perspektif; Bagaimana Cara Baskara Putra Menulis dengan Sahih Pada Album "Lagipula Hidup Akan…
Dengan awalan yang gusar dan menyeramkan dari Malaikat Berputar di Atas Pencakar Langit. Bentuk album ini punya keresahan yang mendalam…
perspektif; Bagaimana Cara Baskara Putra Menulis dengan Sahih Pada Album "Lagipula Hidup Akan Berakhir."

https://open.spotify.com/album/0DMdiWcqnutCi81EqBXkF8?si=HFv_OQAYTJKGS0z2KfqWLg
Dengan awalan yang gusar dan menyeramkan dari Malaikat Berputar di Atas Pencakar Langit. Bentuk album ini punya keresahan yang mendalam terkait keberjalanan isu sosial dan geopolitik yang kian masif dari hari per hari yang entah sampai kapan akan selesai bobroknya.
Sukses hanya dipinjamkan, dan mungkin aku penyewa yang lihai. Hidup dalam angan-angan, di dalam kepala sibuk bertikai.
Per hari ini kita semua mati rasa, atas berbagai lirik berisi semesta. Yang berkata semua indah pada waktunya, kau tahu hidup ini tak ada artinya.
Yang bertahan itu milik saudagar, rempah-rempah sipil tetap banal pada karir dan pendapatan tak tetapnya. Bertahan pada ramai, Baskara tahu betul hidup semakin tak masuk logika. Miliki uang, dan pakai untuk beli kesuksesan dan kekuasaan. Sebentar mengeluh, kelak buatlah peraturan yang bisa untuk menyenangkan diri dan hati sendiri.
Pada Janji Palsu itu, kita semua tahu berat dan kesalnya kepala pada hidup yang begitu-begitu saja. Banyak tak adil, kemakmuran melekat pada jaket yang kaya-kaya saja. Pada yang berusaha dengan halus uang papa.
Kau tahu hidup ini tak ada artinya. Kau tahu, ku tak minta dilahirkan juga. Kau tahu semua uang ini tak berasa. Kau tahu karir ini tak ada artinya.
Untuk hidup Satu Hari Lagi, keinginan kita tak melimpah seperti yang ingin dikehendaki. Untuk hidup satu hari lagi, aku hanya ingin muntah sekali lagi, kenyang sekali lagi, dan menamatkan satu series sekali lagi untuk yang terakhir kalinya.
Album ini nyata bukan memberikan solusi atas masalah sosial dan politik, melainkan step baru untuk generasi yang harus menerima dan menari dengan keresahan hidup di tengah dunia yang terasa semakin tidak pasti. Pada album ini dijelaskan bahwa warisan buruk duniawi mulai terlihat pelan-pelan dari bermacam krisis iklim, inflasi, politik, hingga trauma dan mental yang kian rusak, serta menyebar hari per hari.
Pada kematian yang pasti juga, hidup yang tak ada artinya ini memberi ingatan dan closure pada lagu Siapa yang akan Datang ke Pemakamanmu Nanti? Apa kalimat terakhirmu untuk yang kaucinta?
Album ini benar-benar menyinggung rasa khawatir akan hidup di bawah dunia dengan bekal bekerja keras, tidak selalu menjamin kehidupan yang layak, juga kematian yang layak. Kenaikan biaya hidup, sulitnya memiliki rumah, persaingan kerja, dan tekanan finansial membuat banyak orang merasa masa depan semakin samar dan kabur. Bias.
Kecemasan seperti ini bukan hanya persoalan individu, tetapi juga persoalan sosial yang dapat memengaruhi keputusan hidup, misalnya mengesampingkan perihal cincin, menunda memiliki anak, atau mengejar cita-cita tertentu. Pola yang semakin seragam, bersamaan dengan berubahnya cara masyarakat berinteraksi dan bertetika sosial.
Berhenti, ulangi, psikolog, dan terapi. Aku isi bensin, kita coba lagi.
Pernyataan yang menarik dan juga lekat dengan diri masing-masing pada kita. Kehidupan progresif ini memang kian tak terorganisir. Keputusan yang menewaskan hati dan akal. Jiwa yang diangkat penguasa, semua bercampur pada satu keadaaan. Menelisik, bercampur menjadi satu masuk ke kuping-kuping kita.
Pada lagu Cincin, perspektif Baskara jelas tidak mencoba menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang sempurna. Dengan dibalut elemen lain, cinta tak hanya bergerak dengan campuran dua hati yang saling menopang. Melainkan punya peran dan andil besar pada keputusan politik dan perubahan sosial di sekitar.
