← Back to list

Sosok Pasti Mati, Ide Akan Hidup Abadi

Bagian Pertama

Khoirul Atfifudin · 2026-05-12 19:25 · 1 claps · 3.3 min read
#organisasi #temanggung #ide #tokoh
Open on Medium ↗

Sosok Pasti Mati, Ide Akan Hidup Abadi

Bagian Pertama

Tulisan ini aku mulai dari keresahanku ketika terlibat dan membangun kolektif. Sepanjang pengamatan dan pengalamanku, ada satu masalah yang kerap merasuk dalam sebuah wadah entah itu bentuknya kolektif, organisasi, lembaga, komunitas atau apapun itu sebutan tentangnya. Persoalan itu adalah sosok. Alias dalam suatu wadah ini ada penokohan.

Problematika itu aku cari-cari jawabannya ngga nemu-nemu. Bahkan aku pernah konsultasikan hal ini kepada Mas Puthut EA yang aku anggap sebagai guru ketika dia sedang mengisi kelas. Jawaban Mas Puthut pun tidak juga memuaskan aku.

Hingga kemudian, Senin malam (11/05) Aku ngobrol dengan Yusuf Priambodo dan Prabu Yudianto selepas nobar film “Menolak Punah” di Akademi Bahagia EA. Aku dapat insight banyak dari Prabu. Tentu ada beberapa hal yang aku kurang suka dan ngga sepakat dengan Prabu. Tapi aku justru tertarik dengan pandangan dia mengenai sebuah komunitas yang kerap dihadapi persoalan berupa penokohan ini.

Hilangkan Penokohan

Dalam obrolan bersama Prabu itu aku tulisan di sini mengunakan gaya bahasaku. **Yang namanya suatu wadah itu harusnya bukan sosok yang hidup, melainkan ide.** Sebab yang namanya sosok alias manusia punya batas tenggatnya. Kabar buruk lainnya manusia bisa berkhianat. Sehingga kalau sosok ini pergi maka organisasi bisa sangat mungkin mati. Kalau pun tidak mati ya ngga bertumbuh. Dan aku amini hal itu karena aku banyak menemukan kasus seperti itu.

Memang untuk menumbuhkan ide yang diamini oleh banyak orang dalam suatu wadah itu tidak mudah. Tapi kalau berhasil, ia akan membuat wadah ini bertahan selamanya. Absolut. Tidak akan pernah mati.

Sudah ada banyak contohnya. Misalkan agama Kristen. Apakah ada entitasnya? Tentu tidak. Sebab kristen itu ide. Bukan sosok. Sosok Yesus itu hanyalah “simbol”. Tapi yang hidup dari kristen adalah ide. Makanya ia menjadi agama terbesar di dunia.

“Wah terlalu jauh. Kasih contoh yang lain”. Oke. Ada republik yang diamini oleh Indonesia. Di luar carut marut pemerintah kita, tapi republik ini hidup dan bertahan setidaknya 80 tahun.

Ada juga contoh lain: Muhammadiyah dan NU. Itu kan ide juga. Kalau pun amit-amitnya Bahlil jadi Ketum Muhammadiyah/NU pun aku kira orang2 dalam kedua lembaga itu tetap akan menjalankan idenya. Tidak lantas bubar. Dan terbukti keduanya menjadi organisasi tertua dan terbesar di Indonesia.

“Masih terlalu ndakik-ndakik. Kasih yang sederhana lagi.” Oke contoh lain: Tonti. Itu bukan sosok lho ya hidup tapi ide. Apa itu? Bendera merah putih. Tanpa merah-putih Tonti tidak akan melaksanakan tugas-tugasnya. Lalu ada juga pramuka dengan ide kemahnya. Kalau ndak ada kemah sudah pasti tidak ada anak pramuka. Jadi itu ide. Bukan sosok. Dan masih banyak contoh lain yang dimana wadah itu bisa terus hidup karena disitu tidak ada penokohan.

