Waktu Bersama Anak yang Semakin Menipis
Cerita: Sadar Keterbatasan Menumbuhkan Rasa Menghargai
Waktu Bersama Anak yang Semakin Menipis
Cerita: Sadar Keterbatasan Menumbuhkan Rasa Menghargai
Ternyata benar, ketika menyadari keterbatasan, barulah kesadaran menghargai muncul.

Saya dan Mahduf Ikhwan, Zaky dan Saut Situmorang. Kami berkesempatan membaca puisi di depan Saut Situmorang. (Dokumentasi Penulis, 2026). Video pembacaan puisi ada di Sigid channel, di bagian akhir.)
Saya sedang dalam fase menyadari keterbatasan waktu bersama anak. Maka, saya sangat menghargai waktu bersama anak. Memanfaatkan sebaik-baiknya. Tak jarang, jauh hari sebelum waktu kebersamaan itu tiba, ada beberapa pilihan rencana yang telah saya siapkan.
Dulu, sebelum kerja di luar kota, hal ini tidak pernah terjadi. Atau terjadi tapi sangat jarang. Karena setiap hari bertemu: makan, tidur, mandi, main hampir selalu bersama-sama, waktu bersama terasa biasa saja. Tidak ada rasa sayang dan bersalah, saat suatu rencana tidak terlaksana. Tidak terlaksana hari ini, ya dilakukan besok, atau besoknya lagi. Begitu mudah merelakan kesempatan waktu bersama itu berlalu. Setiap pagi, kesempatan mengantar anak ke sekolah saya lewatkan begitu saja. Terkadang, malah butuh memaksakan diri untuk melakukannya.
Kini, setelah bekerja di luar kota, merasakan betapa terbatasnya waktu bersama, semua itu terbalik.
Ada rasa kesal yang tak kunjung hilang saat waktu bersama yang telah direncanakan tak terealisasi. Baru terasa, kesempatan mengantar anak ke sekolah adalah sebuah kemewahan yang dulu saya sia-siakan. Kini agar bisa mengantar anak sekolah, perlu mengambil cuti hari senin atau hari sabtu.
Menyempitnya waktu bersama anak, adalah satu dari konsekuensi paling berat hingga saat ini setelah dua tahun memutuskan kerja di luar kota. Untungnya, kerja di luar kota bukanlah keputusan yang saya tentukan sendiri. Keluarga kecil saya turut andil. Sehingga konsekuensi-salah satunya, sempitnya waktu bersama,- bisa kami atasi bersama-sama. Tentu keputusan itu berat bagi saya. Tapi ternyata, tidak hanya untuk saya. Juga berat untuk istri dan anak. Menyadari bahwa semua merasakan berat, maka ada saling pengertian yang muncul. Dan itu cukup, oh bangkan sangat. Sangat melegakan.
.
Kegiatan akhir pekan bersama
Selama dua tahun ini, hanya ada dua jenis kegiatan yang rutin kami lakukan bersama. Bersama-sama beres-beres rumah/berkebun atau mengunjungi teman yang seringkali dikemas dalam bentuk kegiatan literasi.
Setelah menikah dan menempati rumah kami sendiri, barulah saya sadar, pekerjaan ibu rumah tangga memanglah tiada habisnya. Bener kata seseorang, yang saya simak di sebuah reels. Kurang lebih katanya,
“Man work 9 to 5. But women work, even in their sleep.”
Sebelum saya hanya satu-dua hari di rumah dalam satu minggu kadang dua minggu, selalu ada saja pekerjaan rumah. Apalagi setelah saya tinggal. Agar tidak terbebani, kami memulai dengan penerimaan. Ya begitulah resiko punya rumah. Mesti mau beres-beres, mesti mau benerin kerjaan printilan-printilan: pipa bocor, genting bocor, ulah tikus, tokek, dll. Jadi kami benar-benar berlatih manajemen. Dari semua daftar pekerjaan rumah, mana dulu yang mau dibenerin? Mana yang paling berdampak. Karena kalau dipikir semua, ya pecahlah kepala kami.
.
