← Back to list

Dimana Tempat Paling Aman untuk Kami?

Di luasnya dunia, kami masih kesulitan mencari tempat aman untuk tinggal. Kami tidak ingin bersembunyi, kami ingin melenggang bebas tanpa…

mandu · 2026-06-22 08:22 · 0 claps · 3.4 min read
#perempuan #sexual-harassment #women
Open on Medium ↗

Dimana Tempat Paling Aman untuk Kami?

Di luasnya dunia, kami masih kesulitan mencari tempat aman untuk tinggal. Kami tidak ingin bersembunyi, kami ingin melenggang bebas tanpa takut ada yang menyakiti.

Ini sudah keempat kalinya dia mengulang pertanyaan yang sama, membujuk diriku untuk mengubah jawaban.

Aku tetap sama, tetap mengatakan “Iya” untuk pertanyaan yang dia lontarkan.

Dia menghela nafas, terdengar nafasnya yang begitu berat lalu dengan tatapan sedih dia akhirnya menyerah. “Baiklah akan aku kirim sesuai dengan apa yang kamu mau. Namun sudah aku peringatkan untuk memilih jawaban yang lain”

Tidak gentar, aku menjawab “Iya aku tetap ingin menjadi perempuan”

Saat itu aku tidak tahu mengapa dia begitu kukuh untuk meyakinkaku mengganti jawaban, aku pikir dia hanya ingin populasi di bawah sana dipenuhi oleh lelaki perkasa bukan perempuan yang seindah bunga.

Seseorang berbaju putih dengan wajah terang yang memperkenalkan dirinya sebagai seorang malaikat memberikan kabar bahwa aku akan tercipta sebagai perempuan, rasa senangnya bukan kepalang. Sudah terbayang bagaimana aku akan tumbuh menjadi seorang perempuan yang nantinya akan dianugerahi sebagai seorang Ibu. Aku ingin ada manusia kecil yang berlarian memanggilku “Ibu”.

Keinginan yang saat itu kulihat sangat sederhana.

Tapi sekarang aku tahu mengapa 18 tahun yang lalu, dia berharap bahwa pilihanku tidak menjadi seorang perempuan.

“Nangis terus, muak dengernya!” Laki-laki itu datang lagi menghampiriku, dia adalah pelaku dari kasus penculikan yang pernah ku lihat beritanya sore itu bersama ibu. Dia yang membawa ku ke tempat sempit dengan jendela kecil yang membuat ruangan ini tidak mengenal siang atau malam.

Badanku saat itu sakit sekali, untuk bergerak satu cm lagi pun rasanya harus mengeluarkan seluruh tenaga yang tersisa. Masih terbayang rasa sakitnya sampai sekarang. Aku hanya bisa menangis, karena memang apalagi yang bisa dilakukan? Seluruh tubuh memar, kaki tangan diikat, bahkan untuk melihat pun sudah tidak jelas.

Seminggu, tapi aku rasakan seumur hidup tersiksa. Seminggu aku menjadi korban penculikan, alih-alih menjadi bunga mekar aku malah seperti binatang atau bahkan lebih parah karena binatang tidak diperlakukan seburuk ini.

Masih ingat bagaimana seminggu lalu aku masih menjadi gadis SMA yang sedang rajin belajar untuk masuk ke perguruan tinggi. Senin malam, ingat sekali karena saat itu Ibu baru saja pulang dari pengajian sore yang dia datangi setiap hari Senin. Aku izin untuk pergi sebentar membeli lem, ke tempat yang tidak jauh dari rumah.

“Nggak bisa perginya besok aja dek?” Ibu berdiri di ambang pintu, khawatir anaknya keluar malam-malam.

Aku memegang tangan ibu, “Adek butuh buat malem ini bu, sebentar aja kok.”

Ibu mengangguk,”Hati-hati dek, cepat pulang.”

