- 3a1b266e7f33
- slug
- hijab-tidak-seperti-rantai-borgol-3a1b266e7f33
- url
- https://medium.com/@annsiella/hijab-tidak-seperti-rantai-borgol-3a1b266e7f33
- canonical_url
- https://medium.com/@annsiella/hijab-tidak-seperti-rantai-borgol-3a1b266e7f33
- author_url
- https://medium.com/@annsiella
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-30 11:22:16