bercengkerama di ruang hampa
;unsent letter #3 ;kakak
bercengkerama di ruang hampa
;unsent letter #3 ;kakak

selamat pagi, siang, sore, malam — kapan pun itu dibaca. seri tulisan kali ini sedikit berbeda. oh, dan ada sedikit koreksi. aku baru tahu bahwa unsend dan unsent itu penggunaannya berbeda. menurut sumber — yang aku sudah lupa baca di artikel mana, unsend itu seperti saat kita menarik pesan di WhatsApp, sementara unsent itu seperti surat yang memang sengaja tidak dikirim ke alamatnya. benar, kakak? mohon koreksi aku, ya. ah, tapi lupakan aspek redaksional dari surat ini. karena sejak awal konsepnya sedikit berantakan. karena sejak awal, aku memang berniat mengirimkannya.
ada dua kemungkinan. kalau ini dibaca oleh kakak, maka surat ini jadi surat biasa. surat yang pada zaman dahulu sering kita temui di kotak surat. surat yang sekarang lebih familiar dikirim melalui aplikasi telepon genggam. ia beralamat, sengaja dikirim, dan beberapa saat kemudian tergeletak di meja dengan kondisi terbuka. namun, kalau ini tidak dibaca oleh kakak, maka selamat. konsep awal surat ini benar saja. kuanggap suratnya tidak terkirim karena sang pembaca belum menggenggam amplop, membawanya ke rumah, membuka lemnya dengan pelan, lalu membacanya dengan senyum merekah.
kakak, aku tidak tahu mau bicara apa. aku sudah terlalu banyak bicara sendirian. aku benci bicara sendirian saat yang kuinginkan adalah percakapan kita yang sulit disudahi menjelang pagi. belakangan kita bercengkerama. kita berisik di kepala. kita melupakan dunia. kita menari dan tertawa. kita dihapus lukanya.
kakak, aku tidak tahu mau mengingat apa. saat ini terlalu banyak yang berputar di kepala. kepalaku yang penuh memori usang. kepalaku yang ingin memuntahkan semua isinya. aku menahannya tetap di sana. rasanya penuh sekali. dipenuhi semua hal yang bisa mengingatkanku pada sosokmu yang jauh di sana. aku mengingat pesan panjangmu saat kuminta memperkenalkan diri. kamu menyebut-nyebut kucing sebagai hewan favoritmu. sampai sekarang aku belum tahu mengapa begitu. sampai sekarang aku hanya bisa membayangkanmu jadi kucing lucu. aku juga mengingat penulis favoritmu. beberapa bukunya jadi incaranku setiap ke perpustakaan kampus. beberapa mudah kutemukan — meski harus bergelut dengan debu dan sobekan halaman yang mengganggu. beberapa sulit dicari. beberapa bahkan sudah raib setelah aku sengaja menyembunyikannya di sudut tertentu untuk dipinjam lain waktu. maaf, memang bukan cara yang pantas untuk berburu. aku juga mengingat penyanyi dan band favoritmu. katanya sempat jadi teman perjalanan di masa lalu. aku sedikit cemburu. andai saja bisa kuganti lagu itu dengan suaraku. seru sekali bisa mengobrol sembari kita menyusuri tempat baru.
kakak, aku tidak tahu mau memikirkan apa — selain bertanya-tanya “apakah di sana kamu juga memikirkan kita?” terkadang terlintas di pikiran begitu saja. kira-kira, apa yang kau pikirkan kala kita tidak bercengkerama? kau, ‘kan, tidak bisa mendengar suara, atau membaca pesan yang penuh celotehan dari aku yang terlalu banyak bicara. apa yang paling kau rindukan dari itu semua? apakah foto-foto yang posenya hampir sama? apakah pesan suara yang terlalu panjang karena aku terlalu banyak bercerita? apakah kesalahpahaman dan perdebatan kecil yang sangat sedikit frekuensinya? atau apa? barangkali saja kau sedang membayangkan skenario indah saat kita bersua.