Cincin bukan sebagai simbol pernikahan atau komitmen dua sejoli. Justru Cincin menjadi simbol untuk tetap tinggal bersama seseorang meskipun kita sadar bahwa masing-masing dari kita membawa luka, kebiasaan buruk, dan ketidakpastian. Lagu ini jelas didedikasikan Baskara untuk pasangannya sebagai bentuk refleksi hubungan yang realistis, bukan dongeng picisan romantis.
Pada lirik-lirik sederhana itu, kiannya semakin terasa arah bergerak yang sayu, namun terlihat wujud elok tak bagusnya. Tiga tahun berselang, cuaca dan alam seperti memberi isyarat pada ketidakbaikan hati dan perilaku manusia, mata uang yang rapuh per hari ini, dan hukuman yang mudah diberikan tanpa keputusan dan keberpihakan adil yang jelas. Bias, memahat rasa aman dengan berjabat kepada kepalsuan dan kemunafikan indeks hukum peradilan.
Semoga hidup kita terus begini-begini saja. Walau sungai meluap dan kurs tak masuk logika. Semoga kita mencintai apa adanya, walau katanya sekarang ku bisa masuk penjara.
Interpretasi ini terasa sangat berbeda dari banyak lagu cinta klise yang sering menggambarkan pasangan sebagai penyelamat. Dalam Cincin, justru menangkap pesan bahwa tidak ada yang benar-benar menyelamatkan siapa pun. Dua orang hanya berusaha saling menemani menghadapi dunia yang kian rumit. Tema ini selaras dengan nuansa besar pada album ini, Lagipula Hidup Akan Berakhir. Banyak menyinggung tentang ketidakpastian hidup dan berbagai warisan buruk duniawi.
Rupiah yang kian melemah, Indeks Harga Saham Gabungan hancur lebur ke bawah, pernyataan pidato presiden yang wibawa, adalah bentuk optimisme yang sangat dewasa. Bukan optimisme karena yakin semuanya akan baik-baik saja, melainkan karena memilih bertahan bersama meski sadar semuanya akan berantakan. Pada kaki yang bertumpu, harapan kita tertuang jelas pada lagu ini. Tak banyak embel-embel, hidup yang begini-begini saja, semoga bisa memberikan kita sedikit senyum untuk hari esok, nanti, sampai kita benar-benar mati. Perihal hari esok, 'tuk nanti dulu. Perihal bekal esok, biar kucari waktu.
Pada banyaknya lirik-lirik yang non-optimistis di album ini, terselip pertanyaan sederhana namun berkesan kuat:
"Bagaimana jika kita terus bertahan?"
"Bagaimana jika kita tetap bisa hidup seperti tak terjadi apa-apa?"
Secara personal, maknanya bukan sekadar "jangan menyerah" dalam arti motivasi yang umum. Tapi sebagai lagu tentang keberanian untuk tetap bermimpi ketika dunia memberi banyak alasan untuk kita berhenti. Membayangkan masa depan bersama orang yang kita cintai, mengantar dan menjemput anak-anak sekolah, dan belanja kebutuhan properti bersama orang yang kita sayang.
Bayangkan jika kita tidak menyerah? Tantangan apa pun dari Ayah atau dunia kita hadapi, kita lewati, kita ikuti, kita nikmati. Bayangkan jika kita tidak menyerah?
Dengan pesan yang pesimistis, pada harkatnya album ini mengingatkan kita pada:
"Ya, hidup akan terus berjalan."
"Ya, dunia punya banyak saku masalah."
"Ya, kita manusia."
"Dan ya, Lagipula Hidup Akan Berakhir."
메타데이터
- post_id
- 3c74ee1c9ff6
- slug
- perspektif-bagaimana-cara-baskara-putra-menulis-dengan-sahih-pada-album-lagipula-hidup-akan-3c74ee1c9ff6
- url
- https://medium.com/@90s.alfian/perspektif-bagaimana-cara-baskara-putra-menulis-dengan-sahih-pada-album-lagipula-hidup-akan-3c74ee1c9ff6
- canonical_url
- https://medium.com/@90s.alfian/perspektif-bagaimana-cara-baskara-putra-menulis-dengan-sahih-pada-album-lagipula-hidup-akan-3c74ee1c9ff6
- author_url
- https://medium.com/@90s.alfian
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 11:06:28