← Back to list

Mengasah Percakapan Terus-menerus

Sekilas Novel Babel, Karya R.F Kuang tentang Penerjemahan

Ahmad Khoiron in Bahas Bahasa · 2026-05-01 02:36 · 86 claps · 3.4 min read
#penerjemahan #novel #daridekat #sehari-hari #booknotations
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

Mengasah Percakapan Terus-menerus

Sekilas Novel Babel, Karya R.F Kuang tentang Penerjemahan

Bahasa, bila tidak diasah secara berkala, akan tumpul dan berkarat. Tidak hanya kosakata-kalimat-percakapannya, tapi juga pola pikirnya.

Adik ipar saya berasal dari keluarga Madura di salah satu desa Pasuruan, Jawa Timur. Setelah menikah, ia menetap di Malang. Bukan di lingkungan yang kesehariannya berkomunikasi menggunakan bahasa Madura. Hanya sesekali saja ia berbahasa Madura saat bertemu satu dua tetangga yang juga madura swasta ketika belanja di toko yang ia kelola. Atau saat ia pulang ke Pasuruan, yang ia lakukan kadang sebulan sekali.

Malam kemarin, di tengah acara kumpul keluarga, tetangga Madura Swasta kami belanja. Adik ipar yang melayani. Tentu pakai bahasa Madura. Obrolan mereka begitu gayeng. Entah apa yang dibicarakan, apa yang ditertawakan, diantara kami tidak ada yang mengerti.

Oh istri saya juga Madura swasta. Mengerti ketika mendengar percakapan bahasa Madura, tapi tak bisa menimpali. Namun, malam itu ia tidak ikut melingkar.

“Hmmm, ya gitu kalau lagi ketemu lawannya.” Sahut adik saya memberi komentar pada suaminya. “Dulu ketika Mbah Simun masih hidup, (salah satu tetangga paling dekat rumah yang bisa bahasa Madura), adalah lawan main yang hampir setiap hari ketemu. Entah di masjid, entah di warung. Sejak Mbah Simun meninggal, sudah tidak ada lawan bicara seintens itu. Katanya,- si suami- karena jarang bicara dengan bahasa Madura, banyak kosakata yang ia lupa. Saat ngobrol tiba-tiba saja macet.”

Sampul Novel. (Dokumentasi Penulis.)

Sampul Novel. (Dokumentasi Penulis.)

Apa yang dikatakan adik saya itu, -mengulang apa yang dikatakan suaminya- persis seperti yang disampaikan Prof. Swift kepada anaknya, Robin, dalam novel Babel, karya R.F. Kuang. Novel yang berkisah seputar dunia penerjemahan, berlatar kerajaan Inggris dan Cina, 1830an.

Robin adalah anak Prof swift dari Ibu Tionghoa yang besar dan lahir di Tiongkok. Dari kecil sudah dikondisikan untuk menjadi penerjemah. Menguasai bahasa Cina, sebagai bahasa ibu, dan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Pada usia remaja, ia diajak ke Inggris untuk sekolah penerjemahan. Ia digadang-gadang akan menjadi penerjemah Cina-Inggris handal.

Meskipun dipelajari sejak kecil, kemampuan bahasa Inggrisnya jauh tertinggal dibanding bahasa Mandarin. Maka, ekspektasi dia sejak awal setiba di Inggris adalah mendalami dan mempraktikkan bahasa Inggris. Ia kaget dan bertanya-tanya, saat diminta Proft Swift untuk meluangkan waktu bersamanya ngobrol dengan Bahasa Cina.

“Untuk apa? Bahasa Cinaku sudah lancar tanpa perlu dilatih?” katanya penasaran sekaligus jengkel karena merasa membuang-buang waktu yang mestinya bisa dipakai untuk melahap materi Bahasa Inggris.

“Kini kamu tidak tinggal di Tiongkok, tidak bercakap dengan orang Tiongkok. Lama-lama, bila tidak dilatih, meskipun ngobrol tentang topik sehari-hari yang ringan, kosakata mandarin mu akan pudar. Pemaknaan akan hambar. Tak hanya itu, cara berpikir (mencerna percakapan) cinamu akan segera tergantikan dengan cara berfikir dimana kini kamu tinggal dan menggunakan bahasanya dalam keseharian.”