Bagian kedua

Dari bagian pertama itu aku kemudian merefleksikan dalam konteks Universitas Balakarta. Selama ini lembaga berbasis kolektif ini sejak 27 Mei 2023 berdiri masih bersifat penokohan. Khoirul Atfifudin yang jadi “tokohnya”. Aku sedang tidak star syndrom atau pick me. Tidak juga sedang mengurangi rasa hormat dan terimakasih atas kontribusi banyak kawan yang tidak bisa aku sebut satu-satu itu. Aku justru sedang takut. Khawatir. Sebab ketika masa tenggatku sudah habis atau ketika aku sudah tidak bisa lagi mengurus Universitas Balakarta, wadah ini akan mati. Dan kiranya banyak orang yang peduli dan berharap Universitas Balakarta tetap hidup TIDAK MAU hal itu terjadi.

Oleh karenanya Universitas Balakarta harus menjelma menjadi ide. Bukan lagi sosok. Bahwa faktualnya Atfi masih mengurus dan mengisi posisi “rektor” di Balakarta, tapi aku hanyalah perantara dari ide-ide Balakarta. Sehingga ketika nanti masa tenggat sudah habis atau mengalami sesuatu yang membuat aku tidak bisa mengurus Balakarta lagi, wadah ini akan terus hidup.

“Ngomong doang memang enak. Jalani susah” Memang betul. Apalagi masyarakat kita masih terpaku pada “sosok” bukan ide. Tapi bukan berarti para pengurus yang per hari ini masih tercatat ada 8 orang tidak bisa mengupayakan itu semua. Kita bisa kok menjadi ide ini sebagai pemimpin kita.

Dari situ aku lantas berpikir untuk menjadi “sesuatu” sebagai pemimpin Universitas Balakarta. Ia adalah Pohon Tabebuya yang saat ini posisinya masih berada di rumah Oteng/Dafiq. Kira-kira umurnya sudah satu tahun lebih. Pohon itulah yang akan jadi pemimpin. Kenapa pohon? Karena pohon menyimbolkan pertumbuhan, kekuatan, keteduhan, kehidupan-penghidupan. Dan itu memang sedang dan akan terus Universitas Balakarta upayakan.

Kalau pohon itu mati gimana? Tinggal cari Tabebuya lagi! Tanam lagi! Kan ada banyak yang menyediakan pohon itu. Selama masih ada pohon Tabebuya selama itu juga masih ada Universitas Balakarta. Jadi sekalipun sudah tidak ada Atfi atau orang-orang yang belakangan aktif di Balakarta sudah pergi, maka Balakarta akan terus hidup. Tugas orang-orang itu adalah terus mendiseminasikan ide dan nilai yang Balakarta bawa.

Terdengar irasional memang menjadikan pohon sebagai pemimpin. Tapi bukankah Patung Yesus, logo NU yang tertempel di banyak rumah-ruamh, agenda kemah, bendera merah putih juga sifatnya irasional ketika dijadikan sebagai “kiblat” bagi wadah-wadah tertentu!? Sebab memang begitulah seharusnya untuk membuat suatu wadah bisa hidup selamanya. Dengan melalui ide!

Akhir kata:

Tidak ada yang sanggup membunuh ide. SIAPAPUN ORANGNYA, APAPUN OTORITASNYA, DENGAN CARA APA MENGHANCURKAN, IDE TIDAK AKAN MATI.

Sleman, 12 Mei 2026


메타데이터
post_id
3d249d3bf0ee
slug
hilangkan-penokohan-memunculkan-ide-3d249d3bf0ee
url
https://medium.com/@khoirul_atfi/hilangkan-penokohan-memunculkan-ide-3d249d3bf0ee
canonical_url
https://medium.com/@khoirul_atfi/hilangkan-penokohan-memunculkan-ide-3d249d3bf0ee
author_url
https://medium.com/@khoirul_atfi
status
ok
fetched_at
2026-07-10 16:32:07