← Back to list

Ketika Misoginis dan Misandris Diberi Cermin

Anotasi Novel Cantik Itu Luka Karya Eka Kurniawan

Vam Babis in Booknotations · 2026-02-24 06:08 · 228 claps · 3.3 min read
#anotasi #booknotations #cantik-itu-luka #fiksi-sejarah #novel
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

Ketika Misoginis dan Misandris Diberi Cermin

Anotasi Novel Cantik Itu Luka Karya Eka Kurniawan

Bukan dokumentasi antek asing

Bukan dokumentasi antek asing

Judul: Cantik Itu Luka

Penulis: Eka Kurniawan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: Maret 2025 Cetakan: ke-39

Disclaimer: Anotasi ini saya tulis dengan diniatkan tidak berbentuk narasi panjang melainkan hadir dengan catatan-catatan per poin terpisah. Jadi kalian bisa melompati poin-poin yang tidak ingin kalian baca tanpa khawatir kehilangan kesinambungan antar paragraf (poin).

1.

Barangkali berlebihan mungkin juga tidak, karena saya memasukkan kata misoginis dan juga misandris di judul anotasi ini. Dua kata yang bila kalian cari definisinya akan memiliki makna berlawanan. Misoginis adalah orang yang membenci perempuan, sedangkan misandris ialah orang yang membenci pria.

Dari dua kata tersebut sebenarnya saya ingin mengarahkan catatan atas novel Cantik Itu Luka ini ke tema yang agak pinggir jurang. Namun, setelah saya pikirkan ulang alangkah bijaknya bila tidak saya wujudkan. Sebagai gantinya saya akan menuliskan interpretasi lain dari dua kata tersebut.

2.

Selama saya membaca buku ini dari awal hingga usai, banyak sekali hal-hal yang membuat saya tercengang. Mulai dari yang paling mendasar adalah pembangunan suasana, tokoh hingga keberanian Eka Kurniawan dalam mengeksplorasi jalan ceritanya.

Alurnya yang maju-mundur sempat beberapa kali membuat saya mendengus karena ketika hampir klimaks dalam momentum cerita, tiba-tiba alurnya dilempar entah ke masa depan ataupun ke masa lalu, dan ini tidak satu kali, tetapi berkali-kali. Walaupun pada satu titik kepingan peristiwa tadi akan bermuara pada satu linimasa. Jika kalian penikmat One Piece pasti akan sangat familier dengan gaya penulisan Eka Kurniawan ini.

3.

Ketika membaca buku ini dan kalian merupakan misoginis ataupun misandris sepertinya akan menemukan titik balik untuk sekali lagi memikirkan ulang perasaan tersebut. Pasalnya oleh Eka Kurniawan para tokoh baik laki-laki ataupun perempuan di sini seakan betul-betul ditampakkan sisi tergelapnya. Atau jikalau boleh saya bilang sisi paling primitif manusia dihadirkan di sini, dengan catatan ditampilkan dengan gaya penulisan yang ciamik.

Karya yang penuh satire dan humor ironi ini membuat saya kembali bisa berdamai dengan diri sendiri. Sebab setelah membacanya saya sadar ada beberapa orang — walaupun di sini karakter fiksi — yang lahir hingga tumbuh dewasa bahkan sampai mati pun benar-benar telah dikutuk. Orang-orang ini tak memiliki banyak pilihan untuk melaju di jalan hidup manusia normal dan pada akhirnya hanya bisa menertawakan nasibnya dan harus terus menjalani hidup tersebut. Taruhlah seperti Edi Idiot ataupun Dewi Ayu yang lahir tanpa orang tua kandung dan dituntut untuk terus bisa hidup. Atau seperti Alamanda, Adinda, Maya Dewi hingga Cantik yang kesemuanya lahir tanpa mengetahui siapa ayahnya.

4.

