← Back to list

Khong Guan Isi Mayat

Untuk mereka yang gugur di tangan aparat dan tidak pernah pulang ke rumah karena sudah lebih dulu di akhirat.

cimy · 2026-04-12 12:28 · 0 claps · 2.3 min read
#cerpen #acab #1312
Open on Medium ↗

Khong Guan Isi Mayat

Untuk mereka yang gugur di tangan aparat dan tidak pernah pulang ke rumah karena sudah lebih dulu di akhirat.

Sumber: freepik

Sumber: freepik

Ambulans itu datang tanpa benar-benar datang.

Dari ujung jalan ia sudah terdengar, tapi ketika mendekat, suaranya tidak membesar — justru seperti masuk ke dalam kepala, menetap di sana, berputar pelan seperti sesuatu yang tidak diizinkan keluar.

Rodanya tidak menyentuh aspal, atau mungkin menyentuh tapi tidak mau meninggalkan bekas. Aku tidak yakin.

Yang aku tahu, Raden berdiri di sebelahku dan berkata dengan nada biasa saja, seperti menyebut cuaca, bahwa itu ambulans aparat.

Aku mengangguk, meskipun tidak ingat kapan terakhir kali melihat ambulans aparat membawa sesuatu yang masih hidup. “Kok cuma satu?” tanyaku.

Raden tersenyum kecil. Katanya, itu tidak pernah cuma satu. Yang banyak itu ada di dalam.

Ambulans itu berhenti tepat di depan kami tanpa benar-benar berhenti. Pintu belakangnya terbuka sendiri.

Tidak ada kursi di dalamnya, hanya susunan tubuh yang ditata rapi, berlapis-lapis, seperti biskuit di dalam kaleng.

Tidak ada yang terjatuh. Tidak ada yang bergeser. Seolah-olah mereka sudah sepakat untuk diam, bahkan setelah tidak perlu lagi diam.

Aku menatap lebih lama dari yang seharusnya, teringat pernah melihat wajah-wajah seperti itu di berita. Wajah yang diambil dari jarak jauh — atau dari sudut yang terlalu dekat.

Wajah yang dilindas sampai bentuknya tidak utuh lagi, atau yang dipukul berkali-kali sampai akhirnya berhenti bergerak.

Wajah-wajah itu biasanya hanya muncul sebentar, lalu digantikan oleh orang lain yang berbicara tentang ketertiban.

Aku tidak tahu apakah mereka orang yang sama … atau mungkin semua wajah memang akhirnya terlihat mirip kalau sudah tidak punya nama.

“Kalau penuh?” tanyaku lagi.

Raden hanya menunjuk ke arah rumah-rumah. Di setiap ruang tamu, ada satu kaleng Khong Guan di atas meja, disusun rapi seperti bagian dari tradisi yang tidak perlu dijelaskan. Semuanya tertutup. Semuanya terlihat sama.

Aku baru sadar sesuatu yang sederhana: tidak ada yang pernah benar-benar tahu isi kaleng itu sebelum membukanya.

Ambulans itu tidak mengangkat tubuh. Salah satu dari mereka bergeser sendiri, meluncur keluar dengan pelan, lalu masuk ke salah satu rumah seperti sudah tahu tempatnya.

Dari dalam, terdengar suara tutup kaleng dibuka — ringan, hampir sopan.

“Ambil kuenya, Nak,” kata seseorang. Anehnya, tidak ada yang berteriak. Aku juga tidak bergerak.

Raden menoleh. “Kamu belum buka punyamu?”

Aku melihat ke tanganku yang entah sejak kapan memegang satu kaleng yang sama. Hangat. Seperti baru diisi.

Aku menatap gambar di luarnya. Keluarga itu masih duduk rapi: tidak ada yang berkurang, tidak ada yang hilang.

“Buka,” kata Raden.

Aku ragu, bukan karena tidak mau, tapi karena aku merasa begitu tutupnya terbuka, aku tidak bisa lagi pura-pura tidak tahu.

Di dalam rumah-rumah, suara percakapan mulai terdengar. Kursi digeser, piring ditata — orang-orang tertawa seperti tidak ada yang berubah … seperti tidak ada yang pernah dibawa pergi.

Tanganku akhirnya bergerak pelan. Tutup kaleng itu berdecit saat diputar, seperti sesuatu yang sudah lama menunggu untuk dibuka.

Aku menunduk. Tentu, di dalamnya tidak ada biskuit. Tapi, juga tidak ada kerupuk — tidak ada apa-apa yang seharusnya ada di sana, hanya susunan yang rapi.

Dan di lapisan paling atas, aku melihat wajahku sendiri.

Seperti yang pernah kulihat di berita — diambil dari sudut yang tidak manusiawi, lalu ditayangkan sebentar sebelum diganti dengan penjelasan.

Aku tidak sempat menutupnya lagi.

Pintu ambulans tertutup. Sirine berhenti. Tiba-tiba, semuanya terasa seperti sudah selesai, padahal tidak ada yang benar-benar dimulai.


메타데이터
post_id
3c09ac44a9e2
slug
khong-guan-isi-mayat-3c09ac44a9e2
url
https://medium.com/@cimy/khong-guan-isi-mayat-3c09ac44a9e2
canonical_url
https://medium.com/@cimy/khong-guan-isi-mayat-3c09ac44a9e2
author_url
https://medium.com/@cimy
status
ok
fetched_at
2026-06-17 08:20:12