Kumpul bersama teman
Ada satu keunggulan tinggal di tempat baru yang paling saya suka. Yakni, dalam berinteraksi, tidak ada bias atau ekspektasi dari masa lalu. Entah masa kecil, anaknya siapa, dll. Saya menjalin pertemanan dengan tetangga, komunitas atau teman baru dengan apa adanya kondisi kami sekarang. Kamipun memandang mereka dengan kondisi mereka saat itu. Tak peduli, dulu mereka atau keluarga mereka seperti apa.
Salah satu tempat yang sering kami kunjungi bersama adalah Lentera Kisik. Sebuah basecamp literasi di kecamatan Kragan, Rembang. Sore hari adalah waktu favorit kunjungan kami. dimana zaky dan saya masih bisa bermain/mandi di pantai. Istri bisa bersantai menikmati angin, sambil fokus ke hp: jualan online.
Malamnya, hingga pukul 22.00, akan ada saja satu dua orang atau rombongan teman-teman pegiat literasi yang datang. Entah sudah dengan agenda atau hanya sekedar ngopi. Bagi saya, ngobrol tanpa agenda itu tetap penting. Malah dari sana terjalin ikatan yang kuat. Ketika suatu saat ada kegiatan bersama, hambatan komunikasi sudah tipis. Mudah mengatasinya.
Oh iya, malam ini (30 April 2026) di sana sedang berlangsung nonton bareng film “Pesta Babi.” Film garapan Dandhy Laksono dkk.

Teman-teman pegiat literasi Rembang bersama Mahfud Ikhwan. (Dokumentasi Panitia.)
Awal april 2026, ada kegiatan literasi bertajuk Parade Sastra Bercerita II yang digawangi oleh Komunitas Lubuk Ilmu, dibantu rame-rame komunitas lain. Orang-orang yang bergerak, ya itu-itu saja. Karena sudah saling kenal, gerak kerjasamanya lebih harmonis.
Pertemuan saya dengan kawan-kawan Rembang saat mengajak keluarga keluar rumah, orangnya ya itu-itu saja. Ya yang berkumpul di acara itu. Meski begitu, tema pembicaraan pada tiap kesempatan selalu berkembang. Setiap orang membawa isu/informasi dari latar belakang masing-masing untuk dibahas bersama. Seringkali merasa kekurangan waktu
Bersama mereka, saya bisa menyalurkan hobi. Istri bertemu teman baru. Kadang menjadi lebih akrab dengan istri daripada dengan saya. Zaky, bisa bebas bermain, berkenalan, dan melihat siapa dan seperti apa teman-teman Ayahnya. Mungkin ada salah satu dari mereka yang menjadi favorit Zaky.
Waktu bersama di Sidoarjo
Karena suatu kepentingan, Zaky untuk sementara ikut saya di Sidoarjo. Sebuah kesempatan yang saya sambut dengan gembira.
Sempat ada kebingungan memikirkan bagaimana Zaky saat saya tinggal kerja pagi sampai sore. Seharian dia ngapain?
Untungnya ada seorang teman naik gunung yang bersedia saya titipin. Dia menekuni kebun. Beruntunglah zaky, bisa bermain di kebun.
Malam hari, barulah kami menghabiskan waktu bersama. Mengulangi kegiatan yang yang dulu kami lakukan bersama-sama sebelum saya bekerja di luar kota. Main ke lapangan di sore hari. Keluar jalan kaki mencari makan. Membacakan buku cerita sebelum dia tidur, atau saling bercerita tentang kegiatan hari ini.
Terakhir, saya ajak dia menengok stadion Delta, area lumpur Lapindo, Porong dan mampir ke Gramedia Sidoarjo.
Seminggu pertama seru. Minggu kedua, saya menyadari satu hal. Mungkin karena lelah.
“Oh mungkin ini yang dimaksud istriku. Terkait hal yang sering aku remehkan saat ia berkeluh kesah tentang anak kami.” wkwkw
Sidoarjo, 30 April 2026.
메타데이터
- post_id
- 3be23bf0aacf
- slug
- waktu-bersama-anak-yang-semakin-menipis-3be23bf0aacf
- url
- https://medium.com/@ahmadkhoiron/waktu-bersama-anak-yang-semakin-menipis-3be23bf0aacf
- canonical_url
- https://medium.com/@ahmadkhoiron/waktu-bersama-anak-yang-semakin-menipis-3be23bf0aacf
- author_url
- https://medium.com/@ahmadkhoiron
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 02:02:54