← Back to list

Perlawanan Pattimura 1817

Artikel ini mengajak kita menyusuri kembali sejarah perlawanan Pattimura pada 1817.

Ianooo · 2025-06-06 17:18 · 1 claps · 3.2 min read
#sejarah-indonesia #ambon #kapitan-pattimura
Open on Medium ↗
Wiki topics: ⚖️ · Law & Justice

Perlawanan Pattimura 1817

Ilustrasi Pattimura. tirto.id/Gery

Ilustrasi Pattimura. tirto.id/Gery

Pengantar Tesis Artikel ini merupakan ringkasan yang ditulis berdasarkan tesis P.J.M. Noldus berjudul ***The Pattimura Revolt of 1817: It’s Causes, Course and Concuences**, di University of Centerbury, tahun 1984. Noldus menaruh perhatiannya pada Perlawanan Pattimura yang pecah di masa [interregnum](https://id.wikipedia.org/wiki/Interregnum)* Inggris di Maluku, pada 1818, ketika Maluku diserahkan kembali kepada Belanda.

Perlawanan berlangsung dalam waktu yang cukup singkat, mulai dari 14 Mei—26 November 1817. Pemimpin perlawanan ini ialah Thomas Matulesia (Matulessy). Ia dipercaya memimpin karena memiliki pengalaman militer sebagai Sersan Mayor dalam Korps Ambon selama pemerintahan Inggris di Maluku. Sebagai pemimpin perlawanan, Thomas Matulesia diberi gelar Kapitan Pattimura, artinya Pati Muda atau Pemimpin Muda.

Melalui artikel ini kita diajak menyusuri sejarah perlawanan Kapitan Pattimura, mulai dari pembahasan mengenai perlawanan yang dilupakan sejarah, dilahirkan oleh kekecewaan, gagalnya pemerintahan kolonial, mengukuhkan ikatan dengan penjajah, narasi nasional, hingga pesan untuk membaca sejarah dengan lebih jujur.

Mena Muria!

Perlawanan yang Dilupakan Sejarah, atau Simbol Nasionalisme yang Salah Baca? Ketika nama Thomas Matulesia atau “Pattimura” disebut dalam pelajaran sejarah Indonesia, kita cenderung mengaitkannya dengan semangat nasionalisme, simbol perlawanan terhadap kolonialisme, dan bahkan cikal bakal perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namun, jika kita menyimak lebih dekat melalui kajian mendalam yang ditulis oleh P.J.M. Noldus di atas, gambaran itu ternyata jauh lebih kompleks, bahkan mengganggu narasi yang selama ini kita anggap mapan.

Perlawanan yang Dilahirkan oleh Kekecewaan, Bukan Nasionalisme Perlawanan Pattimura tahun 1817 bukan dimotivasi oleh cita-cita Indonesia merdeka seperti yang kita kenal sekarang. Ia lahir dari ketegangan lokal yang telah membara lama — kekecewaan mendalam terhadap kembalinya kekuasaan Belanda yang otoriter setelah tujuh tahun pemerintahan Inggris yang relatif lunak dan adaptif.

Kapitan Pattimura bukanlah simbol “nasionalisme Indonesia”, melainkan ekspresi krisis identitas masyarakat Ambon yang kecewa. Banyak dari mereka, termasuk eks-prajurit Ambon Corps, kehilangan status dan perlindungan setelah Inggris pergi. Para guru sekolah yang selama masa Inggris mendapat dukungan moral dan material, kini terpinggirkan. Dan lebih dalam lagi, ada trauma kolektif masyarakat Kristen Ambon terhadap kerja paksa, upeti, dan korupsi ala VOC yang dianggap akan kembali bersama administrasi Belanda.

Gagalnya Pemerintahan Kolonial: Meledaknya Ketegangan Struktural Belanda, dalam upayanya memulihkan tatanan lama, gagal memahami realitas baru yang telah tumbuh selama masa interregnum Inggris (1810 — 1817). Pejabat-pejabat yang dikirim tidak kapabel, seperti Resident Saparua yang ditunjuk berdasarkan koneksi keluarga, bukan keahlian. Administrasi Belanda berusaha mengembalikan kontrol tanpa menyadari bahwa tatanan sosial-politik Maluku telah berubah secara mendalam.