Buku ini merupakan kategori fiksi sejarah. Banyak sekali sisipan peristiwa sejarah di dunia nyata yang sudah dipoles ulang oleh Eka. Dengan melalui proses kreatifnya itu beberapa peristiwa sejarah yang diangkat ditulis ulang hingga menjadikan pembaca yang kadang kesulitan membaca urutan kronologis suatu peristiwa sejarah bisa langsung paham alur kronologinya.

Dengan mengusung setting dari zaman pendudukan Belanda akhir lalu melangkah ke zaman penjajahan jepang dan berakhir di tahun 1997, akan membuat pembaca seakan diajak melakukan perjalanan waktu. Walaupun secara waktu nyata linimasa tersebut amatlah lama, tapi lewat buku ini pembaca akan dibuat tak menyadari hal tersebut seperti hanyut.

5.

Saya sengaja tak mengulas bagian di mana kebanyakan orang akan merasa jijik dan menggunjing buku ini musabab terlalu frontal dan tidak senonohnya Eka dalam menuliskan banyak sekali kata, kalimat dan juga eksplanasi polah tingkah tokohnya. Bagi saya sisi tersebut biarlah menjadi preferensi pembaca masing-masing. Bisa jadi sisi tersebut adalah jenis tulisan yang dicari-cari oleh pembaca radikal, dan bisa jadi pula sisi tersebut lah yang ingin sekali dibaca pembaca ketika membaca fiksi sejarah.

Mengutip apa kata Gustave Le Bon dalam bukunya yang berjudul Psikologi Revolusi:

“banyak sejarah yang ditulis tidak seperti aslinya, banyak realita yang mengalami eufimisme dan berujung hanya menampilkan kisah-kisah heroik. Hingga cenderung mengaburkan sisi yang terpinggirkan yaitu kehidupan para penyintas.”

Deskripsi ungkapan di atas bagi saya betul-betul bisa ditemukan di novel ini. Saya sangat setuju sekali dengan ungkapan “ketika jurnalisme dibungkam maka sastra yang berbicara" sebab semua sisi kalau boleh saya berpendapat di novel ini benar-benar tampil secara telanjang — tanpa eufemisme.

6.

Kembali ke tajuk anotasi ini, bila pembaca sekalian memiliki kecenderungan entah sebagai seorang misoginis ataupun misandris. Walaupun saya tidak seratus persen yakin, mungkin hanya sekitar lima puluh persen presentase keyakinan saya kalau setelah membaca buku ini kecenderungan kalian — para misoginis ataupun misandris — setidaknya berkurang. Akan ada semacam cermin besar yang tampil diujung cerita untuk kita gunakan sebagai refleksi. Dengan menampilkan pertanyaan filosofis yaitu “Lantas siapa yang sebenarnya berbahaya, laki-laki atau perempuan?"

Sebagai penutup, musabab tulisan ini ditulis pada bulan Ramadhan dan umat muslim melaksanakan puasa. Saya menyarankan bagi yang ingin mulai membaca novel ini tidak membacanya di saat puasa. Sebaiknya kalian baca sesudah berbuka saja, karena berpotensi membangkitkan emosi, trauma dan bahkan nafsu kalian. Pada akhirnya bijak-bijaklah dalam membaca buku ini.

Terimakasih sudah membaca atau sekedar berkunjung ke tulisan ini. Saya sangat senang bila kalian memberikan kritik, saran dan komentar atau sekadar clapps pada tulisan ini.

**Tabik***

mnhb, 23/2/2026


메타데이터
post_id
3d3837aced0b
slug
ketika-misoginis-dan-misandris-diberi-cermin-3d3837aced0b
url
https://medium.com/booknotations/ketika-misoginis-dan-misandris-diberi-cermin-3d3837aced0b
canonical_url
https://medium.com/booknotations/ketika-misoginis-dan-misandris-diberi-cermin-3d3837aced0b
author_url
https://medium.com/@mnhaqbabis121
status
ok
fetched_at
2026-07-09 03:40:04