21 Days — Pulang ke Rumah
21 Days — Pulang ke Rumah

Sepi.
Saat Hana membuka pintu dan masuk ke dalam apartemen, suasananya sudah begitu sepi. Hana melirik jam dinding dan mendapati bahwa memang malam sudah cukup larut. Sudah pukul sepuluh lewat, biasanya Kai sudah terlelap, mungkin Brian juga tertidur di kamar keponakannya itu selepas membacakan dongeng malam.
Hana berjalan sambil mendorong kopernya pelan, melewati kabinet yang dihiasi oleh banyak foto-foto yang membuat rumah menjadi semakin berwarna. Ada foto pernikahannya dan Brian, ada foto Kai yang tersenyum lebar, dan ada foto mereka bertiga yang telah menjadi keluarga. Setiap kali melewati sudut itu, mata Hana akan mengarah ke foto-foto yang terpajang dan senyumnya akan merekah, seberat apapun harinya.
Beberapa langkah kemudian, Hana sampai di depan pintu kamarnya. Ia membuka pintu itu perlahan, barangkali ada Brian yang telah tertidur pulas.
Namun tidak, kamar itu gelap dan kosong. Ranjangnya masih rapi tertata dan tak ada sang suami tertidur di sana. Benar dugaan Hana, Brian pasti masih berada di kamar sang keponakan. Menyadari itu, Hana meletakkan kopernya di samping meja rias dan berbalik, kemudian melangkah menuju ke kamar Kai.
Rindunya terhadap sang bocah sesungguhnya sudah tidak tertahan.
Meski sudah berusaha sepelan mungkin, pintu kamar Kai yang dibukanya ternyata masih berdecit pelan. Hana mengintip dari celah pintu yang dibuka sebagian dan melihat Kai sedang tertidur pulas sementara Brian sedang menepuk-nepuk tubuh sang keponakan pelan, sebuah usaha membuat Kai tertidur lebih dalam.
Decit pintu yang terbuka sebagian itu kemudian membuat Brian menoleh ke arah sumber suara. Walau samar di antara kegelapan, Hana melihat senyum kecil terlukis di wajah Brian saat mata mereka berjumpa.
Hana membalas senyuman itu, kemudian setengah berbisik ia berkata, “belum tidur?”
“Sebentar lagi,” jawab Brian dengan bisikan pula.
Hana mengangguk kemudian berkata lagi, “aku mandi dulu,” yang dibalas oleh anggukan oleh sang pria.
Setelah berpamitan, Hana menutup pintu kamar Kai sepelan mungkin, kemudian berbalik untuk membersihkan tubuhnya setelah perjalanan yang panjang.
Senyum tipis terulas dengan sendirinya di wajah Hana. Melihat Brian, ia baru menyadari, ia pun begitu merindukan suaminya yang tersayang.
Suara gemericik air dari keran yang mengucur ke wastafel terdengar saat Brian membuka pintu kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya. Hana yang melihatnya dari pantulan cermin tersenyum, kemudian mematikan keran air lantas melanjutkan kegiatannya menggulung dan menjepit rambut di bagian belakang kepalanya.
“Yaaah, lupa aku kunci pintunya,” canda Hana.
Brian hanya terkekeh kemudian masuk dan tanpa ragu melingkarkan tangannya ke pinggang Hana yang bebas. Ia mendekap wanitanya erat-erat, seperti tak ingin membiarkan Hana pergi jauh lagi dalam waktu yang lama. Brian merindukannya, sungguh.
“Kai udah tidur?”
Brian hanya mengangguk, masih sambil menikmati rasa nyaman dan hangat saat tubuh mereka berdua begitu lekat.
“Kai masih ngambek nggak ya sama aku? Aku kangen banget…”
Dari pantulan cermin, Brian dapat melihat wajahnya sendiri yang cemberut. Bukannya menjawab, ia malah menatap Hana dari cermin dengan tatapan memelas. “Kamu nggak kangen aku juga?”
Mendengar itu, Hana terkekeh, kemudian ia menyentuh wajah Brian yang masih berada di pundaknya membawanya semakin dekat ke arah wajahnya. Reaksi Hana itu memancing Brian untuk menenggelamkan wajahnya lebih dalam, memberikan kecupan-kecupan kecil ke leher Hana yang terbuka, menyampaikan rasa rindu yang selama ini ia dekap sendirian.
Brian dapat merasakan suhu tubuh Hana yang menjadi hangat. Kecupan itu turun dari leher menuju pundak, naik lagi ke leher, lantas berakhir di pipi Hana yang telah dihiasi semburat rona merah muda. Mata mereka pun berjumpa, tentu diikuti dengan senyum yang merekah bersamaan.
Hana membalikkan tubuhnya. Kini ia bersandar pada wastafel di belakangnya dan membawa tubuh Brian semakin dekat.
“Kangen banget, tau, Mas!” bisik Hana, membuat Brian menjadi gila.