Aku masih dapat melihat ibu yang tetap berdiri, dan sayangnya itu lah kali terakhir kita bertemu. Karena malam itu aku menambah daftar perempuan yang hilang.

Setelah seminggu menahan rasa sakit, akhirnya tubuh ku menyerah. Aku pergi selamanya, entah di pagi, siang atau bahkan malam, karena yang bisa ku lihat adalah ruangan sempit nan gelap.

Namun kali ini aku tidak sendiri, karena malaikat yang pernah mengajukan pertanyaan kembali datang untuk menjemput ku.

“Aku tidak berharap kita bertemu lagi secepat ini. Ayo, aku antar ke tempat yang baru.” Dia berjalan mendahuluiku.

“Ada yang ingin aku tanyakan”

Seseorang yang memanggil dirinya malaikat itu menoleh, “Tanyakan saja.”

Aku menunduk, menghentikan langkah. “Aku tidak tahu bahwa menjadi perempuan akan berakhir seperti ini, aku hanya berharap bisa disayangi sebagai ibu nantinya. Tidak menyangka bahwa seseorang yang keluar dari rahim seorang ibu yang penyayang seketika berubah menjadi monster yang mengancam perempuan lain, memangnya apa salah kami? Mengapa kami terus yang menjadi korban? Kami tidak berbuat apa-apa, kami hanya ingin hidup sebagai perempuan. Mengapa kami terus yang selalu disuruh berjaga? Mengapa tidak mereka saja yang disuruh untuk berhenti? Mengapa selalu kami yang disalahkan? Padahal mereka lah pelakunya.”

Suara yang keluar dari mulutku bergetar, sudah tidak kuat lagi.

Ada satu pertanyaan terakhir yang terus mengusik kepala. “Lalu dimana tempat kami para perempuan? Tempat dimana kami tidak perlu merasa takut, tempat dimana kami disayang dan diperlakukan semestinya.”

Hening. Tidak ada jawaban. Entah dia enggan menjawab pertanyaan atau memang dia juga tidak tahu dimana tempat itu.

Tulisan ini kembali aku bagikan karena salah satu kejadian yang terjadi hari ini.

Rasanya terlalu pagi untuk melihat berita paling menjijikan datang dari seorang teman (sekarang hanya kenalan). Berita yang aku harap tidak pernah ada di sekitar atau bahkan seharusnya memang tidak ada di dunia.

Pelecehan. Kualihkan pandangan ku sebentar saat menulis kalimat pelecehan. Satu kalimat yang rasanya membuat diri ini seketika lemas.

Pelecehan adalah dosa paling menjijikan. Bahkan kata kasar yang mungkin terucap tidak berbanding dengan apa yang dilakukan.

Korbannya kali ini adalah perempuan, seseorang yang berteman baik dengan pelaku. Mungkin tidak pernah terbayang bahkan satu detik sekali pun, seseorang yang sangat ramah, menyapa setiap bertemu, bahkan dijuluki “The kind of love” melakukan hal keji terhadap temannya sendiri.

Seketika tubuh ini lemas, aku ingat kembali bagaimana pelaku dengan pacarnya (Ah, aku harap dia sekarang dikelilingi oleh orang yang bisa memberi pelukan hangat) menjadi wujud dari hubungan yang begitu menyenangkan dan penuh cinta.

Sebagai seorang perempuan, sebenarnya apakah ada tempat yang paling aman untuk kami? Butuh berapa lama agar kami bisa yakin jikalau orang-orang di sekitar benar-benar ingin melindungi kami?


메타데이터
post_id
3c8b31dcd550
slug
dimana-tempat-paling-aman-untuk-kami-3c8b31dcd550
url
https://medium.com/@mandudys/dimana-tempat-paling-aman-untuk-kami-3c8b31dcd550
canonical_url
https://medium.com/@mandudys/dimana-tempat-paling-aman-untuk-kami-3c8b31dcd550
author_url
https://medium.com/@mandudys
status
ok
fetched_at
2026-06-24 04:09:36