← Back to list

#MemandangdariSudut | Pelajaran yang bisa diambil dari seseorang yang memanfaatkan ‘privilege’…

Ini adalah resensi buku PATA, karya Mun Ka Young.

Nadzira · 2025-07-01 12:31 · 0 claps · 4.7 min read
#books #book-review #pata #mun-ka-young
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing 📚 · Books & Reading

#MemandangdariSudut | Pelajaran yang bisa diambil dari seseorang yang memanfaatkan ‘privilege’ dengan baik | PATA

Ini adalah resensi buku PATA, karya Mun Ka Young.

Sebelum membahas buku ini, saya akan menceritakan sedikit apa yang membuat saya tertarik mengenal dan membaca buku Mun Ka Young. Hal pertama yang menarik perhatian saya dari beliau adalah kebiasaannya membaca, dan menutup jilid sampul buku yang sedang dibacanya. Ya, bagi saya itu menarik karena ketika saya melihatnya, saya terpikir ‘oh ya, inilah salah satu cara agar seseorang bisa nyaman membaca buku di ruang publik tanpa harus mengkhawatirkan lirikan orang lain pada apa yang sedang dibaca’. Maka pada suatu hari, saya sengaja menggunting kantong kertas bekas untuk mencobanya, hitung-hitung sekaligus daur ulang. Saya juga mencoba menggunakan kertas kado agar tidak terlalu polos. Sejujurnya, saya senang melakukannya, tapi rupanya percobaan ini tidak mengundang reaksi yang sama. Orang-orang di sekitar saya tetap penasaran dan mengubah pertanyaan menjadi, ‘Kenapa di-cover lagi?’ Ha ha, saya menyadari hal lain. Reaksi itu tetap muncul bisa jadi karena memang kebiasaan setempat yang terbiasa ramah-tamah dan membuka obrolan ringan di mana saja. Sekian, bagian ini hanya curcol saja.

Kembali ke buku PATA. Begitu saya melihat unggahan Mun Ka Young yang berisi pengumuman bahwa dia akan menerbitkan buku, saya berharap bisa ikut membacanya. Versi asli dan awal tentu ditulis dalam bahasa Korea. Saya lupa saat itu apakah saya langsung berharap akan ada terjemahannya atau tidak, tapi keinginan membaca buku ini selalu saya simpan di sudut ingatan. Saya tidak terkejut melihat dia bisa menulis dan menerbitkan buku, karena pasti itu berangkat atau dipengaruhi dari kebiasaan membacanya itu. Kembali saya teringat akan suatu lamunan, yaitu meski pembaca tidak wajib menulis, penulis seharusnya membaca dan pembaca yang menulis itu sangat menarik. Sepertinya setiap pembaca akan mendapat panggilan untuk menulis pada suatu titik.

Waktu berlalu sekian lama, tiba-tiba saya melihat unggahan penerbit Shira Media yang mengatakan akan menerbitkan buku PATA versi terjemahan bahasa Indonesia. Bukan main senangnya. Walaupun tetap mencoba menurunkan ekspektasi apa pun yang muncul, saya terus mengikuti unggahan terbaru mereka soal buku ini. Akhirnya, setelah meminta sponsor (:P) kepada kakak saya, buku ini pun terbeli. Saya kira ukurannya besar dan akan berat karena hard cover, tapi ternyata tidak begitu besar dan tetap ringan, mungkin karena bahan kertasnya dipilih yang ringan. Walaupun begitu, tampilannya tetap sangat ciamik, dan saya sangat suka ilustrasi sampulnya yang elegan. Tertera di balik cover rupanya ilustrasi itu adalah karya berjudul L’amour désarmé dari René Magritte.

Tebalnya sekitar 309 halaman, ada kertas yang berwarna biasa dan ada yang berwarna hitam. Tipografi dan tata letaknya unik, sangat menonjolkan bahwa buku ini adalah buku prosa dan esai yang penuh kontemplasi. Butuh waktu sekitar 1–2 bulan untuk saya membacanya, karena dua alasan yaitu ‘persepsi’ saya mengenai buku terjemahan dari bahasa Korea, dan saya memang memutuskan untuk membacanya dengan mindful agar benar-benar mendapat isinya dengan baik.

Sugesti apa? Setelah membaca beberapa buku yang diterjemahkan dari bahasa Korea, saya merasa ada sesuatu yang unik dari cara pikir orang Korea. Saya belum bisa menjabarkannya dengan jelas, namun ada sesuatu yang berbeda dari cara pikir itu dan ini juga terasa oleh kakak saya. Ini juga dipengaruhi oleh persepsi yang saya pahami mengenai belajar bahasa asing yang mana mempelajari bahasa asing itu bukan semata menambah kosa kata dan mengalihbahasakan apa yang ada di pikiran kita, melainkan untuk berpikir dengan cara penutur asli. Karena itulah saya memutuskan untuk melakukan alasan kedua tadi. Beruntung, karena saya baca pelan-pelan saya benar-benar menikmati proses membacanya.