Setelah satu senyuman, Brian kembali mendaratkan ciumannya ke bibir Hana. Kali ini ia tak dapat lagi menahan rindunya. Ciumannya lembut dan dalam itu dihiasi oleh senyum tipis di antaranya. Hana mengalungkan tangannya ke leher Brian, membuat tubuh sang pria semakin melengkung menyesuaikan posisi wanitanya. Tangan Brian melingkar santai di pinggang Hana, sedikit-sedikit mengusap tubuh ramping sang istri yang sudah lama tak didekapnya.
Mata keduanya terpejam, namun terkadang Brian akan membuka sedikit maniknya untuk mengagumi setiap jengkal paras sang istri yang jelita. Itu tak pernah gagal membuatnya mengulum senyuman.
Entah mana yang lebih intens, detak jantung yang semakin cepat, atau ciuman mereka yang semakin dalam. Brian tak henti-hentinya menghujani Hana dengan kasih sayang. Begitu pun Hana yang dengan senang hati membalasnya.
Ciuman-ciuman itu menjadi semakin panas, tubuh mereka kini sungguh lekat tak berjarak seolah tak dapat dipisahkan. Ada uluman, gigitan kecil, serta desahan lembut di sela-selanya. Sensasi menyenangkan menjalari setiap titik tubuh Brian saat Hana mulai memainkan tangannya, mengusap bagian belakang kepalanya, meremas rambut, hingga mengusap-usap telinganya yang mungkin kini telah berubah warna menjadi merah padam.
Sementara itu tangan Brian pun menelusup ke dalam pakaian Hana dan mengusap lembut kulit mulus istrinya itu. Napas mereka seperti hampir habis, namun rasa rindu itu rasanya semakin menuntut.
“M-mas, sayang…” Hana melepaskan bibirnya sejenak kemudian mencoba mengatur napasnya yang sedikit tersengal.
“Hmm?”
“Padahal aku mau mandi dulu, ih!”
Brian menyeringai lalu menyambar gemas pipi Hana dengan bibirnya. “Udah kangen banget, gimana dong?”
“Hmm…”
Jeda singkat itu diisi dengan kegiatan saling tatap. Tanpa bicara pun nyaman rasanya. Sorot mata Brian memindai wajah cantik Hana, menikmati apa yang memang telah menjadi miliknya seutuhnya selagi ia bisa. Senyuman Hana yang merekah indah membuat jantungnya berdebar, tak pernah berubah sejak pertama kali mereka saling berjumpa. Brian meraih pipi wanitanya, mengusap wajah Hana pelan-pelan. Hanya dengan memandangi istrinya seperti itu, dadanya bergejolak. Ia tak tahan. Ia tak tahan untuk kembali menyambar bibir ranum Hana yang entah mengapa terlihat lebih menggoda daripada biasanya.
Tangan Hana telah berada di dadanya, menarik sedikit bagian dari kaos polosnya. Brian kemudian memajukan tubuhnya. Sebelum wajah mereka semakin dekat, ia sempat melihat Hana yang tersenyum sambil memejamkan mata, namun sebelum bibir mereka saling bersentuhan —
Drrtt…. Drrrtt. Suara getar ponsel Hana yang tergeletak di dekat wastafel tiba-tiba menyita seluruh perhatian mereka. Keduanya mengarahkan pandangan ke arah ponsel dan melihat layarnya menunjukkan ada telepon masuk melalui salah satu aplikasi pemesanan makanan.
“Kamu order makanan?”
“Oops.” Hana menggigit bibir, merasa bersalah atas adanya gangguan itu.
Namun Brian hanya tersenyum, kemudian mencubit pelan pipi istrinya itu. “Aku aja yang ambil ke bawah.”
Hana mengangguk kemudian menarik kaus Brian hanya untuk mencium pipi sang suami sekali lagi, sebelum tubuh mereka saling menjauh.
Seusai mandi, Hana dan Brian akhirnya dapat menikmati malam berdua saja. Sofa yang berada di tengah-tengah ruangan kembali menjadi lebih hangat dengan kehadiran Hana di samping Brian, yang kembali mengisi ruangan penuh kenangan itu.
Hana duduk bersadar di sandaran tangan sofa sambil menyantap burger yang dipesannya melalui restoran cepat saji yang buka dua puluh empat jam di dekat apartemen mereka. Sementara itu, Brian hanya memandangi Hana sambil memijat lembut telapak kaki sang istri yang kelelahan. Sesekali Hana menyuapi Brian kentang goreng yang datang bersama paket yang ia pesan, kemudian ada kalanya Brian menyeka mayonnaise yang tak sengaja mengotori bibir mungil wanitanya.
“Masih inget nggak, kamu tidur di sofa ini pas lagi sakit dulu?”
Pipi Hana berubah menjadi kemerahan. Perempuan itu tampak tak dapat menutupi sipu malunya. Brian memicingkan mata, kemudian menyunggingkan senyum usil yang membuat istrinya semakin malu dibuatnya.
