← Back to list

Menemukan Kembali Semangat di Bulan Juli

Semangat yang mulai pudar, harus di-push kembali

Desinta Mega · 2025-07-15 02:54 · 10 claps · 2.3 min read
#belajarmenulis #ufuk-literasi #journaling
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🖊️ · Illustration & Drawing

Menemukan Kembali Semangat di Bulan Juli

Semangat yang mulai pudar, harus di-push kembali

Photo by Nick Morrison on Unsplash

Photo by Nick Morrison on Unsplash

Juli datang, udara dingin mulai menusuk. Aku duduk di teras, melihat langit yang masih mendung. Secangkir kopi hangat, entah sudah berapa kali kuseruput sampai tak sadar hanya sisa ampas di dasar gelas. Pikiran pun melayang-layang, tak menentu.

Bulan Juli selalu membawa perasaan aneh. Bukan sekadar pertengahan tahun, tapi semacam checkpoint. Seperti ada suara kecil yang berbisik, “Nah, sudah setengah jalan. Apa yang sudah kau raih? Apa yang masih menggantung?” Tahun ini, bisikan itu terdengar lebih keras, mungkin karena setumpuk resolusi yang masih rapi terbungkus plastik, belum sempat kuraup.

Salah satu yang paling mengganjal adalah soal menulis. Ya, menulis. Aktivitas yang seharusnya menjadi kesenangan, justru sering berubah jadi beban. Ada begitu banyak ide yang berkelebat di kepala — potongan cerita, renungan tentang hiruk-pikuk kehidupan, atau bahkan sekadar deskripsi tentang seekor kucing oren yang sering lewat depan rumah.

Tapi,… begitu tangan menyentuh keyboard, semuanya menguap. Kosong. Mati gaya. Seperti mesin tua yang mogok di tengah jalan. Menulis itu, ternyata bukan cuma tentang teknik atau kosakata, tapi juga pertarungan melawan kekosongan diri sendiri.

Aku ingat suatu malam, saat rasa frustrasi itu memuncak, aku iseng membuka Medium. Jari ini menelusuri artikel demi artikel, mencari semacam pencerahan. Lalu, aku terpaku pada sebuah tulisan. Judulnya sederhana tapi menusuk: “Bagaimana Kalau Saya Tidak Mencoba untuk Belajar Menulis?”. Penulisnya, Moch Abdul Aziz, dengan jujur menceritakan pergulatannya sendiri, keraguannya, ketakutannya akan ketidakbecusan. Bukan teori muluk, tapi pengalaman mentah yang justru terasa begitu akrab, begitu nyata. Dia bercerita tentang memulainya dari titik nol, tentang keengganan yang harus ditumbangkan, tentang pentingnya hanya memulai, sekecil apapun itu. “Tulisan yang jelek lebih baik daripada halaman kosong,” begitu kira-kira pesannya. Sebuah tamparan halus, tapi membangunkan.

Membaca tulisan Moch Abdul Aziz seperti menemukan oasis di tengah padang keraguan. Mungkin saat ini aku bukan penulis hebat. Tapi, bagaimana kalau aku tidak mencoba? Bagaimana kalau semua ide, semua gejolak perasaan, semua pengamatan kecil tentang hidup ini hanya mengendap dan membusuk di dalam? Padahal, ada dunia yang ingin kucicipi melalui kata-kata. Ada pemahaman yang ingin kuraih. Ada kelegaan yang mungkin hanya datang setelah untaian kalimat terakhir tercekat.

Ah, aku baru ingat bahwa aku juga bergabung di beberapa komunitas menulis, seperti Ufuk Literasi yang juga difounderi oleh Moch Abdul Aziz. Aku buka lagi percakapan-percakapan di grup, tempat aku awal belajar menulis. Terasa begitu renyah. Menyadari bahwa aku tak sendirian dalam berproses. Aku pun kembali bertanya pada diriku “untuk apa aku belajar menulis? untuk apa aku menulis?”

Aku pun memutuskan untuk menanam harapan kecil. Harapan yang tidak muluk-muluk. Tidak tentang menjadi terkenal atau menghasilkan karya masterpiece. Harapan ini sederhana saja: konsistensi. Menulis, apa saja. Setiap hari. Sekalipun hanya satu paragraf. Sekalipun hanya catatan tentang betapa ruwetnya hari ini.

Harapan besarku? Oh tentu, someday aku ingin mendapatkan banyak uang dari menulis. Entah sebagai blogger, penulis medium, content writing, copywriting dan sebagainya. Mungkin Juli tahun depan, semoga, tumpukan file digital yang telah terposting di berbagai media dapat mengantarkanku menjadi orang yang kaya raya (hehehe, AAAMIIINNN)

Hari ini, langit Juli terlihat mendung. Kosong, tapi juga penuh potensi. Seperti halaman baru yang menunggu untuk diisi. Angin sepoi-sepoi tiba-tiba menyentuh kulit. Mungkin ini pertanda. Aku mengambil buku catatan kecil dan pena. Mari lanjut, melanjutkan semangat awal tahun di Juli ini.


메타데이터
post_id
3a5014b341f8
slug
menemukan-kembali-semangat-di-bulan-juli-3a5014b341f8
url
https://medium.com/@des.me/menemukan-kembali-semangat-di-bulan-juli-3a5014b341f8
canonical_url
https://medium.com/@des.me/menemukan-kembali-semangat-di-bulan-juli-3a5014b341f8
author_url
https://medium.com/@des.me
status
ok
fetched_at
2026-06-15 20:49:13