kakak, aku tidak tahu harus marah pada siapa. katamu rasa sayangku tidak boleh berkurang sedikit pun. tidak peduli seberapa jauh keadaan berubah sejak awal kita bertemu. tapi kadang-kadang aku ingin memukulmu. bagaimana bisa seseorang menumbuhkan renjana tanpa harus membuktikan apa-apa — tetapi membiarkanku sendirian dalam menghadapinya? terkadang aku tidak sanggup menggenggam sepotong hati itu dengan kedua tanganku saja. aku butuh tanganmu juga di sana, bertaut menopangnya bersama-sama.
kakak, aku tidak tahu harus bagaimana dengan dunia. baik sekali alur yang tertulis di sana. ia sanggup mempertemukan sepasang manusia yang lahir dengan rasi bintang yang sama, karakteristik pribadi yang serupa, bahkan kebiasaan menulis dan membaca. baik sekali ia membiarkan kita jatuh cinta di tengah-tengah kemustahilan yang ada, di antara ratusan kilometer jarak yang hanya tampak seperti tiga langkah sebelum kita saling mendekap, di antara perbedaan situasi yang hanya tampak seperti sapaan setelah menghadapi hari panjang yang melelahkan, bahkan … di antara benteng kokoh yang hanya tampak seperti membran semipermeabel yang dapat ditembusi oleh partikel tertentu.
kakak, aku tidak tahu harus bertanya apa. banyak yang ingin aku gali dari jiwa indah milikmu yang belum sempat tersentuh oleh tangan rapuhku. banyak yang ingin aku dengar dari semua versi suaramu sejak kata pertama yang dulu kau ucap ketika jemarimu masih belajar meraih benda. banyak yang ingin aku uraikan dari pikiranmu yang penuh dengan logika dan potongan kata. banyak yang ingin aku pahami dari prinsipmu yang katamu akan terus berubah seiring masa. jika berkenan, beri aku kesempatan untuk mencari tahu semuanya. caranya terserah kau saja. asal jangan biarkan aku tersesat mencarinya seorang diri dalam lorong yang penuh rahasia.
kakak, aku tidak tahu apa selanjutnya. berbicaralah selama yang kau mau dalam pikiranku yang belum tertata. berbicaralah sesuka dan sebebas yang kau bisa. berbicaralah sampai kau tidak tahu lagi harus bicara apa. berbicaralah melalui apa saja. berbicaralah melalui tatapan mata yang menyimpan peristiwa. berbicaralah melalui goresan pena yang tidak berhenti sampai tintanya habis sempurna. berbicaralah melalui suara yang terus berkisah hingga aku melupakan suara lainnya. berbicaralah melalui tawa yang melengking tanpa malu disangka gila. berbicaralah melalui tangis yang tidak pernah bangga kau tunjukkan pada dunia. berbicaralah melalui asamu yang kadang tidak sempat kau tuntut pada semesta. berbicaralah di mana saja. bahkan ketika di ruang hampa yang tidak diciptakan untuk manusia. berbicaralah untuk menjadi kamu. berbicaralah untuk menjadi kita. berbicaralah dengan semua lebih dan kurangnya. karena telingaku tidak diciptakan untuk mendengar kesempurnaan yang tidak pernah ada.
kakak, semoga kini aku aku tahu segalanya. segala yang kuperlu untuk kita terus berbicara. segala yang kuperlu untuk bisa mengingat kita. segala yang kuperlu untuk menghadapi dunia. segala yang kuperlu untuk memberi jawab dan terus bertanya. segala yang kuperlu untuk menjalani langkah selanjutnya.
segala yang kuperlu untuk terus memelihara cinta,
meski harus diupayakan dengan segalanya juga. bahkan ketika di ruang hampa yang tidak memberiku kesempatan untuk bertahan lebih lama.
karena hatiku pun tidak diciptakan untuk menumbuhkan kasih yang sempurna, tetapi akan kuberi selama segalaku masih ada.

Demak, 26 Maret 2026.
메타데이터
- post_id
- 3c8ba347fbb2
- slug
- bercengkerama-di-ruang-hampa-3c8ba347fbb2
- url
- https://medium.com/@roseravna/bercengkerama-di-ruang-hampa-3c8ba347fbb2
- canonical_url
- https://medium.com/@roseravna/bercengkerama-di-ruang-hampa-3c8ba347fbb2
- author_url
- https://medium.com/@roseravna
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 18:57:25