← Back to list

Between a Gun and Kamu

-3363

Dleenim · 2026-06-13 00:01 · 4 claps · 4.4 min read
#alternative-universe #f1 #russtappen #fanfiction #bxb
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space ✍️ · Writing & Creative 🏆 · Sports · General

Between a Gun and Kamu

-3363

Pinterest: nogitsune

Pinterest: nogitsune

The village woke before the sun.

Kabut masih menggantung di atas ladang gandum ketika seorang pria tinggi dengan topi jerami berjalan sambil membawa ember berisi pakan ayam. Tangan kasarnya sudah terbiasa dengan tanah. Sepatu boots-nya penuh lumpur. Wajahnya mulai dihiasi garis-garis lelah yang tidak pernah ada sepuluh tahun lalu.

No one here knew his real name.

Mereka hanya mengenalnya sebagai George, si petani yang tinggal sendirian di rumah kayu kecil di pinggir desa kecil di Swiss.

Tidak ada yang tahu kalau dulunya,

George Russell adalah salah satu agen terbaik yang pernah dimiliki F1.

He disappeared seven years ago.

Not because he failed.

Because he was tired.

Tired of blood.

Tired of funerals.

Tired of losing people he loved.

Especially one.

Sebuah televisi tua di dapur menyala pelan.

BREAKING NEWS

“An unidentified CIA operation has failed in Eastern Europe. One senior operative is believed to have been captured by military officials connected to an international corruption conspiracy.”

George bahkan tidak menoleh.

Ia menuang kopi.

“…the operative has been unofficially identified as …“

He froze.

“…Max Emilian Verstappen.”

Cangkir di tangannya jatuh.

Pecah.

Silence enveloped the corners of his heart.

That night…

George membuka papan lantai rumahnya.

Di bawahnya masih tersimpan koper hitam yang sudah berdebu.

He hadn’t touched it for seven years.

Inside…

Two pistols.

Three passports.

A combat knife.

Encrypted phone.

A watch capable of hacking secure networks.

Dan sebuah cincin kecil yang belum pernah sempat dipakainya.

George menatapnya cukup lama.

“…Damn you, a Dutchman.”

Seven years ago…

“F1?”

Max tertawa kecil sambil mengokang pistol.

“CIA.”

George membalas dengan senyum tipis.

“What a surprise.”

Mereka berdiri saling membidik di sebuah gudang tua.

Misi yang sama.

Target yang sama.

Negara berbeda.

Loyalitas berbeda.

“Move.”

“You move.”

“You first.”

“You wish.”

Lima menit kemudian,

Mereka justru bertarung berdampingan melawan dua puluh agen bayaran.

It was always like that.

Mereka rival.

Mereka musuh.

Mereka pasangan.

Tidak pernah ada definisi yang benar.

Sometimes they kissed after pointing guns at each other.

Sometimes they argued while stitching each other’s wounds.

Sometimes they spent Christmas in different countries

pretending they weren’t waiting for a message saying,

“I’m alive.”

“Come with me, Love.”

George pernah berkata suatu malam.

“Leave the CIA.”

Max menggeleng.

“You know I can’t.”

“Then I can’t stay…”

Malam itu mereka berpisah.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada tangisan.

Hanya dua orang yang sama-sama memilih pekerjaannya,

Sambil berharap suatu hari keputusan itu tidak menghancurkan mereka.

Hari ini,

George masuk ke markas F1 tanpa pemberitahuan.

Semua orang sudah berhenti bekerja.

One of the analysts whispered,

“…He’s alive.”

Direktur operasi, Toto Wolff, hanya menatapnya lama.

“I thought you retired.”

“I did.”

“So why are you here?”

George meletakkan foto sebuah satelit kasar ke atas meja.

Foto sebuah fasilitas rahasia.

“They took Verstappen.”

“He’s CIA.”

George mengangkat wajah.

“I wasn’t asking permission.”

Three days later,

Gunfire echoed across the frozen mountains.

George bergerak seperti dirinya tujuh tahun lalu.

Cepat.

Presisi.

Mematikan.

Satu demi satu penjaga jatuh.

Alarm berbunyi.

Ledakan mengguncang hampir sebagian gedung.

“Cell B-17!”

Teriak salah satu tahanan yang berhasil kabur.

George mendobrak pintu besi.

Di dalamnya,

Max terduduk di lantai.

Wajahnya penuh lebam.

Bibirnya pecah.

Tangannya diborgol.

Namun ketika melihat George…

Ia tertawa kecil.

“…Took you long enough.”

George menghela napas.

“You look terrible.”

“So do you.”

George tersenyum tipis.

“Good.”

“You actually came.”

George membuka borgol Max.

“I was growing tomatoes.”

“…”

“They were doing well.”

Max tertawa pelan.

