← Back to list

Membersihkan Rumah Bukanlah Beban, melainkan Cara Merawat Pikiran

3 kutipan dari A Monk’s Guide to a Clean House and Mind

Ridzqie Abdillah in Booknotations · 2025-05-13 01:12 · 240 claps · 3.1 min read
#booknotations #bahasa-indonesia #buku #bersih #kutipan
Open on Medium ↗

Ulasan Buku

Membersihkan Rumah Bukanlah Beban, melainkan Cara Merawat Pikiran

3 kutipan dari A Monk’s Guide to a Clean House and Mind

Dulu, saya malas sekali untuk membersihkan kamar saya, apalagi seisi rumah. Namun, setelah membaca buku ini, pikiran saya berubah.

Sumber: Papercut

Sumber: Papercut

A Monk’s Guide to a Clean House and Mind — yang ditulis oleh seorang biksu buddha di Tokyo, Shoukei Matsumoto — berhasil meyakinkan saya bahwa membersihkan rumah adalah kegiatan yang lebih dari menyapu, mengepel, dan mencuci. Membersihkan rumah berarti membersihkan hati dan pikiran kita.

Di buku ini, Shoukei menjelaskan tentang kebersihan dan kegiatan membersihkan dari sudut pandang seorang biksu. Ia mengaitkan kegiatan membersihkan rumah dengan kedamaian hati yang dimiliki para biksu. Sebab, kegiatan ini merupakan ritual dan latihan pengorbanan yang dilakukan oleh mereka di kuil setiap hari.

Saya sudah membaca buku ini sampai habis dan mengambil tiga kutipan berharga darinya. Saya harap tiga kutipan berikut dapat menjadi pengantar untuk kamu yang juga ingin membaca bukunya.

#1: “A monk’s day begins with cleaning. We sweep the temple grounds and gardens, and polish the main temple hall. We don’t do this because it’s dirty or messy. We do it to eliminate the gloom in our hearts.”

Ilustrasi | Photo by MARIOLA GROBELSKA on Unsplash

Ilustrasi | Photo by MARIOLA GROBELSKA on Unsplash

Jika berkunjung ke salah satu kuil buddha di Jepang, kamu akan langsung menyadari betapa bersihnya kuil itu. Kamu dapat melihat lantai kayu yang berkilap karena begitu rutin dipel dan merasakan suasana tenang yang ada karena kebersihan. Tidak ada daun gugur di tanah, tidak ada noda di tiang-tiang kayu dan jendela, dan tidak ada perasaan khawatir akan itu semua.

Hanya ada satu hal yang akan kamu rasakan, yaitu kedamaian. Dan inilah yang dimaksud Shoukei dengan “membersihkan rumah berarti membersihkan pikiran”. Tidak ada noda di rumah berarti tidak ada noda di dalam hati kita.

Itulah mengapa para biksu selalu memulai hari mereka dengan membersihkan kuil. Jika kuil sudah bersih sejak pagi hari — sehingga begitu juga pikiran mereka — mereka dapat beribadah dengan hati yang tenang dan pikiran yang terang sepanjang hari.

#2: “We sweep dust to remove our worldly desires. We scrub dirt to free ourselves of attachments. The time we spend carefully cleaning out every nook and cranny of the temple grounds is extremely fulfilling. We live simply and take time to contemplate the self, mindfully living each moment. It’s not just monks who need to live this way. Everyone in today’s busy world needs to do it.”

Menyapu debu di lantai berarti menyapu bersih hasrat duniawi, mengepelnya berarti melepaskan segala ketergantungan dengan hal ihwal material, dan membersihkan kuil dengan sepenuh hati berarti memuaskan diri dengan kesederhanaan dan kedamaian. Itulah makna membersihkan rumah bagi mereka.

Selain itu, bagi para biksu, kegiatan membersihkan rumah adalah meditasi. Dengan melakukan itu, mereka melatih mindfulness dan hidup di waktu sekarang. Mereka tidak menyesali masa lalu, juga tidak mencemaskan masa depan. Mereka membersihkan kuil mereka, mereka mencoba hidup sepenuhnya.

#3: “It goes without saying that dust will accumulate in a home that is never cleaned. Just as you have finished raking the leaves, more are sure to fall. It is the same with your mind. Right when you think you have cleaned out all the cobwebs, more begin to form. Adherence to the past and misgivings about the future will fill your head, wresting your mind from the present. This is why we monks pour ourselves heart and soul into the polishing of floors. Cleaning is training for staying in the now. Therein lies the reason for being particular about cleanliness.”

Sama seperti poin sebelumnya, ketika membersihkan kuil, mereka hanya melakukan itu. Tidak ada yang lain. Mereka tidak melakukannya sambil mendengarkan musik, radio, atau sambil mengobrol tentang cuaca.

Dengan memfokuskan pikiran hanya untuk satu kegiatan di satu waktu, para biksu dapat membersihkan kuil dengan penuh kesadaran. Ini membantu mereka konsisten untuk membersihkan kuil setiap hari tanpa memedulikan kenyataan bahwa besok pasti terdapat debu lagi di lantai kuil mereka.

Pada akhirnya, memang membersihkan rumah adalah kegiatan yang harus dilakukan oleh semua orang untuk menjaga rumah tetap nyaman, tetapi bukankah akan lebih baik jika kita dapat memaknai kegiatan ini sebagai sarana untuk ketenangan pikiran dan hati? Jika kita berhasil memaknainya demikian, maka membersihkan rumah bukan lagi sebuah beban, melainkan sebuah cara untuk merawat pikiran.

Suka dengan tulisan di atas?

Baca tulisan saya lainnya dan traktir saya cendol di sini!

Tepukan tangan👏, sorotan🟩, dan komentar💬 membuat penulis merasa lebih dihargai. Terima kasih banyak telah membaca sampai akhir!


메타데이터
post_id
3b0b7d01a53e
slug
membersihkan-rumah-bukanlah-beban-melainkan-cara-merawat-pikiran-3b0b7d01a53e
url
https://medium.com/booknotations/membersihkan-rumah-bukanlah-beban-melainkan-cara-merawat-pikiran-3b0b7d01a53e
canonical_url
https://medium.com/booknotations/membersihkan-rumah-bukanlah-beban-melainkan-cara-merawat-pikiran-3b0b7d01a53e
author_url
https://medium.com/@ridzqie
status
ok
fetched_at
2026-07-19 22:17:22