“Ternyata kamu sadar waktu itu ya?”
“You didn’t even ask for my permission!” protes Hana sambil memukul lembut dada sang suami dengan tinjunya yang mungil itu.
“Hehehe… I’m sorry…” Brian membalas pukulan Hana dengan usapan lembut pada punggung tangan sang puan. “Harusnya kamu tampar aku waktu itu.”
“Cih! Mana bisa…” Hana tersenyum malu-malu kemudian kembali menyuapkan satu kentang goreng ke mulut suaminya.
“Tau nggak, waktu itu meskipun kamu lagi sakit dan pucet, kamu keliatan cantik banget.”
Brian hanya berkata jujur. Ia tak tahu bahwa kejujuran manisnya itu akan membuat sang istri menyunggingkan senyuman termanis yang mampu memunculkan lesung cantik di pipi kanannya. Sang puan kemudian menyipitkan matanya, lantas memandang Brian lekat-lekat. “Jadi itu pertama kali kamu jatuh cinta sama aku?”
“Hmm…”
Brian tak langsung menjawab. Kalau dipikir-pikir, mungkin itu bukan pertama kalinya. Ia tak yakin kapan tepatnya ia mulai jatuh cinta pada Hana, perasaan itu berkembang perlahan tapi pasti hingga ia jatuh cinta sejatuh-jatunya pada ciuman mereka kala itu. Setelah ciuman itu, bagi Brian, tak ada lagi jalan untuk melangkah mundur ke belakang.
“Mungkin… jauh sebelum itu?”
“Hmm… karena terbiasa?”
“Terbiasa? Maksudnya?”
“I mean, tiap hari kita ketemu apalagi aku dikasih tugas tambahan jagain Kai sama Mas. Jadi, bisa jadi, kan, cintanya karena terbiasa.”
Brian terkekeh ringan. Kalau diingat lagi tugas tambahan itu diberikannya kepada Hana tanpa ia harus berpikir panjang. Entah mengapa, kala itu ia hanya mempercayai Hana. Ia tahu Kai akan berada di tangan yang tepat, jika orang itu adalah Hana.
“I don’t know, but… sejak pertama kali ketemu kamu, kamu selalu ada di otak aku. Oh — bahkan sejak pertama kali aku baca tulisan kamu, aku nggak bisa berhenti mikirin kamu.”
Sambil menggigit sebatang kentang goreng, Hana tersenyum malu-malu. “Kadang-kadang aku nggak nyangka sekarang kita udah sejauh ini.”
“Terima kasih udah kasih aku kesempatan untuk memberi ya, Sayang. You know it means a lot to me.”
Bidikan sorot mata Hana kepada Brian itu terasa tulus. Dari dwinetra itu, Brian tahu Hana telah melewati banyak hal. Hana pun mungkin akan melihat banyak luka dari mata Brian. Hidup mereka berdua jauh dari kata sempurna, hidup keduanya dipenuhi dengan kata luka dan lelah. Namun mereka bertemu dan sampai pada titik ini bersama-sama. Mereka hanya saling memandang, namun sekeliling mereka menjadi begitu hangat. Mereka saling menemukan, kemudian segalanya menjadi baik-baik saja.
“Ngomong-ngomong…” Hana berkata lagi, sambil menarik kakinya dari pangkuan Brian. “Karena kamu udah commit untuk ngasih aku segalanya, boleh nggak aku minta sesuatu satuuuu aja?”
Brian mengernyitkan dahi, mencoba menebak-nebak apa yang sebenarnya ingin Hana minta darinya. “Lebih dari satu juga boleh, Sayang.”
“Enggak. Aku cuma butuh satu aja.”
“Hmm… apa itu?”
“Hehehe… bujukin Kai biar mau ngomong sama aku lagi…”
“Hayolooo ngambek dia ditinggal lama-lama…”
“Ih makanya bantuin biar nggak ngambek lagi, aku kangen banget, tau!”
“Hmm… kalo Samchun-nya?”
Brian berniat menggoda Hana, namun istrinya itu selalu selangkah lebih depan. Wanita mungil itu melompat dari posisi duduknya kemudian menjatuhkan tubuhnya sendiri ke pelukan Brian. Sang pria tak pernah siap dengan kejutan manis sang puan. Satu kecup di pipi kanan, satu kecup di pipi kiri, satu lagi kecupan singkat di hidung mancung Brian, dan yang terakhir, Brian dapat merasakan manisnya ciuman sang istri di bibirnya.
Mereka tertawa bersama, begitulah malam panjang di rumah mereka yang hangat.
메타데이터
- post_id
- 3cc5a96f6db0
- slug
- 21-days-pulang-ke-rumah-3cc5a96f6db0
- url
- https://medium.com/@an_odetou/21-days-pulang-ke-rumah-3cc5a96f6db0
- canonical_url
- https://medium.com/@an_odetou/21-days-pulang-ke-rumah-3cc5a96f6db0
- author_url
- https://medium.com/@an_odetou
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-18 08:50:28