Ketika perlawanan akhirnya meledak pada 14 Mei 1817, itu bukan karena hasrat membentuk negara Indonesia, melainkan karena rasa ditinggalkan dan ketidakpercayaan pada sistem kolonial yang gagal memberi rasa aman dan adil.

Perlawanan yang Dihabisi, Tapi Mengukuhkan Ikatan dengan Penjajah Ironisnya, pemberontakan ini, yang penuh semangat dan darah, berakhir tidak dengan kemerdekaan atau bahkan otonomi, melainkan dengan hukuman mati dan represi. Kapitan Pattimura digantung dan para pemimpin lainnya dibuang. Namun yang mengejutkan adalah: dalam dekade-dekade setelah perlawanan, masyarakat Kristen Ambon justru menjalin hubungan yang makin erat dengan Belanda.

De Kock, gubernur yang menggantikan setelah perlawanan, mengadopsi pendekatan kooperatif: menghapus ekspedisi hongi, mengurangi kerja paksa, dan memberikan sagu murah. Dalam waktu singkat, Maluku atau Moluccas menjadi “provinsi ke-12 Belanda”. Banyak penduduk Ambon masuk dinas militer dan birokrasi kolonial, menjadikan mereka mitra strategis Belanda yang loyal — sebuah ironi bagi sejarah kemerdekaan nasional.

Narasi Nasional: Simbolisme yang Direbut Sejarah Modern Hari ini, Kapitan Pattimura dikenang sebagai pahlawan nasional. Tapi seperti dicatat Noldus, label itu mungkin lebih mencerminkan kebutuhan politik modern daripada kenyataan sejarah. Jika kita membaca ulang dokumen-dokumen waktu itu, tidak ada bukti kuat bahwa Kapitan Pattimura memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Yang ada adalah perjuangan mempertahankan harkat komunitasnya dari ancaman tatanan kolonial yang brutal.

Apakah itu membuat perjuangannya kurang sah? Tentu tidak. Justru itu memperkaya cara kita memahami sejarah Indonesia — sebagai kumpulan perlawanan lokal yang unik, yang tidak selalu bermuara pada nasionalisme terpusat, tetapi pada pembelaan terhadap martabat, tanah, dan keadilan menurut versi masyarakat lokal.

Akhir Kata: Kita Butuh Membaca Sejarah Lebih Jujur Tesis P.J.M. Noldus mengajak kita untuk membebaskan sejarah dari romantisme dan simbolisme berlebihan. Kapitan Pattimura bukan hanya pahlawan nasional; ia adalah suara kekecewaan, simbol hilangnya kepercayaan, dan korban dari sistem kolonial yang membenturkan ideologi dengan realitas sosial. Dalam mengenangnya, kita bukan hanya mengulang narasi kebangsaan, tetapi juga menengok ke dalam luka-luka kolektif yang masih mungkin berbicara pada kita hari ini.

Mena Muria!

Artikel ini dihadiahkan kepada seluruh anak-cucu dari Negeri Para Raja yang baru saja merayakan Hari Pattimura ke-208 Tahun, pada 15 Mei 2025. Ingat selalu pesan terakhir dari Antua Tete, Kapitan Pattimura: “nunu oli, nunu seli, nunu karipatu, patue kari nunu”. Saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah beringin besar dan setiap beringin besar akan tumbang tapi beringin lain akan menggantinya (demikian pula) saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah batu besar dan setiap batu besar akan terguling tapi batu lain akan menggantinya.


메타데이터
post_id
3bbdb2fd4dfe
slug
perlawanan-pattimura-1817-3bbdb2fd4dfe
url
https://medium.com/@ianooo/perlawanan-pattimura-1817-3bbdb2fd4dfe
canonical_url
https://medium.com/@ianooo/perlawanan-pattimura-1817-3bbdb2fd4dfe
author_url
https://medium.com/@ianooo
status
ok
fetched_at
2026-06-25 16:53:31