Maafkan, level kita cuma manusia bukan malaikat
Kalau misal terpaksa berbuat jahat karena tuntutan keadaan, ya diukur dan diperkiran biar tidak berlebihan. Namanya juga manusia, kok.
Maafkan, level kita cuma manusia bukan malaikat

Sumber: Satriya Aji, Pinterest.
Kemarin sore, seorang teman berniat silaturrahmi ke rumah untuk sekadar melepas penat — dari sebuah kegiatan bersama seorang penulis sekaligus tokoh aktivis perempuan dari Jogja — sambil menikmati beberapa batang rokok djarum super kesukaannya di rumah saya. Naas, dalam perjalanan menuju ke rumah saat ia ingin berbelok ke sebuah toko, ia mengalami kecelakaan tunggal dan membuat tangan kirinya terkilir.
Akhirnya, ia saya bawa ke seorang spesialis pijat patah tulang setelah sebelumnya mampir ke bengkel untuk memeriksa kondisi sepeda motor yang dikendarainya.
Setelah urusan pijat dan pemeriksaan motor beres, ia dan dua teman lainnya kembali ke rumah.
Sampai di rumah, kami semua mulai berbicara berbagai hal. Seperti kebiasaan kami ketika bertemu dan berjumpa di warung kopi, teman yang tangannya terkilir ini memang suka memberi wejangan dari soal-soal remeh hingga yang berat-berat.
Dan kemarin, ia kembali mengulang pembicaraannya mengenai “tabur tuai”. Baginya, sekecil apa pun tindakan kita pada orang lain, sesuatu yang ada di luar diri kita, akan berdampak juga pada kita.
Saya pun teringat dua tokoh filsuf bernama Jean Paul-Sartre dan Emmanuel Levinas yang berbicara mengenai “liyan”. Istilah “Liyan” berasal dari bahasa Indonesia yang diadaptasi dari konsep “the Other” dalam filsafat. Dalam konteks filsafat eksistensialisme dan fenomenologi, istilah ini merujuk pada seseorang atau kelompok yang dianggap “lain” atau berbeda dari diri kita sendiri atau kelompok yang dominan.
Sartre membahas konsep “the Other” sebagai sesuatu yang esensial dalam membentuk identitas diri kita, yaitu bahwa keberadaan orang lain membantu kita menyadari keberadaan kita sendiri melalui proses yang seringkali penuh konflik atau ketegangan. Levinas, di sisi lain, menekankan bahwa “the Other” harus diperlakukan dengan etika yang mendalam, karena kita memiliki tanggung jawab moral terhadap orang lain.
Di Indonesia, istilah Liyan banyak digunakan dalam diskusi sosial, budaya, dan politik untuk menggambarkan individu atau kelompok yang termarjinalkan atau dianggap berbeda — seperti etnis minoritas, kaum miskin, atau kelompok dengan identitas gender yang tidak konvensional.
Senapas dengan Jean Paul-Sartre dan Emmanuel Levinas, teman saya yang terkilir ini sebenarnya juga ingin mengungkapkan bahwa posisi kita, manusia ini, memiliki batas kebebasan, batasan moral, batasan tindakan, batasan ucapan kepada “the Other”, sekaligus tanggungjawab moral untuk memperlakukan liyan dengan etika kemanusiaan. Dengan nada emosional dan air wajah yang serius, ia dengan tegas bilang, “Saya percaya, ‘tabur tuai’ itu tidak pernah ingkar. Sekecil apa pun yang kita tanam, suatu hari nanti akan kita petik dan nikmati buahnya. Hati-hati untuk tidak berbuat jahat sama orang. Kalau misal terpaksa berbuat jahat karena tuntutan keadaan, ya diukur dan diperkiran biar tidak berlebihan. Namanya juga manusia, kok. Jahat dan kebaikan itu kan saudara kandung kita. Emang kita malaikat, kok dipaksa berbuat baik terus?”
Dalam menjelaskan ini semua, ia kerap menggunakan term “human is human”. Baginya, kemenagan ideologi dunia, pada akhirnya adalah ideologi manusia; yang tidak muluk-muluk tetapi konkrit.
Lama-lama, setelah saya pikir-pikir, ada benarnya juga. Problem sosial kita ternyata selama ini adalah problem identitas. Diam-diam kita melakukan kebaikan tidak didasari oleh motif “kemanusiaan”, melainkan akumulasi kapital untuk menumpuk popularitas atau elektabilitas, misalnya. Dan apakah ini salah? Ya, tidak juga. Namanya juga manusia.
Dalam sebuah surat di dalam Al-Qur’an, manusia adalah makhluk yang memang berpotensi berbuat kerusakan sekaligus kebaikan di Bumi.
Diterangkan dalam surat Al-Baqarah ayat 30:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-Baqarah: 30)
Dalam dialog ini, malaikat mengajukan pertanyaan karena mereka mengetahui bahwa makhluk yang diberi kehendak bebas, seperti manusia, bisa melakukan kerusakan. Namun, Allah menjelaskan bahwa Dia memiliki pengetahuan yang lebih luas dan mengetahui hal-hal yang tidak diketahui oleh malaikat, termasuk hikmah dari penciptaan manusia.
Ayat ini mengandung berbagai tafsiran, salah satunya bahwa manusia, meskipun berpotensi untuk berbuat kerusakan, juga memiliki kemampuan untuk menjadi khalifah di bumi, membawa kebaikan, dan menjalankan amanah Allah.
Sampai di sini, jelas ya, kalau manusia itu tidak dapat sepenuhnya baik. Begitu pun sebaliknya. Jadi ngga usah fanatik jadi malaikat yang tidak berbuat dosa dan menjadi malaikat untuk menghakimi dan mencatat amal orang lain. Ingat, setiap makhluk yang Tuhan ciptakan sudah punya tugas masing-masing. Jadi jangan rebut tugas makhluk lain.
Masih untung kita diciptakan dan dilahirkan sebagai manusia. Bisa dibayangin kalau kita beneran diciptakan dan dilahirkan sebagai ikan gabus. Betapa amat sangat sempit dunianya; dunia air saja. Kan kalo ikan gabus tidak dapat jatah dan kemampuan buat merokok, ngopi, naik sepeda, pacaran, baca buku, atau apa pun itu. Bercita-citalah jadi manusia saja. Nikmati.
Menjelang maghrib, sekitar jam 04.48 WIB, mereka bertiga pamit pulang. Dengan tangan yang masih nyeri, ia tidak lupa mengucapkan “terima kasih”. Kadang kala, kebaikan-kebaikan itu memang tidak selalu hadir dan lahir di majelis ilmu atau pengajian umum. Bisa jadi saat ada teman Anda yang tangannya terkilir, ia dapat menjadi guru kehidupan, sebijak-bijaknya. :)
메타데이터
- post_id
- 3bd9914f6ea5
- slug
- maafkan-level-kita-cuma-manusia-bukan-malaikat-3bd9914f6ea5
- url
- https://medium.com/@rofiqideni/maafkan-level-kita-cuma-manusia-bukan-malaikat-3bd9914f6ea5
- canonical_url
- https://medium.com/@rofiqideni/maafkan-level-kita-cuma-manusia-bukan-malaikat-3bd9914f6ea5
- author_url
- https://medium.com/@rofiqideni
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-27 07:40:21