Mengapa seorang Guru harus mulai Menulis? — Buletin
Ada yang bilang menulis bisa memperpanjang usia. Namanya akan dikenang melalui tulisan-tulisannya. Seperti Chairil Anwar, Sapardi Djoko…
Mengapa seorang Guru harus mulai Menulis? — Buletin

Ada yang bilang menulis bisa memperpanjang usia. Namanya akan dikenang melalui tulisan-tulisannya. Seperti Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, J.K. Rowling; nama mereka masih saja disebut-sebut.
Itu tulisan-tulisan yang dikenal. Bagaimana jika hanya nongkrong di blog pribadi saja? Atau hanya sekadar ditulis tapi tidak pernah dipublikasikan?
Menulis Notulen Rapat
Saya termasuk generasi milenial. Tumbuh dan berteman dengan orang-orang yang usianya variatif. Namun lebih nyaman dengan sebaya.
Dengan orang yang lebih tua kadang merasa canggung, sehingga kurang suka cari tahu apa yang mereka lakukan.
Ini sering terjadi di kegiatan rapat. Di mana mereka selalu mencatat di buku, dari awal sampai akhir. Dari salam, informasi yang tergolong general (menurut saya), hingga beberapa poin penting.
Saya lebih suka mencatat hal-hal penting saja. Itu pun saya buat sesingkat mungkin di aplikasi catatan di HP. Dalihnya, kalau lupa lebih gampang dibuka.
Catatan itu hampir tidak pernah dibuka. Bukan karena tidak lupa, tapi karena malas buka atau benar-benar lupa sudah pernah mencatatnya.
Kenapa sih harus dicatat semua?
Itu yang saya tanyakan (di dalam hati, tidak diucapkan).
Atau
Lebay banget, semuanya ditulis.
Padahal, kegiatan itu bukan semata sebagai pengingat ketika nanti lupa dengan materi yang disampaikan dalam rapat tapi juga sebagai latihan dalam menuangkan informasi yang ditangkap menjadi tulisan yang bisa dipahami; minimal diri sendiri.
Menulis Soal
Setiap pembelajaran, guru perlu menyusun soal-soal berdasarkan materi yang sudah diajarkan. Tujuannya adalah untuk mengukur apakah sudah tercapai Tujuan Pembelajarannya atau belum, entah itu soal-soal untuk penilaian formatif maupun sumatif.
Soal-soal yang diketik manual, akan jauh lebih bermakna; baik dari segi pengalaman yang didapatkan guru ketika menyusunnya maupun hasil dari tulisannya yang dalam bentuk soal itu.
Dan itulah yang menjadikan profesi guru bisa disebut profesional, tidak sembarangan orang bisa melakukannya. Dengan catatan hal ini benar-benar dilakukan setiap hari.
Tulisan ini ditulis di era perkembangan Kecerdasan Artifisial (KA). Tulisan-tulisan saya dalam akun Buletin ini ada yang dibantu KA dan akan saya sebutkan jika dalam penulisannya dibantu oleh Kecerdasan Artifisial. Dan untuk tulisan ini, tanpa bantuan KA.
Kenapa? Padahal kan gampang banget, tinggal minta AI untuk menulis topik apa yang mau dimuat di Buletin.
Bener banget, tidak ada salahnya minta bantuan KA. Tapi, jadi nggak sinkron kan isi dengan judulnya kalau tidak ditulis secara otentik 😅 .
Oke, untuk menulis prompt atau perintah dengan ChatBot AI (Kecerdasan Artifisial) juga tidak sembarangan langsung jadi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar apa yang kita minta sesuai dengan keinginan dan harapan. Perlu dibahas juga atau tidak untuk bagian ini ya? Nanti coba saya buat di artikel berikutnya ya.
Tapi, kemampuan menulis prompt itu sebenarnya gampang. Secara singkat, pola dari AI adalah mengumpulkan dan membaca data yang kita berikan lalu mengolahnya sesuai perintah.
Dan kebanyakan guru sudah banyak yang menggunakan AI ini, tapi entah benar-benar digunakan untuk pembelajaran atau sekadar untuk lucu-lucuan saja.
Yang sering saya temui, AI dipakai untuk edit foto di peringkat pertama, diikuti membuat modul ajar (atau RPP), dan yang ketiga membuat soal.
Menulis Catatan Wali Kelas
Setiap semester, ada saja yang minta template untuk dimasukkan di kolom catatan wali kelas ke saya. Padahal, yang menjadi wali kelas, yang mengamati, dan yang lebih paham kan bukan saya seharusnya 😅 .
Itu karena guru kurang percaya diri untuk “menulis” di sana. Padahal menurutku catatan wali kelas itu termasuk bagian rapor yang penting untuk diketahui oleh wali siswa.
Menjadi jembatan komunikasi satu arah dan refleksi bagaimana anak mereka selama satu semester berkembang bersama guru-gurunya di sekolah.
Saya pernah membuat semacam template untuk membantu guru “menulis” catatan wali kelas. Mereka tidak perlu repot ngetik manual, tetapi tetap ngena isi catatan wali kelasnya.
Yang mau coba, silakan bisa klik link ini: Template Pengolahan Nilai Rapor dan Catatan Wali Kelas.
Kalau kamu, pernah nulis untuk mengasah kemampuan nulis seperti apa nih sebagai guru? Coba komen ya…
Originally published at https://buletin.co on October 29, 2025.
메타데이터
- post_id
- 3be1c9d02a9d
- slug
- mengapa-seorang-guru-harus-mulai-menulis-buletin-3be1c9d02a9d
- url
- https://medium.com/@ferifajars/mengapa-seorang-guru-harus-mulai-menulis-buletin-3be1c9d02a9d
- canonical_url
- https://medium.com/@ferifajars/mengapa-seorang-guru-harus-mulai-menulis-buletin-3be1c9d02a9d
- author_url
- https://medium.com/@ferifajars
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-16 00:29:35