Cara pandang saya saat membaca buku ini sejak awal adalah, saya ingin mengetahui apa yang ada di balik seorang selebriti seperti Mun Ka Young. Kondisi seperti apa yang membentuknya hingga menjadi dirinya yang saat ini? Pernahkah yang lain juga penasaran bagaimana kehidupan biasa seorang selebriti? Kurang lebih seperti itulah pengantarnya dan isi buku ini benar-benar menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

Tentu, yang pertama adalah saya merasa ‘dugaan’ saya benar. Mun Ka Young bagi saya adalah seseorang yang dibentuk di lingkungan ber-privilege, yaitu keluarga yang hangat dan latar belakang keluarga yang mendukung pertumbuhannya dengan baik sejak kecil. Keluarganya pernah tinggal di Jerman selain di Korea, dan bagi saya memiliki kesempatan hidup di dua budaya berbeda seperti ini adalah sebuah kelebihan yang sangat istimewa. Selain kemampuan bahasa yang tinggi, cara berpikir keluarga multikultural menurut saya terasa lebih terbuka dalam artian wawasan dari sumber berbeda memperkaya khazanah berpikir mereka. Kehangatan keluarga dan hubungan yang erat dengan setiap anggota keluarganya juga bisa kita rasakan melalui buku ini. Pata, alter ego dari Mun Ka Young, banyak sekali meneladani Carry sang Kakak, banyak dikuatkan oleh Ibu, dan sangat dekat dengan Ayah. Bahkan di bagian akhir buku, ada tulisan yang menggunakan sudut pandang sang Ayah. Tidak bisa dipungkiri bahwa hadirnya kita dalam sebuah keluarga akan sangat mempengaruhi pertumbuhan kita. Bagaimana kehadiran setiap anggota keluarga, seperti yang digambarkan dalam adegan sederhana yaitu memilih makan malam, dan dukungan orangtua baik moral maupun finansial, seperti dalam adegan mengikuti kursus balet, ikut membentuk kepribadian Mun Ka Young sejak kecil. Saat memikirkan ini, saya sadar saya sangat realistis dan pemikiran ini seakan menyalahkan keluarga yang tidak bisa menghadirkan kondisi yang sama. Namun saya tidak bermaksud seperti itu karena saya pribadi bisa merasakan elemen-elemen yang sama dalam bentuk yang berbeda meski komposisi keluarga saya jauh berbeda dengan beliau. Itu artinya, kondisi itu kembali pada kesadaran dan kesediaan setiap peran yang ada. Ini hanyalah contoh dari salah satu tipe keluarga.

Kemudian, dari bahasan-bahasan yang bertema kehilangan dan pencarian makna hidup, saya melihat bahwa bukan privilege-nya yang membuat dia unggul dalam cara berpikir, tetapi kebijaksanaannya dalam menyadari setiap fase kehidupan yang dilewati. Karena banyak sekali orang yang juga ber-privilege, namun tetap keluar menjadi seseorang yang tidak bersyukur dan mengganggu kemaslahatan hidup orang lain. Untuk memanfaatkan suatu kelebihan, diperlukan kebijaksanaan. Menyadari bahwa reaksi, pertimbangan, keputusan, apa yang dialami, memproses, menerima, kemudian melanjutkan setiap peristiwa dalam kehidupan ini adalah kunci bagaimana seseorang bisa menjadi versi terbaik masing-masing. Bahkan meski prosesnya tentu seringkali tidak mudah dan tampak penuh gejolak.

Menekankan kembali soal bagaimana cara orang Korea ‘berpikir’, mungkin bagi sebagian pembaca buku ini akan terasa sulit dipahami di awal. Terlebih, buku ini adalah kumpulan esai dan prosa yang tidak bersifat naratif. Tetapi menurut saya, dengan cara pandang seperti tadi, yaitu ‘hanya ingin menilik apa yang ada di balik Mun Ka Young’, cukup untuk bisa membuat kita memahami serta ikut menikmati sepanjang cerita mengalir. Alurnya tidak beraturan, namun masih bisa diketahui kapan ia membicarakan masa kini dan masa lalu untuk di bagian pertama. Selebihnya adalah kumpulan tulisan berjudul yang bisa dibilang berdiri masing-masing. Kemudian di bagian akhir, ada beberapa bagian di mana saya membaca ulang untuk memastikan apakah yang menulis adalah Pata atau sang Ayah, tetapi sama sekali tidak mengurangi kehangatan yang dituangkan di dalamnya.

Banyak sekali bagian yang saya tandai karena saya merasa sangat relate dengannya. Mungkin terjemahannya kadang terasa sangat kaku, tapi hal ini juga saya temukan di banyak buku terjemahan bahasa Korea lainnya, mungkin memang begitulah hasil terjemahan yang paling tepatnya. Tulisan ini hanyalah hasil pemikiran saya yang sempit, dan saya masih ingin terus mencari tahu dan belajar mengenai buku-buku seperti ini. Akhir kata, saya harap pembaca yang lain juga bisa menikmati buku ini dan mendapatkan banyak pelajaran darinya.


메타데이터
post_id
3a2d4b6d1ddf
slug
memandangdarisudut-pelajaran-yang-bisa-diambil-dari-seseorang-yang-memanfaatkan-privilege-3a2d4b6d1ddf
url
https://medium.com/@nadziranissa/memandangdarisudut-pelajaran-yang-bisa-diambil-dari-seseorang-yang-memanfaatkan-privilege-3a2d4b6d1ddf
canonical_url
https://medium.com/@nadziranissa/memandangdarisudut-pelajaran-yang-bisa-diambil-dari-seseorang-yang-memanfaatkan-privilege-3a2d4b6d1ddf
author_url
https://medium.com/@nadziranissa
status
ok
fetched_at
2026-06-25 12:15:08