“You left your farm…”

“…for me?”

George tidak menjawab.

Ia hanya menyodorkan pistol.

“Can you still shoot?”

Max mengecek a loaded revolver.

“Always.”

Mereka berlari keluar.

Koridor dipenuhi anggota badan intelijen.

Peluru berhamburan.

Back to back.

Like they used to.

“You still reload too slow.”

“You still complain too much.”

“I missed you.”

George berhenti sepersekian detik.

“…Not now.”

“I know.”

Atap gedung,

Helikopter yang seharusnya menjemput mereka ditembak jatuh.

Boom.

Api membumbung tinggi.

Tidak ada jalan keluar.

Hanya tepian gedung.

Dan jarak sekitar tiga puluh meter menuju bangunan sebelah.

“It won’t hold.”

Max melihat jembatan darurat yang mulai runtuh.

George mengangguk.

“I know.”

Suara langkah kaki mendekat.

Puluhan agen badan intelijen mengepung mereka.

George menarik napas.

“Run.”

Mereka berlari.

Jembatan runtuh tepat di belakang.

Max hampir sampai,

Saat sebuah ledakan menghancurkan sisi bangunan.

Lantai di bawahnya pecah.

“No — “

Max terjatuh.

Tubuhnya melayang ke bawah.

Everything became slow.

George berlari sekuat tenaga.

“No!”

He jumped.

Without thinking.

Without calculating.

Without caring if he would survive.

All he saw…

was Max.

George berhasil meraih pergelangan tangan Max.

Mereka bertabrakan di udara.

Lalu menghantam atap sebuah mobil lapis baja di bawah.

Dentuman keras mengguncang jalan.

Debu memenuhi udara.

Everything was suddenly silent.

Max membuka mata lebih dulu.

“…George?”

George masih memeluknya.

Masih memastikan tubuh Max terlindungi saat benturan.

Barulah rasa sakit datang.

Tidak bisa bergerak.

Dua lengannya patah.

Napas George tercekat.

“…Max…”

Max langsung panik.

“No, no… George!”

Ia menggenggam wajah George dengan tangan gemetar.

“Stay with me, Schatje.”

George tersenyum kecil.

“…See?”

“What?”

“I told you…”

Ia terkekeh pelan meski wajahnya menahan nyeri.

“…I’d save you.”

Air mata Max jatuh begitu saja.

“You idiot…”

“You absolute idiot.”

George tertawa pelan.

“Worth it.”

Sebuah ambulans rahasia melaju di tengah hujan tak bertuan.

George terbaring dengan kedua lengan yang sudah dibidai.

Untuk pertama kalinya,

Tidak ada senjata.

Tidak ada misi.

Tidak ada urusan negara.

Hanya mereka berdua.

Max duduk di sampingnya.

Diam.

Lama sekali.

Lalu perlahan menggenggam tangan George.

“…Schatje.”

George membuka mata.

“Hm?”

Suara Max bergetar.

“I spent seven years convincing myself that leaving you was the right thing.”

George tidak berkata apa-apa.

“I told myself countries mattered more.”

“…”

“I told myself duty came first.”

Max tersenyum pahit.

“It never did.”

George memandangnya lekat.

Max mengusap air mata yang bahkan tidak ia sadari telah jatuh.

“So…”

Ia menarik napas panjang.

“Let me come back to you.”

George menatap wajah yang selama bertahun-tahun hanya bisa ia lihat lewat laporan intelijen dan berita rahasia.

Lalu ia tersenyum.

Senyum paling hangat yang pernah Max lihat.

“You never really left.”

Max tertawa kecil di sela isaknya.

“Does this mean…”

George menyela.

“…you’ll help me harvest tomatoes?”

Max mengangkat sebelah alis.

“After everything we’ve been through…”

“…that’s your proposal?”

George mengangguk.

“I’ve heard farming is less dangerous than espionage.”

Tiba-tiba sopir ambulans berdeham dari depan.

“I’d like to disagree.”

Mereka berdua tertawa.

Untuk pertama kalinya,

Bukan karena berhasil menyelesaikan misi.

Bukan karena lolos dari kematian.

Tetapi karena akhirnya…

They had something worth coming home to.

The world would remember them as legendary spies.

History would remember them as rivals.

But when the dust settled,

George only wanted to be a farmer.

And Max,

Only wanted to go home.

-Fin


메타데이터
post_id
3bca2e5e932d
slug
between-a-gun-and-kamu-3bca2e5e932d
url
https://medium.com/@dleenim/between-a-gun-and-kamu-3bca2e5e932d
canonical_url
https://medium.com/@dleenim/between-a-gun-and-kamu-3bca2e5e932d
author_url
https://medium.com/@dleenim
status
ok
fetched_at
2026-08-01 19:53:43