Kekhawatiran Prof Swift itu, persis terjadi pada adik ipar saya. Mungkin juga pada kita yang kadar nilai ke-Jawa-annya mulai pudar, atau sama sekali hilang. Pada saya yang jarang melatih mandarin dengan sengaja di luar tempat kerja.

Jangankan bahasa Cina, bahasa Jawa yang merupakan bahasa ibu pun kini belepotan.

Apakah hal itu, terjadi pada kamu juga?

Ngomong-ngomong, setelah sekian tahun tidak tinggal di Jawa Timur sejak lulus SMA, kini saya tinggal di Sidoarjo. Dalam urusan bahasa sehari-hari saja, perlu waktu bagi saya untuk mencerna. Ada tiga kejadian terkait bahasa sehari-hari yang bikin senyum-senyum sendiri saat mengingatnya.

Beberapa waktu lalu bersama seorang kawan, ikut rombongan kegiatan penanaman bibit di area gunung Penanggungan. Waktu itu masih sering hujan. Jalanan ke titik penanaman, basah dan licin. Di tengah perjalanan, kala termehek-mehek bawa diri, ditambah bawa bibit, ada seorang teman yang ukuran tubuhnya di atas rata-rata, jatuh terpeleset. Bunyi gedebuk terdengar sampai ke belakang. Di belakang ada yang menyahut,

“lho opo iku? Cek Mas, nongko mateng koyok e.” (Lho apa itu? Cek Mas, sepertinya buah nangka masak yang jatuh) Disambut tawa teman yang lain. Yang jatuh pun ikut tertawa.

Beberapa menit kemudian saya baru ngeh. Oalah, itu ledekan.

Ada satu rekan kerja yang satu SMA dan satu kampung dengan saya. Banyak istilah yang kembali muncul saat kami ngobrol berdua. Salah satunya ngathar.

“Sek Mas, tunggu. Tak ngathar sek.” (Tunggu sebentar Mas, mau kencing dulu.)

“Asem, ngathar. Koyok jaran.” (Asem, ngathar. Mirip kuda.)

“Ngathar”(entah bagaimana penulisan yang benar) istilah untuk menunjuk kuda yang sedang kencing. Karena kuda tidak bisa duduk,-bisanya ngelempoh- suara kucuran air seninya terdengar keras. Dalam keseharian, istilah itu juga dipakai untuk menunjuk orang yang kencing berdiri.

Kini hampir di semua pabrik yang pernah saya kunjungi, toilet publik, tersedia urinoir. Yang kencing di situ, tentu berdiri posisi saat kencing. Nah itu perilaku jaran yang kini umum dilakukan manusia(laki-laki).

Hampir semua teknisi di area tempat saya tiap pagi briefing, tidak suka gaya komunikasi pimpinan TKA-nya.

“Mungkin dia dulu teknisi yang handal. Kalau tidak, mana mungkin bisa jadi pimpinan tim teknisi. Ngelasnya bagus ga?” Komentar saya berprasangka baik, sambil mencari tahu.

“Lek apik, tak ombe uyuhe Mas. (kalau bagus, air seninya kuminum Mas.” Jawab salah seorang teknisi yang menurutku kerjanya paling cepat, bagus dan bisa menghandle tim.

Kalimat itupun, saya perlu loading sekian detik.

ohhhh maksudnya, kemampuan ngelasnya begitu jelek.

Sidoarjo, 29 April 2026


메타데이터
post_id
3c7d976830d5
slug
mengasah-percakapan-terus-menerus-3c7d976830d5
url
https://medium.com/bahas-bahasa/mengasah-percakapan-terus-menerus-3c7d976830d5
canonical_url
https://medium.com/bahas-bahasa/mengasah-percakapan-terus-menerus-3c7d976830d5
author_url
https://medium.com/@ahmadkhoiron
status
ok
fetched_at
2026-07-30 16:53:45